
“kau susul kak Abi.” Perintah Hanna pada Jeno, begitu Abi memutar tubuhnya dan mulai berjalan keluar dari kedai dengan Nayeon yang berada dalam gendongannya.
“tapi kau..”
“tenang aja, aku bisa membereskannya, kau pergi saja duluan.” Kata Hanna lagi.
Jeno pun bergegas pergi menyusul Abi keluar, meninggalkan Hanna sendirian yang akan membereskan kekacauan yang telah mereka perbuat.
“jadi, bagaimana nona akan membereskannya?” tanya sang pemilik kedai lengkap dengan tatapan sinisnya yang mengarah pada Hanna, Hanna hanya bisa nyengir mendengar hal itu.
***
Sementara Nayeon dibaringkan dikursi mobil milik Abi, keduanya pun berkumpul disamping mobil sembari menunggu kedatangan Hanna yang tengah berbincang dengan sang pemilik kedai.
“apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Abi seraya mengarahkan pandangannya pada Jeno yang masih tampak sangat terkejut dengan situasi yang baru saja dialaminya.
“tidak, sebaiknya kau tak perlu ikut campur.” Ketus Jeno.
“YAK!! JENO!! Kenapa kau berbohong padanya?!” seru Hanna seraya berjalan cepat menuju keberadaan 2 pria yang tengah memandanginya.
“aku tak bermaksud membohonginya, hanya saja..” Jeno beralasan.
“hanya saja apa, hah?! Kau tahu, kau sama aja seperti mempermainkan perasaannya Jeno!
Sekarang bagaimana kau akan mengatasinya?” sambar Hanna yang masih dipenuhi amarah dan juga kekecewaan pada karibnya itu.
“diamlah, aku juga sedang berusaha memikirkannya.” Timpal Jeno lengkap dengan raut wajah yang tampak gelisah.
Disaat keduanya tengah beragumen, Hanna melirik sesaat kearah Abi yang hanya bisa terdiam seraya menyimak perdebatan yang terjadi dihadapannya tanpa ingin ikut menyuarakan pendapatnya.
“terimakasih kak Abi, jika bukan karena kak Abi aku gak bisa membayangkan hal ekstrim apa yang akan Nayeon lakukan.” Ucap Hanna seraya mengarahkan pandangannya pada asisten pribadi Ansell.
“sebenarnya apa yan terjadi?” tanya Abi kembali berharap kali ini Hanna akan memberikan jawaban atas apa yang membuatnya penasaran sedari tadi.
“sudah kubilang tak perlu ikut campur!” bentak Jeno seraya mendorong kasar bahu Abi hingga mundur 1 langkah dari posisi awalnya.
“YAK! kau seharusnya berterimakasih padanya, jika bukan karena kak Abi yang datang tepat waktu untuk menyelamatkan kekasihmu, mungkin kau akan melihat lebih banyak darah dan juga mayat dihadapanmu tadi, Jeno!” balas Hanna yang tak kalah garangnya.
__ADS_1
"udah-udah hentikan, kalau saya gak boleh tau apa yang sebenarnya terjadi, gak apa-apa, tapi sebaiknya kita membawa nona Nayeon terlebih dahulu ke rumah sakit, saya rasa telapak tangannya terluka cukup dalam.” Kata Abi yang menengahi diantara Hanna dan Jeno.
“ahh iya benar juga, ayo!” pungkas Hanna yang langsung bergegas untuk naik ke dalam mobil Abi.
Namun saat hanna hendak menarik handle pintu.. “apa yang kau lakukan?” tanya Hanna begitu melihat Jeno juga hendak menarik handle pintu bagian belakang.
“kau akan meninggalkan mobilmu disini, Jeno!” bentak Hanna.
Karena masih dalam keadaan ling lung Jeno hampir lupa jika dirinya membawa mobil kemari, ia pun langsung berlari pergi menuju keberadaan mobilnya begitu Hanna menyadarkannya.
“aughhh!” dengus Hanna yang kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada pintu mobil yang hendak ditariknya.
***
Dalam perjalanan menuju rumah sakit Haneul.
“sebenarnya ini sedikit rumit untuk dijelaskan, hmm..” gumam Hanna yang membuat Abi langsung melirik kearahnya.
“sebelum Jeno bersama dengan Nayeon sekarang, aku sudah lebih dulu mengenal Jeno dan dekat dengannya, namun ada situasi yang mengharuskan aku pergi, begitu aku kembali, aku sudah mendapati mereka berdua berkencan.
Sebenarnya, aku tidak benar-benar ingin kembali padanya, karena aku pun cukup tahu diri, bagaimana mungkin aku merengek ingin kembali padanya disaat aku sendiri yang meninggalkannya saat itu.
Kedua orang tua Jeno adalah orang yang paling menakutkan bagiku, mereka hanya akan menerima seseorang dengan keluarga terpandang, dan juga setara dengannya.
Dan Nayeon.. tidak termasuk kriteria yang mereka inginkan, sudah pasti kedua orang tuanya akan memaksa Jeno untuk meninggalkan Nayeon.” lanjutnya Hanna.
“kenapa bisa tidak termasuk, kelihatannya nona Nayeon bukan dari keluarga sederhana, dan saya rasa cukup setara dengan mas Jeno.” Timpal Abi, yang menyimpulkan keadaan finansial Nayeon hanya dengan melihat penampilan Nayeon sejauh ini.
“ayah Nayeon adalah seorang mantan ketua gangster, dan ibunya.. dia sendiri pun tak tau keberadaannya dimana karena ayahnya tak pernah memberitahunya. Kurasa dengan mengetahui fakta mengenai ayahnya yang seorang gangster, itu sudah cukup membuat keluarga Jeno tidak akan menyetujuinya.” Papar Hanna seraya melirik sesaat kearah Abi yang tengah fokus menyetir.
“hmm..
Saya tahu mungkin ini sangat pribadi sekali, tapi boleh saya bertanya sesuatu?”
“apa?”
“apa benar kakak perempuan mas Jeno menikah dengan kakak angkat nona Ahreum?” tanya Abi.
“ahh itu, iya, tapi kurasa pernikahan mereka pun tidak berjalan dengan mulus, karena kedua orang tua kak Winter sudah mengajukan surat cerai ke pengadilan agama.”
__ADS_1
“kenapa?”
“maaf aku tak bisa memberitahukannya.”
“ahh iya, ga apa-apa.”
“hubungan mereka pun cukup rumit, jika bukan karena om Seno yang mengangkat kak Ben sebagai putra sulungnya, kak Ben mungkin tak akan pernah bisa menikahi kak Winter.
Tapi yaa.. nyatanya kebahagiaan mereka pun tak berlangsung lama, setelah insiden itu terjadi kedua orang tua kak Winter memutuskan untuk memisahkan kak Winter dengan kak Ben. Begitulah orang tua Jeno, sangat.. sangat mengerikan.”
***
Keesokan paginya.
Kembali ke aparteman Bougenville, dikamar Ahreum nathania, gadis mungil itu membuka kedua matanya perlahan setelah beberapa saat meraba sisi ranjang yang sebelumnya ditempati oleh Ansell.
“dia sudah bangun?” gumam Ahreum begitu menyadari jika Ansell sudah tidak lagi disampingnya.
Ia pun terbangun sembari mengarahkan pandangannya pada jam dinding yang kini menunjukan pukul 07:00 tepat, dengan kerutan didahi ia kembali bergumam.
“pagi sekali dia bangun..” setelah menghela nafas panjangnya ia pun menurunkan kakinya ke lantai, kemudian menarik langkah menuju gorden jendela kamarnya dan membukanya selebar mungkin, agar sinar mentari yang mulai naik bisa masuk menyinari kamarnya.
Ahreum menghembuskan nafasnya dalam-dalam seraya memejamkan kedua matanya sejenak untuk menikmati suasana pagi yang cerah kala itu.
“kau sudah bangun?” sapa Ansell begitu membuka pintu kamar dan melihat istri mungilnya itu tengah berdiri dibalik jendela besar kamarnya.
Mendengar suara itu membuat Ahreum langsung membalikan tubuhnya lengkap dengan senyuman cerah Ahreum pun membalas sapaan Ansell, masih dengan kedua tangannya yang memegangi pinggiran gorden.
“jam berapa kau berangkat kuliah?
Mau kuantar?” lanjut Ansell yang masih berdiri diambang pintu seraya melipat kedua tangan diatas dadanya dan tetap mengarahkan pandangan lembutnya pada istrinya.
“kelasku dimulai dari siang nanti sih, tapi karena Hanna memintaku untuk menemaninya mencari rumah, jadi aku harus pergi dari sekarang.” Jelasnya seraya berjalan sedikit lebih dekat dengan Ansell.
“baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu sampai tujuanmu nanti, sebaiknya kau cepat mandi, kita sarapan bersama.” Imbuh Ansell seraya menutup kembali pintu kamar bahkan sebelum Ahreum sempat merespon perkataannya.
“oke.” Gumam Ahreum bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar dan senyuman tipis yang terukir diwajah imutnya tanpa ia sadari.
__ADS_1
Bersambung…
***