
***
Kembali ke rumah sakit Haneul Jakarta.
Saat Ahreum hendak keluar dari lift yang membawanya turun ke lantai dasar, ia tak sengaja menabrak bahu seseorang yang hendak masuk ke dalam lift, yang membuatnya langsung membungkukan tubuhnya sedikit ke arahnya seraya mengucapkan kalimat permintaan maaf secara tulus.
“maaf, saya tidak sengaja.” Ucapnya tanpa menatap orang tersebut ia langsung menundukan kepalanya dan meminta maaf, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
“YAK! Ahreum!!” panggil seseorang yang tak lain adalah Ansell, orang yang menerima permintaan maaf dari Ahreum.
Ahreum pun menoleh ke asal suara tersebut, dilihatnya Ansell sudah berdiri didalam lift dengan Abi yang berada disampingnya tengah memegangi tombol pause lift agar pintunya tidak tertutup lebih dulu.
“kemari!!” perintah Ansell lengkap dengan kedua mata tajamnya.
“amm, aku ada kelas siang ini, aku duluan ya bye!” seru Ahreum yang kemudia lari terbirit-birit saat mengetahui jika lelaki yang ditabraknya barusan adalah Ansell dirgantara.
“Aughh sial!! Baru kali ini ada gadis yang tidak takut padaku, dia benar-benar membuatku semakin bersemangat, haha.” Celetuk Ansell, Abi yang mendengarnya hanya menggeleng kepalanya serta melepaskan jemarinya dari tombol pause agar pintu lift kembali berjalan sebagai mana mestinya.
“kurasa akan sulit.” Sahut Abi seraya memalingkan wajahnya dari Ansell yang reflex memandanginya kala mendengar sahutan Abi yang seolah tengah meremehkan dirinya.
“maksudku, nona Ahreum memang berbeda dengan gadis-gadis yang sering kau temui itu.” Imbuhnya lagi agar Ansell berhenti memelototi dirinya.
“ciih!!
Mau taruhan denganku?!” celetuk Ansell seraya menatap tajam ke arah Abi.
“taruhan?” ulang Abi dengan alisnya yang mengerut.
“iya, dalam 1 bulan aku akan membuatnya jatuh cinta padaku, bahkan mungkin akan tergila-gila sampai tak ingin berpisah denganku.” Celotehnya percaya diri.
“bagaimana jika yang terjadi malah kebalikannya?” sahut Abi.
“hahaa!! Itu tidak akan pernah terjadi!” tegas Ansell mantap.
“tidak ah, lagipula apa untungnya bagiku.” Tolak Abi seraya kembali memalingkan wajahnya.
“oke, aku akan mengabulkan apapun permintaanmu, hanya satu permintaan.”
“3.” Respon Abi yang mencoba menyembunyikan tawa liciknya.
“oke!”
Kemudian keduanya pun saling berjabat tangan untuk mengakhiri kesepakatan diantara keduanya kala itu lengkap dengan sorot mata tajam juga senyum yang menyeringai, seolah kedua sama-sama yakin dengan apa yang akan terjadi nanti.
***
__ADS_1
Berpindah ke tempat berbeda, yaitu didalam mobil yang dikendarai oleh Jeno dan Nayeon yang tengah duduk disamping kursi pengemudi masih dengan raut wajah yang sama seperti pada awal ia menduduki kursi tersebut.
Wajah kesal seraya melipat kedua tangan diatas dadanya, ia terus saja menatap ke balik jendela mobil dan menghindari tatapan Jeno.
“apa kau akan terus seperti ini Nay?” tanya Jeno yang masih mencoba merendahkan nada suaranya.
“jujur saja, sebenarnya apa kau memiliki perasaan untukku?” alih-alih menjawabnya, Nayeon malah mengajukan pertanyaan lain pada Jeno, seraya menatap wajah bagian samping Jeno.
“kita sudah bersama selama hampir 3 tahun Nayeon, kau fikir jika bukan aku mencintaimu lalu apa?!” tukas Jeno yang sudah kehilangan kesabaran menghadapi sikap Nayeon yang keras kepala tersebut.
“bagaimana dengan Ahreum?” balas Nayeon.
“aku memang mengungkapkan perasaanku padanya, tapi hanya sebatas itu saja, karena aku tak ingin ada yang mengganjal dihatiku, jadi kurasa aku harus mengungkapkannya, bukan berarti aku berharap ia membatalkan pernikahannya dengan Ansell.”
“yak! Kau ini munafik sekali, kau percaya pada kalimat jika cinta tidak harus memiliki?! Tidak Jeno! Tak ada orang yang benar-benar bisa melakukan hal itu, kalimat itu hanyalah omong kosong!”
“lalu kau ingin bagaimana sekarang Nay?! Kau sendiri yang membantah keinginanku untuk berpisah bukan, jadi kau mau berhenti atau lanjut sekarang?!” tegas Jeno lengkap dengan tatapan tajamnya ia menoleh ke arah Nayeon untuk sejenak sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan didepannya.
Nayeon pun akhirnya berhenti bicara kala Jeno kembali membahas tentang nasib dari hubungannya, sebab dalam hati kecilnya ia masih sangat mencintai Jeno, hanya saja egonya kini telah menguasai dirinya sehingga ia terus saja emosional.
“oke, aku akan memberikanmu waktu untuk berfikir, mari kita merenung dan memperbaiki diri selama beberapa waktu, jika masih tidak berhasil juga, kita bisa..”
“kita bisa menikah maksudku..” lanjut Jeno lengkap dengan senyum jailnya yang membuat kedua pipi Nayeon memerah karena menahan malu, sebab ia fikir Jeno akan mengatakan kalimat yang akan mengkhiri hubungannya.
“yak!! Berhenti menggodaku.” Rengek Nayeon seraya memalingkan wajahnya dari Jeno.
***
Malam harinya di depan toserba yang berada diarea kampus Ahreum.
Tampak Ahreum masih duduk santai dikursi yang disediakan oleh pihak toserba, dengan beberapa cemilan diatas meja yang ia beli sebelumnya.
“kau sudah lama disini?” tanya Hanna yang baru saja datang kemudian duduk dikursi sebelah Ahreum dan meletakan tas kecilnya diatas meja.
“hmm, sekitar 1 jam.” Sahut Ahreum seraya mengunyah cemilannya.
“kau masih kuliah?
Padahal besok hari H, bukankah seharusnya kau sudah mengambil libut untuk sementara.”
“memangnya kenapa? tidak boleh.” Celetuknya.
__ADS_1
“ciih!!
Kau ini mahasiswa teladan sekali, kalau aku jadi kau, mungkin seminggu atau 2 minggu sebelum pernikahan aku sudah mengambil cuti.” Sahutnya lengkap dengan lirikan sinisnya.
“jangan samakan aku dengan pemalas sepertimu, kau seharusnya malu pada dirimu sendiri, kau bahkan hampir tak bisa naik kelas dulu.” celetuk Ahreum seraya meletakan ponsel nya diatas meja.
“aughh!!” dengus Hanna kesal, kemudian mengambil kaleng minuman diatas meja untuk mengaliri kerongkongannya dan dilanjut dengan ikut memakan cemilan yang dibeli oleh karibnya tersebut disela obrolannya yang semakin memanas.
“ahh iya, kau sudah menyampaikan terimakasihku pada sosok pahlawanku itu?” tanya Hanna yang kembali melanjutkan obrolannya dengan pembahasan yang berbeda.
“belum, kau katakan saja sendiri.” Timpal Ahreum yang asyik menyemil makanannya kemudian menaikan kedua kakinya ke kursi untuk mencari posisi ternyamannya.
“okee!! Mana kontaknya, aku akan mengajaknya makan malam sebagai tanda terimakasihku padanya.” Sahut Hanna yang tampak antusias sekali.
“ciih! Sepertinya kau bersemangat sekali, naksir ya?” celetuk Ahreum yang membuat Hanna membulatkan kedua matanya.
“kalau ya memangnya kenapa?!” ketus Hanna.
“hahahaa!! Bukannya kau kembali untuk Jeno, bagaimana dengan Jeno?”
“yaa setidaknya aku harus memiliki cadangan bukan, jika aku tak bisa kembali pada Jeno setidaknya aku bisa memiliki pahlawanku itu.” Sahutnya lagi.
“auughhh, kau sudah memiliki rencana rupanya, tapi bagaimana ya, sepertinya Jeno mu itu sudah ada yang memiliki tuh.”
“hah, siapa? Apa dia lebih cantik dariku?”
“sudahlah relakan saja Jenomu itu dengan yang lain, sebagai gantinya aku akan mendekatkanmu dengan kak Abi, bagaimana? Kurasa mereka sama tampan, malah jauh lebih baik kak Abi daripada Jeno.” Bujuk Ahreum agar karibnya itu berhenti mengejar lelaki yang sudah dimiliki orang lain.
“kenapa?” sahut Hanna dengan mengernyitkan keningnya.
“kak Abi lebih dewasa darimu, sudah pasti dia bisa sabar menghadapi sikapmu yang masih kekanak-kanakan, beda dengan Jeno, dia masih labil sama sepertimu, kemungkinan kau akan berkelahi setiap hari.” Jelas Ahreum.
“tapi setidaknya Jenoku sangat romantis bukan.” Respon Hannya seraya menyunggingkan senyum lebarnya dan membayangkan wajah Jeno yang seringkali membuatnya jatuh cinta.
“ciihh!!
Romantis pantatmu! Jika dia menggoda semua wanita itu bukan romantis tapi brengsek.” Timpal Ahreum seraya menurunkan kembali kedua kakinya untuk mengambil kaleng minuman yang berada diatas meja.
“tunggu, ini seperti bukan dirimu, apa ada sesuatu yang terjadi antara kau dan Jeno?” tebak Hanna lengkap dengan kedua mata tajamnya seolah ia tengah mengintrogasi karibnya tersebut.
“uhuukk..uhuukk! mak..sudmu?” alhasil Ahreum pun tersedak dibuatnya.
“kau tak pernah sekalipun menjelekkannya bahkan mengumpat Jeno, jujur saja, apa ada yang terjadi diantara kalian berdua?” lanjut Hanna yang terus membuat Ahreum tersudut.
***
Bersambung…
__ADS_1