
“kalian baik-baik saja?
Maafkan perbuatan ketiga gadis itu ya. Kau baik-baik saja Nay?” tanya Raffa seraya memindai keseluruhan tubuh Nayeon dari atas sampai ujung, sebelum kembali memandangi kedua maniknya yang tampak mulai berkaca-kaca.
“Nay.. Kau kenapa?” panik Raffa kala buliran bening mengalir dari sudut kedua matanya.
“Nay.. Apa kau terluka?” timbrung Hanna seraya menarik tubuh Hanna dan memposisikannya dihadapannya.
“bagaimana ayahku bisa menjadi penyebab kematian ayahmu, Raff?” tanya Nayeon dengan nada getirnya seraya mengarahkan pandangannya yang sudah banjir air mata pada Raffa yang masih tempak terdiam membisu.
“Akan ku ceritakan, tapi tidak disini, boleh ku pinjam Nayeon. Aku akan menjaganya. Kurasa kalian juga butuh kencan diakhir pekan ini.” ijin Raffa seraya menggenggam erat tangan Nayeon dan mengarahkan pandangannya pada Rihanna dan juga Abi sekan ia tengah meminta ijin pada kedua orang tua Nayeon.
“ahh itu.. Amm..” Hanna tampak meragu, namun tangan Abi langsung merangkulnya seraya mengangguk tanda jika ia harus memberikan kesempatan untuk keduanya saling mengenal lebih jauh.
“oke baiklah, tapi sebelum itu aku harus tahu dulu tujuanmu kemana?” lanjut Hanna yang sebenarnya masih enggan melepaskan Nayeon bersama dengan Raffael, meski mereka berteman namun tetap saja hati kecilnya sangat khawatir jika Nayeon berpergian tanpa dirinya.
“engga jauh kok. Paling disekitaran taman kota aja, hanya makan atau bermain-main hehe.” Jawab Raffa diiringi dengan tawa renyahnya.
“oke. Tolong jaga dia.
Nay, malam nanti aku akan menjemputmu.” Ucap Hanna seraya memegang rahang Nayeon dan menatapnya lekat sebelum mereka berpisah.
“tidak perlu, aku sudah meminta Franky untuk menjemputku setelah ia menemani adiknya chek up ke rumah sakit.” Tolak Nayeon seraya meraih tangan Hanna kemudian menggenggamnya erat lengkap dengan seulas senyum yang dipaksakan karena dirinya masih kefikiran mengenai ayahnya yang menjadi penyebab kematian ayah Raffael.
“siapa Franky?” tanya Raffael, jelas sekali kini raut wajahnya menggambarkan suasana hatinya yang tiba-tiba memanas mendengar nama pria lain dari mulut Nayeon.
“supirku.” Sahut Nayeon datar yang membuat Raffael terkekeh karena telah salah paham dan mencemburui seorang supir.
***
Mereka pun berpisah karena lokasi parkir kendaraan mereka saling berjauhan.
“Ada apa?
Apa kau masih mengkhawatirkan Nayeon?” tannya Abi ditengah perjalanannya menuju kendaraan, ia tampak khawatir lantaran Hanna sedari tadi terdiam seolah tengah bergumul dengan sesuatu yang mengusik fikirannya.
“Apa aku salah lihat ya tadi.” Hanna bergumam tanpa menoleh.
“Memangnya siapa yang kau lihat?” tanya Abi penasaran.
__ADS_1
“Jeno.” Ungkap Hanna yang kemudian menghentikan langkahnya sejenak dengan pandangan tajam yang mengarah ke tempat dimana sebuah mobil berwarna merah terparkir.
“Apa? Mas Jeno.” Ulang Abi seraya mencoba menemukan titik fokus kekasihnya kini.
“Wuaahh.. gak salah lagi itu pasti dia.” Celetuk Hanna lagi yang masih menajamkan pandangannya pada kendaraan yang mulai melaju ke arahnya, hendak keluar dari area parkiran.
“Sedang apa dia disini.” Hanna kembali bermonolog, mencoba mencari jawaban dari pemikirannya sendiri.
“Mungkinkah dia mengikuti Nayeon diam-diam.” Ucap Abi yang mencoba membantu kekasihnya untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya tadi.
“eeeyy.. dia bukan type lelaki seperti itu. Sudah ahh ayo kita masuk dulu aja!!” ajak Hanna seraya menautkan tangannya ke lengan Abi lalu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
Didalam mobil Abighail.
Begitu keduanya telah memasang safety belt dengan baik dan mesin mobil pun telah dinyalakan, Rihanna tampak kembali termenung, Abi hanya bisa menghela nafas serta mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir SMA xxx Jakarta.
“Kau masih memikirkannya?” tanya Abi yang ikut terusik kala kekasihnya yang biasanya cerewet, ceria kini terlihat tak begitu bersemangat.
“hmm..
Mau difikirkan berapa kalipun Jeno bukan type lelaki yang seperti itu.” kekeh Hanna yang membuat Abi meliriknya dengan tatapan bingung.
“hufftt.. tapi aku penasaran sekali dia sebenarnya hanya lewat atau sudah ada disana sejak awal perseteruan terjadi.”
“Kau mau lihat rekaman CCTV nya?” tawar Abi yang sontak membuat Hanna membulatkan kedua matanya.
“Wuuaahh.. Apa kau bisa melakukannya?” seru Hanna girang.
“tentu. Sebentar.” Ucap Abi yang kemudian menepikan mobilnya setelah menemukan lokasi yang pas untuk parkir sementara.
Ia pun lantas mengambil tablet yang berada disaku belakang kursinya. Kemudian langsung saja melakukan aksinya mengutak-atik tablet untuk bisa mengakses CCTV SMA xxx Jakarta.
“Hufft.. Akan kutarik kembali kata-kataku dulu.” Hanna bergumam kembali seraya memperhatikan jemari lihai Abi yang tengah mengoperasikan tablet dalam genggamannya.
“kata-kata apa?” sahut Abi yang tetap menanggapi gumaman kekasihnya itu namun tak mengurangi fokusnya.
“Iya.. Dulu aku pernah menggerutu akan nasibku yang sial terus, aku berfikir dikehidupan sebelumnya aku adalah seorang penjahat, jadi sekarang ini aku tengah menjalani karma buruk dimasa lalu begitu.
__ADS_1
Tapi, setelah ku ingat kembali, kesialan dan keberuntungan memang selalu berjalan beriringan. Disaat kondisi keluargaku hancur, ayah berselingkuh dan ibuku berada dirumah sakit jiwa, setidaknya aku bersyukur karena aku masih memiliki teman yang akan selalu ada menemaniku ditambah sekarang ada kau juga kan. Hehhee.” Jelas Hanna seraya mentap-tap lengan Abi manja disertai tawa renyahnya.
“kau percaya?” respon Abi kembali yang masih terfokus pada layar tabletnya.
“apa?” tanya Hanna karena merasa pertanyaan yang diajukan Abi cukup ambigu.
“mengenai reinkarnasi.” Sambung Abi seraya melirik sesaat ke arah Hanna.
“he’em. Memangnya kau tidak?” timpal Hanna seraya mengangguk.
“tidak. Aku hanya berfikir kita hidup sekali, dan tidak mungkin kita menanggung karma baik atau buruk dari orang lain. Karena itu tidak adil.” Tuturnya lagi.
“Iya sih, benar juga.
Tapi btw.. Apa ini kacamata yang suka ada di film mata-mata, yang ada kamera diujung frame.” Celetuk Hanna seraya meraih kacamata dari atas dasbor yang menarik perhatiannya sedari tadi.
“Kau sering menonton film seperti itu rupanya, bukankah kau lebih suka genre horror?” timpal Abi seraya kembali melirik ke arah Rihanna yang kini tengah mencoba memakai kacamata tersebut.
“Iya memang aku lebih menyukai genre horror, aku tahu kacamata ini karena dulu aku juga pernah memakainya. Kacamata ini mirip seperti milik Jeno dulu yang hancur karena dirusak Kongi.” Paparnya seraya meletakan kembali kacamata itu pada tempat semula.
“mas Jeno punya kacamata seperti ini?” tanya Abi heran.
“Yups, paman Jeno adalah seorang ilmuwan, Emanuel Richardo, dia selalu memiliki benda-benda aneh yang umumnya dimiliki oleh para agen mata-mata yang selalu ada di film-film barat gitu.” jelasnya lagi.
“sudah bisa ku akses, kau mau lihat.” Kata Abi yang lansung memberikan tabletnya pada kekasihnya yang sudah lama menunggu sedari tadi.
“hmm.. coba coba mana ku lihat..
Wuaaahhh, dia benar-benar lelaki breng**sek rupanya, maksudku aku sudah tahu dia memang pengecut sedari dulu, saat ada perkelahian di kelas pun dia lebih memilih keluar dan tak ingin perduli bahkan jika itu perseteruan yang melibatkan kekasihnya sendiri, dia gak pernah sekalipun ikut melibatkan diri atau hanya sekedar memisahkan. Sudah beberapa tahun berlalu pun dia masih tetap sama seperti dulu.
Bagaimana mungkin dia hanya berdiam diri disudut memperhatikan kita berkelahi. Augghhh.. Saking kesalnya kepalaku sampai sakit, astaga!!
Baguslah akhirnya mereka putus, aku benar-benar kasihan pada wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Memiliki suami seperti dia pasti makan hati terus tiap harinya.” Dumel Hanna panjang lebar sementara Abi hanya meresponnya dengan gelengan kepala dan tawa kecil.
“ku yakin suatu hari nanti, jika mas Jeno sudah menemukan orang yang benar-benar tulus dikasihinya, dia pun akan rela mempertaruhkan nyawanya. Dia hanya belum menemukan orangnya saja, Hanna, bukan berarti dia memang seperti itu.
Karena kau tahu, buaya pun jika sudah menemukan pawangnya, ia akan patuh dan tidak akan menyerangnya.” Papar Abi lengkap dengan senyum simpul yang ia arahkan pada Hanna sesaat sebelum kembali fokus pada jalanan didepannya.
“huhh.. Aku tak yakin tuh.” Cetus Hanna seakan yakin sekali jika memang tidak akan pernah ada wanita yang bisa merubah sikap acuh, pengecut dan brengsek teman lelakinya itu. Yang memang sudah mendarah daging sejak ia dilahirkan ke dunia. Hhahaa.
__ADS_1
***
Bersambung…