
Keesokan harinya.
Masih di rumah sakit Haneul Jakarta, tampak Nayeon tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit seraya menjinjing sebuah totebag yang cukup besar dalam genggamannya. Ia berniat untuk menjenguk karibnya terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampusnya.
“astaga!” kagetnya sepelan mungkin kala ia melihat pemandangan yang tak terduga, seraya menutup mulutnya dan membelalakan kedua matanya, ia hampir saja menjatuhkan totebag yang ia bawa saat itu.
Karena saking terkejutnya, kala ia melihat Ansell dan Ahreum tengah tertidur bersama di ranjang, ditambah lengan kekar Ansell yang masih mendekap tubuh Ahreum yang mungil hingga membuatnya sekilas tenggelam dalam dekapan Ansell.
Nayeon berjalan perlahan menghampiri mereka berdua dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara dari heels nya. Kemudian meletakan totebag tersebut diatas meja kecil disamping ranjang Ahreum dengan gerakan selambat mungkin.
“kau sudah datang.” Sapa Ahreum yang mencoba memunculkan kepalanya dalam dekapan Ansell seraya mengucek-ucekan matanya dengan jemari mungilnya.
“iya, kau sudah bangun,
Aku bawakan makanan kesukaanmu, kau bilang makanan di rumah sakit tidak enak, jadi aku memasakan itu untukmu.” Ujarnya seraya melirik ke arah totebag yang dibawanya.
“kau yakin itu masakanmu? bukan bi Sumi.” Ucapnya seraya menyingkirkan lengan kekar Ansell dari tubuhnya pelan-pelan, agar ia bisa bangun dan terduduk dengan nyaman.
“hehe, setidaknya aku membantu sedikit.” Katanya nyengir.
“kau sudah mau pergi lagi?” ucap Ahreum.
“tidak juga sih, sebenarnya kelasku masih 2 jam lagi, memangnya kenapa?” tanya Nayeon.
“aku bosan diruangan ini terus, temenin aku makan ditaman depan ya.” Pintanya seraya menyunggingkan senyum manisnya.
“oke, sebentar, aku bawakan kursi roda dulu.” Ucapnya seraya berjalan keluar untuk mengambil kursi roda.
“hmm..” respon Ahreum.
Sementara Nayeon pergi keluar, Ahreum mencoba untuk turun dari ranjangnya perlahan agar gerakannya tersebut tidak membangungkan Ansell yang masih terlelap tidur diatas ranjangnya.
Ia pun berjalan perlahan menuju meja kecil untuk mengambil totebag yang dibawa karibnya itu seraya sesekali memegangi bagian samping perutnya yang tertusuk sebab masih terasa perih jika tubuhnya terlalu banyak bergerak.
***
Di taman rumah sakit Haneul.
Nayeon tengah memisahkan beberapa rantang/wadah yang berisikan makanan lalu diletakannya di meja taman, sedangkan Ahreum tengah menunggu sembari memegangi alat makan dikedua tangannya dan sesekali menghirup udara segar dipagi hari.
“maafkan aku ya..” ucapnya sembari memberikan wadah yang sudah terisi nasi.
“untuk?” tanya Ahreum yang mencoba mengambil beberapa lauk untuk diletakan diatas wadah nasinya.
“karena meninggalkanmu kemarin.” Lirihnya seraya menatap wajah karibnya tersebut dengan tatapan memelas.
“bukan salahmu, malah aku ingin berterimakasih padamu, karena berkat alat pelacak yang kau berikan wanita itu akhirnya bisa tertangkap.” Ungkapnya seraya mengaduk makanannya agar tercampur merata.
“wanita?” ulang Nayeon karena belum mengerti apa yang dimaksud Ahreum.
“ahh iya, aku belum cerita padamu ya, sebenarnya aku berbohong pada kedua orang tuaku, tentang bagaimana aku mendapat luka tusukan ini.” Paparnya dilanjutkan dengan suapan pertamanya.
“waaahh!!
Jadi luka tusukan itu bukan disebabkan oleh seorang pencuri? lalu apa yang sebenarnya terjadi Ahreum!!” seru Jeno yang tiba-tiba saja hadir diantara mereka berdua.
“bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Nayeon seraya menatapnya penuh dengan tanda tanya.
“aku sudah menghubungimu bukan sedari tadi, aku akan menjenguk Ahreum, kau mau ikut atau tidak? tapi kau tak membacanya, ku telfon malah kau rijek.” Gerutunya seraya menatap Nayeon sinis.
“kau bisa membohongi kedua orang tuamu, tapi tidak denganku Ahreum, bukankah kita teman? tak ada 1 pun hal yang ku sembunyikan darimu, tapi kau!!” gerutunya lagi seraya memalingkan wajahnya dari Ahreum.
“hentikan, kau ini terlalu banyak nonton drama deh, sudah sini duduk, kau sudah sarapan?” respon Ahreum sembari mengunyah makanannya.
“aku serius Ahreum, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?!” ucapnya seraya duduk disamping Nayeon dengan pandangan lurus ke arah karibnya.
__ADS_1
“mana nasiku?” tanya Jeno pada Nayeon ditengah drama yang berlangsung ia masih sempat menanyakan nasi pada Nayeon, sebab ia juga ingin sarapan bareng karibnya tersebut.
“ciih..” Nayeon mendengus seraya mengambilkan wadah yang tersisa untuk diisikan nasi dan lauk pauk, sebenarnya wadah tersebut untuk dirinya makan, namun ia tak menduga jika akan ada kekasihnya yang tiba-tiba hadir dan merebut jatah sarapan paginya.
“orang yang menusukku adalah orang suruhan mantan kekasih Ansell.” Lanjut Ahreum.
“apa?!” pekik Nayeon dan Jeno secara bersamaan.
“tenanglah semuanya sudah teratasi sekarang.” tambah Ahreum.
“YAK!! ini tidak bisa dibiarkan siapa wanita itu, Ahreum, KATAKAN!” seru Nayeon seraya menggebrak meja dengan penuh emosi yang menggebu-gebu membuat Jeno dan Ahreum terkejut secara bersamaan.
“astaga, kau mengagetkanku saja, sudahlah lagipula lelaki yang menusukku juga sudah masuk penjara, dan wanita yang menyuruhnya akan segera tertangkap.” Katanya seraya masih menikmati sarapan paginya.
“augghh sial!! dasar wanita br*ngs*k, b*tch, @fggfHgghhfhhhh…!!!” belum sempat Nayeon menyelesaikan umpatannya mulutnya keburu dibungkam paksa oleh Jeno, sebab kata-kata kasar dari kekasihnya itu telah mengundang banyak pasang mata yang kini tengah memperhatikannya.
Jeno hanya bisa tersenyum dan sedikit menundukan kepalanya pada para tetua yang tengah memperhatikannya sebagai bentuk permintaan maaf yang mewakili kekasihnya tersebut.
“Nay, jaga sikapmu, kau tak malu banyak yang memperhatikan.” Ucap Jeno setengah berbisik seraya masih menyunggingkan senyum permintaan maafnya.
“arrghh lepaskan!” protes Nayeon seraya menepis lengan Jeno dari mulutnya.
“apa Ansell tau hal ini?” lanjut Nayeon.
“iya..” gumam Ahreum.
“jadi itu alasan Ansell menemanimu tidur kemarin.” Ucapnya lagi.
“APA!!” seru Jeno seraya menghentakan sendok makannya ke meja lengkap dengan kedua bola mata yang membulat saking terkejutnya mendengar yang apa yang baru saja Nayeon katakan.
“astaga, YAK!!
Kalian berdua kenapa sih, tak bisakah aku melalui pagiku dengan damai.” Kaget Ahreum seraya menghentakan sendoknya ke atas meja makan, dirinya kesal karena kedua temannya itu sudah membuat keributan dipagi hari dan membuat jantungnya terkejut berkali-kali.
“tidak, maksudnya Ansell menemanimu tidur itu, dia tidur diatas sofa kan bukan di ranjang tempatmu tidur?” kata Jeno yang memastikan jika bayangan tentang tidur bareng itu bukan seperti yang ia bayangkan dalam otaknya.
“APA!!” bentak Jeno seraya bangkit dari tempat duduknya.
***
Setalah melalui sarapan pagi yang penuh kegaduhan yang disebabkan oleh kedua karibnya tersebut, akhirnya Ahreum pun kembali ke ruangannya diantar oleh Jeno yang kini tengah mendorong kursi roda, sedangkan Nayeon lebih dulu pamit pergi sebab kelas nya sebentar lagi akan dimulai.
Namun saat mereka sudah sampai di depan ruangan Ahreum, baik Ahreum maupun Jeno sedikit terkejut mendapati asisten pribadi Ansell yaitu Abighail tengah berdiri di depan ruangannya.
“apa Ansell masih tertidur?” tanya Ahreum pada Abi yang tengah menyunggingkan senyum ramah untuk menyambut kedatangannya.
“pak Ansell sudah pergi sedari tadi nona, dan saya diminta untuk menjaga nona disini selama pak Ansell bekerja.” Ucapnya yang kemudian membukakan pintu ruangan agar Ahreum bisa masuk ke ruangannya.
“dia asisten pribadi Ansell kan?” tanya Jeno seraya mendorong kursi roda Ahreum masuk ke dalam ruangannya.
“hmm..” respon Ahreum seraya menganggukan kepalanya.
“biar ku bantu.” ucap Jeno yang hendak menggendong karibnya tersebut.
“tidak.. aku bisa sendiri.” Cegah Ahreum yang kemudian mencoba untuk berdiri namun tetap masih dipegangi oleh Jeno sampai gadis itu terduduk diranjangnya kembali.
“bukankah kau harus pergi, Jeno, kelasmu juga akan mulai kan 1 jam lagi.” Ucap Ahreum saat ia sudah terduduk di atas ranjangnya seraya menatap Jeno lekat.
“kau yakin tidak apa-apa ku tinggal, biar ku tunggu sampai kedua orang tuamu datang dulu aja ya, baru aku pergi.” Bantahnya seraya melirik ke arah Abi yang berdiri disisi ranjang Ahreum yang lain.
“saya yang akan menjaga nona Ahreum.” Timpal Abi seraya melayangkan senyum ramahnya sekali lagi.
“kau tak perlu khawatir kedua orang tuaku juga akan datang ko sebentar lagi, jadi pergilah, aku ga akan kenapa-napa.” Tambah Ahreum yang mencoba meyakinkan karibnya itu.
“oke kalau gitu sebelum aku pergi,
__ADS_1
Ini kau pakai, (ucap Jeno seraya mengeluarkan jam tangan dari saku celananya kemudian memakaikannya ke lengan Ahreum)
jika kau merasa ada yang mencurigakan, kau bisa klik tombol yang ada disamping jam tangan ini, polisi yang tengah berpatroli di area terdekatmu pasti akan langsung mendatangimu, ini lebih efektif daripada kau harus menelfon kak Benn, yang bisa jadi saat kau telfon, dia berada jauh dari lokasimu. Mengerti!” perintahnya yang kemudian diakhiri dengan mengelus kepala Ahreum lengkap dengan senyum tipisnya.
Jeno pun pergi setelah Ahreum menganggukan kepalanya dan membalas senyumannya.
“kak Abi sudah memperbaiki pintunya..?” tanya Ahreum saat menyadari jika pintu ruangannya sudah kembali seperti semula.
“iya, saat nona pergi tadi,
Ahh iya, sebaiknya nona jangan terlalu menunjukan kedekatan nona dengan teman lelaki nona tadi di depan pak Ansell, itu bisa membuat teman lelaki nona kembali mendapat masalah.” Abi mencoba memperingatkan Ahreum.
“hufft..” Ahreum hanya bisa menghela nafasnya sejenak.
“amm.. tentang gadis itu, bagaimana? Apa dia sudah tertangkap?” lanjut Ahreum, tiba-tiba saja ia teringat akan nasib dari mantan kekasih Ansell seraya mencoba meraih botol air mineral yang berada di meja kecil disamping ranjangnya, ia masih menunggu jawaban dari Abi yang tampak sangat sulit sekali untuk membuka mulutnya.
“ada apa..?
Ada yang kak Abi ingin sampaikan?” tanyanya lagi sembari membuka tutup botol air mineral tersebut lalu meneguknya sekali.
“sebenarnya..”
“hahaa.. tiba-tiba saja terlintas dalam benakku jika gadis itu meninggal dibunuh oleh Ansell, itu.. tidak mungkin kan.” Imbuhnya yang kemudian kembali meneguk air mineralnya.
“nona Ilona memang sudah tiada.” Ungkapnya yang membuat Ahreum menyemburkan kembali air minum yang belum sempat ia telan.
“apa?! Bagaimana mungkin.” Gumamnya, reflex kedua tangannya gemetaran didukung dengan raut wajahnya yang kini tampak sangat gelisah dan ketakutan dengan kabar yang baru saja ia dengar.
“tapi nona Ilona meninggal bukan karena pak Ansell, melainkan ia lebih memilih bunuh diri dari pada harus masuk penjara. Ia menembakan dirinya sendiri dengan pistol miliknya.” Jelas Abi agar Ahreum tidak salah paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“jangan membohongiku, bagaimana mungkin warga biasa bisa memliki pistol.” Respon Ahreum seraya menatap wajah Abi lekat.
“lelaki yang menjadi selingkuhan nona Ilona adalah anggota gangster, jadi bukan tidak mungkin nona Ilona memiliki benda semacam itu.” Paparnya lagi.
Alih-alih merespon perkataan Abi, Ahreum hanya terdiam dengan terus memandangi kedua bola mata Abi, seolah ia tengah mencoba mengartikan tatapan yang diberikan Abi padanya.
“masih ada yang belum kak Abi katakan?” tanyanya.
“tidak ada nona.” Sahut Abi.
“dia berbohong.” Batin Ahreum, yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Abi dan kembali meletakan botol air mineralnya di atas meja.
“jika ingin berjaga diluar saja, aku tak ingin ada siapapun berada dalam ruanganku.” Pinta Ahreum seraya mencoba membaringkan tubuhnya membelakangi Abi.
“baik nona, saya akan berjaga diluar, jika ada yang..”
“aku tidak butuh apapun, keluar saja.” Potong Ahreum.
Abi pun menurut lalu keluar meninggalkan ruangan Ahreum dan hanya berjaga di depan ruangan seperti apa yang diminta oleh gadis yang tengah ngambek tersebut.
Saat ia hendak memejamkan kedua matanya, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu yang membuat dirinya kembali terbangun, pandangannya langsung tertuju pada bantal yang ditidurinya barusan, lengan mungilnya itu pun merogoh ponselnya dari balik bantalnya, dan mencoba menguhubungi seseorang.
“Jeno,
Bisa kau kirimkan rekaman suara dari alat pelacakmu.” Pinta Ahreum seraya menggigit bibir bagian bawahnya menandakan jika dirinya saat ini benar-benar gugup.
Beberapa menit kemudian setelah percakapan singkat di telfon, sebuah notif pesan masuk ke dalam ponsel Ahreum, iya.. pesan yang berisi rekaman suara dari alat pelacak yang Ilona pakai. Jemari nya seketika bergetar ia pun ragu apakah ia sanggup untuk mendengarkan rekaman tersebut, namun sisi lain dari dalam dirinya terus memaksa untuk mengklik rekaman suara tersebut.
Sampai akhirnya ia pun mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengklik rekaman yang dikirim oleh karibnya tersebut.
BRRUGGHHH!!
Rekaman itu diawali dengan suara bantingan pintu yang cukup keras.
“ba.. bagaimana.. kau bisa disini?” ucap seseorang dengan terbata-bata, yang sudah jelas sekali jika suara itu berasal dari Ilona yang tampaknya tengah ketakutan.
__ADS_1
***
bersambung..