
“apa dia akan kembali ya..” gumam Ahreum yang berjalan keluar dari lift seraya memandangi layar ponselnya.
“jika iya, mudah-mudahan saja dia sudah tidak memiliki rasa pada Jeno, huffftt, aku tak bisa membayangkan jika Hanna masih ingin bersama dengan Jeno setelah dia meninggalkan Jeno begitu saja. Seharusnya ia punya rasa malu kan.” Ocehnya lagi disepanjang perjalanannya menuju pintu keluar rumah sakit.
“YAK!!” panggil seseorang kala Ahreum muncul dari dari balik pintu kaca rumah sakit, sontak membuat dirinya terkejut hingga reflex memegangi dadanya lengkap dengan raut wajahnya yang mendukung.
“astaga! Bisa santai aja ga sih? aku gak tuli tau!” protesnya seraya berjalan menghampiri Ansell yang berdiri disamping mobilnya.
“masuk! Akan kuantar kau ke kampus.” Perintah Ansell seraya menarik handle pintu mobilnya, namun saat ia menyadari jika arah Ahreum akan berjalan ke kursi belakang ia pun kembali menajamkan pandangnnya dan berteriak pada Ahreum.
“APA KAU SUDAH GILA?! Duduk didepan, aku bukan supirmu!!” bentak Ansell yang membuat jantung Ahreum kembali dag dig dug akibat teriakan Ansell yang membahana.
“astaga..” respon Ahreum yang kemudian langsung menutup kembali pintu belakang dan beralih ke kursi depan disamping Ansell.
“apa kau punya masalah Ansell?” tanya Ahreum begitu ia menyusul Ansell duduk dikursi depan seraya mencoba memakai sabuk pengamannya.
Tak menghiraukannya, Ansell malah langsung menancap gas dan mulai melajukan mobilnya melewati pekarangan rumah sakit, lengkap dengan wajah seriusnya ia hanya terfokus pada jalanan didepan.
“kau tahu, sikapmu ini benar-benar tidak baik Ansell, jika kau sedang ada masalah dengan orang lain seharusnya kau tak melampiaskannya pada orang yang tak bersalah, sebenarnya itu basic sih tapi kadang orang-orang suka mengabaikan hal itu.” Ocehnya sebab Ansell tak juga meresponnya.
“AUGHH SIALL!! MAIN SALIP SEENAK JIDAT, DIKIRA JALAN RAYA HALAMAN RUMAH NYA APA!!” bentak Ansell seraya membunyikan klakson beberapa kali.
“kukira tadi pagi kau tidak perduli denganku, kenapa tiba-tiba sekarang ingin mengantarku ke kampus.” Kata Ahreum seraya melirik ke arah Ansell begitu lelaki itu selesai mengutarakan umpatannya pada pengemudi lain didepannya.
“SHITT!! DASAR WANITA MAIN BELOK-BELOK SAJA..”
“YAAK!! Berhenti teriak-teriak jika aku yang salah katakan saja, tak perlu marah-marah gak jelas seperti itu.” Keluh Ahreum seraya memelototi Ansell dengan kedua tangannya yang memegangi sabuk pengaman, karena Ansell terus memacu laju mobilnya dijalan raya seperti orang yang tengah kesurupan.
“bukankah kau bilang hanya mengunjungi Nayeon sebentar?! Lalu apakah waktu 2 jam itu menurutmu waktu yang sebentar?!” ketus Ansell yang membalas tatapan tajam gadis yang duduk disampingnya tersebut, sebelum kembali terfokus pada jalanan didepannya.
__ADS_1
“Bukankah aku tidak pernah mengatakan berapa lama waktunya, aku hanya bilang sebentar, dan menurut persepsiku 2 jam itu waktu yang singkat kok.” Jawabnya penuh percaya diri.
“ciiihh!!.. apa kau sedang beralasan sekarang?” balas Ansell.
“apa perdulimu, kau bahkan tidak beraksi saat ku bilang akan menjenguk Nayeon tadi pagi.” Sahut Ahreum yang mau kalah debat dengan calon suaminya itu.
“YAK!! Jika aku tak perduli, aku tak mungkin mengirim orang untuk mengawasimu tadi pagi.” Ungkapnya masih dengan nada tidak santai.
“apa?! Jadi lelaki itu suruhanmu, semacam bodyguard gitu?” ucap Ahreum yang mencoba mencerna apa yang baru saja Ansell katakan.
“dasar bodoh! Malah berlarian kesana kemari untuk menghindarinya.” Gumam Ansell yang mulai menurunkan nada suaranya.
“siapa yang tidak takut saat orang asing mengikutimu seperti itu, terlebih lagi dia memakai pakaian serba hitam, hal itu membuatku kembali teringat akan kejadian dimalam itu.” Respon Ahreum seraya mengarahkan pandangannya ke balik jendela mobil, seolah luka lama yang telah sembuh kini kembali terasa saat ia mengingatnya.
Membuat hati Ansell sedikit luluh dengan raut wajah Ahreum yang tiba-tiba berubah menjadi murung, karena pembahasan itu mengingatkan Ahreum kembali pada malam kelam itu. Dimana saat Ahreum tertusuk pisau oleh orang suruhan mantan kekasihnya yang kini telah tiada.
“entahlah, kenapa?” Ahreum balik bertanya.
“aku akan menjemputmu nanti, atau jika aku tak sempat, aku akan meminta Abi untuk menjemputmu.” Respon Ansell seraya melirik ke arah Ahreum yang masih memandangi pemandangan dari balik jendela mobil.
“kak Abi?” ulang Ahreum seraya menoleh dan menatap bagian samping wajah Ansell.
“Yak, Ahreum!
Aku ingin bertanya padamu, kau memanggilku hanya dengan nama saja tanpa embel embel kakak sedangkan Abi kau panggil kakak, kau yakin benar-benar tidak tahu siapa yang lebih tua diantara kita?!
Atau kau memang sengaja, tidak mau berlaku sopan juga denganku?!” pekik Ansell yang kembali melirik sinis ke arah gadis disampingnya yang masih menatapnya.
“lohh, memangnya kak Abi lebih muda darimu ya, hehe.” Celetuk Ahreum lengkap dengan raut wajah terkejutnya.
__ADS_1
“berhenti berpura-pura, aku tahu kau sedang meledekku, aktingmu benar-benar luar biasa, sepertinya kau cocok jika jadi artis.” Balas Ansell dengan wajah yang tak kalah julidnya dengan Ahreum.
“bagus dong, kalau aku debut jadi artis, nanti bisa main drama sama actor yang tampan, bisa acting meluk dan bisa poppo (cium) juga kan..” ocehnya kembali yang membuat Ansell tiba-tiba kembali naik pitam dan spontan meneriakinya lengkap dengan kedua mata yang berapi-api, seolah ingin menerkam gadis mungil yang berada disampingnya tersebut.
“YAAK!!” bentak Ansell.
***
Sesampainya diparkiran kampus, Ahreum langsung melepas sabuk pengamannya kemudian membuka pintu mobilnya tanpa berniat pamitan dengan lelaki yang sedari tadi sudah memandanginya, berharap gadis tersebut mengatakan salam perpisahan sebelum ia turun dari mobilnya.
Begitu menurunkan kedua kakinya dari mobil, Ahreum pun langsung menutup pintu mobil dengan sedikit bantingan hingga membuat Ansell yang berada didalam mobil membulatkan matanya karena terkejut melihat sikap kasar gadis mungil tersebut.
“dasar brengsek, kalau kau berfikir aku sama seperti gadis-gadis lemah yang berada dalam drama, kau salah besar!! Aku tak semudah itu bisa kau intimidasi.” gumam Ahreum seraya menajamkan matanya ke arah Ansell saat ia berjalan melewati depan mobil Ansell.
Dan saat Ansell membalas tatapan sinis Ahreum, Ahreum pun kembali bertingkah dengan menunjukan kedua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah yang seolah ingin mencolok kedua mata Ansell.
“augh shitt!! Sepertinya dulu saat pembagian akhlak dia tidak datang.” gumam Ansell seraya terus memandangi calon istrinya tersebut sampai ia benar-benar menghilang dari pandangannya.
***
Drreeedd drreeddd!!
Menyadari ada getaran dari tas kecilnya, ia pun langsung merogoh ponselnya untuk mengecek darimana panggilan itu berasal, selagi berjalan menuju ruang kelasnya.
“hallo.” Sapa Ahreum.
***
bersambung...
__ADS_1