
“ahh iya, nona Hanna, saya belum menemukan pak Ansell.” lapor pak Jimmi yang membuat semuanya mengarahkan pandangannya pada pak Jimmi.
“benar juga, aku hampir lupa. Karena kak Abi yang terus berfikiran negative tentang Ansell, kita pun naik ke lantai atas mencoba mengecek Ansell dikamar. Dan.. dia tidak ada disana, hanya ada ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja rias.” Tutur Hanna seraya memberikan ponsel Ansell pada istrinya yang kini berdiri disampingnya.
“dipekarangan depan ataupun belakang Villa juga tidak ada nona.” Tambah pak Jimmi yang semakin membuat Ahreum tidak bisa berfikir positif selagi memandangi layar ponsel suaminya yang kini berada dalam genggamannya.
Sampai…
Lampu Villa pun mendadak mati hidup mati hidup membuat atmosfer kala itu berubah menjadi mencekam. Dengan semilir angin kencang yang menerbangkan semua gorden besar yang menutupi kaca jendela Villa.
Tak pelak ketiga pelayan yang berada jauh dari ruang tamu pun kembali saling berpelukan dengan Nayeon yang kini berada ditengah-tengah mereka.
“pak Jimmi ga bayar tagihan listrik ya?” celetuk Franky yang memecah kengerian kala itu dengan celetukannya.
Sekelebat bayangan berwarna putih melintas dihadapan mereka yang berhasil membuat teriakan-teriakan histeris ketiga pelayan yang tengah berpelukan itu ditengah keadaan lampu yang masih berdisco tanpa henti.
“AAAaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaa!!!”
Sementara diruang tamu, setelah melihat bayangan putih melintas dihadapannya Franky pun lantas menghambur ke dalam pelukan Abi lengkap dengan rasa takutnya yang luar biasa.
Begitpun dengan Abi yang memilih pasrah dipeluk Franky ditengah rasa takutnya yang mulai menjalar menyelimuti tubuhnya, ia hanya terdiam seraya menelan salivanya. Namun tentu saja dia tak ingin terlalu menunjukan ketakutannya itu dihadapan kekasihnya.
“saya akan coba memeriksa aliran listriknya nona.” Pamit pak Jimmi yang langsung berlarian keluar dengan lampu senter yang berasal dari ponselnya untuk menerangi jalannya.
“sebaiknya kalian keluar saja, kurasa lampu diluar baik-baik saja.” Perintah Ahreum pada ketiga pelayan tersebut dengan suara lantangnya agar terdengar jelas sampai ke telinga mereka, kemudian dilanjut dengan memasukan ponsel suaminya ke dalam saku celana piyamanya.
“ba.. baik nonaa..” ucap Arini yang kemudian menuntun jalan dengan penerangan lampu flash yang berasal dari ponselnya.
“kenapa hanya mereka yang keluar?
Bagaimana dengan kita? Tunggu! Air apa ini diarea vitrumku.” Ucap Franky seraya mencoba menyeka darah yang dianggapnya air itu, saat lampu kembali menyala tampak jelas sekali warna merah darah yang kini menempel diujung jemarinya.
“a.. apa ini, aww, kenapa hidungku sakit sekali.” oceh Franky kembali yang sepertinya tidak ingat akan insiden beberapa menit lalu didapur.
“sudah berhenti mengoceh, kalian juga bisa keluar.” Sahut Ahreum yang kemudian hendak memutar tubuhnya.
“kau, mau kemana?” tanya Hanna yang langsung mencegah Ahreum sebelum ia melangkahkan kakinya.
“aku akan mencari Ansell.” katanya mantap seraya menurunkan tangan Hanna dari bagian sikutnya.
“aku akan pergi bersamamu.” Seru Hanna seolah tidak ada takut-takutnya berada disituasi horror ini.
“kalian berdua keluar saja, aku akan menemani Ahreum mencari Ansell.” lanjut Hanna seraya mengarahkan pandangannya pada kedua pria penakut yang berada disofa.
“a.. aku i.. ikut!” seru Abi yang kemudian bangkit dan berjalan cepat menyusul langkah Ahreum dan Rihanna yang sudah lebih dulu meninggalkannya beberapa langkah.
“aku juga!!” tak ingin ditinggal sendiri Franky pun memilih untuk ikut dengan teman-temannya, setidaknya bersama lebih baik daripada ia merangkak keluar sendirian.
…
Saat Ahrem yang berada di posisi terdepan hendak menginjakan kakinya dianak tangga pertama. Tiba-tiba saja Hanna yang berada dibelakang Ahreum menahan tangannya, hingga ia pun memutar tubuhnya.
__ADS_1
“kau yakin akan mencari dilantai atas, aku sudah memeriksa lantai 2 dengan kak Abi sebelumnya.” Cegah Hanna.
“kau yakin sudah memeriksa semua ruangan yang ada dilantai 2?” tanya Ahreum memastikan sekali lagi
“amm.. Sebenarnya ada 1 kamar lagi sih yang belum kita buka karena memang kamar tersebut terkunci, disudut lorong sana (ucap Hanna seraya menunjukan tempat yang ia maksud)
tapi.. gak mungkinkan Ansell ada disana, kamar itu terkunci, kita juga sudah mencoba memanggilnya tapi tidak ada jawaban. Kurasa Ansell memang tidak ada disana.” Tuturnya lagi.
Sementara para gadis tengah berinteraksi mencoba mencari kemungkinan keberadaan Ansell yang kini menghilang entah kemana.
Kedua pria yang berada dibelakang Hanna itu sama sekali tidak membantu, Abi hanya mencengkram erat bagian samping baju Hanna dengan sesekali mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk selalu waspada.
Sama halnya dengan Franky yang ikut mencengkram kuat bagian samping baju Abi, namun bedanya ia tak berani membuka kedua matanya, Franky menenggelamkan wajahnya ke dalam punggung Abi dengan bulir-bulir keringat yang mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
Sampai, akhirnya pak Jimmi pun kembali bergabung diantara mereka berempat.
“ada apa pak Jimmi?
Kenapa lampunya masih mati hidup seperti ini?” tanya Hanna begitu pak Jimmi berdiri dihadapannya.
“aliran listriknya baik-baik saja nona. Saya juga tidak mengerti apa yang membuat semua lampu menjadi seperti ini.” jelasnya.
“hmm..” Ahreum hanya bisa menghela nafas.
“pak Jimmi, boleh aku minta kunci kamar yang berada disudut lorong itu.” imbuh Ahreum yang kembali teringat akan sebuah kamar yang belum diperiksa.
Pak Jimmi pun lantas menoleh ke arah kamar yang dimaksud Ahreum dengan kerutan didahinya.
“tapi, saya rasa tuan Ansell tidak akan berada disana nona.” Ucap pak Jimmi.
Pak Jimmi pun mengalah lalu mencoba merogoh saku bagian dalam jas nya untuk mengeluarkan sebuah kunci tunggal pada Ahreum.
“ahh iya, sebaiknya pak Jimmi cari dilantai bawah saja, aku dan teman-temanku yang mencari dilantai atas.” Ucap Ahreum yang langsung direspon anggukan oleh pak Jimmi.
“ayoo!” seru Ahreum sebelum memulai menginjakan kakinya dianak tangga pertama.
…
Sesampainya dilantai atas, masih dengan posisi yang sama, yaitu Ahreum yang berdiri paling depan, Rihanna kedua, Abi ketiga dan Franky yang berada diposisi paling belakang, mereka saling mencengkram bagian samping baju orang yang berada didepannya sembari berjalan mengendap-endap berharap jika situasi mencekam ini akan segera berakhir dan lampu pun bisa hidup dengan normal.
Tidak seperti sekarang mati tidak bisa, hidup pun enggan.
“pelan-pelan Ahreum jalannya, kau tak lihat dibelakangku 2 pria penakut semua.” celetuk Hanna seraya menggoyang-goyangkan cengkraman bajunya.
“aissh!! Yak! aku tak meminta kalian ikut denganku kan?!” ketus Ahreum yang kesal dengan 2 pria tak berguna itu.
“yak! Setidaknya kita sudah berusaha setia kawan kan Ahreum!” balas Franky yang memberanikan diri memunculkan wajahnya dari balik tubuh Abi.
“kurasa kau juga tidak setakut ini waktu kita masuk ke rumah hantu, kak Abi.” Ujar Hanna yang melepas 1 tangannya dari pinggiran baju Ahreum lalu beralih memegangi salah satu tangan Abi yang bergetar hebat.
“ehehe.. waktu itu kan aku mensugestikan diriku jika semua hantu hanya manusia yang menyamar seperti yang kau katakan, tapi kali ini beda ehehe..” ucapnya dengan nada suara sepelan mungkin.
__ADS_1
“sssttt.. kalian tidak mendengar seperti ada yang merintih?” ujar Ahreum yang malah membuat suasana kembali menegang.
“yak! Jangan nakut-nakutin dong!! Kau kebiasaan banget suka jahilin orang.” Gerutu Hanna yang langsung menggeplak bahu Ahreum dengan keras, hingga Ahreum pun sontak merintih kesakitan sembari mengusap bagian bahunya.
“yak! yak! yak! Jangan narik-narik bajuku dong!!” rengek Franky dengan suara gemetarnya seraya menggoyan-goyangkan tubuhnya agar orang yang berada dibelakangnya melepaskan cengkramannya dari bajunya.
“yak! Bodoh, kita semua didepanmu tahu!” pekik Hanna.
“heuuuu.. terus ini tangan siapa dong!! Hiksssss!!” rengek Franky lagi yang semakin menggila kaala menyadari dirinyalah yang berada diposisi terakhir.
“su.. sudah.. sudah lebih baik kita terus berjalan aja, ja.. jangan melihat ke belakang.” Kata Hanna seraya mendorong tubuh Ahreum agar Ahreum kembali melangkahkan kakinya memimpin jalan.
Namun mendadak gadis yang tengah mempimpin itu tampak menyeringai seakan mendapat sebuah ide cemerlang dalam otak kecilnya itu.
“tunggu apa lagi ayo cepat jalan!!” seru Hanna sebab Ahreum masih saja terdiam ditempat.
Perlahan Ahreum memutar kepalanya ke belakang seraya mengarahkan lampu flash ponselnya tepat ke belakang tubuh Franky.
“a.. apaan tuh!!” ucap Ahreum tergagap dengan raut wajah yang sangat mendukung sekali hingga membuat ketiganya pun kelabakan dan berteriak ketakutan.
“AAaaaaaaaaaaaa!!” teriak ketiganya sembari saling berlindung satu sama lain.
“Ahhahhahahhaaa!!!!” tawa Ahreum pun pecah kala melihat ketiga karibnya itu berjongkok dibawah sembari berpelukan.
Mendengar suara lengkingan tawa puas Ahreum, akhirnya ketiganya pun tersadar jika mereka hanya sedang dikerjai oleh Ahreum.
Dengan dengusan kesal mereka pun bangkit secara bersamaan. “aughh!! Si**al!! sempat-sempatnya kau jahil dalam situasi seperti ini Ahreum!” pekik Hanna lengkap dengan sorot mata tajamnya yang mengarah pada wajah karibnya itu yang masih tampak cengengesan.
“waaaahhh.. sepertinya tadi aku merasakan jika jantungku berhenti sejenak.” Celoteh Franky sembari mengelus bagian dadanya.
“AAAAaaaaaa!!!” mereka bertiga kembali berteriak kala lampu kini mati sepenuhnya.
“apa sih! Berisik banget. Keluarkan ponsel kalian, nyalakan lampu senternya.” Perintah Ahreum yang tetap tenang meski ketiga temannya itu selalu membuat keributan tak berarti.
“anu.. tapi.. sepertinya, aku pipis dicelana, Ahreum.” ujar Franky yang masih menggenggam erat lengan Abi.
Sementara Hanna dan Abi mencoba mengeluarkan ponselnya dari saku celana masing-masing. Kemudian mengatur ponselnya ke mode senter sesegera mungkin agar penerangan saat itu tak hanya dari ponsel Ahreum saja.
“astaga..” Ahreum hanya bisa menghela nafas kasar seraya menggeleng kepalanya, sebelum kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan perjalanannya.
Namun..
Begitu Ahreum memutar tubuh dan menyoroti lampu flash nya ke depan, kedua matanya membulat bersamaan dengan lengkingan nyaring yang bisa terdengar sampai ke area pekarangan belakang Villa, mendapati seseorang kini berada dihadapannya dengan lampu senter yang ia soroti tepat ke area wajahnya sendiri.
“AAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaa!!” BRRUUUkkkkkkk!!
Refleks Ahreum melayangkan kepalan tangannya pada lelaki paruh baya tersebut hingga lelaki itu pun tumbang seketika dihadapannya.
“apa?! apa?! Kenapa Ahreum?!” panik Hanna yang tidak sempat melihat sosok yang sebelumnya dilihat oleh Ahreum.
“Aughhh si**aal!!” umpat Ahreum kala dirinya lagi-lagi membuat orang lain terluka karena refleks tangannya yang tak bisa ia hindari.
__ADS_1
***
Bersambung…