Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 128


__ADS_3

“ITU DIA, ITU DIA PAK BOCAH PEMBUAT ONARNYA!! TANGKAP MEREKA!!” seru pak Mansyur sang petugas keamanan pada para polisi yang berada disisi kanan dan kirinya. Sembari mengacungkan pentungannya ke arah punggung kedua gadis yang tengah berjalan santai diantara kerumunan pengunjung siang itu.


 Baik Rihanna maupun Ahreum refleks memutar tubuhnya begitu mendengar suara lengkingan yang terdengar jelas sekali ditelinganya seakan penasaran apa yang sebenarnya terjadi dibelakangnya.


Keduanya pun terkejut saat mendapati seorang petugas keamanan tengah mengacung-acungkan pentungannya tepat kearahnya ditambah beberapa petugas polisi yang berada disisi kanan dan kiri petugas keamanan itu membuat Rihanna dan Ahreum saling melempar tatapan penuh tanda tanya seakan mereka tak mengerti situasi yang terjadi saat ini.


“kak Ben..” ucap Rihanna saat Bennedict tiba-tiba muncul diantara beberapa polisi yang berjejer rapih.


“apa ada sesuatu yang terjadi?” gumam Ahreum seraya melirik ke arah Hanna lengkap dengan raut wajah bingungnya.


“entahlah,


Kurasa mereka sedang mengejar seseorang.” sahut Hanna dengan ekspresi wajah tanpa dosanya ia malah celingukan kesana kemari mencoba mencari siapakah gerangan yang membuat para polisi berkumpul disini.


“TUNGGU APA LAGI!! AYO TANGKAP MEREKA BERDUA!!” seru petugas keamanan tersebut seraya hendak menarik langkah pertamanya menuju keberadaan Ahreum dan Rihanna yang tak terlalu jauh dari dirinya.


“apa-apaan ini?! jadi penjahatnya kita berdua? Tidak.. tidak kalian salah tangkap, memangnya apa salahku?!” protes Rihanna saat dirinya dan Ahreum sudah dicengkram kuat oleh para petugas polisi.


“yak.. yak.. jangan kasar dengan perempuan, santai aja.” Ujar Sanches pada polisi yang tengah memegangi kedua gadis pembuat onar itu.


“ahh.. iya baik pak.” Sahutnya yang kemudian menggiring Rihanna dan Ahreum berjalan keluar dari area pasar.


“ada apa sih ini?! aku gak ngelakuin kejahatan tau! Kak Benn tolong lepaskan aku, aku malu sekali hikkss.. hiksss..” rengek Rihanna saat ia berjalan melewati Bennedict yang hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sudah kewalahan dengan tingkah kedua adik perempuannya yang selalu membuat masalah itu.


Setelah Rihanna dan Ahreum sudah jauh dari pandangan Bennedict, Bennedict pun mencoba menghadap pada salah seorang pedagang paruh baya yang dirugikan sangat banyak oleh kedua adiknya tersebut.


“saya mohon maaf atas kejadian yang tidak mengenakan ini sehingga membuat kerugian yang sangat besar bagi ibu dan bapak semua. Untuk itu ibu dan bapak bisa menghubungi kontak saya mengenai total kerugiannya saya yang akan menggantinya.”


“tidak.. tidak.. saya ingin kedua gadis itu aja yang membayar ganti ruginya, setidaknya mereka harus bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka perbuat. Ini tidak ada hubungannya dengan kau!” seru wanita paruh baya yang emosional itu sembari mengacung-acungkan sendok nasi pada jalanan yang tadi dilalui oleh Ahreum dan Rihanna.


“mereka berdua adalah tanggung jawab saya bu. Karena mereka adik saya. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kekacauan yang telah adik-adik saya perbuat.” Tandasnya seraya membungkukan tubuhnya didepan para pedagang tanda permohonan maaf tulusnya.


***


Sesampainya didepan mobil patroli, salah satu polisi yang tengah memegangi tangan Rihanna membukakan pintu agar Rihanna bisa masuk ke dalam.

__ADS_1


“tunggu..tunggu.. aku ga bisa pergi begitu aja, motorku masih diparkiran.” Keluh Rihanna seraya menaruh 1 kakinya dipijakan mobil untuk menahan tubuhnya.


“berikan kuncinya, saya yang akan membawanya.” Tegas sang polisi yang terus berusaha mendorong tubuh Rihanna agar masuk ke dalam mobil.


Sementara itu Ahreum yang baru saja muncul dengan 1 polisi wanita yang memeganginya, ia pun berjalan menuju sisi mobil lainnya karena disisi yang 1 ada Rihanna yang menghalangi pintu masuk.


“cepat masuk! Kau tak lihat temanmu, dia sudah masuk dengan damai, kenapa kau rewel sekali sih!” keluh sang polisi yang kehabisan kata-kata untuk menghadapi gadis bar-bar yang 1 ini.


“yak, jangan terlalu kasar, atau kau akan menyesalinya nanti.” Ujar Reno yang baru saja bergabung diantara mereka lalu menepuk sedikit keras bahu polisi yang memegangi Rihanna, membuat polisi tersebut kembali melunak.


“baik pak, maaf.” Responnya sembari menggangguk.


“lepaskan mereka, biar saya yang akan membawanya.” Perintah Bennedict begitu ia tiba.


“ahh.. i.. iya baik pak.” Sahutnya tergagap karena tak mengerti situasi yang terjadi saat ini.


Ahreum pun diturunkan dari mobil lalu berjalan mendekat kearah kakaknya begitu juga dengan Rihanna yang tampak mengerut karena takut pada Bennedict yang sudah memasang wajah seriusnya.


“kalian pergi dengan yang lain saja, aku yang akan membawa mobilnya.” Ujar Bennedict pada ketiga anak buahnya yaitu Bianca yang sedari tadi selalu berada disampingnya, Reno dan juga Sanches.


“baik pak!” sahutnya serempak kemudian bergegas menuju mobil yang bisa menampung ketiganya untuk kembali ke kantor polisi.


“ini bukan salahku kak! Gadis aneh itu yang melempar semua barang ke arahku untuk membuatku berhenti mengejarnya.” Protes Rihanna karena merasa tidak adil jika dirinya yang harus disudutkan.


“gadis aneh, siapa?” tanya Bennedict seraya mulai menarik langkah menuju keberadaan mobilnya.


Kemudian disusul dengan Rihanna dan Ahreum yang berjalan lebih lambat dibelakang Bennedict.


“gak tau tuh si Ahreum yang menyuruhku menangkapnya.” Adu Rihanna seraya mengarahkan pandangan julidnya pada Ahreum yang sedari tadi terdiam.


“apa?!” sahut Bennedict seraya memutar tubuhnya kearah Rihanna sejenak lalu beralih pada Ahreum untuk meminta penjelasan atas apa yang baru saja Rihanna katakan.


“aku hanya penasaran kak Ben, karena dia terlihat mencurigakan.” Ujarnya.


“apa sih yang kalian bicarakan?!” dumel Bennedict karena merasa kebingungan.

__ADS_1


“jadi gini..” belum sempat Rihanna menjelaskan bagaimana situasi yang terjadi, Ahreum keburu mengambil alih dan memaparkan apa yang sebenarnya terjadi dengan sedikit bumbu kebohongan yang membuat Rihanna mengangkat 1 alisnya.


“saat aku mengunjungi mama, aku ngeliat gadis itu seperti mengendap-endap sambil ngeliatin kita kak, raut wajahnya aneh, seperti seseorang yang kepergok melakukan kesalahan. Tentu aja aku penasaran dan ingin mendekatinya. Tapi dia malah berlari gitu aja, aku ga bisa tinggal diem gitu aja dong. Ya aku mengerjarnya.” Papar Ahreum meski ada sedikit kebohongan dalam ceritanya. Karena tak mungkin ia berkata jika ia tengah mengunjungi mendiang Ilona mantan kekasih Ansell.


Bennedict terdiam sesaat untuk mencerna cerita Panjang dari adiknya itu, kemudian melirik ke arah Rihanna seolah tengah meminta kebenaran dari cerita yang dipaparkan oleh Ahreum.


“i.. iya.. kurang lebih seperti itu sih.” ucapnya sedikit tergagap.


“tapi gak harus sampai menghancurkan pasar juga kan Rihanna, Ahreum!”


“aughhhh!! Sudah ku bilang itu bukan ulahku, tapi gadis aneh itu! Kalau tak percaya tanya aja yang benar para pedagang disana, siapa sebenarnya yang bermain-main dengan dagangan mereka. Mereka begitu karena gadis pembuat onar sebenarnya udah ga ada. Jadi sebagai gantinya mereka melimpahkan semua tanggung jawab itu padaku karena kebetulan aku ikut terlibat dalam aksi kejar-kejaran bersama dengan gadis pembuat onar itu.” Rihanna memaparkan kembali cerita yang sebenarnya terjadi dengan nada ngegasnya.


“kau itu ngerti ga sih?” sambarnya lagi saat Bennedict malah mengacuhkannya.


“Hanna tenanglah.” Ucap Ahreum yang mencoba merileks kan karibnya yang memiliki tingkat kesabaran setebal tisu basah.


"ya sudah ya sudah, naik ke mobil sekarang.” Tandas Bennedict seraya membukakan pintu untuk kedua adiknya itu, ia mengalah dan mengakhiri perdebatan yang terjadi.


"tapi, motorku masih dirumah abu." Sahut Rihanna.


"sejak kapan kau punya motor Rihanna?" respon Bennedict seraya mengerutkan dahinya.


"sejak pagi tadi hehe." cengirnya.


“ayo!” ajak Bennedict setelah ia menutup pintu mobilnya kembali ia pun lantas melangkahkan kakinya menuju rumah abu yang tidak jauh dari area parkiran pasar.


“kemana?” tanya Ahreum dan Rihanna serempak seraya berjalan menyusul langkah Bennedict.


“membuktikan apa yang kau bualkan tadi.” Sahut Bennedict yang tak percaya pada Rihanna jika dirinya memiliki sebuah sepeda motor.


“aughh!! Kakakmu itu benar-benar..” gerutu Rihanna setelah melirik sesaat pada Ahreum yang berjalan dengan tenang disampingnya.


"kak Ben aku lapar, bisa kau beri aku makan?!" serunya seraya berlari kecil menyusul langkah Bennedict yang sudah jauh meninggalkan keduanya.


"tiba-tiba?.." gumam Ahreum seraya mengerutkan dahi lalu menggelengkan kepalanya saat karibnya itu mendadak meminta makan, karena hal tersebut sangat melenceng dari pembahasan yang terjadi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2