
Karena tak mungkin membiarkan lelaki paru baya itu tetap terbaring dilantai yang dingin, mereka pun memutuskan untuk menggotong lelaki tersebut ke lantai bawah dan membaringkannya disofa ruang tamu.
Sementara Ahreum masih tetap dengan rencananya pergi sendiri ke kamar yang berada diujung lorong.
Hanya dengan bermodalkan lampu senter yang ada diponselnya, ia berjalan perlahan menyusuri lorong gelap gulita sendirian.
Sesampainya didepan pintu kamar tersebut, langsung saja ia memasukan sebuah kunci yang sudah dipegangnya sedari tadi ke dalam sebuah lubang dibawah handle pintu. Namun ada yang aneh, sepertinya pintu itu tidak terkunci, terbukti saat Ahreum hendak memutar kunci dengan jemarinya, kunci itu tetap tidak mau berpindah.
Sehingga Ahreum pun memutuskan untuk mencoba menurunkan handle pintu dan mendorongnya perlahan, memastikan jika pintu yang kini berada dihadapannya itu memang tidak terkunci seperti yang karibnya katakan sebelumnya.
Kreeettt.. bersamaan dengan terbukanya pintu, akhirnnya lampu pun kembali menyala seperti sediakala.
Merasa sudah tak butuh senter lagi, Ahreum pun mematikan lampu senter diponselnya kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku celana sebelum mulai melangkah masuk ke dalam kamar yang dipenuhi tumpukan barang yang diselimuti kain putih.
“Ansell..” panggil Ahreum seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan menelusuri setiap sudut ruangan.
Terdengar rintihan kecil dari sudut ruangan yang terhalang oleh sebuah sofa besar yang diselimuti kain putih. Langsung saja Ahreum mempercepat langkahnya menuju sumber suara tersebut tanpa ada rasa takut sedikitpun atau pun fikiran negative seperti bisa saja yang merintih itu adalah makhluk jejadian bukan?
Tapi Ahreum melangkahkan kakinya dengan berani menghampiri suara rintihan yang teredengar menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.
“Ansell..” panggil Ahreum kembali kala melihat kini suaminya tengah berjongkok sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang sudah berlumur darah segar.
Selah de ja vu, kejadian tragis beberapa bulan lalu kini terulang kembali.
Tanpa berkata lagi Ahreum berlari kecil kemudian menarik kepala suaminya masuk ke dalam dekapannya.
“apa yang terjadi Ansell? Kenapa tanganmu terluka?” tanya Ahreum yang kemudian melepas pelukannya sejenak untuk memandangi 2 bola mata suaminya yang sudah memerah karena kelamaan menangis.
“hikkss… hiksss.. hiksss..” alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, Ansell malah semakin emosional dengan meninggikan suara tangisannya membuat hati Ahreum ikut merasa tersayat. Hingga Ahreum pun kembali menarik tubuh suaminya masuk dalam dekapan hangatnya seraya membelai lembut bagian kepala belakang suaminya yang masih menangis sesenggukan itu.
“mungkinkah dia melihat Ilona disini?
Tapi bagaimana dia bisa ada disini? Ataukah yang dilihatnya benar-benar mendiang Ilona?
Aiishhh.. Aku masih bingung, sebenarnya yang mana Ilona dan yang mana Aluna.” Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya membuat dirinya benar-benar semakin yakin akan rencananya yang akan pergi mencari tahu mengenai asal-usul gadis yang pernah mengisi hati suaminya itu dimasala lalu.
Karena jika terus dibiarkan, gadis yang tengah berpura-pura menjadi mendiang Ilona itu lambat laun akan membuat kondisi mental Ansell berangsur memburuk.
Sementara gadis yang sedang bermain-main dibelakang layar tertawa puas dengan pertunjukan yang dirinya atur sedemikian rupa, agar Ansell benar-benar percaya jika mendiang kekasihnya dahulu kembali bangkit untuk meminta pertanggung jawaban atas kematiannya.
Tak sampai 5 menit, Ansell yang kini berada dalam pelukan hangat istrinya pun tak sadarkan diri. Kedua tangannya yang terluka terkulai lemah ke lantai, Ahreum pun mencoba menidurkan Ansell agar ia bisa meminta bala bantuan dari temannya untuk mengangkat Ansell ke kamarnya.
Ahreum bangkit dari duduknya seraya mencoba merogoh ponsel dari dalam saku celananya, hendak menelfon karibnya Rihanna, iya setidaknya hanya Rihanna yang bisa diandalkan saat ini, mengingat Nayeon masih dalam pengaruh alcohol.
Selagi menunggu panggilan tersambung, ia mengarahkan pandangannya pada jendela kaca besar yang tidak tertutup gorden yang berada dihadapannya, sekilas pandangannya menangkap sesosok wanita bergaun hitam yang berjalan dipekarangan depan Villa menuju pintu gerbang utama.
“Iya Ahreum, bagaimana? kau sudah menemukan Ansell?” tanya Hanna yang ikut merasa cemas akan kehilangan karibnya.
“Iya, dia ada kamar ini. Cepat kemari dengan kak Abi dan pak Jimmi.” Pinta Ahreum seraya masih mengamati gadis yang sedang berjalan santai menuju sebuah mobil yang berhenti didepan pintu gerbang, seolah semuanya telah direncanakan dengan sangat baik.
Ahreum mematikan ponselnya disusul dengan senyum menyeringai kala gadis itu telah pergi bersama dengan komplotannya.
“kau ingin bermain-main denganku rupanya, tunggu saja. Aku yang akan menemukanmu!” gumam Ahreum lengkap dengan sorot mata menyalak dan seringaian yang tak hentinya ia berikan pada mobil yang kini telah menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
***
Selang 1 jam kemudian setelah Ansell dipindahkan ke atas ranjangnya. Suasana di Villa hening karena semua orang sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya dari kegiatan menguras tenaga seharian ini.
Kamar utama, yang ditempati oleh Ansell dan Ahreum.
Terlihat Ahreum baru kembali ke kamarnya setelah mendiskusikan beberapa hal dengan Rihanna dikamar Rihanna dan Nayeon.
Ia menutup pelan pintu kamar agar suaranya tidak membangunkan suaminya yang masih terlelap dalam tidurnya.
Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju tepi ranjang seraya memperhatikan kedua lengan Ansell yang sudah dibersihkan dari noda darah, dan diobati lalu dibalut kain kassa oleh dirinya saat Ansell sudah dibaringkan diatas ranjangnya beberapa waktu lalu.
Ahreum menghela nafasnya sejenak sebelum naik ke atas ranjang.
Ahreum menidurkan tubuh mungilnya diatas dada suaminya yang bidang, sembari mengusap bahu Ansell ia terus saja mengkhawatirkan kondisi suaminya yang kini tidak terlihat baik-baik saja.
Sontak saja kegiatan itu langsung membangunkan pria berotot yang sebelumnya masih berada dialam mimpi.
“apa yang kau lakukan Ahreum?” ucap Ansell yang baru saja terbangun, ia terkejut mendapati sebuah kepala yang menempel lekat diatas dadanya.
“tanganku..” imbuhnya lagi saat menyadari kedua telapak tangannya sudah dililit oleh kain kassa yang cukup tebal.
“biarkan aku tidur seperti ini untuk malam ini.” Ahreum bergumam dalam tidur pura-puranya, sebab kedua matanya masih terjaga.
“aku tidak bisa bergerak, kakiku terkilir saat menyeretmu kemari.” Sambung Ahreum yang langsung disambut tawa renyah oleh Ansell.
“apa yang terjadi Ansell?
Kau.. melukai tanganmu lagi?” tebak Ahreum seraya mengangkat kepalanya dan menatap dalam kedua mata suaminya yang juga tengah memandanginya.
Merasa enggan menjawab pertanyaan istrinya itu, Ansell pun membuang wajahnya ke arah lain tanda dirinya tidak ingin membahas kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu.
Tak ingin memaksa Ahreum pun mengalah untuk tidak kembali menyinggungnya, ia hanya bisa mengehela nafas dalam sebelum kembali menempelkan pipinya didada bidang suaminya, lalu memeluknya erat seolah tengah memberikan kekuatan kasih sayang pada suaminya tersebut.
“kau.. ada apa denganmu? Kau tidak pernah seperti ini saat awal kita menikah.” Ansell bergumam pelan, namun terdengar jelas ditelinga Ahreum sebab mereka saling berdekatan.
“memangnya aku bagaimana dulu padamu?” tanya Ahreum.
“kau tampak acuh dan datar, seolah tidak tertarik padaku. Tapi ada saat dimana aku merasakan keperdulianmu, hanya saja itu seperti rasa perduli pada seorang teman. Bukan karena kau memandangku sebagai seorang pria.” Paparnya yang membuat Ahreum terkekeh.
“ckckckck.. begitukah?” timpal Ahreum yang membuat Ansell mengangkat 1 alisnya karena merasa kesal dengan respon yang diberikan Ahreum padanya.
“apa itu? kau tertawa Ahreum?” ketus Ansell tak terima.
“kau lucu sekali Ansell.” ucap Ahreum yang masih cengengesan diatas dada bidang Ansell.
“lucu?!
Apanya yang lucu, sudah sana pergi, tubuhmu berat sekali, membuat nafasku sesak!” gerutu Ansell seraya mendorong-dorong kepala Ahreum dengan dada kerasnya, hingga kepala Ahreum pun naik turun seirama dengan dorongan dada Ansell.
“ammm.. Jika kau tidak mau cerita apa yang terjadi padamu, ijinkan aku bertanya 1 hal.” Ucap Ahreum yang berhasil membuat Ansell terdiam, seolah tengah menimbang sesuatu dalam benaknya suasana kembali hening seketika.
__ADS_1
Sampai…
“kenapa kau selalu melukai telapak tanganmu?” sambung Ahreum.
“hmm..
Karena tangan ini yang sudah mencekiknya.” Ungkap Ansell yang membuat kedua mata Ahreum membulat karena tak menduga ternyata dirinya mencoba menghukum dirinya sendiri.
Tak ingin suasana sedih ini terus berlarut, Ahreum lantas mencoba berfikir keras untuk merubah kondisi hati Ansell bagaimana pun caranya.
“ahh iya, tangan itu juga yang sudah membuat pergelangan tanganku membiru kan?! hanya karena kesalahpahaman." Celetuknya.
“apa?!
Kau benar-benar tidak membantu sama sekali, bukankah seharusnya kau menghiburku atau..”
“atau apa?...” potong Ahreum seraya mengangkat wajahnya dan menatap wajah suaminya yang super duper tampan itu dengan tatapan penuh arti.
“kenapa aku harus menghiburmu? Aku bukan pelawak tuh.” Sambung Ahreum sembari nyengir seolah tengah mengejek suaminya yang kini mulai emosional.
“kau!!” pekik Ansell yang kemudian melilitkan kedua tangannya ke tubuh ramping Ahreum hingga tubuh Ahreum pun tenggelam dalam tubuh suaminya.
“eheheehe..
Kau tahu, aku lebih suka kau emosian seperti ini, karena dengan begitu kau akan lupa pada kesedihanmu.” Jelas Ahreum seraya mencoba menyembulkan kepalanya dari dalam dekapan erat Ansell.
Ansell hanya bisa terkekeh sembari menatap lekat wajah mungil istrinya yang kini tengah tersenyum lebar padanya.
“aku benar-benar tak bisa menyelami apa yang ada didalam otak kecilmu itu Ahreum. Kau selalu berhasil mengejutkanku berkali-kali.” Ucap Ansell seraya melonggarkan pelukannya, dan menempatkan kepala Ahreum kembali diatas dada bidangnya seraya membelainya lembut.
“benarkah?
Apa kau sudah mencintaiku sekarang?” tanya Ahreum yang lagi-lagi mengangkat kepalanya agar bisa melihat dengan jelas rupa tampan suaminya.
“kita tidur aja, sudah malam.” Ansell berdalih seraya kembali menempatkan kepala Ahreum diatas dada bidangnya.
“Ahreum..” panggil Ansell kembali setelah beberapa menit hening.
“hmm..” sahut Ahreum yang masih terjaga.
“terimakasih karena sudah mencintaiku.” Ungkap Ansell seraya membelai dan mengecup bagian atas kepala Ahreum sebelum memejamkan matanya.
Senyum bahagia pun terukir menghiasi wajah mungil Ahreum yang tengah menatap ke arah lain.
“yak! Ahreum, singkirkan kakimu dari area itu!” pekik Ansell yang refleks membuka kembali kedua matanya kala kaki istri mungilnya itu tiba-tiba menjelajah ke area terlarangnya.
“memangnya apa ini? kok gede banget. Buwung puyuh ya?” Goda Ahreum diiringi tawa jahil dan juga tak hentinya menggesek-gesekan kakinya ke area terlarang Ansell, yang membuat rasa kantuk Ansell hilang seketika.
“AHREUM!!”
***
Bersambung...
__ADS_1