Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 63


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 02:00 tepat.


Beberapa jam sebelumnya, karena Ansell kembali mengalami kenaikan suhu tubuh efek samping sementara dari obat yang Elios berikan beberapa waktu lalu, membuat Ahreum harus terjaga semalaman disamping suaminya sembari mengompres keningnya dengan lap yang direndam diair es untuk menurunkan suhu tubuh suaminya.


Sampai Ahreum pun ketiduran dikursi dengan setengah tubuhnya yang terbaring disamping tubuh suaminya, bersamaan dengan terlelapnya gadis mungil tersebut, kedua mata Ansell mulai terbuka, menyadari ada sesuatu yang menempel dikeningnya ia pun langsung meraihnya dan menatap sapu tangan basah itu dengan tatapan anehnya, sebalum pandangannya beralih pada wajah Ahreum yang berada dekat disampingnya.


“kenapa dia tidur disini.” Gumamnya seraya bangun dari tidurnya kemudian duduk dan menyandarkan punggungnya disandaran ranjang masih dengan tatapan yang mengarah pada Ahreum.


Melihat tangan mungil yang berada disamping pahanya membuat ia tak tahan untuk tidak memegangnya, hingga ia pun akhirnya meraih tangan mungil tersebut dan mengusapnya lembut dengan jemari jempolnya.


Perlahan sudut bibirnya terangkat, entah kenapa kini hatinya merasa sangat bahagia sampai tak menyadari jika bibirnya telah membentuk huruf U.


“apa tanganmu masih terasa sakit?” ucap Ahreum yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya seraya mengarahkan pandangannya pada Ansell yang tampak terkejut lalu menarik tangannya secara kasar dari tangan Ahreum.


“kau pura-pura tidur?!” pekik Ansell lengkap dengan tatapan tajamnya.


“aku terbangun saat kau memegang tanganku.” Timpal Ahreum seraya mencoba meraih telapak tangan Ansell yang dibalut kain kassa untuk memastikan bagaimana kondisinya saat ini, ia takut jika darah segar itu kembali merembes membasahi kain kassa seperti sebelumnya.


“aku baik-baik saja, kau tak perlu mengkhawatirkanku!” katanya dengan nada suara tinggi seperti biasanya lalu menarik kembali tangannya dari genggaman Ahreum secara paksa dan membuang muka ke arah lain karena mendadak ia merasa gugup.


“baiklah kalau begitu, kau mau minum?” tawar Ahreum dengan nada lembutnya dan tidak terpengaruh pada sikap emosional suaminya.


“hmm..” respon Ansell yang masih menghindari tatapan lembut istrinya itu.


“oke, ku ambilkan dulu.” Sahut Ahreum seraya bangkit dari kursinya lalu menarik langkah menuju pintu.


Namun seperti ada yang kelupaan, ia pun kembali membalikan tubuhnya seraya memandangi suaminya yang masih pada posisinya.


“apa kau juga lapar? Kurasa kau belum makan dari siang tadi kan.” Lanjut Ahreum.


Alih-alih mendapat respon dari Ansell, lelaki yang tengah terduduk diatas ranjangnya itu pun tampak mencoba menarik jarum infusan dari telapak tangan yang satunya, kemudian melemparkannya ke sembarang arah, membuat Ahreum sontak mengernyitkan dahinya melihat tindakan yang dilakukan oleh suaminya tersebut.


“bukankah infusan harusnya dilepas oleh perawat atau dokter ya, kok main dicabut aja sih?” komen Ahreum kala Ansell mulai menginjakan kedua kakinya dilantai, kemudian ia pun berjalan tanpa memperdulikan ocehan Ahreum dan hanya melewatinya saja.

__ADS_1


“astaga, apa dia sedang mengabaikanku.” Dumel Ahreum pelan saat Ansell lebih dulu meninggalkannya dikamar.


“kau mau makan apa? Biar ku buatkan.” tawar Ahreum lagi yang tak ingin menyerah untuk melayani suaminya yang tengah terluka itu, seraya berlari kecil agar bisa menyamakan langkahnya dengan langkah panjang suaminya yang tengah berjalan menuju dapur.


“tak perlu, memangnya kau bisa masak?” tanya Ansell dengan nada yang terdengar seperti meremehkan.


“eeyyy, makanya aku tanya, kau ingin makan apa, meskipun aku belum pernah memasak tapi aku bisa mempelajarinya dari internet, semua resep dan cara memasaknya pasti ada.” Sahutnya lagi penuh dengan antusias.


“tidak perlu, aku akan memasaknya sendiri.” Kekeuh Ansell seraya mengambil sebuah panci kecil dari atas lemari kecil kemudian menaruhnya diatas wastafel dan dilanjut dengan mengucurkan air dari keran untuk mengisi panci kecil tersebut.


“ahh, kau mau masak mie rupanya.” Ucap Ahreum saat Ansell tengah membuka lemari yang lain dan mengeluarkan 2 bungkus mie instan.


Melihat air yang sudah melibihi batas, dengan sigap Ahreum pun menutup keran tersebut agar air berhenti mengalir, kemudian mengangkat panci yang sudah terisi dengan air mentah tersebut dan membawanya untuk diletakan diatas kompor.


Sudut bibir Ansell terangkat kembali, melihat kepekaan yang dimiliki istri mungilnya itu.


“sini biar aku saja.” Kata Ahreum saat ia telah menempatkan panci diatas kompor, kemudian mengambil paksa 2 bungkus mie instan dari tangan suaminya dan kembali mendekati kompor.


Ahreum menaruh 1 bungkus mie instan disamping kompor selagi ia membuka 1 kemasan lainnya, lalu mengambil beberapa bumbu dari dalam, tak ingin direpotkan dengan mencari-cari gunting ia pun lebih memilih untuk menyobekannya dengan jemarinya.


Ia pun mulai mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan untuk menemukan benda yang dapat membantu istrinya membuka kemasan bumbu dari mie instan. Karena tak dapat menemukan gunting diarea dapur, ia pun memutuskan untuk mencarinya ke ruang tengah.


Selang beberapa menit kemudian, setelah Ansell berhasil membawakan gunting untuk istrinya yang kesusahan itu, Ansell tampak mengangkat satu alisnya kala melihat Ahreum tengah mengaduk-aduk mie yang sudah berada didalam panci.


Apa dia sudah membuka kemasan bumbunya?’ Ansell membatin seraya berjalan perlahan mendekati Ahreum.


“kau darimana aja, mie nya udah mau mateng, tolong siapin 2 piring kecil ya diatas meja.” Pinta Ahreum lembut lengkap dengan senyuman hangatnya.


“kau sudah menuangkan bumbunya?” tanya Ansell seraya berjalan menuju lemari yang berisikan beberapa piring kecil, lalu meletakan gunting diatas meja terlebih dahulu sebelum ia mengambil 2 piring kecil serta alat makan lainnya.


"heem, ku sobek pakai gigiku." sahutnya.


Begitu ia melihat Ahreum telah mematikan kompor dan bersiap untuk mengangkatnya, kedua kakinya langsung bergegas menghampiri keberadaan Ahreum.

__ADS_1


“biar aku saja yang angkat.” Kata Ansell dengan nada tegasnya, karena tak ingin membantah suaminya, Ahreum pun memutuskan untuk mundur dari tempatnya dan membiarkan Ansell yang kini mengambil alih tempatnya.


“hati-hati.” Ucap Ahreum kala Ansell tengah memindahkan panci yang berisikan 2 mie instan ke atas meja.


“waaahh, kayanya enak banget, hihii, baru kali ini aku makan mie subuh-subuh.”gumamnya saat panci yang berisikan mie itu telah mendarat dengan baik diatas meja, ia pun buru-buru menduduki kursinya sembari memegangi garpu lengkap dengan kedua mata yang sudah benar-benar tak sabar untuk menikmati mie instan yang berada dihadapannya.


“kau juga belum makan?” tanya Ansell seraya membuka penutup panci dan meletakannya disudut meja, kemudian mendudukan bokongnya dikursi yang bersebrangan dengan istrinya.


“belum, bagaimana aku bisa makan disaat kondisimu seperti tadi.” Sahut Ahreum seraya menyibakan tangannya sesaat diatas kepulan asap yang berasal dari mie instan.


“hmm, besok kau masih cuti kuliah?


Apa rencanamu?” tanya Ansell seraya meraih teko kaca dan 2 gelas yang berada dipinggir meja, kemudian menuangkan air ke dalam 2 gelas tersebut, sementara itu Ahreum yang sudah kelaparan ia lebih dulu menyantap mie yang masih panas dengan beberapa tiupan sebelum melahapnya.


“aku, besok.. amm..” ucapnya disela aktifitas mengunyahnya.


“pertama, aku akan mengemas pakaian dan kebutuhan lainnya, lalu.. apa kau mau ku bawakan makan siang?”


“uhuuukk..uhuuukk!..” kalimat yang tak terduga membuat Ansell tersedak saat tengah meneguk air minumnya.


“kenapa? apa ada yang salah?” tambah Ahreum yang keheranan.


“tiba-tiba,


Apa yang membuatmu ingin membawakanku makan siang?” tanya Ansell lagi.


“memangnya tidak boleh ya?


Ibuku juga sering membawakan makan siang untuk ayah.” Katanya lagi seraya menikmati mie buatannya.


"jadi kau ingin bersikap seperti seorang istri sungguhan?" sinis Ansell lengkap dengan sorot mata tajam dan juga bibir yang tersenyum penuh arti.


Bersambung...

__ADS_1


***


__ADS_2