Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 244


__ADS_3

Kembali ke kamar Ahreum.


Selepas Carrisa pergi dan kembali bekerja, tinggalah Ahreum dan Enzy didalam ruangan, masih dengan posisi yang sama.


“boleh aku pinjam ponsel ibu,” pinta Ahreum, lantaran ponsel miliknya ada diaparteman.


Dengan senang hati Enzy pun merogoh tasnya yang berada diatas nakas untuk mengambil ponsel miliknya dan diberikannya pada Ahreum.


“ponselmu ada di aparteman ya?


Mau ibu ambilkan sayang?” tawar Enzy.


“tidak perlu bu, aku juga tidak terlalu membutuhkannya, hanya merasa bosan aja sekarang,” respon Ahreum seraya mulai memainkan ponsel milik ibunya untuk mengakses akun sosial media miliknya.


“hmm…,”


“ibu tidak mengajak Sammy?


Aku sangat merindukannya,” ungkap Ahreum ditengah fokusnya mengamati postingan-postingan diakun media sosialnya.


“oke, nanti sore ibu bawa Sammy ya, tadi pagi Sammy masih tidur soalnya, gak tega ibu membangunkannya,” tutur ibunya.


Tak lama kemudian, Bennedict dan Rihanna pun kembali bergabung.


“makan siang dulu bu,” ucap Bennedict seraya menyerahkan 1 kantung kresek yang berisikan makan siang yang dibelinya dikantin sebelumnya.


“oke, makasih Benn,” sahut Enzy yang kemudian bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju sofa dan meletakan kresek tersebut diatas meja.


Sementara itu Bennedict yang mengambil alih kursi kecil yang sebelumnya diduduki oleh ibunya, dengan pandangan tajam ia terus saja memperhatikan raut wajah adik perempuannya yang tengah berseri-seri sembari menatap layar ponsel milik ibunya.



“apa?” tanya Ahreum masih sembari menatap layar ponsel.


“kau sudah lebih baik?” tanya Bennedict.


“hmm,” respon Ahreum seadanya, lantaran masih kesal dengan keputusan sepihak Bennedict.


“Siapa yang lebih kau cintai?” tanya Bennedict yang membuat Ahreum menghentikan aktivitasnya lalu menurunkan ponsel yang menutupi wajahnya, dan beralih memandangi kakaknya yang mengajukan pertanyaan aneh barusan.


“Kakak atau Ansell?!” tambah Bennedict untuk memperjelas pertanyaannya.


Sementara Enzy dan Rihanna yang terduduk disofa pun saling melempar tatapan aneh, pertanyaan macam apa itu?’ begitulah kiranya bunyi yang tersirat dari raut wajah Rihanna dan Enzy.


Bahkan Enzy pun yang sedang menikmati makan siangnya, kini berhenti mengunyah dan hanya terdiam memandangi suasana menegangkan yang terjadi dihadapannya.


“Apa?


Kenapa kakak sangat kekanak-kanakan sekali sih,” geram Ahreum yang tak habis fikir dengan sikap kakaknya yang tidak dewasa itu.



“Jawab saja,” tekan Bennedict.


“kak Benn, kurasa kau sudah terlewat batas sekarang,” timbrung Rihanna yang merasa tak tahan dengan situasi yang terjadi antara kakak beradik tersebut.


Saat Rihanna hendak bangkit dari sofa dan berencana ikut bergabung, dengan cepat lengan Enzy menahannya lalu menggeleng kepalanya, tanda jika sebaiknya dia tidak ikut terlibat konfilik antara Ahreum dan Bennedict.


“Bagaimana jika aku membalikan pertanyaan itu padamu?

__ADS_1


Siapa yang kau pilih, aku atau kak Winter,” balas Ahreum lengkap dengan tatapan emosionalnya.


“kau,” jawab Benn, bahkan tak perlu membuang waktu untuk berfikir, dirinya langsung menegaskan jika Ahreum adalah segalanya baginya.


“Apa?


Aku sangat menyayangi kakak tapi…, tak mungkinkan kita selamanya terus bersama, kita sudah dewasa dan memiliki keluarga masing-masing kak, aku tak mungkin bisa memilih diantara kalian, karena kalian berdua sangat berharga untukku.” papar Ahreum.


“Jadi lelaki yang sudah membuatmu seperti ini sangat berharga untukmu?” timpal Bennedict tajam hingga membuat Ahreum merasa sangat tertekan.


“kakak…,


Aku mohon, tolong berikan kesempatan untuk suamiku hanya kali ini aja aku mohonn kak. Oke…, atau, apa yang harus Ansell lakukan untuk membuat kakak yakin?” Ahreum mencoba bernegosiasi.


“Ahreum, kesempatan tidak selalu datang pada siapapun,” sahut Bennedict yang kemudian bangkit dari kursi.


“kakak,” rengek Ahreum lagi yang merasa putus asa dengan sikap keras kakak lelakinya itu.


“Berhenti menangis!” pekik Bennedict saat telinganya mendengar isakan kecil yang keluar dari mulut mungil adiknya.


“atau kakak benar-benar tak akan pernah membiarkanmu bertemu lagi dengannya,” lanjut Bennedict seraya melirik sesaat ke belakang sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju sofa.


Buru-buru Ahreum pun menarik ingusnya dan menyeka bulir air mata yang mengalir dari sudut matanya.


“mau?” tawar Rihanna seraya memberikan buah pisang yang sudah ia kuliti.


Bennedict hanya meresponnya dengan tatapan sinis.


“yaudah kalau gak mau,” imbuh Hanna yang kemudian melahap buah pisang yang tadinya ingin diberikan pada Bennedict.


“kakak gak pergi dinas?


Ponsel kakak sudah berdering sejak tadi tuh,” kata Hanna seraya melirik ponsel Bennedict yang diletakan diatas meja disela kunyahannya.


Dari kemarin bawaannya nyuruh kakak pergi mulu!” dumel Bennedict seraya meraih ponselnya dan mengecek semua notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya.



“eeyyy, bukan gitu, kurasa itu situasi darurat dan mengharuskan kakak lekas pergi. Kakak gak usah khawatir, Ahreum biar aku yang jaga, kakak bisa mengandalkanku, oke!”


“Iya.. ya.. dan setelah kakak pergi, kau akan melancarkan rencanamu untuk mempertemukan Ahreum dengan Ansell, memang kakak gak tahu akal bulusmu hah!” ketus Bennedict seraya menjitak kepala Rihanna karena saking gemasnya.


Cttaakkk!!...,


“aduuhhh!!” rengek Hanna seraya mengusap bagian yang dijitak oleh kakak lelakinya itu.


“ya.. ya.. enggalah kak, dari dulu kan aku selalu memihak padamu, hehehe,” ocehnya seraya menautkan tangannya ke dalam lengan Bennedict yang tengah fokus membaca pesan dari rekan kerjanya.


“ciiihh!!


Ngomong tuh sama tembok!” sahut Bennedict, yang membuat Enzy terkekeh melihat interaksi gemas layaknya kakak beradik pada umumnya.


Ya meskipun mereka berdua memang bukan kakak adik kandung tapi keakraban dan kehangatan yang mereka jalin bahkan melebihi saudara sedarah pada umumnya.


“kau mau kemana?” tanya Bennedict kala Ahreum menurunkan kakinya ke lantai seraya memegangi tiang infusnya.


“kamar mandi, kepalaku gatal sudah seminggu ga keramas,” katanya seraya mulai berjalan dengan menarik tiang infusnya.


“tung…,” belum sempat Enzy mencegah kepergian Ahreum dan bangkit dari sofa, Bennedict lebih dulu bangkit lalu berjalan cepat menyusul langkah adik perempuannya yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sebelum masuk, Bennedict menarik kursi roda yang diletakan didekat pintu masuk, lalu dibawanya masuk ke dalam toilet.


“hmmm,” Enzy hanya bisa menghela nafas panjangnya kemudian kembali mendudukan bokongnya disamping Rihanna yang masih asyik menyemil buah-buahan sedari tadi.


“sudah, biarkan aja bu, jika ada kak Benn, ibu gak perlu repot-repot mengurus Ahreum,” ujar Rihanna seraya memberikan buah jeruk yang sudah ia kupas.


...****************...


Di kamar mandi.


“sini duduk,” suruh Bennedict seraya memposisikan kursi roda membelakangi wastafel.


Ahreum menurut lalu duduk dikursi seperti yang diinginkan kakaknya, Bennedict mengumpulkan rambut ikal panjang adiknya itu sebelum Ahreum menyandarkan tubuhnya dan meletakan kepalanya dipinggiran wasteful. Ya, posisi seseorang pada umumnya ketika berada disalon.


Byuuuurrr…, Bennedict mulai membasuh rambut Ahreum dengan air keran wasteful sementara Ahreum tengah asyik memandangi langit-langit.


“kakak,” panggil Ahreum.


“hmm,” respon Bennedict datar, yang kemudian beralih meraih sampo dan mengucurkannya ke rambut adiknya.


“bukankah mami sudah memaafkan kakak, dan mengijinkan kakak kembali bersama dengan kak Winter?” tanya Ahreum.


“Iya,” sahut Bennedict seadanya.


“lalu kenapa kak Winter masih berada dikediaman mami?


Kakak ngga menjemput kak Winter?” tanya Ahreum lagi karena merasa ada yang janggal.


“bagaimana mungkin kakak bersenang-senang diatas penderitaan Jeno, mami mengijinkan Winter kembali bersama kakak, karena Jeno menyetujui perjodohan dirinya dengan putri bungsu dari keluarga J.H Group,” papar Bennedict yang sontak saja membuat kedua mata Ahreum membulat lantaran tak menduga jika kakaknya mengetahui hal tersebut.


“bagaimana kakak bisa tahu?” tanya Ahreum lagi.


“kakak tak sengaja mendengar perbincangan mereka saat hendak menemui Winter di kamarnya,” jawab Bennedict ditengah sibuknya mencuci rambut ikal panjang adik perempuannya.


“waaahhh, jadi kakak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga itu?


Dan melepaskan kak Winter begitu?”


“kakak hanya akan berusaha dengan kemampuan kakak sendiri kali ini,” katanya mantap.


“percaya diri sekali, bagaimana jika pada akhirnya mami tetap tidak merestui kakak kembali bersama?”


“kau tahu, batu yang keras pun jika terus menerus ditetesi air pasti akan melunak, kau fikir mami tidak memiliki hati?


Kakak pasti bisa meluluhkannya dengan cara kakak sendiri.” teguhnya.


“hati kakak juga?” celetuk Ahreum yang membuat Bennedict mengerutkan dahinya karena tak mengerti dengan maksud pertanyaan Ahreum.


“Iya, jika aku dan Ansell terus berusaha, hati kakak pasti akan luluh kan?” jelas Ahreum diakhir dengan senyum lebarnya.


“hmm,” Bennedict hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya seraya membilas rambut adiknya.


“Ansell, tidak seburuk yang kakak bayangkan kok, adakalanya dia seperti kongi yang imut, menggemaskan dan juga sangat sensitive. Aku sa…,”


“berhenti mengoceh,” ketus Bennedict seraya memeras rambut Ahreum kemudian mengambil handuk dari dalam laci dan melilitkannya dirambut adiknya.


“hmm, kakak…,” rengek Ahreum yang kemudian bangkit dari kursi roda kemudian memeluk kakaknya erat.


“tolong jangan pisahkan aku dengannya, ya.. ya.. kak…,”

__ADS_1


...****************...


Bersambung


__ADS_2