
Sementara itu dikantin rumah sakit Haneul Jakarta.
Setelah membeli kopi late Rihanna pun terduduk dimeja kantin sembari mencoba menghubungi kembali seseorang yang menelfonnya sebelumnya.
“halo,” sapa Rihanna.
“YAK!! KAU MAU MENIPUKU?! KATANYA MALAM INI AKU BISA BERTEMU DENGAN AHREUM!! TAPI KENAPA SAMPAI SEKARANG KAU MASIH BELUM MENGHUBUNGIKU?!”
Teriak seseorang disebrang sana hingga Rihanna pun harus menjauhkan speaker telfon dari telinganya.
...****************...
30 menit kemudian, Rihanna pun kembali ke ruangan lengkap dengan senyum lebar yang mengundang kecurigaan bagi Bennedict yang tengah terduduk santai disofa bersama dengan Jeno.
“Darimana saja?!” todong Bennedict lengkap dengan tatapan tajamnya.
“Ini…, (sahutnya seraya menunjukan kopi yang berada dalam genggamannya untuk menjawab pertanyaan Bennedict)
Hai kak Winter, kakak ga akan menyapaku juga?” sambung Rihanna seraya berjalan menghampiri Winter yang masih terduduk di pinggir ranjang Ahreum.
“Ehh, Hanna, maaf ya, bagaimana kabarmu?” sahut Winter yang kemudian beralih fokus pada Rihanna yang berdiri disampingnya sembari menyedot es kopinya sesekali.
“Aku baik, sangat baik, hehehee,
Kak Winter bagaimana?” respon Rihanna yang kemudian menaruh kopinya diatas nakas lalu ikut duduk dipinggiran ranjang Ahreum yang membuat ia saling berhadapan dengan Winter.
“Seperti yang kau lihat, kakak juga sangat baik, pemulihanku berjalan lancar, dan kakak sudah bisa berjalan normal hehee. Ahh iya, bagaimana kau dengan Jeno?” tanya Winter seraya melirik sesaat pada Jeno yang tengah asyik dalam dunianya sendiri sedari tadi.
Mendengar pertanyaan itu Jeno pun mengerutkan dahinya seketika, “bukankah sudah kubilang, kita sudah putus sejak lama,” ketus Jeno.
“hahhaaa iya.. iya,” Winter terkekeh.
“Iya, Jeno hanya bagian dari masa laluku aja kak, masa lalu yang gak penting sih sebenernya,” celetuk Rihanna yang membuat Jeno mendengus kesal.
“karena aku sekarang juga sudah punya kekasih baru, yang 1000 kali lebih baik darinya!” tambah Rihanna lengkap dengan aura kesombongan yang terpancar dalam raut wajahnya.
"kakak mau liat ngga, bentar ya aku tunjukin," sambungnya yang lalu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponselnya.
“waahhh…,
Imut sekali Hanna, boleh dong dikenalkan, hehee,” respon Winter penuh antusias begitu melihat foto Abi yang ditunjukan oleh Rihanna.
“oke, next time, kita bisa bermain bersama, hehhee,” sahut Rihanna tak kalah antusiasnya.
“sudah cukup ngobrolnya, mari kita pulang kak, mami akan sampai dirumah dalam 1 jam, kita harus bergegas,” kata Jeno seraya bangkit dari sofa kemudian berjalan mendekati pinggir ranjang Ahreum di sisi lainnya.
“kau bawa mobil?” tanya Rihanna.
“tidak, aku dan kakak pergi diam-diam naik taksi,” sahut Jeno.
“kalau begitu, kenapa ga kak Benn aja yang antar kalian pulang?
Lebih cepat dan juga lebih aman kan,” saran Rihanna seraya mengembangkan senyum lebar yang mengandung banyak arti.
“tidak perlu, kita bisa kembali naik taksi lagi aja,” tolak Winter seraya mengambalikan ponsel Rihanna.
__ADS_1
“hmm.., (meski sebenarnya Jeno setuju dengan saran yang diajukan oleh Rihanna, namun karena kakaknya lebih memilih untuk naik taksi saja, yasudah ia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan kakaknya)
Aku pulang dulu ya, besok aku pasti kemari lagi,” ucap Jeno lembut seraya mengusap bagian atas kepala Ahreum lengkap dengan senyum hangatnya.
Ahreum pun mengangguk, “Iya, kau hati-hati ya, tapi kalau memang tidak diijinkan kemari oleh mami, sebaiknya kau tidak perlu memaksakan diri Jen,” tutur Ahreum seraya tersenyum tipis dan meraih lengan Jeno yang berada diatas kepalanya dan membawanya dalam gengagmannya.
“tidak, bukan aku yang tidak diijinkan, hanya kak Winter, kak Winter yang belum boleh keluar rumah,” sanggah Jeno yang membaut Ahreum pun mengalihkan pandangannya pada Winter yang tersenyum padanya.
“gak apa-apa kok, aku sudah baik-baik saja,
Kau tahu kan kekhawatiran orang tua yang selalu berlebihan, padahal kakak sudah pulih dari beberapa bulan yang lalu, tapi mami masih belum yakin dan terus membuatku terkurung dalam kamar.” Papar Winter seraya mengusap kaki Ahreum yang terbalut selimut lengkap dengan senyum teduhnya.
“Ayo, aku saja yang mengantar kalian!” ujar Bennedict seraya bangkit dari sofa kemudian meraih kunci mobil diatas nakas.
“kakak keluar sebentar ya,” pamit Bennedict seraya mengusap bagian ataas kepala Ahreum kemudian pergi berlalu.
Disusul dengan Winter yang kemudian bangkit dari ranjang Ahreum, dan juga Jeno, yang pamit secara bersamaan lalu pergi meninggalkan ruangan.
Kini hanyalah tinggal Ahreum dan Rihanna yang berada dikamar, begitu melihat kepergian Jeno dan Winter, Rihanna pun langsung melempar tatapan penuh artinya pada Ahreum yang hendak kembali membaringkan tubuhnya.
“Apa?” tanya Ahreum karena merasa tatapan itu bukan hanya tatapan biasa.
“Aku lelah, jika ingin mengajakku bicara besok saja,” sambung Ahreum yang lebih memilih mengabaikan Rihanna dan memiringkan tubuhnya ke sisi lain.
“Apa kau merindukan Ansell?” tanya Rihanna seraya menaruh ponselnya diatas nakas.
“Jangan membuat rencana yang akan mengundang kemarahan kak Ben, Rihanna. Kau mau Ansell dipukuli lagi?
Awas saja kalau sampai kau diam-diam membawa Ansell kemari,” tegas Ahreum seraya menarik selimut dan memejamkan kedua matanya.
“katakan saja padanya jika aku yang tidak mau menemuinya,” gumam Ahreum dengan mata terpejamnya.
“kau yakin?
Kau benar-benar tidak merindukannya,” tambah Rihanna yang ingin memastikan sekali lagi.
Ahreum membukakan kedua matanya seiring dengan bulir air mata kerinduan terhadap suami yang sangat dicintainya.
“Aku…, mungkin bisa menahan rinduku padanya. Tapi, aku tak bisa menahan rasa sakit hatiku ketika dia kesakitan, Rihanna. Seakan bagian terdalamku tersayat begitu memilukan melihatnya menderita, aku tak bisa…, hiksss,” lirih Ahreum yang membuat Rihanna pun akhirnya mengerti dan berhenti membujuk Ahreum.
“baiklah, aku mengerti, kau istirahat saja,” ucap Rihanna seraya menepuk lembut bokong Ahreum.
“aku keluar sebentar ya,” lanjut Rihanna yang kemudian bangkit dari ranjang dan keluar dari ruangan.
Baru saja ia mendorong pintu kamar Ahreum, Rihanna sudah mendapati Ansell yang terduduk dikursi didepan ruangannya dan Abi yang berdiri disampingnya.
Mereka pun lantas mendekat ke arah Rihanna secara bersamaan, namun dengan sigap Rihanna membuat pertahanan kuat didepan pintu seakan ingin memberikan peringatan keras pada keduanya.
Sehingga membuat raut wajah Ansell yang mulanya berseri-seri kini berubah menyiratkan tanda tanya besar, kenapa Rihanna melakukan hal demikian?
“Apa yang kau lakukan?!” pekik Ansell yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ahreum, selagi Bennedict tidak ada diruangan.
“Ahreum, tidak ingin bertemu denganmu,” Rihanna menyampaikan apa yang sebelumnya Ahreum amanatkan.
“Apa?!
__ADS_1
Tidak, itu tidak mungkin! Cepat minggir!” tukas Ansell seraya mencoba mendorong tubuh Rihanna dari depan pintu ruangan Ahreum.
“Aku serius Ansell!” kata Rihanna tak kalah tajamnya hingga membuat Abi pun ikut membantu Rihanna untuk menenangkan emosional Ansell dengan menahan tubuhnya dan berhenti mendorong Rihanna.
“tolong bawa kembali Ansell ke kamarnya, kak Abi,” titah Rihanna yang tentu saja membuat Ansell semakin kesal lantaran omong kosong yang Rihanna lontarkan.
“Kau mencoba menipuku?!
Sekarang kau berpihak pada kak Benn, hah?!” geram Ansell.
“Kau tak percaya padaku Ansell?
Aku benar-benar berkata yang sejujurnya, Ahreum sendiri yang tidak mau bertemu denganmu,”
“bohong!!
Aku ingin melihatnya sendiri, dan mendengar langsung dari mulutnya jika dia sudah tak mau bertemu denganku!!” amuk Ansell yang mencoba lepas dari pertahanan Abi dan menyingkirkan tubuh Rihanna yang menghalangi pintu ruangan Ahreum.
Namun ketika Rihanna berhasil menyingkir saat itu juga ponsel Abi berdering, membuat fokus Ansell teralihkan, “kenapa kau menelfonku?” tanya Abi saat ia melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
Ansell yang saat itu sudah menggenggam handle pintu pun kembali menurunkan tangannya dan beralih fokusnya pada Abi yang terlihat kebingungan sembari melihat layar ponselnya.
“bagaimana bisa aku menelfonmu sedangkan aku saja berada dihadapanmu saat ini, aughhh!!
Angkat saja, mungkin itu Ahreum,” katanya yang membuat Ansell langsung merebut paksa ponsel yang berada dalam genggaman Abi.
“halo, Ahreum,” sapa Ansell begitu ia menerima sambungan telfon yang diduga berasal dari istrinya.
“Ansell,”
Benar saja, begitu sang penelfon bersuara, kedua sudut bibir Ansell terangkat membentuk setengah lingkaran raut wajahnya kini tampak berseri-seri, ia pun berjalan ke sisi lain tempat dimana bangku panjang berada kemudian mendudukan bokongnya.
“kau baik-baik saja kan?
Yang dikatakan Rihanna tidak benarkan Ahreum? Aku…, aku sangat merindukanmu,” ungkap Ansell.
“Aku baik-baik saja Ansell, kaulah yang terluka lebih parah,” respon Ahreum lembut.
“Aku baik-baik saja, Ahreum, kau tak perlu mengkhawatirkan luka-lukaku. Maaf…, maafkan aku Ahreum karena tidak mempercayaimu, maafkan aku,” katanya penuh dengan penyesalan.
“Iya aku sudah memaafkanmu sejak awal, aku juga bersalah padamu Ansell, maafkan aku.
Tapi, apa yang dikatakan Rihanna itu benar, Ansell.
Untuk saat ini sebaiknya jangan temui aku dulu, aku bersungguh-sungguh, maafkan aku,”
Beeppp…, telfon pun dimatikan bahkan sebelum Ansell merespon perkataan Ahreum, hingga membuat Ansell terdiam sesaat sebelum akhirnya menangis dalam keheningan malam kala itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa nona Ahreum tidak bersedia bertemu dengan Ansell?” tanya Abi penasaran yang masih berdiri didepan pintu bersama dengan kekasihnya, sembari memperhatikan Ansell dari jauh.
“beri Ahreum waktu, oke. Dia melakukan ini untuk kebaikan Ansell juga, untuk saat ini sebaiknya Ansell memulihkan dirinya dulu. Jangan biarkan dia keluyuran kesana kemari, kakinya terluka cukup parah, jika dia memaksakan diri terus berjalan dan berlarian seperti tadi, akan berakibat buruk nantinya.” Tutur Rihanna seraya menatap lirih ke arah karibnya yang tengah bergumul dengan isak tangis yang tak bersuara.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...