Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 85


__ADS_3

“yak! Apa kau tahu harga aparteman suamimu itu berapa?” ucap Hanna seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar untuk mengamati suasana kamar tersebut.


“berapa memangnya?” sahut Ahreum seraya mendudukan bokongnya diranjang lalu menekan-nekannya dengan bokongnya untuk mengetahui seberapa empuk kasur tersebut.


“setara dengan harga rumahku dulu.” Imbuh Hanna seraya menurunkan handle pintu kamar mandi kemudian mendorongnya.


“APA?!” kaget Ahreum saat mengetahui harga aparteman yang kini ditempati dirinya dan suaminya itu lengkap dengan kedua mata yang hampir keluar dari cangkangnya.


***


1 jam kemudian..


“ayo cepat putuskan, aku sudah lapar nih!” seru Ahreum yang tengah tiduran diranjang seraya memainkan ponselnya selagi menunggu karibnya kesana kemari mengecek keadaan aparteman yang akan ia tinggali.



“mau makan apa?” tanya Hanna saat kembali ke kamar lalu berjalan mendekati tepi ranjang yang ditiduri oleh Ahreum.



“ada tempat makan yang baru dibuka didekat kantor Ansell kesana aja yuk!” seru Ahreum seraya bangkit dari tempat tidur lalu mengaitkan lengannya ke lengan Hanna dan berjalan keluar dari kamar dengan senyuman merekah karena akhirnya aktivitas menunggu yang membosankan itu berakhir.


“kenapa harus didekat kantor Ansell? Memangnya ga ada tempat makan lain.” Protes Hanna yang sebenarnya tidak terlalu setuju dengan pilihan Ahreum.


“ayolaah, katanya makanan disana enak-enak, banyak orang yang membuat vlog dan merekomendasikan makanan disana.” Bujuk Ahreum ditengah perjalanannya keluar dari aparteman tersebut seraya masih menautkan lengannya pada lengan Hanna.


“oke, oke.” Sahut Hanna pasrah.


“bagaimana nona Hanna, mau diambil?” tanya sang agen property begitu keduanya keluar dari aparteman dengan masih saling bergandengan.


“iya, saya suka bu saya akan ambil, tapi sebelumnya saya harus mendiskusikan hal ini juga dengan tante saya, besok saya akan kembali lagi kesini, ga apa-apa kan?” respon Hanna.


“oke ga apa-apa, besok dijam sama lagi ya nona Hanna.” Pungkas sang agen lengkap dengan senyuman ramahnya sebelum mengakhiri percakapan diantara mereka.


“oke, kalau begitu saya pamit bu.” Ucap Hanna yang kemudian menundukan kepalanya sebagai tanda salam perpisahannya dengan sang agen wanita tersebut.


***


Oke, mari kita berpindah lokasi.

__ADS_1


KT. Group.


Lebih tepatnya diruangan Ansell dirgantara, setelah 1 jam bergelut dengan pekerjaannya ia pun akhirnya bisa bernafas lega karena masalah yang membuatnya sakit kepala beberapa jam yang lalu bisa terselesaikan dengan baik. Ia pun mengistirahatkan tubuhnya sejenak dikursi kebesarannya dengan memejamkan kedua matanya sejenak sebelum kembali melakukan aktivitas yang lainnya.


“pak Ansell.” Panggil Abi saat memasuki ruangan Ansell dengan tablet yang berada dalam genggamannya, ia pun lantas menarik langkah menuju area depan meja Ansell.


Sementara Ansell masih nyaman dengan posisi awal dan tak berniat untuk membukakan matanya meski ia tahu jika ada seseorang yang kini tengah memandanginya.


Hingga beberapa menit pun berlalu, namun Abi masih saja berdiam diri depan meja Ansell, menunggu Ansell terbangun dan membalas panggilannya.


“ada apa?” gumam Ansell masih dengan kedua mata yang tertutup.


“ini jadwal pak Ansell 1 minggu ke depan.” Ucap Abi seraya menyodorkan tablet yang sedari tadi dipegangnya.


“taruh saja dimeja.” Sahut Ansell masih dengan nada malasnya.


“baiklah.” Respon Abi seraya meletakan tablet diatas meja Ansell.


“saya sudah mengosongkan jadwal bapak besok sore, mau saya temani?” lanjut Abi.


“tidak perlu, aku bisa sendiri, pakai saja waktu liburmu dengan baik. Bukankah kau juga sudah lama tidak mengunjungi panti.” Sahut Ansell yang kemudian membukakan kedua matanya dan menegakan posisi duduknya lalu meraih tablet yang sebelumnya diletakan diatas meja oleh Abi.


“apa ini, Amerika?” protes Ansell saat ia hendak mengecek jadwal yang telah dibuat oleh Abi selama satu minggu ke depan.


“apa tidak terlalu lama? Bukankah masalah itu bisa selesai hanya dalam waktu 1 hari aja.” Tambahnya seraya menajamkan pandangannya kearah Abi untuk meminta penjelasan lebih lanjut mengapa jadwal dinasnya ke Amerika bisa sampai berhari-hari.


“amm.. pak Andrew meminta bapak untuk menggantikannya bertemu dengan kolega kita disana.” Abi menjelaskan kenapa jadwal Ansell bisa bertambah yang seharunya hanya 2 hari, kali ini ia harus berada di Amerika selama kurang lebih 4 hari.



“apa?! Kenapa bisa begitu?” keluh Ansell tidak terima.


“bapak tak ingat?


Saat absen meeting, pak Andrew lah yang menggantikannya saat itu.” Papar Abi.


“ciihh!!” decak kesal Ansell seraya membuang muka, lalu bangkit dari kursinya, kemudian menarik langkah menuju ruangan lainnya, dan disusul oleh Abi yang masih ingin bicara dengannya.


“dan juga kurasa pak Andrew sedang mengujimu, karena yang ku dengar kolega kita yang 1 ini sangat sulit ditangani.” Tambah Abi seraya menutup pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


Begitu sampai diruang ganti, Ansell pun langsung melepaskan jas yang melekat ditubuhnya, kemudian dilemparkannya ke arah wajah Abi yang berdiri tak jauh dibelakangnya untuk menutup mulutnya agar ia berhenti bicara. Karena hatinya pun kini sudah cukup mendidih.


“tetap pada rencana awal, hanya 2 hari, aku akan menyelesaikannya dalam waktu 2 hari, mengerti!” Tegas Ansell seraya melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya dan menatap tajam dirinya lewat pantulan cermin besar yang berada dihadapannya.


“tapi.. “


Belum sempat Abi meneruskan kalimatnya, Ansell sudah keburu menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat.


“apa kau tak bisa lama-lama berada jauh dari nona Ahreum, hihihi.” Goda Abi seraya menyikut lengan Ansell lengkap dengan senyum nakalnya.


“kau bosan hidup?!” ucap Ansell lengkap dengan sorot mata tajamnya yang mengarah pada Abi.


“kalau kau memang menyukainya lebih baik katakan aja, dan akui kekalahanmu, jangan berlagak sok jual mahal seperti itu.” kata Abi seraya memegang bahu Ansell lengkap dengan tatapan penuh arti.


“apa sih!!” ketus Ansell seraya menepis kasar tangan Abi dari bahunya, kemudian melanjutkan aktifitas selanjutnya yaitu melapas dasi, dan membuka kancing bajunya satu per satu.


“dengar ya! Gadis itu benar-benar bukan seleraku, tubuhnya sangat kurus seperti triplek, dan juga wajahnya.. terihat seperti anak-anak, berada dekat dengannya aku merasa seperti bersama dengan keponakanku sendiri hahahaa!! aku hanya ingin memberi pelajaran padanya, dengan bersikap manis, dan perduli padanya. Sampai dia tergila-gila padaku, lalu setelah itu tentu saja aku akan meninggalkannya.” Tegas Ansell seraya melempar kemeja yang sudah terlepas dari tubuhnya kearah Abi, kemudian beralih mengambil salah satu koleksi kemejanya didalam lemari.


“kurasa kau sudah keterlaluan.” Sahut Abi seraya memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju tempat pakaian kotor, kemudian diletakannya pakaian Ansell disana.


“memangnya Ahreum punya salah apa padamu?” lanjut Abi seraya kembali berjalan mendekati Ansell yang sedang mengancingkan kemeja pengganti.


“dia yang berlagak sok jual mahal padaku! Bersikap seolah tidak menyukaiku, tapi nyatanya dia sangat menikmati saat ku sentuh. Ciih!!.. dasar gadis munafik.” Ocehnya seraya merapihkan lipatan kemejanya yang masuk ke dalam celana, kemudian meraih dasi yang berada digantungan dan melilitkannya dikerah kemejanya.


“hmm.. sebaiknya jangan kelewat batas Ansell, atau kau akan menyesal untuk yang kedua kalinya.” Ucap Abi seraya mengambilkan jas untuk dipakaikan pada atasannya itu.


Alih-alih merespon perkataan Abi, Ansell malah pergi berlalu begitu saja keluar dari ruang ganti setelah jasnya melekat ditubuhnya. Melihat sikap keras kepala karibnya itu Abi hanya bisa menggeleng kepala seraya menghembuskan nafasnya.


Begitu Ansell melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti, kedua matanya membulat saat mendapati sebuah lunch bag yang berada diatas meja kerjanya, hingga membuat tubuhnya membeku sesaat.



“ada apa?” tanya Abi yang sedikit mendorong tubuh Ansell agar dirinya bisa keluar dari ambang pintu.


“cek CCTV, siapa tadi yang masuk ke dalam ruanganku.” Perintah Ansell, yang kemudian langsung dilaksanakan oleh Abighail.


Bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2