Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 246


__ADS_3

Malam harinya, diruangan Ansell.


Setelah seharian ini dia hanya menonton video atau rekaman dari kamera kecil yang dipasang dalam bucket bunga untuk mengamati keadaan istrinya diruang sebelah, ia pun akhirnya ketiduran masih dengan tablet yang berada dalam genggamannya.


Saking lelahnya Ansell tertidur pulas sampai ada seseorang yang perlahan masuk ke dalam ruangannya pun ia tidak terusik.



“kau…, masih sama, bahkan setelah 5 tahun berlalu ketampananmu tak pernah memudar,” gumam seorang wanita yang kini berdiri dipinggir ranjang Ansell dengan tatapan dalam yang ia arahkan pada lelaki yang tengah berada dalam alam bawah sadarnya.



Wanita itu tersenyum penuh arti lalu mendekatkan wajahnya tepat di atas wajah Ansell, seolah ingin mencuri kesempatan.


Namun begitu hembusan nafasnya mengenai vitrum Ansell, sontak Ansell pun membuka matanya lebar-lebar lalu mendorong kasar tubuh Cassandra yang hendak melakukan pelecehan terhadapnya.


“Siapa kau sebenarnya?!” pekik Ansell seraya bangkit dari tidurnya, dengan pandangan menyalak dan deru nafas yang tak beraturan.


Mendengar pertanyaan itu membuat Cassandra membulatkan kedua matanya, sebab ia sadar jika ternyata Ansell hanya berpura-pura tidur, dia mendengar apa yang dikatakan dirinya barusan.


“A.. apa maksudmu?” sahut Cassandra yang gelagapan, berpura-pura tak mengerti apa yang dimaksud Ansell.


“Ku tanya sekali lagi! Siapa kau sebenarnya?!” tekan Ansell yang masih belum mengendorkan urat-uratnya.


“A.. aku, aku.. yaa Cassie, apa sih maksudmu, hehe,”


Ceklek, pintu kamar kembali terbuka membuat Cassandra merasa sedikit lega karena setidaknya bisa terlepas dari tekanan yang diberikan oleh Ansell terhadapnya.


“Ada apa?” tanya Abighail begitu melihat situasi dingin diantara keduanya.


“ahh, eng, engga. Amm, karena kondisi Ansell masih terlihat kurang sehat, sebaiknya kita bicarakan masalah pekerjaan next time, oke.” Pamit Cassandra yang masih tak bisa mengendalikan rasa gugupnya.


“Aku tahu ini terdengar konyol dan tak masuk akal, tapi, aku yakin sekali jika kau adalah Ilona! Sebaiknya kau jujur, atau aku akan mencari tahu sendiri identitas dirimu sebenarnya. Karena aku tahu, pak Jansen memiliki riwayat penyakit ****** (tidak bisa memiliki anak).” Lanjut Ansell dengan penekanan diakhir kalimatnya untuk membuat Cassandra merasa terintimidasi olehnya.


Tak hanya Cassandra yang terkejut, Abi pun ikut melongo kala Ansell menuturkan hal tersebut, membuatnya kebingungan seraya menatap ke arah Anssell dan Cassandra secara bergantian. Menunggu penjelasan lebih lanjut dari keduanya.


“Oke, aku akan jujur padamu, tapi, apa kau bisa mengatasinya jika kuberitahukan siapa aku sebenarnya?” balas Cassandra dengan tatapan tajamnya, ia mulai berani menunjukan jati dirinya dihadapan Ansell.


Ansell mengangkat 1 alisnya, kemudian turun dari ranjangnya untuk melangkah mendekat ke hadapan Cassandra yang berdiri penuh percaya diri.


“Aku.. adalah saudara kembar Ilona,” ungkapnya yang membuat bulir air mata pilu mengalir dari sudut mata Ansell yang kini memerah karena mencoba menahan rasa emosionalnya.


“Aluna Ghantari,” tambahnya diakhiri dengan senyum penuh artinya.


...****************...

__ADS_1


Sementara itu dikamar sebelah, Rihanna tampak berlarian menuju ranjang Ahreum setelah 1 jam yang lalu ia pamit keluar untuk makan bersama Abi.


Membuat Bennedict yang tengah berdiri dipinggir ranjang Ahreum mengerutkan dahinya.


Begitupun Ahreum yang memberikan tatapan aneh pada kehadiran Rihanna, “ada apa sih?” tanya Ahreum seraya memencet tombol remote untuk memindahkan chanel.


“gawat, ini gawat, Ahreum,” seru Rihanna yang kemudian duduk dihadapan Ahreum hingga menghalangi pandangannya untuk menonton siaran tv favoritenya.


“gawat apanya?” sahut Ahreum santai seraya menyingkirkan kepala Rihanna memakai remote TV agar tidak menghalangi pandangannya.


“Apa lagi yang kau rencanakan Hanna?!” pekik Bennedict seraya menghembuskan nafasnya kemudian menarik kursi dan duduk disamping ranjang Ahreum.


Alih-alih menginformasikan berita yang ia ketahui ia memilih menggigit bibirnya seraya menatap Ahreum dan Bennedict secara bergantian.


Karena takut didengar oleh Bennedict, akhirnya Hanna pun mencondongkan tubuhnya dan membisikan sesuatu ditelinga Ahreum, yang tentu saja membuat Bennedict terlihat kesal.


“Wanita itu kembali,” bisik Hanna.


“Cassandra?” ucap Ahreum yang langsung ditepak oleh Rihanna, karena suaranya akan terdengar oleh Bennedict.


“Aduuhh!


Ga apa-apa, kak Benn juga sudah tahu tentang Cassandra,” terang Ahreum yang dibalas anggukan mengerti oleh Rihanna, ia pun menarik tubuhnya dan kembali duduk dengan benar.


“ada apa dengan Cassandra,” kata Bennedict seraya menyandarkan tubuhnya dikursi dan melipat kedua tangan diatas dadanya.


“dia kembali, dia ada diruangan Ansell, eeh,” celetuk Rihanna keceplosan lalu menutup mulutnya dengan kedua mata yang terbua lebar.


“ruangan Ansell?” sahut Bennedict seraya menaikan 1 alisnya, kemudian mengarahkan pandangannya pada dinding yang terhubung ke ruangan sebelah.


“Arggh sudahlah! itu bukan hal penting sekarang, dengarkan aku Ahreum! (kata Rihanna seraya memegangi rahang Ahreum dan menatapnya lekat)


Wanita licik itu sudah mengakui jati dirinya, tapi bukan sebagai Ilona, melainkan dia berpura-pura menjadi Aluna yang diadopsi oleh keluarga Jansen.” Papar Rihanna yang membuat Ahreum membulatkan matanya.


“Apa?


Apa lagi sekarang yang direncanakannya,” Ahreum bergumam sendiri seraya menurunkan kedua tangan Rihanna yang menempel di wajahnya.


“Mungkinkah fotomu yang sedang pelukan dengan Elios adalah ulah wanita licik itu?


Kurasa kau dijebak oleh permainan kotornya Ahreum, dia ingin menghancurkan pernikahanmu dengan Ansell,” ujar Rihanna yang membuat Bennedict pun ikut berfikir serius mengenai konflik yang sedang dialami oleh adik perempuannya.



“Kakak sudah mencoba menyelidiki wanita itu, tapi catatannya bersih, dia tak pernah melakukan hal criminal seperti yang kau curigai,” timpal Bennedict seraya mengarahkan pandangan intensnya pada Ahreum.

__ADS_1



“tentu saja, karena dia tidak pernah melakukannya sendiri,” sahut Rihanna.


“Ahh iya! aku ingat sekarang, saat dirumah abu aku bertemu dengan seorang wanita tua, aku tak tahu pasti kenapa dia berbohong. Dia bilang mengenalku, tapi aku merasa hari itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya.


Dan yang paling mencurigakan bagiku adalah, wajahnya memang keriput seperti wanita tua pada umumnya, tapi berbeda dengan punggung tangannya, sangat mulus dan terawat. Aneh sekali,” sahut Ahreum dengan raut wajah yang mendukung jika dirinya kini tengah berfikir keras mencoba mencari jawaban atas rangkaian kejadian aneh yang dialaminya beberapa waktu lalu.


“dan…, lelaki itu,” lanjut Ahreum kembali sembari mencoba mengingat sosok lelaki yang dijumpainya dipantai.


“lelaki siapa?” sahut Rihanna yang tak sabar menantikan kelanjutan cerita Ahreum, sementara itu Bennedict hanya terdiam semabri menyimak apa yang dipaparkan oleh adiknya.


“lelaki penjual kopi yang juga berpura-pura mengenalku dipantai, dia bilang pernah melihatku bersama dengan seorang pria sebelumnya disana,


Iya memang aku pernah kesana sebelumnya dengan Elios dan Xena, tapi aku benar-benar yakin jika hari itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya.


Dan suaranya…,” lagi-lagi Ahreum menghentikan ceritanya ditengah otaknya yang berfikir keras mencoba mengingat suara yang tak asing ditelinganya.


Seru Hanna setelah memberikan jeda beberapa menit untuk Ahreum mencari ingatan yang entah terkubur dimana, “kenapa? kau sudah ingat sekarang?!”


“Dia! Dia lelaki yang menggendongku dan membawaku ke kamar si gendut tua Bangka itu, dia anak buah Cassandra!” seru Ahreum penuh antusias.


“Itu artinya wanita tua yang kau temui dirumah abu pun, anak buahnya wanita licik itu Ahreum,” sahut Rihanna yakin sekali dengan instingnya.


“bagaimana mungkin wanita tua itu…,” sanggah Ahreum yang masih belum mengerti.


“Dia, memakai topeng silicon, kau bilangkan hanya wajahnya yang keriput sedangkan tangannya tidak, itu artinya dia hanya sedang menyamar sebagai nenek tua,” jelas Bennedict.


“Kakak akan menyelidikinya sekali lagi, tapi sementara itu kalian tidak boleh gegabah dan bahkan merencanakan sesuatu yang konyol! Mengeti!” sambung Bennedict dengan penekanan diakhir kalimatnya yang membuat kedua adiknya itu hanya mengangguk pasrah.


“Kalian dengar tidak?!” tekan Bennedict lagi lantaran tidak puas hanya dibalas anggukan lemah oleh Ahreum dan Rihanna.


“Iya, iya, bawel banget sih!” dengus Hanna lengkap dengan tatapan julidnya.


“Iya, aku dengar, lagipula kapan aku melakukan hal yang konyol, aku kan gadis polos dan baik-baik yang selalu menuruti perintah kakak juga ayah,” kata Ahreum sembari nyengir.


“ciihhh!!


Mau kakak diktekan 1 per 1 perbuatan konyol kalian berdua huh?!


Sebenarnya lebih baik kalian hidup terpisah seperti sebelumnya, karena jika kalian sudah bersama, selalu saja terjadi huru hara dan kelakuan konyol kalian yang selalu membuat kakak sakit kepala,” dumel Bennedict yang langsung saja dibalas tatapan sinis oleh kedua adik perempuannya itu.


...****************...


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2