
Sementara itu dirumah sakit Haneul Jakarta.
Disalah satu ruang rawat inap, tampak Jeno tengah terduduk dikursi yang berada disamping ranjang Nayeon dengan setengah tubuh atasnya terbaring ditepian ranjang Nayeon.
Begitu Nayeon membukakan kedua matanya ia sudah mendapati wajah kekasihnya berada didepannya, tanpa sadar kedua sudut bibirnya pun terangkat, meski hatinya masih terasa sakit namun tak dapat dipungkiri hanyalah Jeno yang diinginkannya sejak dulu maupun saat ini.
“kau sudah bangun?!” sapa Hanna yang tengah berdiri disudut ranjang sembari melipat kedua tangan diatas dadanya lengkap dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Nayeon.
“bisa kita bicara diluar?” lanjut Hanna lengkap dengan tatapan seriusnya.
Tanpa berkata, Naeyon pun mencoba bangun dari tempat tidurnya dengan hati-hati karena takut gerakannya akan membangunkan Jeno, kemudian menyusul Hanna yang sudah lebih dulu menarik langkah keluar dari ruangannya.
***
Diatap rumah sakit.
Keduanya berjalan menuju tepi dinding pembatas, “ini..” ucap Hanna sembari memberikan minuman kaleng rasa strawberry pada Nayeon yang sudah dirinya buka terlebih dahulu, dengan senang hati Nayeon pun menerimanya lalu meneguknya beberapa kali untuk mengaliri kerongkongannya.
Selagi Nayeon menikmati segarnya minuman yang diberikan oleh Hanna, Hanna pun tampak tengah mencoba membuka kaleng minuman miliknya sebelum memulai pembicaraannya.
“aku tak bermaksud untuk melibatkan diri ke dalam kisah cintamu, hanya saja, aku juga tak bisa terus membiarkanmu seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.” Hanna membuka pembicaraan diantara keduanya dengan pandangan mengarah ke pekarangan rumah sakit.
“keluarga Jeno bukanlah seperti yang kau bayangkan selama ini, Nay. Intinya mereka hanya akan menerimamu jika kau setara dengan keluarga mereka, baik itu pendidikan, keadaan finansial dan juga bagaimana pekerjaan orang tuamu.
Kau fikir kenapa aku memutuskan untuk menyerah pada Jeno, karena aku sudah tak memiliki apapun sekarang, Nay. Meskipun aku ingin kembali seperti dulu, aku ga bisa, tak ada yang bisa dibanggakan dariku sekarang.” Ungkapnya dengan sesekali meneguk minuman kalengnya dan melirik kearah Nayeon yang tampak mulai emosional.
Dan benar saja setelah beberapa menit hening, tangis Nayeon pun pecah bersamaan dengan pelukan yang mendarat ditubuh Hanna. Meski dirinya terkejut namun tetap saja Hanna tak bisa langsung melepas pelukan yang diberikan oleh musuh bebuyutannya itu.
“hiikkss.. hikksss.. maafkan aku Hanna, aku sudah terlalu kasar padamu selama ini, kau tahu, apa yang membuatku selalu sarkastik padamu, itu karena aku iri padamu, kau memiliki kedua orang tua utuh yang sama-sama bekerja diperusahaan ternama di Jakarta, belum lagi kisah cintamu yang mulus dengan Jeno, dan teman baikmu Ahreum yang selalu ada untukmu, bahkan Ahreum rela berkorban menggantikanmu dihukum waktu sekolah.
Sedangkan aku anak buangan, tak ada satupun yang mau berteman denganku karena ayahku yang seorang kepala gangster membuat mereka menjaga jarak dariku. Kisah cinta apalagi, saat aku menyukai lelaki mereka selalu menolakku dengan alasan aku terlalu menyeramkan untuknya.
Tak ada satu pun yang berjalan sesuai keinginanku, aku benar-benar.. benar..” tak dapat meneruskan lagi kalimatnya Nayeon hanya bisa menangis sekencang-kencangnya dalam pelukan Hanna.
***
Kembali ke aparteman.
__ADS_1
“kemana bi Ijah?” tanya Ahreum yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian menarik langkah menuju area dapur seraya menguncir rambut panjangnya ala ekor kuda.
Sementara itu Ansell yang sudah berada dikursi meja makan, saat mendengar suara Ahreum ia pun langsung meletakan ponsel yang berada dalam genggamannya ke atas meja. “ke pas..” Ansell menghentikan kalimatnya bersamaan dengan matanya yang membulat melihat pakaian yang kini dikenakan oleh Ahreum.
“YAK!!” bentak Ansell yang membuat Ahreum sontak terkejut saat hendak menarik kursi yang berada diseberang Ansell.
“astaga.. ada apa sih?!” keluh Ahreum yang masih memegangi sandaran kursi seraya mengarahkan pandangannya pada Ansell.
“apa kau senang sekali menunjukan paha mulusmu itu? sejak awal kita bertemu, aku tak pernah sekalipun melihatmu mengenakan celana panjang atau setidaknya dress yang panjangnya sampai betismu. Kau selalu saja mengenakan celana atau rok yang sangat pendek seperti itu!” protes Ansell yang akhirnya buka suara dan mengomentari pakaian Ahreum, sebab kali ini memang pendeknya sudah benar-benar terlampau batas.
“aughh, kukira apaan.” Respon Ahreum yang tak terpengaruh dengan omelan Ansell, ia pun meneruskan kembali niatnya yang hendak duduk dan sarapan bersama suaminya pagi itu.
“aughh? Kukira apaan?
Apa kau tak mengerti maksud dari perkataanku barusan, Ahreum?!” pekik Ansell yang masih menajamnkan pandangannya pada tubuh mungil istrinya itu yang baru saja mendudukan bokongnya dikursi.
“iya.. iya aku mengerti, nanti setelah sarapan baru aku ganti.” Sahut Ahreum seraya membalikan piring yang ada didepannya lalu mengedarkan pandangannya ke setiap hidangan yang ada di meja makan.
“hmm..” Ansell menghela nafas seraya menggeleng kepalanya.
“padahal aku lebih senang tidak memakai baju.” Gumam Ahreum yang tengah mencidukan nasi ke piringnya.
“astaga, aku hanya bercanda.” Sahut Ahreum ditengah kerja jantungnya yang masih belum stabil.
“jujur saja, sebenarnya kau ada masalah apa sih denganku?
Apa kau juga memperlakukan mantanmu seperti ini?” tambah Ahreum seraya mengunyah makanannya.
“engga, karena dia ga pernah membantah semua perkataanku.” Respon Ansell sebelum menyantap suapan pertamanya kemudian kembali menatap Ahreum.
“ciihh.. setidaknya aku bisa menjanjikan satu hal padamu.” ucap Ahreum yang ikut menatap tajam kedua mata Ansell yang tengah memandanginya sedari tadi.
“apa?” tanya Ansell seraya menikmati sarapan paginya.
“sekasar apapun atau sesakit apapun perlakuanmu padaku, aku ga akan pernah mengkhianatimu, sampai pada waktunya kita harus berpisah. Itu janjiku padamu.”
“uhuukk.. uhuuuk..” mendengar pengakuan tersebut membuat Ansell tib-tiba terbatuk.
Dengan santai Ahreum meraih teko kaca yang berada disampingnya kemudian dituangkannya air ke dalam gelas milik Ansell yang masih kosong, kemudian memberikannya pada Ansell lengkap dengan senyum tipis, yang membuat Ansell semakin salah tingkah.
__ADS_1
Setelah meneguk habis air dalam gelasnya ia pun menepuk-nepuk dadanya agar bisa mengalirkan airnya dengan cepat.
“jangan seperti itu, kau akan menyakiti dadamu.” Ucap Ahreum seraya menahan tangan Ansell yang terus memukul-mukul dada bidangnya itu.
Tanpa sadar Ansell menepis tangan Ahreum dengan kasar, karena saking canggungnya. Ahreum pun hanya menghela nafasnya kemudian kembali meneruskan menyantap sarapan pagi yang hanya tinggal beberapa suapan.
Suasana sesaat hening kala keduanya fokus pada piring masing-masing.
Sampai.. treneengg.. suara pintu aparteman terbuka, menandakan jika ada seseorang yang hendak masuk ke dalam aparteman, membuat keduanya serempak menengok kearah tempat dimana seseorang akan muncul.
“pagi kak Abi!” sapa Ahreum lengkap dengan senyuman merekah yang menghiasai wajah imutnya.
“iya pagi juga nona Ahreum.” Balas Abis seraya menganggukan kepalanya untuk menyapa istri atasannya itu sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju area dapur.
“kak Abi udah sarapan? Sini duduk.” Ajak Ahreum seraya memundurkan kursi yang berada disampingnya.
“disini aja!” perintah Ansell yang ikut memundurkan kursi disebelahnya, sebab tak ingin jika Abi duduk disebelah istrinya.
“amm, saya berdiri aja ga apa-apa, hehe.” Ucap Abi yang diiringi dengan tawa renyahnya.
“saya juga sudah sarapan, nona, tadi dalam perjalanan kemari.” Lanjut Abi dengan pandangan yang mengarah pada Ahreum dan mengabaikan atasannya.
“ada yang ingin saya sampaikan pada nona.”
“kau tak salah?!” timpal Ansell yang tak suka jika Abi terlihat sok akrab dengan istrinya.
“aku atasanmu, memangnya apa yang akan kau sampaikan pada Ahreum?!” lanjut Ansell lengkap dengan tatapan sinisnya.
“ga usah dengarkan dia, kak.” Ucap Ahreum yang membela Abi, selagi menunggu kelanjutan kalimat Abi, Ahreum pun bangkit dari tempat duduknya seraya membawa piring kosong untuk diletakannya diwastafel, kemudian dilanjut dengan membersihkan tangannya dengan sabun yang ada disamping pancuran.
“amm, sebenarnya saya juga ragu untuk mengatakannya.” Sahut Abi yang memposisikan tubuhnya mengarah ke tempat Ahreum berada.
“kalau begitu tak usah dikatakan!” ketus Ansell seraya melahap suapan terakhirnya lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi seraya menatap tajam Abi yang tengah berdiri disamping meja.
“aughh!!” dengus Ahreum seraya mengambil piring milik suaminya yang sudah kosong kemudian menaruhnya diwastafel diatas piring kotor miliknya.
“abaikan aja dia, kak Abi, katakan ada apa?” Lanjut Ahreum yang kembali bergabung dan berdiri dibelakang kursi Ansell.
“nona Nayeon dibawa ke rumah sakit tadi malam.” Papar Abi yang akhirnya memutuskan untuk mengatakannya pada Ahreum.
“apa?” kaget Ahreum lengkap dengan raut wajah khawatirnya.
Bersambung…
__ADS_1
***