Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 44


__ADS_3

15 menit kemudian.


Setelah menunggu lama akhirnya sang keponakan pun muncul dengan nafas yang masih tak beraturan, layaknya seseorang yang baru saja berlarian mengejar waktu.


“akhirnya kau datang juga Elios.” Ucap Andrew seraya mengusap bahu bidang pria tersebut lengkap dengan senyuman hangatnya.


Bersamaan dengan kehadiran Elios di aula, acara pelemparan bucket pun dimulai membuat suasana kembali meriah penuh sorak sorai dari beberapa tamu undangan yang antusias untuk bisa mendapatkan bucket bunga dari sang pengantin wanita.


Sang pengantin wanita pun hendak memulai aksinya dengan membelakangi para tamu undangan, seraya menunggu aba-aba dari sang pemandu acara untuk melemparkan bucket bunga yang sedari tadi digenggamnya.


“maaf karena aku benar-benar tidak bisa membujuk Xena untuk datang paman, karena..” belum sempat Elios menuntaskan kalimatnya, ia sangat terkejut kala melihat sebuah bucket bunga tengah melayang ke arahnya, tanpa berfikir panjang ia pun langsung menangkap bunga itu dengan satu tangannya.


Begitu bucket bunga telah tertangkap oleh seseorang, para tamu undangan yang berburu bucket bunga itu pun hanya bisa menghela nafas pasrah lalu kembali ke tempatnya masing-masing, sebab kini bucket bunga tersebut sudah menemukan sang pemiliknya.


Sementara itu, entah kenapa kedua sudut bibir Elios terangkat begitu tinggi kala ia berhasil mendapatkan bucket bunga dari sang pengantin, konon katanya jika ada yang berhasil mendapatkan bucket bunga dari lemparan sang pengantin wanita, orang tersebut juga akan segera melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat.



Namun saat ia kembali meluruskan pandangannya ke depan, ia sangat terkejut mendapati sang pengantin wanita yang kini telah berbalik ke arahnya, adalah gadis yang tak asing baginya.


Iya gadis itu adalah Ahreum nathania, gadis yang mencampakannya kemarin siang, keduanya hanya bisa saling melempar tatapan tanpa ada sepatah kata pun yang terucap.


Sampai..


Tiba-tiba Ahreum merasakan pusing yang amat sangat hingga membuatnya reflex langsung memegangi sudut keningnya lengkap dengan raut wajahnya yang tampak meringis kesakitan, dengan sigap Ansell yang berdiri tak jauh dari keberadaan Ahreum pun langsung menangkap tubuh lemah Ahreum sebelum gadis malang itu terjatuh ke lantai.


Semua pengunjung pun panik dan saling bersahutan satu sama lain seraya mencoba untuk melihat situsi yang terjadi pada sang pengantin wanita tersebut. Hingga kekacauan pun tak terhindarkan diakhir pesta pernikahan yang seharusnya ditutup dengan foto keluarga besar antara keluarga Baghaskara dan Dirgantara.


Tak ingin menjadi konsumsi publik, Ansell pun langsung mengangkat tubuh mungil istrinya dan keluar dari aula pernikahan, menuju sebuah kamar yang sudah dipersiapkan oleh para staff yang cekatan dari hotel tersebut.


“mohon tenang semuanya, mohon tenang, karena kejadian tidak terduga yang dialami oleh pengantin wanita, maka sesi foto bersama dengan keluarga juga kerabat dekat, dengan berat hati kami batalkan, mengingat kesehatan dari kedua mempelai adalah hal yang paling utama, untuk itu kami mohon pengertiannya, sekian dan terimakasih.”


Disaat pemandu acara terlihat gugup dan tak tahu harus berkata apa, beruntung Abi langsung berlari menghampirinya dan mengambil alih mic yang tengah dipegangnya, untuk menjelaskan situasi yang terjadi saat ini.


Meski terdengar ada beberapa keluhan dari para tamu namun tetap saja mereka mau tak mau harus bisa memaklumi musibah yang kini telah terjadi pada sang pengantin wanita.


“terimakasih ya, kau sudah bekerja dengan baik.” Ucap Abi pada sang pemandu acara sebelum ia pergi menyusul Ansell.


***

__ADS_1


Begitu Ansell membawa Ahreum pergi dari aula, keluarga Dirgantara juga Baghaskara pun tampak tergesa-gesa untuk menyusul dan memastikan keadaan Ahreum.


“Seno, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba peri kecil ayah bisa pingsan?” panik salah seorang pria yang sudah berumur tersebut yang tak lain adalah kakek dari Ahreum nathania  yang kala itu juga ikut menyaksikan pernikahan dari cucu semata wayangnya.


“ayah tidak perlu khawatir, kurasa Ahreum hanya kelelahan.” Paparnya yang mencoba menenangkan sang ayah yang begitu tampak khawatir.


“haduuh, kemana sebenarnya Ansell membawa Ahreum.” risau Carrisa seraya menghentikan langkahnya sejenak, dan diikuti juga oleh keluarga Baghaskara, sebab mereka semua sama-sama tidak tahu keberadann keduanya kini.


“aawww!..” ringis Enzy seraya memegangi perut buncitnya.


“ada apa sayang?” tanya Seno yang dengan sigap merangkul sang istri.


“perutku sakit sekali, sepertinya aku sudah ingin..” tak sanggup menyelesaikan kalimatnya Enzy keburu ambruk sembari masih memegangi perutnya.


“yasudah lebih baik kau ke rumah sakit saja sekarang, biar ayah dan juga keluarga Dirgantara yang mencari Ahreum.” Perintahnya seraya membantu menantunya agar bisa kembali berdiri.


Namun tampaknya Enzy benar-benar tak sanggup untuk kembali berdiri, sebab kedua kakinya kini terasa sangat lemah untuk menopang tubuh besarnya.


“pak Andrew, maaf sepertinya saya juga harus ikut ke rumah sakit, saya percayakan cucu perempuan saya pada pak Andrew.” Ucap sang kakek seraya mengaitkan lengan menantunya ke lehernya sedangan lengan yang satu lagi dikaitkan leher suaminya.


“iya baik pak Darren, kami yang akan merawat Ahreum disini, pak Darren, mas Seno, dan juga mba Enzy tak perlu khawatir, karena kmi juga sudah mengganggap Ahreum sebagai putri kami sendiri.” Timpal Carrisa seraya mengusap 1 pipi Enzy, sebelum karibnya tersebut dibawa oleh suami dan mertuanya setelah mengucapkan terimakasih pada Andrew dan Carrisa.


***


“jaga kamar ini, jangan sampai ada siapapun yang masuk dan mengganggu istriku! Terutama tiga serangkai pembuat onar itu, suara mereka akan membuat istriku semakin sakit.” Perintah Ansell pada kedua penjaga pintu  tersebut, setelah ia membaringkan istrinya diranjang ia pun berniat untuk pergi sebab ada hal mendesak yang harus ia tangani saat itu juga.


“SIAP PAK!” sahut kedua penjaga tersebut dengan semangat juang yang membara dalam tubuhnya.


Selang beberapa menit setelah kepergian Ansell, ketiga serangkai yang dibicarakan oleh Ansell tadi pun akhirnya muncul lengkap dengan raut wajah panik dan khawatirnya, mereka bertiga berjalan cepat menuju sebuah ruangan tempat Ahreum dibaringkan.


Namun saat ketiganya mendekat, kedua penjaga itu pun langsung menghadangnya lengkap dengan tatapan tajam layaknya orang yang ingin ngajak ribut.


“ada apa ini? kita hanya ingin bertemu dengan teman kita Ahreum, Ahreum pasti didalam kan?!” seru Nayeon yang tak ada takut-takutnya malah membalas tatapan dari kedua penjaga tersebut.


“tidak boleh! Perintah pak Ansell tidak ada yang boleh masuk, termasuk ketiga serangkai pembuat onar, dan itu kalian!”



“AUGHH SHITT!! YAK, APA KALIAN FIKIR AKU TAKUT, HANYA MODAL TAMPANG SANGAR AJA, AKU JUGA BISA!!” teriak Hanna yang tak kalah ngegasnya.

__ADS_1


“jika kalian tidak pergi dari sini, dengan terpaksa saya akan menyeret kalian bertiga keluar dari gedung ini!” ancam salah satu penjaga tersebut lengkap dengan tatapan mengintimidasinya.


Karena tak ingin ada keributan yang lebih lanjut, akhirnya Jeno pun memutuskan untuk menarik kedua temannya pergi dari area tersebut.


“hey.. hey ayoolaah, Ahreum pasti baik-baik saja didalam, jangan buat keributan yang tak berguna, ayo pergi saja.” Ajak Jeno seraya merangkul tubuh Nayeon dan menarik tali tas kecil milik Hanna.


Namun tak ingin pergi begitu saja, disaat Jeno menarik tali tas nya, dengan jalan mundur Hanna masih terus memperhatikan kedua penjaga tersebut dengan tatapan mematikannya seraya menunjukan gerakan jemari yang hendak menusuk kedua mata para penjaga tersebut, kemudian diakhiri dengan gaya mengibaskan tangan ke lehernya seolah ia ingin mengatakan “ku bunuh kau!” begitulah jika diartikan dalam sebuah kalimat.


Begitu Jeno melepaskan genggamannya pada tali tas Hanna, dan kebetulan kedua penjaga itu pun sepertinya sudah tidak menatapnya lagi, muncul 1 ide gila dalam fikirannya yang kemudian langsung ia realisasikan dengan tindakannya saat ini.


Iya, dia masuk ke dalam sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati Ahreum. Dengan gerakannya yang cepat juga apik, sampai baik Jeno maupun Nayeon tidak menyadari jika kini Hanna sudah tidak lagi berada dibelakangnya.


Dibalkon kamar tersebut, tampak Hanna masih mencoba mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menaiki pagar pembatas dan melompat ke balkon kamar yang satunya.


“aughh shiit!! Yak! Aku mempertaruhkan nyawaku hanya untuk memastikan kau baik-baik saja Ahreum.” Gumam Hanna yang kemudian melompat ke sisi balkon yang lain.


Bruukkk!! Terdengar suara yang cukup nyaring dari balkon kamarnya, membuat Ahreum reflex membuka matanya dan melirik ke arah asal suara tersebut. namun saat pintu penghubung balkon hendak terbuka, ia pun kembali memejamkan matanya.


“YAK! Berhenti berpura-pura, aku tahu kau tidak pingsan sungguhan kan.” Celetuk Hanna seraya berjalan sedikit pincang menghampiri sisi ranjang yang ditiduri Ahreum.


“Hanna.” Kaget Ahreum yang kemudian bangun dari tidur pura-puranya.


“bagaimana kau bisa disini?” tambah Ahreum seraya memandangi karibnya tersebut yang kini sudah berada disampingnya.


“ahh itu nanti saja!” katanya seraya mengibaskan tangannya tanda ingin menskip pembahasan tersebut.


“apa yang sebenarnya terjadi?” lanjut Hanna.


“apa kau melihat lelaki yang menerima bucket bunga dariku?”


“hmm, pria itu tampan sekali, YAK! Kau kan..”


“dia adalah pria yang ku ceritakan padamu, Elios.” Potong Ahreum yang membuat Hanna seketika melongo mendengar pernyataan karibnya tersebut.


"apa!"


bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2