
Sebelumnya…
Diarea taman kota.
Rihanna terlihat tengah terduduk santai dibangku taman sembari menyedot ice Americano yang dibelinya beberapa menit yang lalu setelah berlari 2 keliling menemani Nayeon.
“hufftt.. aku lelah sekali. Gadis itu benar-benar luar biasa, bahkan setelah putaran kelima dia masih terlihat baik-baik aja. Slurrrpppp..” Hanna bergumam seraya memperhatikan karibnya yang barusan melintas didepannya.
“kak Abi sedang apa ya, kenapa masih juga belum kemari.” Ocah Hanna lagi yang kemudian merogoh saku celana training untuk mengambil ponselnya.
Ia pun menscroll layar ponselnya untuk mencari kontak Abighail kekasihnya, kemudian mendekatkan ponsel ke telinga setelah mengklik kontak kekasihnya itu. Seraya menyedot beberapa kali es kopi yang berada dalam genggamannya.
“halo.” Sapa seseorang dari dalam telfon.
“Iya kak Abi, kakak masih dimana?” rengek Hanna dengan nada manjanya.
“sebentar ya. Ada yang mesti aku laporkan pada pak Ansell. Aku sedang berada di aparteman pak Ansell sekarang. Begitu selesai aku akan langsung menemuimu nanti.” Sahut Abi dengan nada lembutnya.
“hmm.. oke deh. Kalau bisa sih nanti sekalian ajak Ahreum aja.” Saran Hanna.
“Iya, nanti akan ku coba tanya nona Ahreum mau ikut bergabung atau tidak.
Nona Ahreum..” gumam Abi pelan saat ia melihat Ahreum tengah berjongkok disamping koper bersama dengan satpam penjaga aparteman.
“Ahreum?” timpal Hanna yang mendenagr samar-samar kala Abi mengucapkan nama karibnya itu.
“ahh iya.. aku melihat nona Ahreum sedang berada diloby. Sudah dulu ya. Nanti ku hubungi lagi.” Tutup Abi setelah mendapat respon dehaman oleh kekasihnya, ia pun memasukan ponselnya ke dalam saku celana jinsnya kemudian berjalan menuju keberadaan Ahreum dan pak Rudy yang tengah berjongkok memperhatikan koper entah kepunyaan siapa.
***
__ADS_1
Diruang tamu aparteman Bougenville.
Setelah insiden yang terjadi beberapa menit yang lalu, yang tentu saja membuat kedua lutut Ahreum lecet lantaran benturan yang cukup keras mengenai dinding aparteman. Beruntung kepalanya terlindungi oleh helm yang masih bersarang dikepalanya.
Ansell pun mendudukan Ahreum diatas sofa ruang tamu dan tetap berdiri dihadapan Ahreum sembari melipat kedua tangannya lengkap dengan sorot mata tajam seakan tengah mengintimidasi seseorang yang berada dihadapannya itu.
Sementara itu Ahreum hanya menundukan kepalanya karena rasa bersalahnya sudah membuat suaminya khawatir dengan kelakuan konyolnya.
“sudahlah, lagipula nona Ahreum tampak baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya perlu diolesi salep aja pada lutut yang lebam nya.” Ucap Abi seraya memberikan salep pada Ansell, yang diambilnya dari kamar karibnya itu beberapa saat yang lalu.
Meski masih sedikit kesal namun Ansell tetap menerima salep yang diberikan oleh Abi, kemudian berjongkok dihadapan Ahreum dan memindai luka lebam serta lecet yang didapatkan istrinya saat menghantam dinding.
“kau tak akan membuka helm mu?” ucap Ansell dengan nada ketusnya sebab helm barunya itu masih saja menempel dikepala Ahreum.
Ahreum mengarahkan kedua bola matanya ke atas kemudian cengengesan saat menyadari jika ia lupa melepas helmnya.
Begitu kedua mata mereka bertemu, tiba-tiba saja jemari Ansell yang tengah melepaskan tali helm berhenti bergerak. Seolah ada yang menyengat hatinya, Ansell terdiam dengan pandangan yang masih melekat pada wajah mungil istrinya yang mulai mengembangkan senyuman manisnya, membuat pipinya kini bersemu merah dan tampak salting.
“muachh..” Ansell membulatkan matanya tepat setelah kecupan manis dari istrinya mendarat dibibir sexynya.
Sementara itu Abi dan bi Ijah yang melihat adegan manis tersebut didapur tampak tersenyum seakan ikut terhanyut dalam suasana penuh cinta yang terjadi diruang tamu.
“bibi bersyukur sekali, tuan dan nyonya menjodohkan tuan Ansell dengan nona Ahreum yang bisa memberikan cinta dan kasih sayang, yang sebelumnya tak pernah sama sekali tuan dan nyonya berikan. Kedua orang tua tuan Ansell terlalu sibuk bekerja hingga seringkali mengabaikan tuan Ansell yang sebenarnya juga butuh kehangatan, kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bukan hanya sekedar materi yang berlimpah.” Bi Ijah bergumam seraya masih memandangi adegan manis didepannya dengan senyum mengembang layaknya seorang ibu yang tengah menyaksikan kebahagiaan sang putra.
Mendengar itu Abi pun menengokan wajahnya ke arah bi Ijah yang berada disampingnya tengah membantu bi Ijah memilih bahan sayuran yang masih layak dimakan.
“hmm.. bibi harap juga nona Ahreum bisa menyembuhkan luka dari masa lalunya, dan membawa Ansell kembali ceria seperti dahulu.” Lanjut bi Ijah lirih.
“memangnya Ansell dulu bagaimana bi?
__ADS_1
Setahuku karakternya sudah kasar sedari dulu, bahkan sering membuat teman-temanku dipanti menangis.” Ucap Abi.
Bi Ijah lantas tersenyum menanggapi komentar Abi sebelum kembali bercerita.
“tuan Ansell adalah lelaki yang paling baik hati, ceria dan juga penuh cinta. Semua pelayan dikediaman tuan Andrew dulu selalu disapa olehnya dan terkadang saat tuan Andrew dan Nyonya Rissa tidak ada dirumah, tuan Ansell selalu mengajak beberapa pelayan makan bersamanya dimeja yang sama.
Tuan Ansell bilang, makanan akan terasa lebih nikmat jika kita makan bersama-sama. Saat mengerjakan PR juga tuan Ansell selalu mencari pelayan yang bisa membantunya, tuan Ansell tidak pernah memandang rendah semua pelayannya.
Karena baginya semua pelayan adalah teman dan juga sudah dianggap sebagai kakak-kakaknya sendiri. Mengingat tuan Ansell adalah putra tunggal dari tuan dan nyonya membuatnya seringkali kesepian. Jadi dia mencoba menciptakan kebahagiaannya sendiri dengan membuat jalinan pertemanan bersama para pelayan.
Sampai saat kedua orang tuanya terlibat konflik besar yang membuat tuan Ansell semakin terabaikan. Hingga nyonya dan tuan Andrew memutuskan untuk berpisah kemudian berniat menitipkan sementara waktu tuan Ansell kecil pada omma dan oppanya.
Na’asnya niat itu terdengar oleh tuan Ansell kecil yang membuat tuan Ansell kecil pun kabur dari rumah pada saat itu. Dan dari situlah tuan Ansell bertemu dengan den Abi kan?” cerita bi Ijah panjang lebar yang kemudian melirik ke arah Abi sesaat lengkap dengan senyum hangatnya.
“pantas saja saat awal dia datang, tatapannya terlihat penuh luka dan rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Selama beberapa hari dia hanya terdiam dengan wajah murungnya, bahkan makan pun tidak mau. Bunda Anna sampai khawatir saat Ansell tiba-tiba pingsan sampai akhirnya bunda Anna pun memanggil dokter Laras.
Syukurlah setelah mendapatkan suntikan vitamin kondisi Ansell berangsur membaik, dan perlahan Ansell pun mau makan walau sedikit berkat bujukan bunda Anna yang tanpa henti memberikan perhatian lebih pada bocah malang itu.” ungkap Abi seraya memperhatikan adegan manis antara Ansell dan Ahreum yang masih berlangsung diruang tamu.
"amm.. Bagaimana dengan nona Ilona?
Ku yakin bibi pasti pernah bertemu dengannya." sambung Abi yang sontak saja membuat kening bi Ijah berkerut dan raut wajahnya pun berubah menjadi masam kala Abi menyinggung nama mantan kekasih Ansell.
.....
Sementara itu diruang tamu, setelah Ansell mengolesi kedua lutut Ahreum dengan salep.
“jadi.. untuk apa kau membeli koper dan helm?” tanya Ansell setelah menutup salep dan meletakannya diatas meja, namun ia masih tetap diposisi yang sama menegakkan tubuh dengan 2 lutut yang menjadi tumpuannya dihadapan istrinya.
***
__ADS_1