
Aparteman didaerah xxx.
Terlihat Rihanna dan seorang agen property keluar dari aparteman yang rencananya akan ditinggali oleh Rihanna.
“oke, sepertinya besok siang saya akan mulai memindahkan barang bu.” Ucap Hanna pada sang agen property yang tengah mengunci pintu aparteman.
“baik, jika perlu bantuan untuk memindahkan barang, saya ada kontak agen yang biasa suka mengangkut barang-barang orang pindahan.” Tawar wanita tersebut dengan diiringi senyum ramahnya.
“ahh iya, boleh bu. Kebetulan sekali saya juga emang lagi nyari orang yang bisa bantu saya mindah-mindahin barang.” Sahut Hanna seraya membalas senyum ramah wanita tersebut.
Wanita itu pun membuka tasnya kemudian merogoh sesuatu dari dalam tas dan mengeluarkan sebuah kartu nama pada Hanna.
“coba hubungi kontak ini aja ya, dan ini kunci apartemannya.” Ucapnya seraya memberikan kartu nama dan disusul dengan kunci yang sedari tadi dipegangnya pada Hanna.
“oke, makasih ya bu.” Timpal Hanna dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya.
“iya sama-sama, kalau begitu saya pamit ya, semoga betah tinggal disini.” Pamit wanita tersebut seraya pergi lebih dulu meninggalkan Hanna.
Hanna pun mengangguk lengkap dengan senyuman ramahnya, ia masih memandangi kepergian wanita tersebut hingga menghilang dari pandangannya.
Setelah wanita tersebut masuk ke dalam lift dan menghilang dari pandangannya, lengannya langsung merogoh ponsel yang ada didalam tas kecil yang ia selempangkan. Disusul dengan mentouch-touch layar ponselnya hendak menelfon seseorang.
“kau dimana?” tanya Hanna begitu panggilan tersambung.
“dirumah dokter Elios, sedang makan.” Jawab seseorang diseberang sana.
“apa?!” seru Hanna yang terkejut mendengar jawaban dari karibnya itu.
“yak! kau sedang selingkuh?!” lanjut Hanna yang membuat orang disana sontak terbatuk-batuk.
“uhuukk..uhuukk..!”
“kirimkan alamatnya, aku kesana sekarang!” perintah Hanna yang langsung mematikan telfonnya tanpa menunggu respon dari Ahreum.
“astaga!! Dia berani sekali menyelingkuhi Ansell.” Gerutu Hanna yang kemudian memasukan ponselnya dan bergegas untuk menemui karibnya tersebut.
***
__ADS_1
Kembali ke kediaman Elios gavriel.
“kau kenapa, ini minum.” Ucap Elios seraya memberikan gelas berisi air mineral pada Ahreum yang tengah terbatuk tanpa sebab, Ahreum pun meminumnya secara perlahan untuk mengaliri kerongkongannya dengan air.
“gak, gak apa-apa hehee, makasih dokter.” Ucap Ahreum saat merasa lebih baik lalu meletakan gelas yang sudah kosong disamping piringnya.
“mau minum lagi?” tanya Elios.
“engga, hehee. Aku udah lebih baik kok.” Timpal Ahreum.
“siapa tadi yang menelfon?” tanya Elios lagi.
“Rihanna, sepertinya aku harus cepat-cepat pergi dari sini.” Kata Ahreum seraya kembali melanjutkan menyantap makan siangnya.
“kenapa?” tanya Elios seraya mengerutkan dahinya.
“karena Rihanna memintaku mengirimkan alamat rumah ini, lagipula sebentar lagi kelas ku juga dimulai.” Shaut Ahreum disela mengunyah makanannya.
Prannnggg!! karena saking buru-burunya Ahreum sampai tak sengaja menjatuhkan sendoknya “ehhh..” saat ia hendak mengambil sendok yang terjatuh kebawah, Elios reflex menutupi sudut meja dengan telapak tangannya untuk melindungi kepala Ahreum jika seandainya kepala Ahreum tak sengaja menubruk sudut meja.
Mengetahui hal tersebut Ahreum pun langsung memandanginya dengan tatapan aneh, seakan ia tak mengerti apa yang sedang Elios lakukan.
“kenapa?” tanya Elios kembali saat melihat Ahreum masih terdiam.
“ahh.. engga, hanya saja, baru pertama kali aku mendapat perlakuan seperti itu dari seseorang.” Ungkapnya seraya kembali menyuapi mulutnya makanan.
“hmm..” Elios menghela nafas seraya menggeleng kepalanya sebelum mengambil tisu yang berada disampingnya, kemudian mencoba mengelap sudut bibir Ahreum yang belepotan karena kuah kaldu.
Hingga membuat Ahreum lagi-lagi terkejut dengan perlakuan manis lelaki yang berada dihadapannya itu.
“apa yang harus ku lakukan sekarang?” gumam Ahreum seraya memandangi wajah Elios lekat.
Mendengar gumaman Ahreum tersebut Eliso hanya mengernyitkan keningnya seraya meletakan tisu bekas mengelap bibir Ahreum disampingnya, kemudian kembali menatap Ahreum dengan tatapan bingungnya mendapati sikap Ahreum yang seperti itu.
“sepertinya aku mulai menyukaimu.” Gumam Ahreum kembali seraya memutus pandangannya dengan Elios, lalu bangkit dari tempat duduknya.
“apa katamu?” tanya Elios yang tidak terlalu jelas mendengar gumaman terakhir Ahreum.
__ADS_1
“gak boleh, ini gak boleh terjadi, maafkan aku, aku harus pergi.” Pungkas Ahreum seraya bergegas meninggalkan area dapur.
Kemudian disusul dengan Elios yang menyusul langkah cepat Ahreum menuju ruang tamu tempat dimana ransel besarnya berada.
“apa yang kau katakan tadi?” tanya Elios kembali seraya menarik lengan Ahreum hingga tubuh Ahreum kini mengarah kepadanya.
“engga, aku ga bilang apa-apa, maaf tapi aku benar-benar harus pergi sekarang.” Dusta Ahreum seraya mencoba melepaskan genggaman Elios lalu meraih ransel besar dan menggendong dibalik punggungnya.
“Ahreum..” panggil Elios yang terus merengek pada Ahreum untuk mengulangi apa yang dikatakannya, karena meskipun ia tidak benar-benar mendengarnya namun telinganya masih bisa menangkap satu kata yang tidak bisa begitu saja ia abaikan.
“tolong jangan seperti ini dokter Elios, aku tak ingin pergi melewati batas, itu hanya akan membuat kau, aku dan Ansell terluka.” Tegas Ahreum seraya bergegas menuju pintu utama dengan Elios yang masih tak ingin menyerah terus mengikuti langkahnya yang hendak pergi meninggalkan kediamannya.
“Ahreum tunggu..” cegah Elios saat lengan Ahreum sudah menarik pintu utama, Ahreum pun kembali melihat kearah Elios yang tengah memandanginya dengan penuh harap membuat hati Ahreum semakin goyah.
Namun..
“nona Ahreum.” Panggil seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari pintu masuk.
Membuat Ahreum dan juga Elios kini mengarahkan pandangannya serempak ke sosok yang mengejutkan nya tersebut.
“kak Abi..” gumam Ahreum.
Meski sudah melihat Abi, namun Elios masih tak ingin melepas genggaman eratnya dari lengan Ahreum, membuat Abi hanya menghela nafasnya saat mengarahkan pandangannya pada genggaman erat Elios ditangan mungil Ahreum.
“bisa kita bicara nona Ahreum.” Ucap Abi saat Ahreum mencoba melepas genggaman erat Elios dari tangannya.
“bicara dengan saya saja.” Timpal Elios seraya menunjukan tatapan seriusnya pada Abi.
“kau tak perlu melibatkan Ahreum ke dalam hal ini, karena memang saya yang memaksanya datang kesini dan saya juga yang terus menarik Ahreum meski ia sudah berusaha untuk pergi dari saya.” Tambah Elios yang membuat Ahreum terkejut hingga membulatkan kedua matanya.
“Abi sudah tahu tentang hubungan kita, dia melihatku memelukmu diaparteman saat itu.” jelas Elios pada Ahreum yang tampak bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
“seharunya nona tidak boleh begini, nona tahu betul bagaimana menderitanya pak Ansell saat mengetahui jika nona Ilona mengkhianatinya dulu. Bagaimana mungkin nona Ahreum pun melakukan hal yang sama pada pak Ansell?! Terlebih lagi lelaki itu adalah paman dari pak Ansell sendiri.” Ucap Abi seraya mengarahkan pandangannya pada Ahreum.
“jika aku salah, lalu.. apakah kalian berdua benar?!” balas Ahreum lengkap dengan sorot mata tajamnya yang membuat Abi mengerutkan dahinya, karena belum mengerti maksud dari perkataan Ahreum.
Bersambung…
__ADS_1
***