
“kenapa kau lakukan itu, Nay?” tanya Ahreum begitu ia duduk dikursi yang berada disamping ranjang karibnya itu, sementara Nayeon masih memalingkan wajahnya dari Ahreum.
“bukankah kau bisa bertanya padaku, alih-alih menempatkan Ansell dan Jeno dalam bahaya seperti itu, bagaimana jika aku hanya berfokus pada 1 orang saja dan membiarkan salah satunya terluka, seperti yang ingin kau lihat. Apa kau benar-benar puas jika hal itu terjadi?
Hentikan Nay, kurasa kau sudah cukup melewati batas.” Lanjut Ahreum saat Nayeon masih tak menghiraukannya.
“KAU YANG BERHENTI!!
Berhenti terus berpura-pura baik didepanku, kau tersenyum, tertawa seperti orang bodoh disaat ku tahu hatimu terluka saat melihatku bersama dengan Jeno!! Bahkan kau selalu mendoakan hubunganku langgeng dengan wajah so polos mu itu!!” kecam Nayeon seraya menoleh dan menajamkan pandangannya ke arah Ahreum yang tengah mentapnya juga dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
“YAK!! Apa kau tak lelah terus memakai topeng seperti itu, kita berteman sudah lama Ahreum tapi kenapa aku merasa kau masih menganggapku seperti orang asing, sikapmu denganku tidak sesantai saat kau bersama dengan Hanna, kau bisa berbicara atau bersikap sesukamu saat bersama dengan Hanna, tapi tidak denganku!!”
“lalu kau ingin aku bagaimana?
Kau berharap aku mengakui perasaanku yang sebenarnya kemudian merebut Jeno darimu dan berakhir menjadi rivalmu? Tidak, itu tidak benarkan Nay, karena kau sahabatku. Bukan aku munafik, hanya saja.. aku merasa harus menghormati persahabatan yang sudah kita jalin sejak lama.”
“dan aku juga tidak bermaksud membedakan perlakuanku terhadapmu dengan Hanna, itu terjadi begitu saja, maafkan aku Nay. Aku tak tahu jika kau merasa seperti itu.” Ucap Ahreum dengan nada selembut mungkin lengkap dengan senyuman hangatnya diakhir kalimat membuat hati Nayeon tersentuh dan ikut terbawa suasana mellow tersebut.
Tak hanya Ahreum yang kini meneteskan air matanya, nyatanya Nayeon pun ikut menangis kala Ahreum berpindah duduk ke pinggiran ranjang Nayeon, tanpa berkata-kata Nayeon pun langsung menarik karibnya tersebut ke dalam dekapannya.
***
Bandara XXX Jakarta selatan.
Tampak banyak sekali orang yang berlalu lalang seraya menarik koper besarnya, ditambah dari informasi yang beredar didunia daring, katanya akan ada seorang idol yang akan mendarat dibandara XXX semakin membuat ramai suasana dibandara XXX.
Dengan banyaknya fangirl dan fanboy yang berkumpul mengelilingi pintu masuk lengkap dengan spanduk nama dan juga foto berukuran besar dari idolnya. Tak ketinggalan juga beberapa dari mereka yang membawa kamera besar dan canggih hingga tak harus terlalu dekat dengan idolanya.
__ADS_1
Hanya cukup berdiam diri di suatu sudut yang pas untuk mengambil beberapa potret bagus kala sang idola berjalan melewati dirinya.
Entah suatu keberuntungan atau kesialan yang menimpa seorang gadis yang tengah berjalan tak jauh dari rombongan idol didepannya. Iya suatu keberuntungan sebab ia bisa satu pesawat dengan idol tampan tersebut yang di elu-elukan oleh puluhan fansnya, dan juga kesialan karena hal itu membuatnya harus terombang ambing kesana kemari oleh para fans dari idol tersebut.
“AUGHH SIAL!! BREN**** @Fjj*h** SH**!!” umpat gadis mungil tersebut penuh dengan amarah yang menggebu-gebu seraya mencoba keluar dari gerombolan fans idol tersebut.
Namun nyatanya tidak semudah itu, sebab setiap kali ia berusaha untuk keluar dari gerombolan itu, dirinya selalu saja kembali terdorong oleh seseorang yang berlarian dari belakang, hingga membuatnya kembali berada ditengah-tengah rombongan tersebut.
30 menit kemudian, di depan pintu utama bandara.
Gadis tersebut tampak sangat kelelahan setelah melalui hal mengerikan tersebut, dengan wajah lusuhnya juga pakaian yang tak lagi staylish seperti 30 menit yang lalu, ia terduduk diatas koper besarnya seraya meneguk air mineral yang baru saja dibelinya.
“aughh shitt! Aku benar-benar sial hari ini, dipesawat dikira sasaeng karena dapet bagian duduk yang dekat sekali dengan idol itu, ehh disini aku malah terombang-ambing oleh fans nya yang bejibun itu, ciih..!!” dumelnya di sela meneguk air mineralnya gadis itu masih saja terbawa emosi, padahal kejadian itu sudah berlalu 10 menit yang lalu.
“lagipula kurasa idol itu juga ga cakep-cakep amat tuh, masih lebih ganteng Jenoku, uuuhh, aku sudah tak sabar ingin mengejutkannya, hehe.” Ocehnya lagi seraya menunjukan raut wajah gembiranya kala otaknya tengah membayangkan wajah lelaki yang pernah menjadi kekasihnya tersebut.
***
Setelah cukup untuk menenangkan diri, keduanya pun kembali melanjutkan obrolannya dengan Ahreum yang kembali duduk dikursinya.
“kau masih kuliah? Bukankah lusa kau akan menikah, seharusnya sekarang kau hanya memfokuskan dirimu pada pernikahanmu saja Ahreum.” Ujar Nayeon.
“semuanya sudah beres kok, tak ada yang perlu dikhawatirkan, lagipula aku sudah banyak ketinggalan pelajaran saat aku dirawat kemarin.” respon Ahreum.
“iya juga sih, amm.. tapi bagaimana ini, kurasa aku tak bisa datang nanti, dokter menyarankanku untuk dirawat selama 2 minggu sampai kakiku benar-benar pulih.”
“gak apa-apa, aku mengerti, kau hanya perlu istirahat saja disini, tak perlu terbebani dengan pernikahanku.”
__ADS_1
“ahh iya, apa kau memberitahu Hanna tentang pernikahanmu itu?” tanya Nayeon yang kembali membahas teman lamanya itu yang sekaligus pernah menjadi rivalnya dalam mendapatkan hati Jeno.
“iya, aku sudah mengirim email padanya, tapi dia tidak merespon.” Sahutnya seraya merogoh ponsel didalam tas kecilnya sesaat setelah getaran yang berasal dari ponselnya tersebut terhenti.
“sebenarnya aku kasihan padanya, saat keluarganya bangkrut dan kedua orang tuanya bercerai hidupnya benar-benar berubah drastis, ayahnya pergi bersama dengan wanita lain membuat ibunya depresi dan akhirnya harus dirawat dirumah sakit jiwa.
Beruntung ia memiliki kakek dan nenek yang baik padanya, hingga akhirnya ia dibawa pergi ke Negara asal ayahnya. Yaa meskipun kakek dan neneknya itu tak pernah meresetui pernikahan putranya, tapi mereka tetap tak bisa membenci cucu mereka sendiri.
Sejak dia pergi, jujur aku tak berharap ia kembali lagi kesini, karena jika itu terjadi dia pasti akan menempel kembali dengan Jeno.” Ceritanya panjang lebar, membuat Ahreum ternyum tipis mendengarnya.
“dan kurasa saat kepergian Hanna, itu juga awal dari pertemanan kita, iya kan?
Karena sebelumnya kau hanya berpihak padanya, tidak adil sekali, bahkan saat aku dengan Hanna bertengkar pun kau selalu membelanya, ciihh!! Membuatku kesal saja.”
“hahaa, ya jelas aku berpihak padanya, karena pada waktu itu kan memang kau yang menjadi orang ketiga antara Hanna dan Jeno, kau yang mencoba merebut perhatian Jeno dari Hanna.”
“lalu, bagaimana jika kejadian itu terulang kembali?
Siapa yang akan kau pilih, Hanna atau aku?”
“seharusnya kau mengajukan pertanyaan itu pada Jeno, bukan aku. Aku pergi ya, sudah terlambat, bye.” Pamit Ahreum seraya bergegas keluar dari ruangan karibnya tersebut.
“ciiih!! Dia pasti mau menghindar dari pertanyaanku.”
***
bersambung...
__ADS_1