
Didepan aparteman Rihanna.
Sesampainya Ahreum dipekarangan aparteman karibnya itu, ia pun menghentikan langkahnya sejenak seraya menatap kearah lantai yang diyakini tempat dimana Rihanna tinggal. Seakan tengah menimbang sesuatu ia hanya menengadahkan wajahnya ke 1 tempat.
“apa yang sedang kau lihat?” ujar seseorang yang tiba-tiba saja berada disampingnya, seakan penasaran dengan apa yang Ahreum lakukan, ia pun ikut mencari apa yang sebenarnya Ahreum perhatikan sedari tadi sembari menjilati es krim coklat favoritenya.
“astaga!” kaget Ahreum seraya memundurkan 1 langkahnya setalah mendapat sapaan tak terduga dari karibnya yang ternyata sedang tidak berada diapartemannya.
“yak! ngagetin banget sih! kau abis darimana?” seru Ahreum dengan nada yang tidak santai karena efek terkejut barusan.
“baru pulang dari RSJ, kau sendiri ngapain pagi-pagi udah berada diapartemanku?” sahutnya masih sembari menikmati es krimnya yang tinggal setengah lagi.
“kau bermalam di rumah sakit?” tanya Ahreum lagi.
“he’em, aku harus sering-sering mengunjungi mami, karena sampai saat ini pun mami masih belum bisa mengenaliku.” Ungkapnya seraya menarik langkah untuk masuk ke dalam apartemannya.
“kau sudah sarapan?” tambah Hanna ditengah perjalanannya menuju lift bersama dengan Ahreum yang berjalan disampingnya.
“sudah, kenapa? kau belum sarapan? Mau ku buatkan sarapan?” kata Ahreum penuh antusias dengan percakapan yang terjadi diantara mereka.
“boleh, buatkan aku sandwich aja dan kopi dingin.” Pintanya seraya masuk ke dalam lift yang sudah terbuka kemudian melahap langsung sisa es krim yang masih menempel disticknya.
“aku sudah bisa masak kok, mau kubuatkan sup hangat aja? Aku sudah belajar banyak dari bi Ijah.”
“tidak.” Tegasnya seraya menatap sinis kearah Ahreum.
“kau tak ingat, kau pernah membuat dapurku hampir kebakaran dan juga wajan pink ku kau lelehkan karena apinya terlalu besar.” Papar Hanna lengkap dengan tatapan julidnya.
“ciihhh!!.. itu kan sudah beberapa tahun yang lalu, kau masih saja mengingatnya.” dengus Ahreum seraya membuang wajah ke arah lain.
“ingatanku terhadapmu tak akan pernah hilang sampai kapanpun, karena kau memiliki ruang tersendiri dihatiku Ahreum. Bagaimanapun dirimu kau tetap Ahreum yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.
Dan juga.. maafkan aku kau harus kehilangan tante Veronica karena perbuatan mami. Maafkan aku Ahreum..” lirihnya yang langsung memeluk Ahreum.
__ADS_1
“kenapa kau diam saja, seharunya kau memakiku atau membenciku atas perbuatan mami, Ahreum! Ini semua sungguh tidak adil bagimu. Tapi kenapa kau bersikap seoalah-olah tidak ada yang terjadi diantara kita.”
Belum sempat Ahreum merespon perkataan Hanna, pintu lift pun terbuka.
Sementara didepan pintu lift ternyata sudah ada sepasang kekasih tengah berdiri hendak menunggu gilirannya masuk ke dalam lift.
Melihat kedua gadis tengah berpelukan didalam lift membuat sepasang kekasih tersebut mengerutkan dahinya dan memberikan ekspresi yang tidak mengenakan. Seolah tengah berfikir jika kedua gadis yang tengah berpelukan tersebut adalah pasangan kaum minoritas yang sedang bermesraan didalam lift.
Sehingga membuat baik Ahreum maupun Rihanna buru-buru melepaskan pelukannya, kemudian keluar dari dalam lift bersamaan dengan sepasang kekasih tersebut yang hendak mengisi tempat Ahreum dan Rihanna sebelumnya masih dengan tatapan julidnya terhadap Ahreum dan Rihanna.
“sebenarnya aku pernah mencarimu ke Inggris, seperti yang kau katakan tadi aku ingin memakimu dan bahkan ingin menamparmu berulang kali sampai aku bisa lega. Tapi melihat kondisimu yang tragis seperti itu membuat hatiku ikut terluka. Disaat semua keluargamu merisak dan melukai hatimu bagaimana mungkin aku juga sampai hati menambah penderitaanmu lagi. Hanna.” Ungkap Ahreum seraya menatap kedua mata sendu Rihanna yang seakan tengah menahan bulir air mata pilunya.
Tangis Hanna pun pecah kala Ahreum menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam dekapannya. Seakan tidak trauma mendapat tatapan julid dari orang lain kini mereka malah kembali berpelukan dikoridor aparteman. Sembari sesekali diramaikan oleh suara sesenggukan dari Rihanna dan Ahreum yang mencoba menenangkannya dengan menepuk-nepuk punggung gadis malang tersebut dengan penuh kasih sayang.
“aku janji diseumur hidupku ini, aku akan memperlakukanmu dengan baik Ahreum. Pokoknya apapun yang terjadi aku akan tetap selalu ada disampingmu.” Ucapnya mantap seraya mengeratkan pelukannya.
“Iya.. iya.. lepaskan, aku ga bisa nafas nih.” Keluh Ahreum seraya mencoba melepas pelukan hangat diantara keduanya.
“bisa kau temani aku ke suatu tempat?” ucap Ahreum seraya menyeka air mata Rihanna dipipi mulusnya.
“hah?.. kemana?” tanya Hanna yang kemudian menyedot ingusnya beberapa kali.
“nanti kau juga tahu.” Katanya seraya merangkul tubuh Hanna dan melanjutkan perjalanannya menuju aparteman Rihanna.
***
“selamat pagi tuan muda, sarapannya sudah siap, silahkan.” Sapa bi Ijah kala Ansell muncul dari kamarnya bersamaan dengan Abi yang masih berjalan dibelakangnya.
Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya Ansell pun keluar dari kamarnya kemudian berjalan ke area dapur sembari mengancingkan lengan kemejanya.
“terimaksih bi.” Ucap Ansell seraya menarik kursi lalu mendudukan bokongnya.
“kau tidak pulang? Bukankah kau juga harus membersihkan tubuhmu.” Sinis Ansell saat Abi hendak duduk dikursi yang bersebrangan dengannya.
__ADS_1
“nanti saja setelah makan.” Sahutnya yang kemudian mencoba membalikan piringnya.
“yak! setidaknya cuci wajahmu dulu Abi!” bentak Ansell yang membuat Abi sontak terkejut.
“astaga.. baik.. baik, santai aja dong.” Respon Abi yang kembali berdiri lalu peri meninggalkan meja makan untuk melaksanakan perintah dari atasannya.
“ciihh!!.. jorok sekali.” Gerutu Ansell.
Bi Ijah yang tengah membersihkan area dapur pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“amm.. sebelum Ahreum pergi, apa dia sudah sarapan?” tanya Ansell disela kunyahannya, ia pun mengarahkan pandangannya pada bi Ijah yang kini telah menghentikan aktivitasnya sejenak untuk melakukan percakapan ringan dengan atasannya.
Karena dirinya merasa tidak sopan jika berbicara sambil fokus pada pekerjaannya.
“sepertinya belum tuan, karena saat bibi sampai nona Ahreum sudah mau berangkat.” Dustanya, padahal sebelumnya jelas sekali bi Ijah mendengar jika Ahreum sudah sarapan dengan sandwich yang dibuatnya sendiri.
Mendengar hal itu Ansell terdiam sejenak dengan raut wajah seriusnya seolah tengah memikirkan sesuatu dibenaknya.
“apa dia juga bilang mau pergi kemana pagi-pagi begini?” tanya Ansell lagi yang semakin mencemaskan kondisi istri mungilnya tersebut.
“amm.. sepertinya kalau tidak salah dengar tadi nona Ahreum mau pergi ke luar kota bersama dengan teman-temannya selama beberapa hari tuan.” Dustanya lagi, ditengah usahanya menyembunyikan senyum jahilnya bi Ijah ingin tetap terlihat tenang agar bisa meyakinkan Ansell jika semua perkataannya adalah benar adanya.
Dan seperti orang bodoh, lagi-lagi Ansell percaya dengan bualan ART nya itu, hingga ia tampak sedikit kesal lalu menghentakan sendoknya ke atas meja lengkap dengan sorot mata tajamnya.
Seolah tidak belajar pada pengalamannya yang sudah sering sekali diisengi oleh bi Ijah, kali ini Ansell tetap percaya dengan apa yang bi Ijah katakan. Layaknya seorang bocah yang mudah sekali dikibulin. Hahahaa!
“Si***alan!! Berani sekali dia berpergian tanpa ijinku.” Gumamnya yang kemudian bangkit dari kursinya padahal baru beberapa kali melahap sarapannya, namun mendengar berita mengenai kepergian istrinya itu membuat dirinya kini kehilangan selera makan seketika.
Ansell pun bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan dompetnya sebelum hendak menyusul istrinya yang kini entah berada dimana.
***
Bersambung...
__ADS_1