Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 47


__ADS_3

Begitu Ansell keluar dari ruangan tersebut, kedua orang tuanya sudah berada didepan pintu hingga mereka pun akhirnya saling melempar tatapan terkejutnya untuk sesaat.


“kau ini Ansell! mama dan papa mencarimu kemana-mana, apa Ahreum ada didalam?” tanya Carrisa lengkap dengan nada cemasnya.


“tante..” ucap Ahreum yang langsung keluar saat mendengar suara mama mertuanya itu dari balik pintu.


“haduuhhh, Ahreum kamu ini, panggil mama sayang, bukan tante.” Respon Carrisa seraya memegangi pipi mulus Ahreum lengkap dengan senyuman teduhnya.


“iyaa mah.” Sahut Ahreum ditambah dengan senyum manisnya yang menghiasi wajah mungil gadis tersebut.


“ahh iya, mama hampir lupa, ibumu ke rumah sakit tadi, mama rasa sudah waktunya adik kecilmu keluar hehee.”


“kalau begitu Ahreum juga mau ke rumah sakit sekarang, mah.” Seru Ahreum seraya kembali lagi masuk ke dalam untuk mengambil tas nya yang ia letakan diatas meja disamping ranjang tidur.


“kau juga kan Ansell?”


“tidak, aku harus kembali ke kantor sekarang juga, jadi ku titipkan menantu kesayangan mama itu pada mama dan papa.” Pungkas Ansell yang langsung menarik langkah meninggalkan kedua orang tuanya yang bahkan belum sempat menanggapi perkataan putra kasarnya tersebut.


Begitu Ahreum membuka pintu, ia hanya melihat kedua mertuanya yang tengah memandangi kepergian putranya itu dengan menggelengkan kepalanya, seolah hanya bisa pasrah dengan perlakuan kasar dari putra semata wayangnya itu.


“ayo mah, pah.” Ucap Ahreum, yang membuat Carrisa dan Andrew kembali berbalik.


“tapi suamimu.” Ucap Carrisa seraya kembali menengok jalanan yang tadi sudah dilalui oleh putranya.


“maafkan putra papah ya, tapi jika dia berlaku kasar padamu, kau harus melaporkannya pada papah, oke.” Tambah Andrew seraya mengelus lembut bagian kepala belakang Ahreum.


“tidak apa-apa mah, pah, mungkin memang kak Ansell sedang ada hal yang mendesak dikantor.”

__ADS_1


“beruntung banget mamah punya menantu cantik dan baik hati sepertimu, Ahreum.” Tak kuasa menahan tangis harunya, tiba-tiba saja Carrisa menjadi emosional lalu menarik lengan Ahreum ke pelukannya.


“tak ada hentinya mamah mengucap syukur pada Tuhan, karena pada akhirnya kau lah yang menjadi menantu mamah dan bukan wanita itu, terimakasih Ahreum karena sudah mau bertahan dengan putra mamah yang sangat kasar itu, pasti berat bagimu bukan karena kau harus sangat sangat sabar menghadapinya.” Ucap Carrisa yang kemudian melepas pelukannya dan beralih memegangi wajah Ahreum dengan kedua tangannya lengkap dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Ahreum hanya mengangguk menanggapi perkataan mertuanya tersebut lengkap dengan senyuman tulusnya, seolah ia ingin mengatakan pada mertuanya itu jika dirinya baik-baik saja.


Ditengah suasana haru itu Andrew sang suami pun ikut membelai bagian kepala belakang Ahreum kembali, layaknya ia tengah mengasihi putri kandungnya sendiri, ditambah senyuman yang tak pernah pudar diwajahnya yang masih terlihat tampan diusianya kini yang sudah mendekati angka 46.


Untuk menambah kehangatan yang terjadi kala itu, Ahreum pun mencoba memeluk kedua mertuanya tersebut, hingga terjadilah sebuah adegan saling memeluk satu sama lain. Sementara kedua penjaga yang masih berjaga tak jauh dari keberadaan mereka pun sedikitnya ikut merasakan suasana yang dipenuhi oleh cinta dari keluarga kecil tersebut.


***


Dirumah sakit Haneul Jakarta.


Setelah 1 jam kepergian kedua mertuanya, kini diruangan hanya ada keluarga kecil Baghaskara juga sang ayah yang masih terduduk di sofa panjang bersama dengan cucu perempuannya Ahreum nathania.


Tak berapa lama, pintu ruangan tersebut pun terbuka, disusul dengan kemunculan beberapa dokter juga perawat di sisi kanan dan kirinya. Terlihat 1 dokter tengah memegangi sebuah buku dan 1 pulpen yang digenggamnya.


“selamat siang pak Seno juga bu Enzy.” Sapa salah satu dokter lengkap dengan senyuman ramahnya, disusul dengan sapaan dokter lainnya dan kedua perawat yang berdiri dibelakang dokter.


“iya selamat siang dok.” Balas Seno, sedangkan Enzy hanya mengangguk lemah.


“sepertinya akan sulit untuk menjalani proses persalinan normal, mengingat usia dari sang ibu yang sangat rawan sekali dan kondisi sang ibu juga yang tidak memungkin untuk melakukan persalinan normal, jadi saya lebih menyarankan untuk melakukan operasi Caesar. Demi keselamatan sang ibu dan juga bayinya.” Papar salah satu dokter tersebut seraya memandangi kedua oran tua Ahreum secara bergantian.


Setelah mendengar kenyataan tersebut, Enzy pun langsung menoleh ke suaminya dan menggelengkan kepalanya tanda jika dirinya tidak setuju dengan keputusan dari dokter tersebut. Sedangkan Seno hanya bisa menghela nafas panjangnya dengan berbagai macam beban fikiran yang terus menghantamnya saat ini.


“hmm.. tolong beri saya waktu sebentar untuk meyakinkan istri saya dok.” Ucap Seno yang akhirnya mengambil keputusan setelah banyak menimbang dalam fikirannya.

__ADS_1


“baiklah kalau begitu kami akan menunggu, tapi sebaiknya jangan terlalu lama pak Seno, tidak terlalu baik juga untuk kondisi sang ibu dan bayinya.” Balas dokter wanita tersebut kemudian pamit undur diri bersama dengan yang lainnya.


_____


“pokoknya aku tidak mau pah, aku ingin melahirkan secara normal, karena ini pertama dan terakhir kalinya aku akan melahirkan putraku, ijinkan aku untuk menjadi ibu yang sebenarnya, ku mohon.” Pinta Enzy seraya menggenggam erat tangan suaminya dengan kedua tangannya lengkap dengan tatapannya yang mulai berkaca-kaca.


“mamah sudah dengar sendiri kan apa yang dikatakan dokter barusan, kondisi fisik mamah itu benar-benar tidak memungkinkan untuk melakukan persalinan secara normal, itu bisa saja membahayakan nyawa mamah dan bayi kita. Aku mengerti, aku sangat mengerti keinginan mamah, tapi mamah juga harus memikirkan kembali skenario terburuk dari pilihanmu itu sayang.” Kata Seno dengan nada selembut mungkin, sembari mengusap pelan bagian sudut kening istri tercintanya.


“tapi paah..” kekeh Enzy yang masih tetap ingin mempertahankan apa yang menjadi rencananya diawal, bahkan kini bulir air matanya pun telah mengalir membasahi kedua pipinya yang membuat suaminya semakin tidak tega untuk menolak keinginan mulianya tersebut, untuk menjadi seorang ibu yang sesungguhnya melalui persalinan normal.


Dengan begitu ia akan bisa merasakan perjuangan yang sesungguhnya seorang ibu yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan sang buah hati ke dunia.


Karena tak ingin mencampuri masalah keluarga putra sulungnya, Darren sang ayah hanya bisa melihat dan mendengarkan apa yang sedang terjadi kini dihadapannya. Tanpa berniat untuk menengahi dan mencoba ikut membujuk menantunya tersebut, ia lebih memilih untuk diam dan mempercayakan keputusan yang terbaik pada mereka berdua.


Sampai..


“ibuu.” Panggil Ahreum ditengah isak tangis sang ibu yang semakin menjadi dalam dekapan suaminya, Ahreum pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati sisi ranjang yang lain.


“apakah menurut ibu melahirkan secara caesar, itu artinya tidak menjadi seorang ibu sungguhan? Apakah harus melahirkan secara normal baru bisa dibilang seorang ibu?” ucap Ahreum seraya menatap lekat ke arah ibunya yang kini keluar dari dekapan sang suami lalu beralih menatap putrinya tersebut yang berdiri tak jauh disamping ranjangnya.


“lalu bagaimana dengan mamahku, mamahku juga melahirkan ku melalui operasi Caesar, apa mamahku bukan mamah sungguhan?


Bahkan setelah rasa sakit yang ia rasakan dari sayatan pisau bedah disaat anestesi hilang?


Dan lagi, ku dengar untuk pemulihan dari operasi caesar itu cukup lama dibanding dengan yang melakukan persalinan normal, apa rasa sakit itu semua belum cukup menjadikanmu seorang ibu sungguhan?” lanjut Ahreum lagi yang membuat Enzy terdiam sesaat, seakan ia mendapat tamparan yang cuku keras dari putrinya tersebut yang membuatnya kini tersadar.


bersambung...

__ADS_1


***


__ADS_2