Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 262


__ADS_3

“Bagaimana Ahreum menurutmu?” Rihanna kembali mengajukan pertanyaan yang membuat Nayeon tampak kebingungan.


“Ya.. ya dia baik, dia gadis yang ceria, supel, mudah bergaul dengan siapapun, dia bahkan rela mengorbankan perasaannya sendiri saat aku berkencan dengan Jeno, yang jelas karakternya jauh lebih baik darimu,” tutur Nayeon dengan diakhiri sindiran pedas untuk Rihanna.


“Tapi Nayeon…,


Lamanya waktu yang kau habiskan bersama dengan seseorang, tidak selalu menjamin kau sudah mengenalnya dengan baik, terkadang dia hanya akan menunjukan sisi yang ingin ditunjukan padamu saja.


Bukan karena dia masih belum mempercayaimu atau kau tidak berharga baginya, hanya saja…, mungkin dia takut kehilanganmu begitu kau mengetahui sisi lainnya yang tak pernah ia tunjukan padamu,” ucap Rihanna seraya mengangkat wajahnya agar bisa memandangi Nayeon yang juga tengah memandanginya dengan tatapan bingungnya.


“Aku tak mengerti, sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?” sahut Nayeon yang membuat Rihanna terkekeh kemudian menyelesaikan aktivitasnya dengan membalut kedua telapak kaki Nayeon dengan kain kassa.


“Intinya adalah, baik aku maupun Ahreum tidak bermaksud selalu mengasingkanmu dan meninggalkanmu Nay, dan aku tidak memberitahumu tentang insiden yang terjadi pada Ahreum itu karena aku tak ingin menambah beban fikiranmu.


hatimu masih sangat terluka oleh Jeno, ditambah kenyataan jika ayahmu adalah penyebab dari wafatnya mendiang ayah Raffa, bagaimana mungkin aku menambahnya lagi dengan berita buruk yang menimpa Ahreum.


Kau tak perlu khawatir, Ahreum sudah baik-baik saja sekarang, dan konflik yang terjadi antara Ahreum dan Ansell pun sudah terselesaikan, oke, and happy ending,” papar Rihanna yang membuat hati Nayeon kembali mencair berkat penjelasan bijaknya, terbukti dari raut wajahnya yang sedari tadi kecut kini berubah sedikit lebih berseri-seri.


“Makanannya sudah siap!” seru Abi dari dapur seraya menaruh masakannya 1 per 1 ke atas meja.


Seruan nyaring itu membuat keduanya refleks menoleh serempak ke arah dapur.


“Oke,” sahut Rihanna yang kemudian merapihkan segala peralatan yang digunakannya lalu disusun kembali ke dalam kotak P3K.


“Mau ku panggilkan kak Abi untuk menggendongmu ke dapur?” tawar Rihanna seraya menaruh tissue dan kotak P3K ke atas meja.


“aammm…” Nayeon tampak malu-malu, karena mungkin ga enak ya digendong oleh kekasih temannya.


“kenapa?


Memangnya kau bisa berjalan sendiri?!” sambung Rihanna dengan sedikit menaikan nada suaranya, ia kembali berjongkok untuk membawa nampan yang berisikan mangkuk.


Seakan peka dengan situasinya, Abi pun kembali bergabung ke ruang tengah.


“biar ku bantu, maaf ya,” ijin Abi sebelum mengangkat tubuh Nayeon ala bridal kemudian membawanya ke dapur.


“kau tak cemburu Hanna?” tanya Nayeon dalam perjalanannya menuju dapur sedang Rihanna tampak berjalan  1 langkah dibelakang Abi dengan membawa nampan untuk diletakannya di wastefull.


“ciihh!!


Kak Abi tak suka dengan gadis manja dan penuh drama sepertimu tahu! Dan asal kau tahu aja ya, kenapa dia masih memanggilmu nona, itu artinya dia masih enggan berteman denganmu, hahaa!” ledek Rihanna yang ikut bergabung dimeja makan setelah menaruh nampan dan mangkuk diwastefull.


Abi langsung menyenggol pelan lengan kekasihnya itu begitu Rihanna mendudukan bokongnya dikursi sebelahnya, sedangkan Nayeon duduk kursi seberang mereka.


“cukup hentikan,” tegur Abi lembut lantaran tak ingin ada kekisruhan lagi yang terjadi.


“jadi benar begitu kak Abi?!” Nayeon merajuk sembari memanyunkan dan menyipitkan matanya.


“tidak kok, maaf kalau sikapku masih terlihat kaku, Nay, tapi aku benar-benar tidak bermaksud begitu,” ungkap Abi seraya menciduk nasi ke dalam piring yang dipegangnya.


“hmm, padahal aku ingin sekali dekat dengan semua orang, tapi kenapa mereka malah selalu mencoba menjaga jarak denganku, seperti kak Benn dan juga Ansell,” keluh Nayeon yang kembali murung hingga membuat Rihanna menghela nafas panjangnya.


“mungkin karena kau menyebalkan,” celetuk Rihanna yang malah membuat Nayeon emosional hingga melemparkan potongan timun kecil tepat ke wajah Rihanna.

__ADS_1


“Aiiishhh!!! YAK!!!” amuk Rihanna yang langsung bangkit dari kursinya.


“APA!!!” balas Nayeon tak kalah menyalaknya namun masih tetap duduk dikursinya.


“sudah sudah, jangan bertengkar didepan makanan tidak baik,” Abi mencoba menengahi pertikaian yang tiada habisnya itu.


“lalu jika tidak ada makanan apa boleh bertengkar?!” balas Nayeon masih dengan muka tengilnya.


“YAK!! PERGI DARI APARTEMANKU!!” bentak Rihanna lantaran sudah kehilangan kesabarannya menghadapi kelakuan Nayeon.


...**************** ...


1 tahun kemudian.


Dipekarangan kampus Royal collage of music, acara wisuda yang digelar dikampus royal sudah selesai dari 20 menit yang lalu, tibalah saatnya para mahasiswa dan mahasiswi kampus tersebut bersenang-senang, bercengkrama dengan para keluarga yang hadir dan juga melakukan sesi foto baik menggunakan jasa fotografer ataupun saling membantu memfotokan dengan temannya.


“Dimana suamimu?” tanya Bennedict yang berusaha mungkin menyempatkan waktunya untuk ikut serta dalam acara wisuda adik perempuannya meski jadwal kerjanya sangat padat.


“Sabar dong, mungkin Ansell masih di jalan,” timbrung ibunya sembari mengajak main Sammy yang berada dalam gendongan pengasuhnya.


“Iya nih ga sabaran banget, Ansell baru mendarat 10 menit yang lalu, mungkin butuh waktu 20 menit untuk sampai kemari,” sambung Rihanna.


“lagian udah tahu hari ini istrinya wisuda, masih aja berpergian!” sinis Bennedict.


“Aiiisshh!! Berhenti mencela suamiku, memangnya kakak datang ke pernikahanku dulu huh?!” bela Ahreum yang mulai emosional.


“Sudah-sudah, berhenti bertengkar, ahh iya, ngomong-ngomong dimana Nayeon dan Jeno?” timbrung Seno seraya mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari 2 karib putrinya itu.


“Itu mereka!” timpal Hanna seraya menunjuk ke arah Nayeon dan Jeno dengan sorot matanya.


“Apa mereka sedang slek lagi?” imbuh Seno.


“Om tante gak tahu? Mereka sudah putus sejak lama,” papar Hanna yang membuat Seno dan Enzy melirik ke arahnya dengan tatapan terkejutnya.


“putus benaran? Biasanya kalaupun putus mereka akan rujuk lagi,” celetuk Enzy yang tak percaya dengan berita buruk yang disampaikan Rihanna.


“Kurasa mereka benar-benar putus kali ini,” timpal Ahreum yang juga ikut melihat ke arah kedua karibnya yang hendak bergabung dengan keluarganya.


“AHREUM!!” panggil Nayeon dengan beberapa bucket bunga dan coklat berukuran besar yang ia dekap erat dengan 1 tangannya.


“Apa dia sudah baik-baik saja?” tanya Bennedict, karena sebelumnya Nayeon selalu nangis kalau ngeliat mantan kekasihnya itu, sehingga sebisa mungkin ia selalu menghindar.


“Hmm, entahlah kurasa dia hanya pura-pura kuat aja,” celetuk Rihanna yang tak percaya dengan senyum lebar yang diberikan Nayeon.


“Halo om tante, kak Ben, dan Sammyyyyy!!” sapa Jeno yang lebih dulu sampai, setelah menyapa semunya dengan singkat, ia pun beralih pada bocah kecil yang sedang digendong baby sitter.


“boleh aku menggendongnya,” ijin Jeno pada sang pengasuh, dengan senang hati pengasuh itu pun memberikan Sammy kecil pada Jeno.


“Sammmyyyy.. kau tampan sekali hari ini, dan juga wangi uuhhh, muach.. muacchh!!” seru Jeno sembari menciumi pipi gembil Sammy dengan ganas, sedang Sammy hanya tertawa lebar untuk memberikan reaksi betapa bahagianya mendapat cinta kasih sayang dari pria dewasa yang sering bermain dengannya.


“yak, hentikan, pipi adikku bisa bau karena jigongmu,” kata Ahreum dengan nada sarkasnya.


“diih, aku mah selalu wangi kok, mau cobaaa muuuu!!” sahut Jeno yang kini beralih hendak mencium Ahreum dengan memonyong-monyongkan mulutnya, dengan cepat Ahreum menarik 1 langkah ke belakang dan menjauh dari jangkauan Jeno yang selalu mengisenginya.

__ADS_1


“HALO OM TANTE KAK BEN, hheehe, halo juga Sammyyy!!” sapa Nayeon dengan suara lantang dan senyum cerahnya.


“HACIIWWW!!” Ahreum membalas sapaan Nayeon dengan bersin yang cukup memekakan telinga.


“ohh sory.. sory.. (dengan cepat Nayeon menjauh beberapa langkah dari keberadaan Ahreum)


Sebentar aku taruh dulu bunganya dimobil,” imbuh Nayeon yang kemudian berlarian menuju parkiran kampus.


“HATI-HATI NAY!! JANGAN LARI-LARI!!” teriak Enzy yang menggema ke seluruh penjuru kampus, Nayeon pun menghentikan laju larinya sesaat untuk menoleh ke belakang dan menanggapi peringatan Enzy dengan membentuk kata oke menggunakan jemarinya.


“Jadi bagaimana?


Sudah ada perkembangan? Kapan kau debut Jen?” tanya Enzy seraya mengarahkan pandangannya pada Jeno yang tengah asyik bermain dengan putra bungsunya.


“eeyyy.. baru juga setahun trainne, selow dong!!


Pokoknya nanti kalau Jeno debut, om, tante kak Ben, Ahreum dan kau Rihanna, harus, mesti dan wajib datang oke!! Akan ku pesankan tiket VIP agar kalian bisa teriak heboh didekat panggung, dan jangan lupa, mesti pakai kaos yang bergambarkan mukaku juga lightstick fandomku!” seru Jeno penuh antusias seolah benar-benar yakin bisa debut dan sukses suatu hari nanti.


“Aiisshh!! Fikirmu jadi idol itu mudah, anak mami sepertimu palingan bentar lagi juga nyerah, lagipula dengar yak! Memangnya kau tahan tidak berkencan selama bertahun-tahun?


Selama ini kan begitu putus kau selalu nyari lagi yang baru, kalau beneran jadi idol, kau harus mengutamakan hati fans mu, mana boleh berkencan sesukamu,” celetuk Rihanna pedas seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


“ciihhh!!


Kau meremehkanku?! (balas Jeno tak kalah ketusnya, ia pun mencoba mengalihkan kembali Sammy pada pengasuhnya)


Asal kau tahu saja ya, 1 tahun ini aku sudah melajang tahu! Karena aku bersungguh-sungguh ingin meraih impianku,” tegas Jeno mantap.


“Iya iya sudah jangan bertengkar, selagi menunggu Ansell apa ngga sebaiknya kita berteduh dulu disana, hari sudah mulai terik,” ucap Seno mencoba menengahi perdebatan yang terjadi antara Rihanna dan Jeno.


“Ada apa sayang?” tanya Enzy kala melihat raut wajah putrinya terlihat gelisah ditengah usahanya menelfon sang suami yang tak kunjung datang.


“ti.. tidak bu, amm, perasaanku hanya tidak enak aja, Ansell juga sulit dihubungi,” respon Ahreum yang mulai merasa tidak tenang, terbukti dari mimik wajahnya yang menggambarkan kuat jika dirinya memiliki firasat buruk layaknya seorang istri pada umumnya.


“masa sih?!


Coba biar aku hubungi kak Abi,” timpal Rihanna yang langsung merogoh ponsel didalam tas kecil untuk menghubungi kekasihnya.


Ditengah kecemasan yang melanda pada keluarga besar Bagaskhara, dering ponsel Bennedict pun berbunyi yang sontak saja perhatian kini teralih pada Bennedict yang hendak menerima panggilan tersebut.


“Halo,” sapa Bennedict pada sang penelfon.


“Oke baik,” tandas Bennedict kala sang penelfon telah usai memberikan laporan padanya, ia pun mematikan sambungan telfon dan menatap dalam ke arah manik adik perempuannya seolah ingin menginformasikan berita yang tidak mengenakan hati.


“Ada apa Ben?” tanya ibunya yang penasaran karena putra sulungnya itu tak kunjung bersuara dan hanya memandangi adik perempuannya dengan wajah sendunya.


“Apa yang terjadi?” ucap Ahreum lirih dengan buliran air mata yang sudah tak sanggup ia bendung, meski Bennedict belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi namun entah kenapa fikiran negative telah menyelimuti benaknya sedari tadi.


“Dengarkan kakak, terjadi kecelakaan beruntun di jalan xxx....,”


“Apa?!” potong Rihanna yang tampak lebih emosional dari Ahreum yang saat ini hanya terdiam mencoba mendengar penjelasan lengkap dari sang kakak.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2