
Disebuah resto and café yang berada diarea Jakarta selatan.
Terlihat Rihanna dan jug Nayeon tengah melakukan percakapan ringan dengan beberapa teman SMA lelakinya yang kini berada dikursi bersebrangan dengan keduanya.
Dengan sesekali dimeriahkan oleh canda tawa dari kelimanya.
Seakan lupa jika dirinya sudah memiliki kekasih Rihanna sampai terbawa suasana, ditambah ternyata ketiga teman prianya itu sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan rupawan membuat dirinya juga ikut tebar pesona seperti yang kini dilakukan oleh Nayeon.
(Semacam sok cantik gitulah ya)
“ahh masa sih..
Kalau ku lihat-lihat juga kau berbeda dari yang dulu Raf, amm.. bagaimana ya, kau sedikit lebih tampan hahaha.” Celetuk Rihanna diiringi tawa renyahnya.
“kau bisa aja. Ahh iya, ini Nayeon yang dulu masuk club badminton ya.” Respon Raffa yang kemudian mengalihkan perhatiaannya pada Nayeon yang duduk disamping Rihanna.
“Iya hehee, kok tahu?
Aku masuk club badminton cuma sebentar sih, ikut-ikutan Ahreum aja. Gak tahunya sulit banget belajar badminton, jadi aku putuskan untuk berhenti aja hehee.” Timpal Nayeon lengkap dengan senyumnya yang dibuat-buat agar tampak semanis mungkin.
“ahh gitu. Pantas aja aku sudah tidak melihatmu lagi setelah 3 kali pertemuan, hehee. Aku masuk club badminton juga soalnya.” Sahut Raffa lagi yang kemudian menyesap kopinya sejenak.
“ahh iya, dimana Ahreum, bukankah kau selalu bersama dengan Ahreum?” timbrung pria lainnya yang bernama Bram.
“Ahreum tidak akan mungkin mau ikut ke pertemuan seperti ini. Dia sudah menikah, dan suaminya galak sekali.” celoteh Rihanna layaknya ibu-ibu tukang gosip.
“ahh iya, aku baru ingat. Orang tuaku juga dulu diundang ke pernikahannya. Ku dengar Ahreum menikah dengan pewaris tunggal KT. Group ya?
Waaahh!! aku tak menyangka sekali. Padahal sejak SMA dia selalu menempel dengan Jeno, kukira pada akhirnya mereka akan bersama.” Celetuk pria lainnya lagi yang bernama Leo, dan membuat 2 teman prianya melirik secara bersamaan ke arahnya.
“kenapa?” tanyanya seraya mengerutkan dahinya karena merasa seperti sedang diintimidasi.
“hhhaaha!! Gak apa-apa, mungkin dia memang tidak pernah tahu beritanya.” Ujar Rihanna yang kemudian menyedot es Americanonya.
“berita apa?” tanyanya lagi masih dengan raut wajah kebingungannya.
“sudahlah!” Raffa yang berada disisinya menyikutnya.
“apa sih?” protesnya karena merasa dirinya tidak melakukan kesalahan.
“hahhaaa. Kau tak pernah dengar, jika Jeno berkencan denganku dulu?” kata Hanna mencoba menjelaskan situasinya.
“hah? Masa sih.
Berarti kau pelakor dong hahha!” celetuknya ngasal yang membuat suasana kembali mencair.
“hahhaaa.. Ya Kagak lah, Ahreum dengan Jeno kan memang sudah berteman sejak kecil. Mereka sudah seperti keluarga.” Jelas Rihanna.
“ahh iya, apa kesibukanmu selama libur semester ini, Nay?” tanya Raffa seraya mengarahkan pandangannya pada Nayeon.
“amm.. hanya melakukan ini dan itu aja sih, hahaa. Ga ada yang terlalu berarti. Kenapa?” sahut Nayeon seraya mengapitkan beberapa helai rambut panjangnya ke belakang telinganya.
“akhir pekan ini aku ada pertandingan basket yang bertempat di SMA lama kita, kalau kau ada waktu, apa kau bisa datang untuk menyemangatiku?” katanya yang langsung berterus terang membuat Rihanna pun membulatkan kedua matanya, sebab tidak menduga jika pertemuan pertamanya akan langsung berjalan lancar tanpa hambatan.
__ADS_1
Rihanna perlahan melirik ke arah Nayeon dengan senyum lebarnya, lantaran merasa ikut bahagia jika kencan buta yang diaturnya berhasil.
Terbukti dengan Nayeon yang kini mengangguk antusias bersamaan senyum manisnya yang mengembang menghiasi wajah cantiknya.
Iya gadis itu ternyata langsung mengiyakan ajakan Raffa tanpa perlu berfikir panjang. Mungkinkah ini langkah awal Nayeon untuk merelakan Jeno dan mencoba membuka hati pada pria lain.
“eeyyy.. Kau hanya akan mengundang Nayeon aja?
Aku ngga gitu?” timpal Rihanna.
Yang langsung dibalas tawa renyah oleh ketiga pria yang berada didepannya.
“tentu dong! Kau juga harus datang, kalau perlu ajak Ahreum juga sekalian.”
“datang kemana?!” suara lengkingan tajam terdengar dari belakang tubuh Rihanna membuat gadis itu pun seketika membeku ditempat dan tak berani untuk menoleh, sebab dirinya tahu siapa pemilik dari suara yang kini tengah berdiri dibelakangnya seraya meremas kedua pundaknya.
Selain Hanna yang tetap mengarahkan pandangannya lurus ke depan, Nayeon dan ketiga pria tersebut menoleh ke arah lelaki yang kini tengah menatap kepala Rihanna dengan tatapan tajamnya.
“hehee.. Kak Abi, kok.. bisa ada disini?” celetuk Nayeon diiringi senyum canggungnya.
“siapa?” tanya Leo, pria yang duduk disamping Raffa.
“kekasihnya Hanna.” Sahut Nayeon dengan setengah berbisik, yang kemudian dibalas anggukan oleh dirinya.
“Jadi, ini yang kau lakukan dibelakangku Rihanna?!
“tidak.. bukan begitu sayang. Biar aku.. jelaskan.” Ucap Hanna terbata sebab kini jantungnya semakin berdegup kencang seolah dirinya tengah diburu oleh zombie yang menakutkan.
“Iya kak Abi. Hanna sudah mengaku kok dari awal, dia sudah memiliki kekasih. Dia hanya ingin menemaniku aja.” papar Nayeon yang merasa harus turun tangan membantu kesalahpahaman yang terjadi dengan karib dan kekasihnya.
“kakak dengar sendirikan.. Aku tidak seperti yang..”
“tapi tadi Hanna sempat bertingkah so imut didepan mereka.” tambah Nayeon lengkap dengan senyuman nakalnya membuat suasana kembali menegang.
“aughh shi****!!” umpat Rihanna pelan.
***
Kembali ke kamar mandi –KT. Group.
“Sayang sekali ya, meski kau sudah bersama dengan Ansell selama 5 tahun lamanya, tapi Ansell tak pernah sama sekali menyentuhmu.
Karena dari yang ku tahu, hal itu wajar saja dilakukan mengingat hubungan kalian yang sudah bertahun-tahun, temanku aja baru beberapa kali berkencan sudah seringkali melakukannya. Apa mungkin Ansell tidak benar-benar tertarik padamu?! Hahhaha.” Ejek Ahreum, namun sepertinya seseorang yang berada dalam bilik kamar mandi itu masih terdiam seolah tidak terpengaruh pada pancingan Ahreum.
Tak hilang akal, Ahreum pun mencoba merogoh ponselnya dari dalam tas kecil yang kini terselempang ditubuh mungilnya.
__ADS_1
“Padahal kau sudah sering sekali mengiriminya foto dirimu tanpa busana. Tapi kurasa.. Ansell sama sekali tidak terpengaruh bahkan dia tidak membukanya tuh, hahaa!! Sebegitu terobsesinya ya dirimu terhadap tubuh Ansell.
Tapi gimana dong!!... Pada akhirnya akulah wanita pertama yang tidur dengannya. Karena aku adalah istrinya. Dan kau..
Bagaimana yaa aku menyebutnya, ammm… Kau! Lebih seperti parasite yang terus menempel pada saudara kembarmu, berpura-pura menjadi Aluna agar bisa masuk ke dalam keluarganya begitupun dengan Ansell, dengan kepribadianmu seperti ini kau tak akan mungkin bisa mendapatkan hati Ansell. Kau tahu!
Kau hanya menikmati hasil yang telah susah payah Aluna raih, dan merebut kebahagiaannya tak bersisa sedikitpun.
Setelah itu kau merenggut nyawanya demi untuk menciptakan sebuah permainan keji yang akan menghancurkan mental Ansell.
Tapi…
Sebelum hal itu terjadi, aku yang akan menghancurkanmu lebih dulu, Ilona gantari!” tutup Ahreum lengkap dengan seringaian yang membuatnya menjadi sosok yang berbeda saat ini.
Ia pun kembali memasukan ponselnya ke dalam tas kecilnya, kemudian beralih mencuci tangannya dengan pandangannya yang tetap mengarah pada cermin besar dihadapannya yang memantulkan segala hal yang berada dibelakangnya.
Ceklek.. tak lama salah satu pintu pun terbuka disusul dengan kemunculan sesosok wanita yang tak lain adalah Cassndra, gadis yang diyakini adalah Ilona saudara kembar Aluna yang telah tiada.
Gadis itu tampak acuh lalu berjalan menuju tepi wasteful yang berada disudut.
Seakan ia tak terpengaruh sama sekali dengan perkataan panjang kali lebar Ahreum sebelumnya.
Ia pun membasuh kedua tangannya sembari bercermin.
“ckckckckck..” Ahreum terkekeh setelah melirik sesaat ke arah gadis yang tengah berdiri tak jauh disampingnya, ia pun menghentikan aktivitasnya mencuci tangan kemudian mengambil beberapa helai tisu yang tertempel disampingnya.
Hal itu sontak saja membuat gadis yang berada disampingnya menatapnya dengan aneh.
“tunggu.. Kurasa aku mengenalmu.” Ucapnya seraya bertingkah seolah tengah berfikir keras mengingat seseorang dalam benaknya, membuat Ahreum tak mampu menahan tawanya.
“hhhahaa…”
“kau gadis yang disekap bersamaku waktu itu kan?
Kenap kau tertawa, apa ada yang lucu?” katanya seraya mengerutkan dahinya.
“tidak.. Sepertinya kau sangat berusaha sekali untuk menahan emosionalmu.
Yak! Tak ada gunanya berakting dihadapanku Ilona. Kau sudah tertangkap basah.” Timpal Ahreum penuh percaya diri lengkap dengan senyum penuh artinya, ia pun membuang tisu pada tempatnya sebelum memutar tubuhnya hendak meninggalkan gadis yang masih menatapnya tajam.
Seakan banyak sekali yang ingin ia lontarkan namun sisi lain dalam dirinya tetap mencoba menahannya sekuat tenaga. Karena belum saat nya dirinya menunjukan identitas aslinya.
“kakimu bergetar tuh!! Ahahhhaaaa!!” tambah Ahreum, saat dirinya hendak menarik handle pintu kamar mandi, ia berhenti sejenak dan melirik ke arah Ilona yang masih terdiam membeku ditempatnya. Sebelum kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar mandi.
Bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar mandi, gadis yang sedari tadi terdiam kini mengarahkan tatapan tajamnya ke arah cermin besar dihadapaannya yang memantulkan raut wajah penuh amarahnya.
"Aarrrgggghhhhh!!!!"
Prraanngggggg!!!...
Tak sampai 3 detik, dengan kekuatan penuh Ilona menghantamkan tinjunya pada cermin besar yang tak bersalah dihadapannya, sehingga membuat 1 area retak dan serpihan kacanya memantul tepat ke arah pipi mulusnya.
Tak pelak rembesan darah pun mengalir membuat jalanan lurus disalah satu pipinya kemudian menetes membasahi gaun putih yang dikenakannya saat ini.
__ADS_1
***
Bersambung…