Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 161


__ADS_3

Kembali ke aparteman Bougenville.


Lebih tepatnya dikamar mandi Ahreum, terlihat Ahreum sudah nangkring seperti biasa didalam bathtub seraya sesekali menggosok-gosok tubuhnya dengan busa sabun yang melimpah menutupi seluruh tubuhnya.


Tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu dari balik pintu kamar mandinya.


“Ahreum kau sudah mulai mandi?!” tanya Ansell dari luar dengan suara lantanganya agar terdengar sampai ke dalam.


“Iyaaa!!” sahut Ahreum yang tak kalah nyaringnya seraya menatap lekat ke arah pintu kamar mandi, karena was was kalau-kalau suaminya itu nyelonong masuk ke dalam kamar mandinya.


Ceklek… pintu pun perlahan terbuka seiring dengan kemunculan seseorang dari balik pintu.


“ke.. napa kau masuk?” panik Ahreum yang kemudian mundur ke sudut seraya menyilangkan kedua tangan diatas dadanya.


“kau mandi dengan air hangat kan?” lanjut Ansell yang kemudian berjalan perlahan mendekati keberadaan istrinya yang tengah menatapnya dengan rasa takut.


“i.. iya aku sudah mencampurnya dengan air panas tadi. Bi.. bisa kau keluar sekarang.” Gugup Ahreum yang semakin kalang kabut kala Ansell tersenyum penuh arti padanya seiring dengan langkahnya yang kian mendekat.


“ckckckck..” menyadari ketakutan istrinya tersebut Ansell pun semakin melancarkan aksinya, masih dengan senyum penuh artinya ia pun berjongkok disamping bathtub.


“kau gadis yang sangat ceroboh sekali Ahreum, dengar! Jika kau tidak mengunci kamarmu seharusnya kau mengunci kamar mandimu, bagaimana jika ada seseorang yang mencoba menerobos masuk seperti ini saat kau tidak memakai kain sehelai pun.” Ucap Ansell dengan nada setengah berbisik dan perlahan menjulurkan tangannya untuk meraih tengkuk Ahreum.


“oke.. oke.. aku mengerti.. aku tidak akan mengulanginya lagi, aku.. aku akan..” belum sempat Ahreum menyelesaikan kalimatnya tubuhnya keburu terseret ke arah  Ansell.


Bersamaan dengan bibirnya yang kini telah bertubrukan dengan bibir pria yang tengah berada dipuncak ****.


Merasa tak bisa lepas dari keganasan Ansell, Ahreum hanya mengikuti permainan lu**mata**n Ansell dengan senang hati sampai…


“Haaaciiiwwww!!”


Malam panas nan menegangkan itu berakhir dengan sebuah bersin yang cukup nyaring hingga membuat Ansell pun refleks menarik tubuhnya mundur karena saking terkejutnya.


Meski sebenarnya ia sangat kesal, namun tetap saja melihat istrinya yang kini malah nyengir padanya sembari mengucek-ucek hidungnya. Ansell hanya bisa tertawa kecil seraya menggelang kepalanya.


Ia pun kembali bangkit dan mengusap bagian atas kepala Ahreum lengkap dengan senyum hangat yang jarang sekali ia tunjukan.


“cepat selesaikan mandimu. Nanti buburnya keburu dingin.” Ucap Ansell lembut sebelum memutar tubuh dan menarik langkah meninggalkan Ahreum yang masih menatap punggung lebarnya.

__ADS_1


***


Dikediaman kedua orang tua Ahreum.


Lebih tepatnya dikamar ayah dan ibunya yang kini sudah terbaring diranjang  dengan Sammy yang juga tidur diantara keduanya.


Lain halnya dengan suaminya yang sepertinya sudah siap masuk ke dalam alam mimpi, Enzy malah masih asyik memandangi langit-langit seolah tengah dimemikirkan sesuatu yang cukup serius dalam benaknya.


“yaah..” panggil Enzy yang akhirnya memutuskan untuk membicarakannya pada suaminya yang tengah tertidur dalam posisi membelakanginya.


“hmm..” jawab Seno pelan.


“siang tadi.. aku bertemu dengan dokter Elios.” Ungkapnya yang membuat Seno sontak membuka matanya lebar-lebar kemudian memutar tubuhnya ke arah istrinya.


“dokter Elios? Pria yang dulu pernah mengantarkan Ahreum pulang?” tanya Seno ingin memastikan sekali lagi.


“he’em. Dia terlihat sangat ramah sekali, putri kecilnya juga lucu dan sangat menggemaskan.” Paparnya seraya ikut memiringkan tubuhnya agar bisa saling menatap dengan suaminya itu seraya mengusap sesekali kepala putranya yang sudah terlelap.


“jadi dia bekerja dirumah sakit Haneul?


Selama kita disana, saat mama dirawat, ayah rasa tidak pernah melihatnya.” Ucap Seno.


“sudahlah mama tak perlu marasa bersalah lagi seperti itu. Ayah rasa juga Ahreum baik-baik saja bersama dengan Ansell. Karena jika ada yang terjadi, Ahreum sudah pasti tidak akan tinggal diam, dia pasti akan mengadukannya pada kita.” respon Seno seraya mengusap lembut kening istrinya lengkap dengan tatapan penuh kasih sayang.


“bagaiaman kalau kita main ke apartemannya besok siang, ayah rasa bisa menyempatkan waktu sebentar saat makan siang.” Ajak suaminya melihat istrinya yang masih tampak murung, Seno pun lantas mengajukan saran untuk membuat istrinya itu merasa lebih baik.


Enzy pun langsung mengangguk dan tersenyum tipis menanggapi ajakan suaminya tersebut.


***


Aparteman Bougenville.


Tepatnya dibalkon kamar Ansell, terlihat Ansell tengah menerima panggilan entah dari siapa, namun sepertinya ia sedang membicarakan mengenai pekerjaannya.


“tolong reschedule keberangkatanku ke Amerika, aku tidak bisa meninggalkan istriku sekarang.” perintah Ansell pada seseorang ditelfon lengkap dengan raut wajah seriusnya.


“Iya, oke lusa saja.

__ADS_1


Bagaimana kerja sama dengan Lingga group apa semuanya lancar?” kata Ansell lagi seraya mengenggam pagar pembatas dengan 1 tangannya dan pandangan yang ia arahkan ke pekarangan apartemannya.


“oke, kau memang bisa diandalkan. Terimakasih atas kerja kerasmu Ambar.


Tidak.. untuk kali ini kau aku akan pergi bersama Abi. Kau bisa cuti selama aku pergi, manfaatkan waktu liburanmu dengan baik bersama keluargamu.


Hmm.. oke.” Tandasnya.


Sebuah pelukan mendarat dari belakang tubuhnya bersamaan dengan berakhirnya percakapan ditelfon.


“Ahreum..” ucap Ansell seraya mencoba menengok ke samping, meski ia masih belum bisa melihat lengan siapa yang kini melilit ditubuhnya namun sudah bisa dipastikan jika pemilik lengan mungil tersebut adalah istrinya sendiri.


“kau akan pergi lagi?” tanya Ahreum yang masih tak ingin melepas pelukan eratnya.


“kau menguping pembicaraanku, Ahreum?!” sahut Ansell dengan nada tinggi seperti biasanya, kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku celana piyama panjangnya.


“sedikit.” Gumam Ahreum yang kemudian melepas pelukannya dan berpindah ke samping Ansell.


“kau sudah menghabiskan buburmu dan minum obat?” tanya Ansell seraya mengubah posisi berdirinya jadi menghadap ke arah istrinya yang kini tengah memandangi langit malam.


“belum, aku ingin makan bersamamu.” Tutur Ahreum yang masih asyik mengamati bintang-bintang.


“kau makan duluan aja. Masih ada yang harus ku kerjakan.” Tolak Ansell seraya memutar tubuhnya hendak meninggalkan area balkon, namun..


“tunggu..” cegah Ahreum yang kemudian mencoba naik ke atas pagar pembatas balkon.


Tentu saja dengan sigap Ansell pun langsung memegang tubuh istri mungilnya itu ketika ia sudah berhasil duduk diatas pagar pembatas.


“hehehe..” melihat Ansell yang membulatkan kedua matanya karena terkejut dengan aksi berbahaya yang Ahreum lakukan, Ahreum hanya bisa cengengesan sembari memegangi bahu suaminya.



“kau tahu..


Aku ingin sekali membelah kepalamu, untuk mengetahui isi otakmu yang tak pernah bisa ku tebak.” Celoteh Ansell ditengah ketegangan yang dirasakannya saat ini.


“aku juga ingin membelah dadamu, untuk mengetahui apakah aku ada dihatimu. Ansell. Tak bisakah kau hanya melihat ke arahku saja sekarang?” ucap Ahreum seraya memegangi rahang suaminya lengkap dengan tatapan sendu seolah ia tengah benar-benar memohon pada lelaki yang berada dihadapannya untuk tidak menoleh ke belakang kembali.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2