Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 115


__ADS_3

“astaga! Yak!” belum sempat Hanna menumpahkan sumpah serapahnya, kedua matanya membulat saat mendapati 3 gerombolan gangster berbadan besar yang berdiri didepan mobilnya, dan mengarahkan sorot mata tajamnya pada mobil yang kendarai oleh Nayeon. Seakan mereka semua telah menantikan kedatangan ketiga gadis itu, mereka pun tampak tersenyum penuh arti kemudian melenggangkan kakinya serempak untuk mendekati keberadaan mobil Nayeon.


“Si***al! apa kau bisa memutar mobilnya sekaligus Nay?!”


“tidak bisa, jalanan ini terlalu sempit.” Ucapnya seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar, ditengah para anggota gangster tersebut semakin mendekat ke arahnya.


“oke, setidaknya kita bisa mengatasinya berempat.” Celetuk Hanna penuh percaya diri seraya mengepalkan kedua tangan lengkap dengan sorot mata tajamnya yang mengarah kepada ketiga anggota gangster tersebut, sebelum ia memutar tubuhnya untuk memastikan Jeno masih berada dibelakangnya.


“berempat? Siapa yang kau hitung 2?” sahut Ahreum ditengah ketakukannya ia pun melirik kearah Hanna yang duduk dibelakang sejenak.


“Si***all! Lelaki itu masih saja pengecut, bisa-bisanya meninggalkan kita untuk menyelamatkan dirinya sendiri.” Gerutu Hanna pelan setelah mendapati Jeno kini telah tiada dibelakangnya.


“bagaimana ini.. kurasa kakiku mendadak kram.” Ucap Nayeon dengan kedua tangan gemetarnya dan bulir keringat dingin yang membasahi seluruh wajahnya.


“yak! tak ada waktu untuk kram, cepat mundurkan mobilnya sekarang!!” perintah Hanna yang langsung dilaksanakan oleh Nayeon dengan menginjak pedal gas sekuat mungkin sampai ketiga gangster itu pun terkejut begitu mobil Nayeon melaju mundur secepat kilat dan menghilang dari pandangannya.


Setelah beberapa saat ketiga gangster itu saling melempar tatapan, mereka pun segera memutar balik tubuhnya dan berlari menuju mobil mereka yang terparkir dibelakang untuk mengejar ketiga gadis tersebut.


Dengan kemampuan mengemudi yang luar biasa dari Nayeon, akhirnya Nayeon pun berhasil memutar mobilnya hanya dengan beberapa detik saja, sehingga kini mobil yang dikendarai oleh Nayeon pun bisa melaju dengan normal kembali dan membuat ketiganya bisa bernafas lega untuk sesaat sebelum..


“apa itu!” seru Nayeon saat ia melihat gerombolan gangster yang lain tengah mengejarnya dengan menggunakan motor besar serta sorot mata tajamnya layaknya seseorang yang hendak menghabisi musuhnya.


Mendengar seruan itu, Ahreum dan Hanna sontak memutar tubuhnya serempak untuk melihat keadaan yang terjadi dibelakangnya.


“astaga mereka banyak sekali, bagaimana ini mereka semakin dekat Nay..” panik Ahreum.


“sudah kubilang kan, mengikuti wanita sepatu merah itu bukan ide baik. Sepertinya kita memang sudah dijebak oleh mereka. Apa kau tak bisa lebih cepat lagi Nay?!” seru Hanna seraya menepuk pundak Nayeon dan terus mengamati jalanan sepi didepannya, berharap jika ada seseorang atau siapapun yang melintas dan membantunya keluar dari situasi berbahaya ini.


“tak bisa, aku tak mau membuat mobil ini rusak, ini mobil favorite ibunya Jeno.” Sahut Nayeon.

__ADS_1


“aughh astaga yak!! bisa-bisanya kau lebih mengkhawatirkan mobil daripada nyawamu sendiri!” kata Hanna dengan suara ngegasnya.


“maafkan aku ya teman-teman.. ini salahku, sudah membawa kalian ke situasi berbahaya ini.. hiksss.. hikss..” timbrung Ahreum disela isak tangisnya karena sangat-sangat merasa bersalah pada kedua temannya. Hal menegangkan seperti ini tidak akan mungki terjadi jika saja Ahreum menurut untuk tidak mengikuti wanita mencurigakan itu.


Namun nasi sudah menjadi bubur, karena kini semua telah terjadi Ahreum hanya bisa menangis sejadi-jadinya kala situasi menegangkan tersebut tak hentinya membuat jantung mereka berdegup kencang.


“ini lagi! sudahlah berhenti menangis, Ahreum!! Tangisanmu malah membuat Nayeon semakin panik.” Seru Hanna yang mulai hilang kendali karena sikap kedua temannya yang tidak dapat diandalkan sama sekali.


“aku.. baik.. baik aja kok Ahreum.” ucap Nayeon seraya melirik sesaat ke arah Ahreum yang tengah bergulat dengan air mata dan juga ingusnya yang beleberan membasahi wajah mungilnya.


“kau tenang aja ya..” lanjut Nayeon seraya mencoba mengambilkan kotak tissue yang berada didasbor mobil dan memberikannya pada Ahreum.


“didepanmu Nay!!!” teriak Hanna kala Nayeon lengah pada jalanan didepannya, tiba-tiba saja ada sebuah truck yang hendak melintas dihadapannya hingga membuat refleks kakinya beralih ke pedel rem, berharap jika hantaman yang akan mereka dapatkan tidak akan terlalu keras karena setidaknya Nayeon sudah mencoba menghambat laju mobilnya.


Brrugggghh!! Suara hantaman yang cukup nyaring antara mobil yang dikendarai oleh Nayeon dengan truck yang berada didepannya.  Sehingga membuat kap mobil terbuka dan mengeluarkan asap putih tebal yang mengelilingi area sekitar.


Beruntung sesaat sebelum benturan itu terjadi air bag berfungsi dengan baik hingga ketiganya pun tidak mendapatkan luka yang cukup serius, hanya syok ringan yang mengakibatkan mereka tak sadarkan diri beberapa saat.


Sementara salah satu dari mereka tengah mencoba menghubungi seseorang ditelfon yang lainnya hanya bisa terdiam sembari menunggu perintah dari atasan mereka.


“iya. Aku sudah mendapatkan mereka, oke, baik.” Pungkasnya seraya mematikan telfon dan memasukannya kembali ke dalam saku jaket tebalnya.


“bawa mereka semua!” perintahnya pada anak buahnya yang sudah berdiri disisi mobil.


“siap!” sahut mereka serempak.


Mereka pun bergegas membuka pintu mobil dan mengeluarkan ketiga gadis tersebut yang masih tak sadarkan diri dengan luka ringan yang dikepalanya.


***

__ADS_1


Dilain tempat.


Yaitu didalam mobil yang dikendarai oleh Bennedict, ia tampak semakin gelisah kala tak juga menemukan keberadaan adiknya setelah menelusuri jalanan yang sebelumnya dilalui oleh Nayeon.


“sebenarnya apa sih yang mereka bertiga lakukan, anak-anak ini.” gumamnya seraya terus mencoba menghubungi ponsel adiknya, namun tampaknya kini ponsel Ahreum telah dimatikan dan signal yang dipancarkan ponselnya pun telah menghilng.


“kurasa jalanan ini tidak asing pak. Kita pernah menyerbu bandar narkoboy dan bisnis prostitusi disini beberapa tahun lalu.” Ucap Sanches seraya mengamati area sekitar melalu jendela mobil dengan tatapan seriusnya.


“iya benar, yang membuat orang-orang itu balas dendam lalu menculik ibu Winter.” Tambah Reno yang juga ikut teringat pada kejadian beberapa tahun silam.


“sepertinya ada kecelakaan didepan pak.” Ucap Bianca seraya menghentikan laju mobilnya karena ada truck yang menghalangi didepannya.


Mereka pun lantas keluar untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


Dan benar saja begitu mereka berjalan mengitari truck, pandangan mereka langsung beralih pada sebuah mobil yang tampak kacau dengan semua pintu yang terbuka.


Disisi lain Bianca melihat sosok lelaki paruh baya tengah terduduk ditepian jalan seraya meminum botol air mineral dengan tangannya yang masih gemetaran.


“apa yang sebenarnya terjadi pak?” tanya Bianca seraya menurunkan tubuhnya dan berjongkok didepan bapak yang tampak masih syock dengan musibah yang terjadi menimpanya.


“bu..kan saya pelakunya bu! Bu..kan saya.. mereka yang melaju kebut-kebutan dari arah sana kemudian menghantam truck saya.” Ucapnya terbata karena saking takutnya disalahkan dalam kecelakaan yang terjadi.


Setelah mengecek kondisi mobil dan memastikan kepemilikan mobil tersebut, Bennedict pun lantas berjalan menuju lelaki paruh baya tersebut dengan sorot mata tajamnya.


“dimana ketiga gadis yang berada didalam mobil tersebut?!” tanya Bennedict lengkap dengan pandangan mengintimidasinya yang mengarah pada lelaki tua yang sebenarnya juga korban dari kecelakaan tersebut.


“me.. mereka..”


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2