
Bersamaan dengan keluarnya Ansell dari rumah sakit Haneul, tak jauh dari keberadaannya tampak Elios tengah berjalan disisi lainnya dengan sedikit terburu-buru, sampai tak sempat memarkirkan mobilnya dibaseman rumah sakit.
Sehingga ia pun meminta bantuan pada satpam yang tengah bertugas dibagian depan rumah sakit untuk memarkirkan mobil miliknya. Namun pada saat ia hendak memberikan kunci mobilnya pada satpam tersebut, sekilas ia melihat Ansell yang berjalan melewatinya dengan Ahreum yang tertidur dalam dekapannya.
Iya keponakannya tersebut berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya di depan rumah sakit, melihat kebersamaan antara Ansell dengan Ahreum membuat hatinya terasa sakit. Meski ia sudah mencoba untuk merelakan gadis mungil itu, namun tetap saja perasaan yang sudah terlanjur tumbuh itu malah semakin tak terkendali.
Ditambah saat dirinya mengetahui jika sebenarnya Ansell tidak benar-benar mencintai istrinya, melainkan ia hanya pasrah dengan perjodohan tersebut karena kekasih yang selama ini dicintainya telah tiada.
Hal itu membuat Elios semakin terusik, ia takut jika gadis polos itu hanya akan menjadi pelarian bagi Ansell, mengingat kisah cinta yang pernah Ansell jalin dengan kekasihnya itu bukanlah waktu yang singkat, bukan tidak mungkin Ansell pasti masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
***
Sesampainya di aparteman bougenville.
Ansell langsung membaringkan tubuh istrinya itu diatas ranjang miliknya dengan hati-hati.
“kau masih terlelap, bahkan setelah banyak melalui guncangan, cihh.. apa kau sedang berpura-pura tidur.” Gumam Ansell, setelah membaringkan Ahreum diranjangnya ia pun terduduk dipinggiran ranjang seraya menyingkirkan beberapa helai rambut panjangnya yang menutupi wajah manisnya.
“baiklah, tidur saja, tidur yang nyenyak, Ahreum.. untuk mempersiapkaan hari esok yang akan kau lalui bersamaku, hari yang akan banyak menguras tenagamu sampai rasanya kau hampir mati karena kehabisan nafas.” Lanjutnya lagi dengan nada suara yang berhasil membuat bulu-bulu halus gadis yang tengah pura-pura tidur itu pun seketika merinding.
Ansell bangkit dari ranjang, lalu membuka jasnya dan melemparnya ke sudut ranjang, disusul dengan melonggarkan dasi dan diakhiri dengan menggulung lengan bajunya hingga sampai ke sikunya. Kemudian bercermin sejenak untuk sekedar mengagumi ketampanan yang sudah ia miliki sejak lahir.
Begitu selesai dengan beberapa pose didepan cermin, ia pun melirik sesaat ke arah istrinya yang masih tertidur lelap diranjang, sebelum akhirnya ia pun keluar dari kamar setelah puas memandangi istrinya mungilnya tersebut.
“apa sih yang dia bicarakan.” Gumam Ahreum yang tiba-tiba bangkit dari tidurnya lengkap dengan raut wajah layaknya seseorang yang tengah berfikir keras sampai dahinya pun ikut berkerut.
***
__ADS_1
Keesokan harinya.
Bruugghh!!! Terdengar cukup nyaring suara bantingan pintu kamar yang membuat Ahreum reflex terbangun dari tidur panjangnya, dengan kondisi mata yang belum terbuka sepenuhnya ia mencoba untuk menyadarkan dirinya dengan mengerjapkan matanya beberapa kali, seraya memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja merasa pusing.
“aughh, kepalaku pusing sekali.” Gumam Ahreum.
“ayoo bangun!!” seru Ansell yang masih berdiri diambang pintu seraya memasukan 1 lengannya ke saku celana trainningnya dan menatap tajam ke arah Ahreum yang masih belum memberikan respon apapun mengenai bantingan pintu yang disebabkan oleh dirinya.
Setelah beberapa saat Ahreum mencoba menyadarkan dirinya dan juga rasa pusing tersebut perlahan mulai mereda seriring berjalannya waktu, kedua mata sipitnya pun beralih memandangi Ansell yang perlahan mulai melangkah mendekati dirinya.
“Ansell, apa kau benar-benar, benar-benar tidak tahu fungsi dari sebuah pintu?” ucap Ahreum pada pria yang kini sudah berada dihadapannya itu.
“gak usah berisik, cepat mandi dan pakai baju trainningmu!!” perintah Ansell lengkap dengan sorot mata tajamnya dan juga nada yang tidak bersahabat.
“ahh, tidak mau, untuk apa aku cuti jika masih harus bangun pagi, sudah sana pergi, olahraga sendiri saja.” Balas Ahreum seraya kembali menarik selimutnya dan hendak membaringkan tubuhnya.
“auughh sial! Kenapa kau melakukan ini padaku?” rengek Ahreum seraya menendang-nendang apapun yang berada dibawah kakinya layaknya seorang bocah tengah merajuk pada ayahnya.
“berhenti merengek ayoo cepat bangun Ahreum!!” tak mempan hanya dengan kata-kata kini Ansell juga mencoba untuk menarik lengan Ahreum agar turun dari ranjangnya.
Namun tak ingin menyerah begitu saja, Ahreum pun mencoba untuk mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tetap berada diatas ranjangnya, dengan berpegangan pada pinggrian ranjang disisi yang lain dengan 1 tangannya, sebab tangan kanannya sudah berada dalam genggaman Ansell.
“ASTAGA!! YAK!!” karena tak ingin membuat memar ditangan istri mungilnya tersebut Ansell pun akhirnya pasrah dan melepaskannya.
“aku hanya ingin mengajakmu berolahraga pagi ini! apa sesulit itu.” Geram Ansell seraya meletakan 1 tangan dipinggangnya.
“hey, ayolah.. kau membuat keributan pagi-pagi buta seperti ini hanya untuk mengajakku berjogging? kau tahu, aku bahkan belum pernah sekalipun berjogging diseumur hidupku ini.
Karena apa?
__ADS_1
Karena tubuhku sudah kurus sejak lahir jadi aku tak perlu cape-cape jogging dipagi hari seperti ini. Dan jika sekarang aku jogging bersamamu, bisa kau bayangkan tubuhku akan menjadi setipis apa? Jadi..”
“berhenti mengoceh.” Potong Ansell yang kemudian langsung memasukan kedua tangannya ke ketiak Ahreum dan menarik tubuh mungil Ahreum ke dalam dekapannya. Karena gerakan cepat Ansell itu membuat Ahreum tidak bisa lagi mengelak dan pasrah digendong suaminya menuju kamar mandi.
“auughh sial!!..” umpat Ahreum lengkap dengan raut wajah pasrah dan kesalnya.
“berhenti mengumpat!” timpal Ansell seraya mendorong pintu kamar mandi, kemudian masuk ke dalam dan mendudukan Ahreum diatas pinggiran wastafel.
“aku igin bertanya padamu.” Ucap Ahreum, selagi istrinya duduk manis dipinggiran wastafel Ansell hendak mengambil perlengkapan mandi wanita, seperti sikat gigi yang baru sabun mandi dan juga shampoo untuk diberikan pada Ahreum.
“kenapa kau selalu menggendongku dengan cara seperti itu? Bukankah biasanya para pria akan menggendong wanitanya dengan romantis, seperti menggendong ala bridal begitu, kau tahu kan?”
“aku tak pernah menganggapmu sebagai wanita, ini cepat bersihkan tubuhmu, aku akan menunggu diluar, jika dalam 10 menit kau masih belum selesai, aku akan mendobrak pintunya!”
“ciihh!!
Lalu aku ini pria begitu?!” keluh Ahreum seraya membuang muka dari Ansell yang masih menatapinya.
“cepat turun!!”
“aiishh!! Yak! Berhenti teriak-teriak, aku tak tuli tahu! Aku tak mau mandi, aku hanya akan menggosok gigiku saja.” Ucapnya seraya mencoba turun dengan sedikit lomptan.
Namun karena lantainya sedikit licin membuat tubuhnya seketika goyah dan hampir terjatuh dengan posisi ke belakang, dengan sigap Ansell yang berdiri dihadapannya pun langsung menarik pinggulnya ke dalam dekapannya, hingga membuat wajah mereka hampir bertubrukan.
Seakan waktu terhenti beberapa saat, begitu pun dengan mereka berdua yang masih saling melempar tatapan yang begitu intens sampai kedua tangan Ahreum pun meremas baju kaos yang dikenakan Ansell karena saking gugupnya.
bersambung...
***
__ADS_1