
Didapur yang luasnya hampir menyamai lapang voli dikelurahan.
Terlihat 3 pelayan muda tengah asyik berbincang selagi melakukan tugasnya masing-masing, ada yang tengah mencuci alat makan yang sebelumnya digunakan oleh Ansell CS dipekarangan belakang Villa, kemudian 1 lainnya bertugas mengelapnya.
Sementara yang 1 lagi tengah membersihkan area dapur dengan vacum cleaner hingga menimbulkan suara bising yang mampu sedikit meredam percakapan diantara mereka.
Tak lama kemudian Ahreum pun ikut bergabung lalu duduk dikursi meja makan yang terletak tak jauh dari keberadaan para pelayan tersebut.
“malam nona Ahreum..” sapa salah satu pelayan yang tengah membersihkan area dapur seraya menundukan kepalanya serta senyuman ramah yang terukir diwajah cantiknya.
Mendengar temannya menyapa istri dari majikannya, 2 pelayan yang tengah asyik bercanda gurau ditengah aktivitasnya membersihkan alat makan pun menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian memutar tubuhnya agar bisa menyapa Ahreum dengan sopan.
Ahreum pun tersenyum lebar untuk merespon sikap ramah dari para pelayannya tersebut, sebelum kembali menyantap buah-buahan yang berada dipiring kecil.
Merasa bosan hanya menyemil saja, Ahreum pun lantas mengeluarkan ponselnya lalu diletakannya diatas meja untuk dimainkannya selagi menikmati potongan buah segar.
“mau saya potongkan kembali buahnya, nona?” tawar pelayan yang tengah memegang vacum cleaner, ia mematikan mesin vacumnya untuk sejenak agar suaranya bisa terdengar jelas oleh Ahreum yang tengah anteng memainkan ponselnya.
Ahreum pun menoleh ke belakang masih dengan mulutnya yang dipenuhi makanan yang masih berusaha ia kunyah dengan cepat agar bisa merespon pertanyaan pelayan tersebut.
“amm.. engg.. engga kak, ini juga sudah cukup kok. Sebagai gantinya boleh ngga kalau aku minta dibuatkan coklat panas aja. Hehee.” Ujar Ahreum yang akhirnya berhasil mengeluarkan suara setelah makanan yang berada dalam mulutnya melunak dan tak menghalanginya berbicara.
“oke, sebentar saya buatkan dulu ya.” sahutnya lengkap dengan senyum selebar mungkin untuk menunjukan keramah tamahannya pada gadis yang menjadi istri majikannya tersebut.
Pelayan tersebut langsung menghentikan aktifitasnya kemudian menaruh mesin vacuum cleaner disudut ruangan untuk dipakainya nanti setelah tugas membuat coklat panasnya selesai.
Selagi menunggu coklat panasnya datang, Ahreum pun kembali memutar tubuhnya untuk melanjutkan aktivitasnya, yakni menyemil buah dan memainkan ponsel.
“kau merasakan tidak sepertinya dia datang kembali..” bisik 1 pelayan yang bertugas mengelap alat makan.
“he’em.. auranya sangat dingin sekali.” Timpal pelayan 1 lagi yang berdiri tepat disampingnya.
“coba kau tanya pada Laras.” Katanya lagi seraya menyenggol sikut temannya.
__ADS_1
“gak mau ah, jika itu benar, itu akan semakin menakutkan.. hiiihh..” balasnya lagi seraya bergidik seakan bulu romanya bergoyang-goyang.
“apa yang menakutkan?” tanya Ahreum yang tiba-tiba saja nyempil diantara kedua pelayan tersebut, hingga membuat keduanya terkejut bersamaan.
“aaughh astaga!! Kaget aku.” Ujar keduanya kompak seraya menoleh bersamaan ke arah Ahreum yang kini berada ditengah-tengah mereka berdua.
“apa ini semacam cerita hantu?” lanjut Ahreum santuy seakan tidak ada takut-takutnya membahas soal makhluk halus, ia pun lantas menaruh piring kotor nya didalam wastafel sementara kedua pelayan tersebut tampak masih mencoba menstabilkan pernafasannya.
“aduuhh nona Ahreum, mengagetkan aja.” Celoteh pelayan yang bertugas mencuci piring sembari meletakan tangan diatas dadanya.
“ohh.. sory.. hehee.” Ahreum nyengir dengan wajah tanpa dosanya.
“ahh iya, kurasa kita belum berkenalan. Amm..maksudku, sudah pasti kakak tahu namaku, tapi aku juga ingin tahu nama kalian dong.” Katanya lagi seraya mengulurkan tangannya tanda ingin berjabat tangan dengan para pelayan tersebut.
Namun alih-alih menerima uluran tangan Ahreum, ketiganya malah saling tatap-tatapan seolah merasa canggung berada disituasi yang aneh ini.
“ahh.. tangan kakak kotor ya, oke deh nanti aja kita berjabat tangannya.” Sambung Ahreum lagi yang mengalihkan uluran tangannya pada pelayan yang bertugas mengelap, berharap kali ini uluran tangannya disambut dengan baik oleh pelayan tersebut.
Namun lagi-lagi pelayan tersebut hanya bengong seraya menatap ke arah uluran tangan Ahreum.
“bukan begitu nona, tapi mendengar seorang majikan ingin berjabat tangan dengan seorang pelayan seperti kami, membuat kami senang tapi sekaligus bingung juga harus bagaimana menghadapinya. Karena ini pertama kalinya bagi kami diperlakukan seramah..”
“ahh tunggu! Kurasa nona Ilona juga sering berbaur dengan ki..” belum sempat pelayan yang bertugas mencuci piring itu menyelesaikan kalimatnya, tangannya keburu disikut oleh temannya seakan tengah memberikan tanda jika dirinya tak seharusnya membahas gadis lain didepan istri majikannya.
Buru-buru ia pun menutup mulutnya dengan tangannya yang penuh dengan busa tanpa sadar, hingga membuatnya batuk-batuk karena aroma sabun yang menyengat masuk ke dalam 2 lubang hidungnya tanpa permisi.
“hahhaahaaa!!” sontak saja hal itu langsung membuat Ahreum tertawa lucu, sementara para pelayan hanya bisa tersenyum getir sebab masih merasa bersalah karena perkataan salah satu pelayan yang menyinggung soal kekasih terdahulu Ansell.
“apa coklat panasku sudah jadi kak?” tanya Ahreum yanga mencoba kembali mencairkan suasana.
“ahh iya. Sudah nona, sebentar.” Ucap pelayan tersebut yang kembali berbalik dan mengucek terlebih dahulu coklatnya sebelum ia berikan pada Ahreum.
“oke, terimakasih kak.” ucap Ahreum lengkap dengan senyum manisnya seraya mencoba meniup coklat panasnya.
__ADS_1
“iya sama-sama nona. Kalau begitu saya mau kembali bersih-bersih.” Pamitnya seraya menundukan kepalanya sebelum menarik langkah pergi.
“ammm..”
Namun suara dehaman Ahreum membuat langkah sang pelayan terhenti dan kembali berbalik.
“bagaimana jika aku jadi yang kedua menjadi teman kalian?” kata Ahreum lagi masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantik nan mungilnya.
“kedua?” sahut para pelayan bersamaan seraya saling melempar tatapan kebingungan.
“Iyaa.. karena yang pertama kan Ilona. Hehehe. Bagiku kalian gak lebih sama seperti temanku yang lainnya, kurasa usia kita pun tidak terpaut jauh. Jadi mari kita berteman baik.” Sambung Ahreum lagi seraya kembali mencoba mengulurkan tangannya kehadapan 3 pelayan tersebut lengkap dengan senyum ramah yang tak pernah pudar.
Sontak saja uluran tangannya kali ini langsung disambut antusias oleh ketiga pelayan tersebu hingga mereka pun secara bergilian menyalami Ahreum sembari menyebutkan namanya.
“saya Laras.” (pelayan yang membuatkan Ahreum coklat panas)
“saya Arini, nona Ahreum.” (pelayan yang bertugas mencuci piring)
“dan saya Bona pelayan yang termuda disini hehee.” (pelayan yang mengelap piring setelah dicuci oleh Arini)
“okay, karena kita sudah berteman, maukah kalian menceritakan kisah horror mengenai Villa ini?” ucap Ahreum yang kemudian menyeruput coklat hangatnya selagi menunggu para pelayan melakukan aksi saling tatap kembali, seolah tengah menimbang-nimbang, haruskan mereka menceritakan kisahnya pada istri majikannya tersebut yang tampak penasaran sekali.
“ahh itu.. hehehe. Nona yakin ga akan takut?” tanya Arini mencoba memastikan kembali.
“hmm.. kurasa sebaiknya kalian selesaikan dulu tugas kalian setelah itu mari kita ngobrol dengan nyaman dimeja makan. Hehee.”
“oke baik nona.” Respon mereka serempak yang kemudian kembali pada aktivitasnya masing-masing.
Ahreum pun kembali melenggangkan kakinya menuju meja makan, ia menaruh coklat hangatnya terlebih dahulu diatas meja sebelum mendudukan bokongnya dikursi.
Selagi menunggu para pelayan tersebut menyelesaikan tugasnya, Ahreum memilih untuk kembali memeriksa ponsel yang sebelumnya ia taruh diatas meja.
***
__ADS_1
Bersambung...