Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 104


__ADS_3

Kembali ke aparteman Bougenville.


“sudah lebih baik?” tanya Ansell kala Ahreum muncul dari balik pintu kamarnya sembari mengusap-usap lembut perutnya.


“he’eum, legaa hehehe.” Sahut Ahreum yang kemudian berjalan menuju dapur.


“kenapa harus dikamarku sih.” ketus Ansell yang berdiri disamping meja makan sembari memegang piring kosong lengkap dengan sorot mata tajamnya.


“bi Ijah sedang membersihkan kamar mandiku.” Respon Ahreum santuy seraya menarik kursi dan hendak mendudukan bokongnya.


“kau sudah cuci muka dan sikat gigi?” tanya Ansell lengkap dengan tatapan sinisnya saat Ahreum hendak menciduk nasi untuk memulai sarapan paginya.


“belum.. hehehe.” cengirnya.


“astaga! Yak! kau ini jorok sekali sih!” dumel Ansell, ia pun lantas meletakan kembali piringnya dan berjalan menghampiri Ahreum kemudian mencoba menarik tubuh Ahreum agar bangkit dari tempat duduknya.



“memangnya kenapa? aku bisa sikat gigi habis makan kan.” bantah Ahreum yang berusaha tetap mempertahankan posisinya dengan berpegangan pada meja makan.


Karena sikap keras kepala Ahreum membuat Ansell benar-benar emosional hingga memundurkan kursi Ahreum kemudian mengangkat tubuh Ahreum dengan sekuat tenaga dan meletakannya diatas bahunya.


“tidak!! Yak! aku bukan karung beras, kenapa kau mengangkatku dengan cara seperti ini.” protes Ahreum sembari memukul-mukul bokong Ansell.


“seharusnya kau menurutiku selagi aku bicara baik padamu.” respon Ansell yang terus melangkahkan kakinya menuju kamar Ahreum.


“ada apa tuan?” tanya bi Ijah saat keluar dari kamar Ahreum lalu mendapati putra majikannya itu tengah menggendong istri mungilnya dengan cara yang tidak normal.


“ahh, tidak ada bi.” Sahut Ansell kemudian berjalan masuk ke dalam kamar Ahreum begitu bi Ijah membukakan lebar pintu kamar Ahreum masih dengan tatapan bingungnya.


-----


Sesampainya dikamar mandi yang sudah bersih, kinclong dan wangi semerbak hingga membuat siapapun yang masuk ke dalam kamar mandi tersebut merasa nyaman dan enggan untuk keluar.


Seperti biasa Ansell mendudukan Ahreum disamping wastafel. Kemudian beralih mengambilkan sikat dan pasta gigi yang berada dirak kecil. Dilanjut dengan membasahi terlebih dahulu sikatnya barulah ia mengoleskan pasta gigi pada sikat yang sudah basah.


Tanpa berkata ia pun memberikan sikat yang sudah diolesi pasta gigi pada Ahreum yang tengah memandanginya dengan tatapan julid sedari tadi.

__ADS_1


“ciihh.. memangnya ga bisa ya gendong seperti biasa aja. Aku kan bukan karung beras.” Gerutu Ahreum ditengah aktifitas menggosok giginya serta mengarahkan wajahnya ke tempat lain.


Ansell pun terkekeh mendengar gerutuan istri mungilnya tersebut.


“darimana kau dapat piyama tidur tipis seperti ini? kau membelinya sendiri.” Tanya Ansell selagi menunggu istrinya menggosok gigi, kemudian memegang bagian ujung piyama tersebut dengan pandangan anehnya.


“tidak, ini dikasih Nayeon kemarin.” sahutnya tidak terlalu jelas karena ia bicara sembari menggosok giginya namun tampaknya Ansell mengerti apa yang Ahreum katakan terbukti dengan kini ia menganggukan kepalanya.


“pantas saja, kurasa piyama ini tidak sesuai dengan karaktermu.” Celetuknya, membuat Ahreum hanya mendengus dan tetap mengarahkan wajahnya ke sisi lain.


“turun, nanti pasta giginya mengotori bajumu.” Kata Ansell lagi, menyadari kini mulut Ahreum sudah dipenuhi busa pasta gigi.



“jangan melompat!” seru Ansell ketika ia lebih mengerti kebiasaan Ahreum yang suka ceroboh dan sembrono hingga tak jarang melukai dirinya sendiri.


Dengan hembusan nafas kasarnya ia pun turun dari wasteful dengan hati-hati sembari memegangi tepian keramik. Kemudian memutar tubuhnya agar bisa meludahkan pasta gigi yang sudah lama bersarang didalam mulutnya. Tanda pembersihan giginya telah usai.


Ansell pun kembali ke sisi lainnya untuk mengambilkan sabun cuci muka Ahreum selagi Ahreum berkumur-kumur.


“Btw.. emang kau ga pernah melihat isi lemari mantan kekasihmu ya? Atau masuk ke dalam kamarnya dulu, sampai tidak tahu Ilona barang-barang apa aja yang dimiliki Ilona.” Ucap Ahreum yang kembali menyinggung soal mantan kekasih suaminya itu.


“tidaaak.. amm, hanya saja ini aneh sekali, dia seperti memiliki kepribadian ganda yang bertolak belakang.” Jelasnya seraya menggosokan facial wash ke wajahnya hingga membuat busa yang cukup melimpah.


“hmm.. Bukannya dirimu yang memiliki banyak kepribadian, sudahlah berhenti mengoceh yang tidak jelas, ayo cepat nanti makanannya dingin.” Respon Ansell yang tidak memperdulikan perkataan istrinya seraya melipat kedua tangan diatas dada selagi menunggu Ahreum menggosok-gosok wajahnya.


“aku seriusss, kalau gak percaya kau buka saja lemarinya, ter..”


Belum sempat Ahreum menyelesaikan kalimatnya, lengan Ansell malah memutar wajah Ahreum yang tengah mengarah padanya, Ansell memposisikan kepala Ahreum agar mengarah pada kaca besar yang berada dihadapannya dengan 1 tangannya.


“turunkan kepalamu.” Perintah Ansell yang langsung dilaksanakan dengan baik oleh Ahreum, Ansell pun mengucurkan air keran dengan 1 tangannya yang lain sementara tangan yang 1 masih memegangi bagian belakang kepala Ahreum.


Kemudian dilanjut dengan membersihkan wajah Ahreum dari busa sabun yang menempel diwajahnya dengan lembut.


“maksudku..” lanjut Ahreum setelah dirasa busa sabunnya hampir menghilang dari wajahnya.


Namun lengan Ansell masih terus mengelap wajahnya dengan air membuatnya sulit untuk kembali berbicara.

__ADS_1


“apa ada air yang masuk ke hidungmu, coba keluarkan.” Ucap Ansell seraya memegangi hidung Ahreum dan bersiap untuk membuang ingus atau air yang masuk ke dalam hidungnya.


Ahreum pun menyingsringkan hidungnya karena memang merasa hidungnya berair, tanpa merasa jijik Ansell pun lantas membuang ingus atau air yang keluar dari hidung Ahreum dengan telaten seakan tengah mengurusi bocah perempuan.


Setelah dirasa cukup bersih tanpa diminta Ansell pun langsung mengambilkan handuk kecil dilemari atas, kemudian dilanjut mengelap wajah Ahreum yang basah dengan penuh kelembutan.


“aiishh.. kau benar-benar tidak percaya padaku?” keluh Ahreum seraya menurunkan handuk yang sedari tadi menutupi wajahnya.


“ayo cepat, jika makanannya udah dingin, ga akan enak.” Respon Ansell seraya meletakan handuk kecil tersebut diatas kepala Ahreum kemudian menarik langkah keluar dari kamar mandi.


“huuft.. ya sudahlah, jika kau tak perduli.” Dumel Ahreum yang kemudian melempar handuk kecil ke dalam keranjang tempat penyimpanan pakaian kotor dan menyusul langkah Ansell yang lebih dulu meninggalkannya.


Saat Ansell melewati lemari besar yang dulunya adalah milik Ilona, langkah kakinya mendadak terhenti hingga membuat Ahreum yang berjalan 1 langkah dibelakangnya pun sontak mendapat hantaman cukup keras dibagian dahi dan hidungnya yang mancung.


“aduuhh, ada apa sih?!” ringis Ahreum seraya memegangi hidung mancungnya yang terpentok punggung keras suaminya.


Alih-alih merespon keluhan istrinya, Ansell hanya terdiam seraya memandangi lemari besar yang berada disampingnya seakan terusik dengan perkataan Ahreum sebelumnya.


“kau penasaran dengan apa yang ku katakana tadi. Aku se..” seru Ahreum yang hendak membuka lemari besar tersebut.


“kenapa pakaiannya masih ada dalam lemari? Kau tidak mengemasnya ke koper atau menyimpannya ke gudang?” ucap Ansell yang berhasil menghentikan kedua lengan Ahreum yang hendak menggeser pintu lemari tersebut.


“karena kau tidak menyuruhku untuk mengemasnya, ku kira kau ingin semuanya tetap pada tempatnya, jadi aku hanya menggesernya sedikit ke sudut agar pakaiannku bisa masuk.” Sahut Ahreum seraya menoleh kearah Ansell yang masih memandangi lemari dengan sorot mata tajamnya.


“hmm, nanti aku akan meminta bi Ijah untuk mengemas semua barang miliknya.” Ucap Ansell yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


“oke.” Sahut Ahreum seraya ikut menyusul langkah suaminya.


“ahh iya, sebaiknya kau jangan memakai piyama ini lagi.” Tambah Ansell yang hendak menarik handle pintu kamar.


“kenapa?” tanya Ahreum lengkap dengan kerutan didahinya.


“tubuhmu tidak cocok memakai pakaian dewasa seperti ini.” timpal Ansell lengkap dengan senyum smirknya sebelum melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ahreum.


“aughhh!! Breng***.” Umpat Ahreum sepelan mungkin agar Ansell tidak bisa mendengarnya lengkap dengan sebuah kepalan tangan yang hendak meninju bagian punggung Ansell dan tendangan angin yang hanya melayang di udara.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2