
“kenapa paman ada disini?” tanya Ansell begitu ia melihat Elios sang paman keluar dari ruangan istrinya.
“tadi aku melihat istrimu pingsan, kurasa tak ada salahnya jika aku mengecek kondisinya, karena kita adalah keluarga sekarang.” Sahutnya seraya menutup kembali pintu ruangan tersebut lengkap dengan senyuman ramahnya.
Setelah meresponnya dengan anggukan Ansell pun berniat untuk menarik handle pintu ruangan tersebut dan menyudahi sapaan singkatnya pada Elios. Namun lengan Elios lebih dulu menghentikannya membuat Ansell reflex langsung menatapnya dengan satu alisnya yang terangkat.
“bisa kita bicara?” ucap Elios seraya menatap lekat keponakannya tersebut yang mengurungkan niatnya untuk mendorong pintu ruangan istrinya.
***
Diatap gedung.
Sudah ada Hanna dan Abi yang tengah menongkrong dipinggir pembatas seraya memandangi pekarangan hotel dengan minuman kaleng yang berada dalam genggaman masing-masing.
“nona nekad sekali sampai melompati balkon, itu kan sangat berbahaya bagaimana jika nona terpeleset.”
“panggil saja namaku, kak Abi tak perlu formal bangetlah, kita kan sudah berteman.” Sahut Hanna lengkap dengan senyuman lebarnya yang ia tunjukan pada lelaki yang tengah berdiri disampingnya itu.
“sejak kapan memangnya?” tanya Abi kemudian meneguk minumannya sekali sebelum menoleh ke samping.
“sejak kak Abi menyelamatkanku dari lelaki brengsek itu.” Kata Hanna lengkap dengan nada manja seraya mengaitkan satu tangannya ke tangan Abi dan menggesek-gesekan lembut 1 pipinya ke lengan kekarnya.
“oke oke, tapi maaf bisa kau lepaskan tautan tanganmu, aku sangat tidak nyaman.” Keluh Abi seraya mencoba melepaskan tautan tangan Hanna dari tangannya.
“tidak mau tuh, hehehe!!” goda Hanna yang malah semakin agresif.
Ceklek.. ceklek..
Terdengar suara handle pintu penghubung atap seolah hendak terbuka, sontak keduanya pun langsung mengarahkan pandangannya ke pintu tersebut.
Sadar akan ada seseorang yang hendak bergabung bersamanya diatap, Hanna pun langsung menarik secara paksa lengan Abi dan membawanya ke sudut untuk bersembunyi.
Karena gerakan cepat Hanna membuat Abi hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan gadis kasar itu pada dirinya.
Karena pintu penghubung atap tersebut sudah rusak, hingga membuat Ansell sedikit kesulitan saat hendak mendorong pintu tersebut.
Mereka berdua pun berjalan menuju tempat yang sebelumnya ditempati oleh Hanna dan Abi.
__ADS_1
“ku kira kau akan terus mempertahankan cintamu, Ilona.” Ucap Elios yang mengawali pembicaraan tersebut.
“tidak, maksudku, dulu kau bersikeras sekali tidak ingin dijodohkan dengan gadis itu sampai bertemu pun enggan, bahkan om dan tante juga kurasa sudah hampir menyerah dengan perjodohan itu.” Lanjtunya lagi, melihat reaksi Ansell yang langsung menatapnya tajam membuat Elios harus memperjelas maksud dari kalimatnya tersebut.
“aku tak mungkin menikahi gadis yang sudah tiada bukan, Ilona sudah tiada paman.” Respon Ansell seraya mengalihkan pandangannya dari wajah sang paman.
“apa?” kaget Elios, ia tak menduga akan mendengar jawaban seperti itu dari keponakannya.
“lalu, kau bersedia menikah dengan gadis pilihan tante bukan karena kau menyukainya? Melainkan karena kekasihmu yang telah tiada.” Elios mencoba menarik kesimpulan menurut versinya sendiri.
“tentu, memangnya alasan apalagi yang membuatku bersedia menikahi gadis yang bahkan bukan seleraku!” katanya lagi.
***
“aughh sial!! Dia ben..” sebelum Hanna sempat mengumpat lebih kerasa lagi dan hendak keluar dari persembunyiannya, Abi sudah lebih dulu menutup mulutnya rapat seraya menahan tubuhnya dengan lenganya yang lain, kemudian kembali berjongkok seperti semula.
***
“kenapa kau bisa sejahat itu pada gadis yang tak bersalah Ansell, kau tahu dia juga hanya korban dari janji konyol para tetua jaman dahulu, kau tak boleh memperlakukannya seperti itu.” Tegas sang paman seraya menatap bagian samping wajah Ansell.
“paman..
Teruslah berada dalam dunia paman sendiri dan tak perlu mengkhawatirkan apa yang terjadi dikeluargaku.” Tegas Ansell lengkap dengan kedua sorot mata tajamnya ia pun berbalik dan meninggalkan Elios lebih dulu.
***
“aiish!! Lihat saja akan aku adukan hal ini pada Ahreum.” Gumam Hanna pelan setelah Abi melepas bungkaman mulutnya.
“apa kau ingin melihat temanmu bercerai?” timpal Abi.
“biarin aja, toh masih ada paman nya kan yang baik hati dan tidak sombong seperti pria brengsek itu, cuuiihh!! Aku tak sudi dia menjadi adik iparku.” celotehnya lagi
“bagaimana mungkin pak Ansell menjadi adik ipar, pak Ansell lebih tua darimu.”
“yak! Tapi secara teknis dia menikahi Ahreum yang sudah ku anggap adikku sendiri, itu artinya..”
Belum sempat Hanna menuntaskan kalimatnya, mereka dikejutkan oleh sepasang kaki yang tiba-tiba saja berada dihadapannya.
“Abi, kau tahu kan, menguping itu bukan hal yang benar.” Ucap Elios seraya menundukan pandangannya ke bawah, mereka berdua terlalu asyik berbincang sampai tak menyadari jika nada suara mereka sudah tidak lagi seperti orang berbisik.
__ADS_1
Melihat kehadiran Elios yang tengah berdiri tepat di hadapan keduanya, baik Hanna maupun Abi bangkit dari jongkoknya kemudian saling melempar tawa kecil, layaknya orang yang sudah tertangkap basah.
“Iya pak Elios, maafkan saya, saya tidak bermaksud menguping, hanya saja memang tadi kami sudah lebih dulu berada disini.” Jelasnya dengan raut wajah penuh penyesalan.
“hmm..” Elios hanya bisa menghela nafas dan menggelang kepalanya, kemudian ia pun pergi setelah cukup menegur asisten Elios yang sudah ia anggap sebagai keponakannya juga, sebab memang sedari kecil dirinyalah yang selalu menjaga Ansell dan Abi disaat kedua orang tua Ansell berpergian ke luar negeri.
***
Kembali ke ruangan Ahreum.
Begitu Ansell membuka pintu ruangan tersebut, ia sudah mendapati istrinya tengah mengikat rambut panjang ikalnya dan juga sudah mengganti gaun penganntinya dengan baju casual yang sebelumnya ia pakai saat datang.
“kau sudah lebih baik, Ahreum?” tanya Ansell yang berjalan mendekati Ahreum.
“hm, iya sudah.” Sahut Ahreum setelah menyelesaikan ikatan terakhirnya, ia pun beralih ke ponsel miliknya yang sebelumnya diletakan diatas ranjang dibawah badcover.
“apa yang kau lihat?” tanya Ansell penasaran sebab Ahreum begitu serius memandangi layar ponselnya.
“ahh ini, ada yang mengirimkan kisi-kisi soal yang akan muncul diujian nanti di group.” Sahutnya yang masih terfokus pada layar ponselnya dan hanya melirik ke arah suaminya sesaat.
“kau menangis?” tebak Ansell, seraya memegang dagu Ahreum lalu mengarahkannya tepat ke depan wajahnya.
“tidak, kenapa juga aku menangis.” Sanggah Ahreum seraya menepis lengan Ansell dari dagunya dan mengalihkan pandanganya ke arah lain.
“jangan berbohong, atau aku akan mencari tahu sendiri apa penyebabnya!” ancam Ansell seraya menatapnya tajam dan kembali mengarahkan wajah Ahreum tepat ke hadapan wajahnya.
“aku hanya pusing tadi dan perutku juga sedikit mual, kalau tak percaya tanya saja pada ayah, karena sebelum masuk aula pun aku sudah merasakan sakit itu.” jelasnya panjang lebar.
“kau minum ya semalam?!” tebak Ansell kembali yang sekilas seperti mencium sisa bau alkohol yang masih menempel dimulut istrinya tersebut.
“iya.” Jawab Ahreum dengan polosnya.
“YAK! BAGAIMANA KAU BISA MINUM-MINUM DIHARI SEBELUM PERNIKAHANMU, AHREUM NATHANIA!” bentak Ansell.
“ahhh sudahlah aku lelah mendengarnya, kau tahu sedari pagi juga aku sudah dimarahi karena hal itu, jadi jangan menambahnya lagi, kepalaku rasanya mual lagi nih.” Rengeknya seraya memegangi sudut kepalanya.
“sejak kapan kepala bisa mual?! Kau ingin memuntahkan otakmu yang hanya secuil itu.” Ketus Ansell yang kemudian pergi berlalu meninggalkan Ahreum yang sebenarnya hanya pura-pura sakit saja.
__ADS_1
Bersambung…
***