Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 137


__ADS_3

1 jam kemudian.


Tampak Nayeon yang tengah berjalan menuruni anak tangga dengan pandangan yang mengarah pada kekasihnya Jeno.



Seperti biasanya, Nayeon selalu tampil anggun dengan gaun pendeknya yang bermotifkan bunga berwarna ungu dan merah muda. Tak ketinggalan riasan natural yang mampu memancarkan inner beauty gadis berkulit putih pucat tersebut.


Begitu Jeno melirik ke arahnya, refleks ia pun menyunggingkan senyuman termanisnya.


“kau sudah lama menunggu?


Tumben, biasanya kau naik ke kamarku.” Ujar Nayeon ditengah perjalanannya menuju keberadaan Jeno yang sedang duduk disofa ruang tengah.


“amm.. lumayan lama sih.


Tapi gak apa-apa, toh sebanding dengan yang ku dapatkan hari ini.” sahutnya seraya bangkit dari sofa untuk menyambut kedatangan kekasihnya yang hampir sampai.


“apa?” tanya Nayeon seraya mengerutkan dahinya karena tak mengerti apa yang dimaksud Jeno.


“cantiknya dirimu, hehehe.” Goda Jeno seraya mencubit lembut pipi Nayeon, hingga membuat kedua pipi gadis itu memerah seketika karena merasa salah tingkah.


“kau bisa saja..” gumam Nayeon malu-malu sembari menggoyang-goyangkan manja tubuhnya.


“hehee, ayo!!..” ajak Jeno yang kemudian menarik tubuh Nayeon ke dalam rangkulannya lalu mulai menarik langkah.


“ayo kemana?” tanya Nayeon lengkap dengan raut wajah bingungnya karena seingatnya dia tidak memiliki janji apapun hari ini dengan kekasihnya.


“ikut aja, aku akan membahagiakanmu hari ini.” serunya lengkap dengan senyuman lebarnya yang membuat jantung Nayeon mendadak berdegup kencang.


“nona tidak sarapan dulu..” seru bi Sumi dari belakang yang membuat langkah keduanya terhenti sejenak.


“tidak bi, aku akan sarapan diluar. Aku pergi dulu ya.” Ujar Nayeon yang memutar tubuhnya sejenak untuk menanggapi art nya itu sebelum kembali melanjutkan perjalanannya dengan kekasihnya.


-----


Dimobil, ditengah perjalanan Jeno yang katanya ingin mengajak Nayeon ke suatu tempat yang bisa membahagiakan dirinya hari ini.


“aku penasaran sekali, tak bisakah kau memberitahuku tujuan kita sekarang aja.” Rengek Nayeon pada Jeno yang tengah fokus menyetir.


“amm.. akan ku berikan beberapa kisi-kisinya.” Sahut Jeno lengkap dengan senyuman nakalnya.


“eyyy.. ayolah, kau fikir kita sedang ujian, pake kisi-kisi segala.” Rajuknya seraya memanyun-manyunkan bibirnya.

__ADS_1



“hehehee.. kau ingat, tempat dimana aku mengungkapkan perasaanku padamu.” paparnya yang membuat Nayeon terdiam seketika karena mencoba untuk mengingat tempat yang Jeno maksud.


“waaahh kau melupakannya ya?” goda Jeno lengkap dengan tatapan julidnya.


“tidak.. tidak.. tunggu sebentar aku sudah berusaha mengingatnya, kau kan tahu ingatanku gak begitu bagus.


Ahh iya!! Lode Wood!!” seru Nayeon yang akhirnya berhasil menemukan 2 kata tersebut yang tersembunyi dicelah otaknya.


Membuat Jeno pun tersenyum lebar karena gemas dengan tingkah lucu kekasihnya itu. Hingga ia mengusap bagian atas kepala Nayeon sesaat sebelum kembali beralih pada kemudinya.


“aku ingat, saat tahun pertama kita mulai berkencan, kau sering sekali mengajakku bermain kesana. Tapi kemudian kita tidak pernah kesana lagi setelahnya.


Kenapa? tiba-tiba kita kembali lagi kesana?” lanjut Nayeon dengan raut wajah penasarannya.


“hanya ingin saja.. hehehee


Kau cantik hari ini Nay.. tidak.. maksudku kau memang selalu cantik. Tapi.. hari ini kau lebih lebih cantik dari biasanya.” Ungkap Jeno yang sesekali melirik kearah Nayeon lengkap dengan senyuman manisnya yang membuat hati Nayeon semakin kelepek-kelepek.


“ahh iyaa..


Aku mau cerita padamu.” seru Nayeon yang tiba-tiba saja teringat tragedy penculikannya 2 hari yang lalu.


“hah? Cerita apa?” respon Jeno ditengah fokusnya memperhatikan jalanan didepannya.


***


Selagi Nayeon sibuk bercerita tentang insiden penculikannya, kita kembali ke aparteman Bougenville yuk. Kita cek and ricek hal apa yang terjadi setelah pertikaian sengit tadi malam antara Ahreum dan Ansell.


Trenneeengg..


Suara bell pintu aparteman berbunyi kemudian disusul dengan kemunculan bi Ijah juga Abi yang masuk secara bergantian.


Bi Ijah yang sudah siap untuk memulai tugas paginya memasak pun langsung bergegas menuju area dapur dengan 2 kantung keresek yang dijinjingnya dikedua tangannya.


Sementara itu Abi yang berada dibelakang bi Ijah mengambil jalan yang berbeda yaitu menuju ruang tamu.


Dan betapa terkejutnya Abi kala ia melihat atasan yang sekaligus karibnya itu tengah tertidur semberi duduk dengan bersandarkan pintu kamar Ahreum.


“pak Ansell.” panggil Abi yang kemudian menurunkan tubuhnya dan berjongkok didepan Ansell lalu menjentrikan jarinya tepat didepan wajah Ansell.


Sontak Ansell pun langsung terbangun dari tidurnya. “astaga!!” kaget Ansell kala ia melihat wajah asistennya itu cukup dekat dengan wajahnya hingga membuatnya kepalanya terbentur ke pintu.

__ADS_1


“aughh.. yak! apa yang kau lakukan didepan wajahku.” Seru Ansell seraya mengusap bagian kepala belakangnya yang tak sengaja membentut pintu.


“tidak ada, aku hanya membangunkanmu saja.” Katanya seraya kembali bangkit dari jongkoknya kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Ansell bangun.


Dengan senang hati Ansell pun menerima uluran tangan Abi kemudian mencoba bangkit dengan tubuh yang sedikit kram karena semalaman tidur dengan cara yang tak biasa.


“augghh.. tubuhku pegal sekali.” Keluh Ansell seraya melakukan peregangan pada otot-oto tubuhnya yang sedikit kaku.


“masak apa hari ini bi?” tanya Ansell setelah melakukan peregangan sedikit pada tubuhnya ia pun menarik langkah menuju area dapur.


“apa semalaman kau tidur didepan pintu kamar nona Ahreum?” tanya Abi seraya menyusul langkah atasannya itu.


“hmm.. dia sedang merajuk. Kira-kira makanan apa yang bisa membuat seseorang bahagia.” Ansell bergumam seraya mengedarkan pandangannya pada bahan-bahan masakan yang bi Ijah susun dimeja sebelum ia mengolahnya.


“amm.. bagaimana kalau bibi buatkan pudding atau cookies, nona Ahreum suka yang manis-manis ga ya.” sahut bi Ijah sembari ikut berfikir makanan apa yang akan disukai oleh Ahreum.


“merajuk?


Tapi aku baru saja melihatnya tadi ditaman depan sedang bercanda dengan Hanna dan seekor anjing sembari makan ice cream. Kelihatannya mereka bahagia sekali sampai tertawa lebar seperti itu.”


“APA?!” respon Ansell yang terkejut bukan main mendengar berita tersebut.


“bagaimana mungkin?


Semalaman aku berada didepan pintu kamarnya, bagaimana cara dia keluar?!” lanjut Ansell seraya melirik tajam ke arah pintu kamar Ahreum.


“cepat!! Cari sesuatu yang bisa membuka pintu kamarnya!!” perintah Ansell lengkap dengan raut wajah penuh emosional.


“tak perlu, bibi kan punya kunci cadangannya.” Celutuk bi Ijah yang kemudian berjalan ke sebuah laci dan mengambil kunci yang dimaksud.


Tepat saat bi Ijah hendak memberikan kunci tersebut tangan Ansell pun langsung menyambarnya kemudian bergegas menuju kamar Ahreum.


Whoossshhhh!!... angin berhembus kencang hingga membuat poni Ansell terbelah menjadi 2 bagian begitu pintu kamar berhasil terbuka oleh kunci cadangan yang dimiliki bi Ijah.


Dilihatnya sebuah jendela besar dikamar tersebut kini hanyalah tinggal serpihan kaca yang berserakan dipinggir dinding.


Kuat dugaan jika Ahreum telah menghancurkan kaca kokoh tersebut dengan sebuah kursi yang kini tergeletak tak jauh dari lokasi pecahan kaca tersebut.


Membuat Ansell semakin geram dan juga merasa lucu disaat yang bersamaan.


“ahhaahaha!!” terdengar suara tawa anehnya yang melengking membuat bulu kuduk Abi yang berdiri dibelakangany pun merinding seketika.


__ADS_1


“AHREUMMMMMMMM!!!!”


Bersambung...


__ADS_2