Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 205


__ADS_3

Didepan kamar Ansell.


Tampak ketiga pelayan mudanya berkerumun sembari saling berbisik agar suaranya tidak terdengar sampai ke dalam.


“sudah ku bilangkan mereka sedang melakukan adegan dewasa. Kau ga percaya banget sih.” celetuk sebut saja si B


“hmm.. masa sih tapi kok ga kedengeran ya.” Sahut si A seraya mendekatkan telinga ke pintu.


“eeeyy.. Kau fikir ruangan ini sama seperti kamarmu yang ada dikampung, bisa terdengar sampai bilik tetangga!” pekik temannya yang lain sebut saja si C seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


“Lancang sekali kalian!” tukas seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka, yang kemudian membuat ketiganya pun bergegas membuat barisan rapih dihadapan seseorang itu yang tak lain adalah bi Ijah, seraya menautkan kedua tangan didepan tubuh dan menurunkan pandangan bersalahnya.


“apa karena nyonya selalu bersikap ramah pada kalian, kalian menjadi besar kepala hah?!” sambung bi Ijah kembali dengan nada tingginya.


“maa.. maafkan kami bu..


Kami janji tidak akan pernah melakukannya lagi.” Ucap si B terbata karena rasa takutnya akan amukan bi Ijah.


“I.. iyaa bu.. mohon maafkan kami.” Imbuh si C dan A serempak dengan nada gemetarnya.


“sudah sana pergi!” perintah bi Ijah yang kemudian langsung dilaksankan oleh ketiga pelayan muda tersebut, iya ketiganya berlari cepat meninggalkan area depan kamar tuannya.


Begitu melihat ketiga pelayan muda tersebut menuruni tangga dan hilang dari pandangannya, bi Ijah pun kembali mengalihkan pandangannya pada pintu kamar Ansell dengan senyum yang kian mengembang menghiasi wajah tuanya.


“terimakasih Tuhan, Kau telah menghadirkan nona Ahreum ke dalam hidup tuan muda Ansell.


Bibi ikut bahagia melihat tuan muda bisa kembali tertawa lepas seperti itu, setelah belasan tahun lamanya akhirnya tuan muda bisa kembali ceria seperti dahulu.


Bibi sangat berharap, rasa sakit yang dulu pernah kedua orang tua tuan muda berikan dan juga kekecewaan dari mendiang nona Ilona. Perlahan bisa menghilang seiring rasa cinta dan kasih sayang tulus nona Ahreum berikan untuk tuan muda.” Bi Ijah bergumam sembari terus memandangi pintu kamar Ansell dengan tatapan penuh haru.


***


Kembali ke kamar Ansell.


Setelah 3 jam berlalu mereka pun akhirnya terlelap dengan posisi setengah tubuh Ahreum menindih bagian dada bidang Ansell.


Tak berapa kedua mata Ahreum tiba-tiba terjaga, ia pun mengangkat wajahnya lalu menatap dalam wajah suaminya yang tampan tiada obat.


“dulu..” Ahreum bergumam sendiri sembari mengelus pipi mulus Ansell dengan jari telunjuknya.


“aku selalu berdoa pada Tuhan agar memberikan aku suami yang sangat sangat tampan seperti Oppa Oppa korea. Tapi..


Aku lupa satu hal..” Ahreum berhenti sejenak seraya menaikan tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan suaminya yang masih terlelap.


“aku lupa untuk meminta akhlaknya juga.”


Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Ahreum, Ansell yang ternyata tengah pura-pura tidur itu pun terbangun dengan tawa pecah yang tak dapat tertahankan mendengar ungkapan lirih istrinya barusan. “HHahhhaahahahha!!!”


Ahreum pun tersenyum lebar melihat tawa lepas suaminya yang jarang sekai dilihatnya. Kemudian dilanjut mengecup kedua pipi Ansell dengan gemas berkali-kali.


“kau masih ingin lagi rupanya?! Oke!! Bersiaplah!!” pekik Ansell yang kemudian langsung menerkam istrinya tanpa ampun.


***


Diarea dapur.


“tuan Abi.” Ucap salah satu pelayang yang tengah membereskan hidangan yang berada di meja makan sebut saja si B.


Membuat kedua temannya yang lain pun ikut memandangi kehadiran Abi diarea dapur.


“sudah lama tuan tidak kemari.” Celetuk si A.

__ADS_1


“Iyaa nih.. tuan ga kangen gitu sama saya. Heheh.” Timpal si C seraya berjalan mendekati keberadaan Abi.


“hehee. Iya karena tuan Ansell sekarang kan pindah ke aparteman.” Sahut Abi seraya mengambil jarak selangkah dengan pelayan genit tersebut.


“den Abi.” Panggil bi Ijah yang baru saja bergabung diantara mereka.


“bibi, Ansell sudah tidur bi?” tanya Abi seraya mencoba meraih teko air, namun dengan cepat sang pelayan menyambarnya karena tak ingin Abi melakukannya  sendiri, sang pelayan itu membantu menuangkan air ke dalam gelas untuk Abi minum.


“baik, terimakasih.” Ucap Abi kala pelayan C menyodorkan gelas yang sudah berisi air mineral padanya.


Sang pelayan mengangguk lengkap dengan senyum lebar yang berlebihan untuk menarik perhatian Abighail.


“hmm..” bi Ijah hanya bisa menggeleng kepalanya melihat tingkah laku pelayan mudanya.


“Iya, tuan muda sudah tidur sejak tadi, den Abi juga mau bermalam disini?


Akan bibi siapkan kamarnya.” Lanjut bi Ijah seraya menatap Abi yang tengah mengaliri kerongkongannya.


“Iya bi, untuk malam ini Abi akan menginap disini. Abi terlalu lelah jika harus kembali ke aparteman.” Sahut Abi begitu ia menghabiskan air mineralnya.


“biar saya aja bu yang menyiapkan kamarnya!” seru si C dengan antusias kemudian pergi berlari meninggalkan area dapur.


“hmm.. maafkan si C ya. Sudah membuat den Abi tak nyaman.” Ucap bi Ijah begitu si C sudah tak terlihat.


Abi pun lantas berjalan ke tepi meja untuk menaruh kembali gelas yang sudah kosong.


“Iya gak apa-apa bi.”


“den Abi mau makan malam terlebih dahulu. Biar saya hangatkan sebentar makan malamnya.” Tawar si B seraya menatap Abi mencoba menunggu respon lelaki yang terlihat tengah berfikir itu.


“hmm.. boleh juga. Baik kalau begitu saya mau mandi dulu. Terimakasih ya.” Sahut Abi lengkap dengan senyum ramahnya kemudian pergi berlalu.


Si B pun mengangguk dengan senyum lembutnya.


Ibu mengatakan ini untuk kebaikan kalian, den Abi sudah memiliki kekasih. Dan 1 hal lagi, kurangi bergosip mengenai keluarga Dirgantara.


Karena baik dan buruk pun mereka adalah tuan kalian, tidak etis jika kalian menjelekan atau menjadikan cerita keluarga Dirgantara sebagai bahan pergibahan kalian. Mengerti!” tegas bi Ijah sembari memasang wajah seriusnya yang membuat kedua pelayan muda itu hanya bisa terdiam seraya manggut-manggut patuh.


Usai memberi teguran pada pelayan muda tersebut bi Ijah pun lantas melenggangkan kakinya pergi dari area dapur, dan membiarkan 2 pelayan tersebut yang nantinya akan melayani makan malam Abighail.


***


Keesokan harinya.


Dikamar Ansell Dirgantara.


Dreeddd.. dreedddd.. ponsel Ahreum yang berada diatas nakas terus bergetar sejak beberapa menit yang lalu. Membuat keduanya tiba-tiba menggeliat dan terbangun karena suara getaran yang cukup nyaring itu mengusik tidur indah keduanya.


“hmmm.. siapa sih pagi-pagi gini udah ada yang telfon aja. Angkat telfonmu Ansell.” gumam Ahreum yang tertidur diatas dada bidang Ansell masih dengan kedua mata tertutup rapat.


“itu ponselmu Ahreum.” timpal Ansell yang juga sama-sama enggan membuka matanya.


“pagi-pagi buta begini siapa yang menelfonku?” Ahreum kembali bergumam seraya mengucek matanya kemudian hendak bangkit untuk meraih ponselnya yang berada diatas nakas.


Mendengar dumelan Ahreum itu seketika Ansell pun tersadar dan membuka kedua matanya lebar. Ia pun melirik ke arah ponsel istrinya lalu dengan cepat bangkit dan meraihnya lebih dulu sebelum tangan Ahreum sampai.


“duuhh, ada apa sih?” dumel Ahreum lantaran gerakan tiba-tiba suaminya itu membuat ia jadi ketindihan tubuh besar suaminya.


Kedua mata yang berapi-api itu berubah seketika kala melihat nama yang tertera dilayar ponsel istrinya.


Iya beberapa saat lalu Ansell sempat mengira jika yang menelfon istrinya itu mungkin saja seorang lelaki seperti teman kampus Ahreum begitu.

__ADS_1


“halo.” Sapa Ansell dengan nada songong seperti biasanya padahal sebenarnya dirinya kini sedang berbicara dengan kakak iparnya.


“dia masih tidur.” Sahut Ansell se singkat mungkin.


“siapa?” tanya Ahreum yang masih tiduran disamping Ansell yang tengah duduk sembari menerima telfon.


“ya. Dia baik-baik saja.” Ketus Ansell yang langsung mematikan ponselnya tanpa pamit.


“siapa sih, kemarikan ponselku!” geram Ahreum sebal karena sedari tadi Ansell mengabaikannya.


Ansell pun melempar ponsel Ahreum ke sembarang arah kemudian turun dari ranjang meski tanpa sehelai kain pun. Ia berjalan dengan penuh percaya diri menuju kamar mandi.


“uwaaahhh.. tubuhnya benar-benar luar biasa.” Puji Ahreum begitu Ansell telah masuk ke kamar mandi.


Selesai mengagumi pemandangan indah sesaat yang berlangsung dihadapannya, ia pun kembali beralih pada ponselnya.


“kak Ben..” Ahreum bergumam kala melihat history panggilannya beberapa saat yang lalu.


Langsung saja Ahreum menelfon kakaknya kembali tentunya masih dengan posisi baringan ditempat tidur juga selimut tebal yang menutup tubuhnya sampai ke area dada.


“Iya kak. Ada apa?” sapa Ahreum begitu telfonnya tersambung.


“yak! Suamimu itu tidak pernah sekolah?


Sikapnya seperti orang yang tidak memiliki attitude saja.” Racau Bennedict begitu ia menerima telfon dari adik perempuannya.


“Iya.. iya.. maaf. Dia hanya tidak terbiasa bersikap ramah pada siapapun. Harap maklum aja.” timpal Ahreum.


“Jadi ada apa kak?” tanya Ahreum lagi.


“tidak.. kakak hanya mengkhawatirkanmu aja. Karena kemarin Sanchez bilang dia melihatmu terjatuh dari lantai 5, lalu suamimu berhasil menangkapmu.


Tak ada luka serius kan Ahreum?


Sekarang kau ada dimana? Rumah sakit?” berbagai pertanyaan dilayangkan Bennedict sebagai tanda kekhawatiran juga keperduliaannya pada adik perempuan satu-saatunya itu.


“kakak hanya mendengar?


Lalu kemarin kakak ada dimana? Bukankah kakak bilang tak perlu khawatir, kakak janji akan melindungiku. Ciihh!!...” dengus Ahreum kesal.


“kakak mengikuti seorang gadis yang wajahnya sangat mirip dengan gadis yang pernah kita lihat digedung tempat penyekapanmu beberapa waktu lalu. Namanya amm..”


“Cassandra..” ucapnya bersamaan.


“kau mengenalnya?


Bukankah dia gadis yang mirip sekali dengan mendiang kekasih suamimu.” Sambung Bennedict.


“ahh iya..


Sepertinya ada yang berbeda dari gadis itu, pandangannya dan cara berpakaiannya benar-benar mencerminkan layaknya seorang pemimpin dalam organisasi mafia.” Imbuh Bennedict lagi.


“kakak..”


“he’em..”


“kak Winter akan segera pulang. Berhenti mengurusi kasus-kasus yang melibatkan para mafia yang mengerikan itu lagi. Sudah banyak waktu berharga yang terbuang karena kakak jarang pulang dan memilih lembur terus. Sekarang saatnya kakak menebus kesalahan kakak pada kak Winter bukan?”


“mau bertaruh, siapa duluan yang akan memiliki baby? Ahhhhaha!!” goda Ahreum.


***

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2