
Dimobil.
“tenanglah mungkin dia hanya mampir sebentar, kemudian pulang.” Celetuk Abi ngasal, ia hanya ingin mencoba menenangkan Ansell yang kala itu tampak begitu gelisah, dengan terus memandangi tajam ke balik jendela mobil seraya menopang dagunya dengan satu tangannya.
“diamlah, aku tak ingin mendengar perkataan mu yang tak masuk akal.” Sahut Ansell yang masih mengarahkan pandangannya keluar jendela.
“apa kau tak merasa, kau telah berubah banyak Ansell.” Ucap Abi yang membuat Ansell sedikit terusik namun masih tetap ingin berada dalam posisinya.
“karena saat kau bersama dengan Ilona, kau tak pernah sekalipun mengkhawatirkannya, bahkan saat dia pergi jauh bersama dengan teman-temannya pun kau tak pernah menyusulnya, kau hanya akan menunggu sampai dia kembali. Intinya, kau tak pernah seprotectif ini dengan Ilona, justru kaulah yang membuat Ilona datang kepadamu.”
“yak! Apa kau berfikir jika aku begitu mencintainya, sampai berbuat seperti ini?! Tentu tidak! Aku hanya.. hanya menganggapnya sebagai bonekaku saja, lagipula gadis pendek itu sama sekali bukan seleraku. Aku akan menceraikannya setelah 1 tahun menikah.” Ungkap Ansell yang membuat Abi melirik sesaat ke arahnya, ia benar-benar tak menyangka jika Ansell bisa berbicara sekasar itu pada calon istrinya.
“tapi aku tidak berfikir Ahreum bisa ditaklukan semudah itu.” Gumam Abi pelan seraya kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan.
“apa katamu?!” seru Ansell yang tak terlalu jelas menangkap sebuah kalimat yang keluar dari mulut karibnya tersebut.
***
Disebuah resto yang terletak di Jakarta selatan, tampak seorang pria yang mengenakan setelan casual, kaos berwarna putih dengan celana jins hitam yang tidak terlalu sempit ataupun longgar, hingga membuat kaki jenjang pria tersebut semakin terlihat menawan.
Tak hanya sekali atau dua kali ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, dengan perasaan gelisah dan tak karuan ia tetap ingin menunggu sampai ia benar-benar bisa memastikan jika gadis yang tengah ditunggu nya tersebut memang tidak datang.
Hal itu juga yang membuat dirinya tidak memesan makanan duluan sebab ia tidak tahu selera gadis yang akan makan malam bersamanya nanti. Alhasil ia hanya meminta pelayan resto untuk mengambilkannya segelas minuman dingin selagi menunggu sang gadis.
“hey, Ahreum, kufikir kau tak akan datang.” Sapa Elios, seraya bangkit dari kursinya untuk menyambut kedatangan Ahreum, lalu membantu menarikan kursi Ahreum agar gadis itu bisa duduk, layaknya seorang pria sejati yang memperlakukan wanitanya seperti ratu.
“ahh, iyaa, terimakasih dokter Elios.” Ucap Ahreum seraya mendudukan bokongnya dikursi.
“mba!” panggil Elios dengan sedikit lantang agar terdengar oleh salah satu pelayan yang berada lumayan jauh dari mejanya.
__ADS_1
Sang pelayan wanita itu pun membalikan tubuhnya dengan nampan yang berada dalam dekapannya, mungkin ia baru saja mengantarkan makanan pada para pelanggannya. Kemudian berjalan menghampiri meja Elios lengkap dengan senyum ramah untuk merespon panggilan dari Eilos sesaat yang lalu.
“Iya ada yang bisa dibantu mas?” tanya sang pelayan masih dengan senyum ramah yang menghiasi wajah mungilnya.
“saya mau pesan, boleh tolong menunya ya mba.” Sahut Elios yang tak kalah ramahnya.
“oke baik mas, ditunggu sebentar ya saya ambilkan dahulu.” Respon sang pelayan yang kemudian langsung bergegas menuju meja tempat penyimpanan list menu, dan kembali lagi setelah beberapa menit ke meja Elios lengkap dengan buku menu yang sudah berada dalam genggamannya.
Dengan sedikit membungkukan tubuhnya ia pun memberikan buku menu tersebut pada Elios yang sudah siap menerimanya.
“jika sudah selesai memilih, nanti bisa panggil kembali aja ya mas, mba.” Ucap sang pelayan ramah, kemudian dibalas anggukan secara bersamaan oleh Elios juga Ahreum, pelayan tersebut pergi untuk melakukan aktivitas yang lain selagi menunggu Elios dan Ahreum memanggilnya kembali.
“apa kau punya alergi, Ahreum?” tanya Elios seraya membalikan lembar demi lembar kertas dari menu tersebut.
“kurasa tidak ada, hehee.” Responnya lengkap dengan tawa kecilnya yang membuat kedua matanya menghilang sesaat. (Ahreum itu sipit maksudnya)
“kau belum pernah tes alergi memangnya?” tanya Elios lagi seraya mengalihkan perhatiannya dari buku menu, untuk menatap kedua mata kecil Ahreum yang juga tengah memadanginya.
“iya juga sih, hehe. Ya sudah kau mau makan apa?” ucap Elios seraya memutar arah buku menunya ke arah Ahreum dan membiarkan Ahreum melihat-lihat makanannya terlebih dahulu.
“ammm, bener nih aku aja yang pilih? Ini ditraktir dokter kan?
Jangan-jangan nanti pas sudah mau pulang disuruh bayar masing-masing lagi, hahaha.” Celoteh Ahreum masih dengan tawa renyah yang mengkhiri kalimatnya.
“waaah, sepertinya kau punya pengalaman yang seperti itu ya, hehe?” tebak Elios.
“hehehee.” Ahreum hanya bisa nyengir kala tebakan Elios memang benar adanya.
***
__ADS_1
Dilain tempat.
Terlihat Rihanna keluar dari tempat club dengan langkah yang sedikit sempoyongan, hal itu juga yang membuat salah satu lelaki terus mengikutinya, ia pun berpura-pura membantu Rihanna dengan mencoba merangkul tubuh Rihanna agar tidak terjatuh.
“kau baik-baik saja?” tanya sang pria dengan tatapan yang mendukung layaknya seorang penolong yang benar-benar tulus tanpa mengharapkan apapun.
“ahh.. yaa.. aku.. sedikit pusing hehee.” Sahut Rihanna dengan terbata-bata lengkap dengan kedua matanya yang tampak mulai kabur, juga tubuhnya yang kini hampir tak berdaya karena sudah tak memiliki tenaga sama sekali.
“oke, kuantar kau ke rumah ya, mobilku disana.” Katanya yang kemudian langsung menggendong ala bridal style menuju keberadaan mobilnya setelah ia mendapat beberapa kali anggukan dari gadis setengah sadar tersebut.
***
Mobil yang dikendarai pria misterius itu pun mulai berjalan menjauhi area parker club, bersamaan dengan masuknya mobil yang dikendarai oleh Abi yang sudah sampai tepat di depan sebuah club yang diyakini adalah lokasi dimana Ahreum berada saat ini.
Namun saat Abi mematikan mesin mobil dan lengan Ansell pun sudah mendorong pintu mobil, Abi melirik ke layar tablet yang ia simpan diatas mobilnya, ia pun sedikit terkejut melihat lokasi Ahreum yang kini telah menghilang dari area tersebut.
“Ansell sepertinya Ahreum sudah tidak disini.” Cegah Abi, saat 1 kaki Ansell hendak mendarat diaspal, ia pun membalikan tubuhnya seraya menatap tajam ke arah Abi untuk menunggu kelanjutan dari kalimatnya.
“dia sudah pergi dari club, kukira dia dalam perjalanan pulang, kau masih ingin mengikutinya?” tanya Abi seraya menatap kedua mata Ansell.
“iya, kita ikuti saja dia, apakah dia benar-benar pulang seperti dugaanmu.” Perintah Ansell seraya menutup pintu mobilnya untuk kembali melanjutkan perjalanannya dalam mencari calon istrinya.
Sekitar 5 menit berlalu, baik Ansell maupun Abi sama-sama terkejut ketika mendapati lokasi gps keberadaan ponsel Ahreum kini tengah mengarah ke sebuah hotel yang keberadaannya tidak terlalu jauh dari tempat club sebelumnya.
“BRE***!! Gadis ini benar-benar sudah gila rupanya, berani-beraninya dia bermain-main dibelakangku!!” geram Ansell seraya mengepalkan satu lengannya kemudian menghantamkannya ke jendela mobil yang tidak bersalah.
“bagaimana, apa masih mau mengikutinya?” tanya Abi kembali, karena ia sudah tau hal apa yang akan terjadi, ia hanya tak ingin menyaksikan Ansell kembali menangkap basah pasangannya tengah menyelingkuhinya.
“TANCAP GAS NYA SEKARANG JUGA!! Aku tak ingin tampak bodoh lagi kali ini, setidaknya aku harus menghajar lelaki itu sampai mati!” pekiknya bersamaan dengan sorot mata tajamnya yang berapi-api.
__ADS_1
***