
“telingmu akan memerah saat kau gugup dan mengatakan hal yang bertolak belakang dengan kebenarannya.” Lanjut Ahreum saat sudah beberapa langkah melewati Abi.
Sontak Abi pun memutar tubuhnya seraya memandangi bagian punggung Ahreum.
“ckckck!! Kau bahkan tak menyadari kebiasaanmu sendiri.” imbuh Ahreum yang kembali menarik langkah kemudian meninggalkan Abi yang masih melongo karena tak menyangka jika Ahreum akan memperhatikan hal sedetail itu.
“oke.. oke.. saya minta maaf nona, saya yang salah, tapi nona..” kekeuh Abi seraya berjalan menyusul langkah Ahreum yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
Namun tentu saja langkah itu terhenti kala Ahreum menutup pintu kamarnya rapat-rapat hingga membuat Abi hanya bisa berdiri didepan pintu sembari menunggu Ahreum keluar dari kamarnya.
“saya berkata demikian bukan karena tanpa alasan. Saya sudah mengenal pak Ansell sejak kecil, mungkin dia terlihat seperti lelaki brengsek ataupun semacamnya. Tapi percayalah nona, pak Ansell adalah lelaki setia dan bertanggung jawab.” Oceh Abi dengan suara lantangnya agar bisa terdengar sampai ke dalam kamar.
Treneengg.. suara pintu aparteman terbuka disusul dengan bi Ijah yang baru saja kembali setelah menyelesaikan tugas pertamanya yaitu membuang sampah.
Selang beberapa menit kemudian Ahreum pun muncul dengan setelan casual seperti biasanya, baju kodok dengan kaos oversize berwarna hitam yang menjadi **********.
Tak lupa ransel kecil yang berada dibelakang punggungnya sebagai tempat dari segala kebutuhan yang mesti ia bawa, seperti ponsel, power bank, headset, dompet, tisu dan 1 pouch skincare kecil.
“bibi sudah mengemas semua pakaian Ilona?” tanya Ahreum kala ia keluar dari kamarnya kemudian langsung menujukan pandanganya pada bi Ijah yang tengah menata bahan makanan yang akan ia masak nantinya.
“sudah non, kenapa? mungkinkah ada barang nona yang terbawa?” tebak bi Ijah seraya menghentikan aktifitasnya sejenak untuk menatap Ahreum dengan tatapan serius.
“tidak.. aku hanya ingin tahu, barang-barangnya disimpan ditempat lain atau dibuang?” tanya Ahreum lagi seraya berjalan mendekat ke area dapur disusul dengan Abi yang masih berada dibelakangnya karena merasa masih belum selesai berbicara dengan Ahreum.
“ohh itu. Amm.. bibi kurang tahu non. Soalnya waktu bibi sudah mengemas semua barang-barang nona Ilona. Pak Ansell datang dan bilang. ‘tinggalkan disana aja bi, biar saya nanti yang urus sisanya’. Begitu non.” Papar bi Ijah.
“begitu ya, oke deh. Oh iya aku mau ke rumah temanku dulu bi.” Pamit Ahreum yang langsung berjalan keluar tanpa menunggu respon dari bi Ijah.
__ADS_1
“baik non, tapi apa ga sebaiknya sarapan dulu non.” Seru bi Ijah ditengah perjalanan Ahreum menuju pintu utama.
“tadi aku sudah makan sandwich kok.” Sahut Ahreum seraya menoleh ke arah bi Ijah sesaat sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
“nona.. apa nona harus sekeras kepala ini?! tolong tunggu pak Ansell sebentar lagi, nona.” Rengek Abi saat lengan Ahreum hendak menarik handle pintu.
“aku sibuk, banyak urusan. Nanti saja kita bicara lagi.” Ketus Ahreum yang berlalu begitu saja tak ingin perduli pada rengekan asisten suaminya itu.
“sibuk apa? bukannya nona sedang dalam masa liburan.” Oceh Abi lagi yang terus saja mengikuti langkah Ahreum dibelakangnya.
“aughhh!! Aku tak menyangka ternyata kak Abi lebih menyebalkan daripada Ansell, hufft. Berhenti merengek seperti bocah, orang lain akan berfikir yang tidak-tidak dengan hubungan mu dan Ansell.” geram Ahreum seraya memencet sebuah tombol yang berada disamping pintu lift.
“tapi nonaa..”
Abi berhenti merengek kala pintu lift terbuka, kedua matanya membulat kala mendapati atasannya itu tengah berdiri dibalik pintu lift. Membuat ketiga terdiam beberapa saat seraya saling melempar tatapan intens seakan banyak pertanyaan yang ada dalam benak mereka masing-masing.
Saat pintu hendak menutup kembali Ahreum langsung memencet tombol pause.
“kau tak keluar?!” ketusnya pada Ansell yang malah memutar tubuhnya untuk memandangi dirinya.
“kau darimana aja sih! kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?!” seru Abi yang tak tahan lagi ingin menanyakan langsung apa yang sebenarnya terjadi.
“ponselku rusak dan tadi malam..” respon Ansell, setelah menengok sejenak ke arah Abi, ia pun kembali mengarahkan pandangannya pada istri mungilnya yang tampak tidak ramah padanya.
“aku ketiduran dirumah sakit.” Lanjutnya lagi lengkap dengan tatapan penuh artinya seolah sengaja ingin membuat Ahreum cemburu, karena dirinya lebih memilih menemani wanita asing itu dibanding pulang kerumah.
“jika ingin mengobrol lebih baik diluar saja!” tukas Ahreum seraya mendorong kasar Ansell hingga menubruk tubuh Abi yang berada didepan pintu lift.
__ADS_1
“yak! apa kau sudah gila?!” bentak Ansell saat pintu lift mulai tertutup.
Namun karena tak ingin terjadi huru-hara Abi pun berusaha mungkin untuk menjauhkan Ansell dari lift agar Ahreum bisa pergi dengan tenang.
“sudahlah kau ini kenapa sih! memang kau yang salah kan! kenapa kau malah lebih memilih menemani wanita asing itu dibanding kembali pulang. Kau tak ingat?! Istrimu juga menjadi korban penyekapan para gangster itu, kondisinya tak baik-baik saja. Jika hal ini sampai terdengar ke telinga tuan Seno..”
“argghh sudahlah berisik!” potong Ansell yang kemudian pergi meninggalkan Abi.
“apa dia sudah kehilangan akal sehatnya. Mungkinkah apa yang dikatakan nona Ahreum benar, jika Ansell goyah hanya karena wajah mereka mirip. Tidak.. tidak itu tidak boleh terjadi.” Ocehnya saat Ansell telah jauh meninggalkannya.
“yak! Ansell kau tidak melakukan apa-apa kan dengan wanita itu? kau tidak tidur dengannya kan? yak! sadarlah kau sudah memiliki istri. Ansell!” omel Abi seraya berlari menyusul langkah Ansell menuju keberadaan apartemannya.
“kalau aku tidur dengannya, memangnya apa yang mau kau lakukan?” respon Ansell seraya menempelkan jempolnya disebuah alat guna untuk membuka pintu aparteman.
Treneenggg.. pintu aparteman pun terbuka, Ansell dan Abi masuk secara bergiliran.
“bagaimana kau bisa bicara sesantai itu Ansell! bukankah kau sendiri pernah merasakan sakitnya dikhianati. Dan juga, sadarlah! Wanita itu bukanlah ILONA!” bentak Abi karena sudah tak tahan dengan sikap brengsek Ansell yang semakin menjadi-jadi.
Ansell menghentikan langkahnya sejenak sebelum memutar tubuhnya untuk menatap langsung kedua mata asisten yang juga karibnya itu.
Sementara itu bi Ijah yang tengah memasak dibuat terkejut oleh keributan yang disebabkan oleh Ansell dan Abi. Ia pun mematikan kompor gasnya kemudian merunduk disamping meja makan, layaknya seorang bocah yang tengah bersembunyi dari kericuhan yang terjadi masih sembari memegang spatula yang belum sempat ia letakan diatas wajan.
“yak! Santai saja, aku hanya bercanda.” Cengirnya dengan tawa jahilnya diakhir kalimat. “setelah mengantarnya ke rumah sakit, aku terlibat kecelakaan kecil sehingga membuatku pergi ke kantor polisi dan bermalam disana. Dan ponselku sudah rusak saat berkelahi dengan para gangster itu.” paparnya yang kemudian kembali memutar tubuhnya dan menarik langkah menuju kamarnya.
“lantas kenapa kau berbicara seperti itu pada nona Ahreum?” protes Abi seraya berjalan mengikuti langkah Ansell hingga masuk ke dalam kamarnya.
***
__ADS_1