
Mobil Elios berhenti ditepi trotoar didepan toko serba ada, layaknya pria sejati Elios pun turun kemudian bergegas menuju sisi pintu yang lain untuk membukakan pintu.
Ahreum pun perlahan turun dari mobil lengkap dengan senyum manisnya yang mengarah pada Elios.
“terimakasih dokter Elios.” Ucap Ahreum yang kemudian berjalan selangkah lebih jauh dari mobil agar Elios bisa menutup kembali pintu mobilnya.
“kau tunggu disini sebentar ya. Setelah aku menidurkan Nana, aku akan kembali.”
“tidak.. aku bisa menunggu kakakku sendiri kok disini. Dokter ga perlu khawatir, kakakku juga ga akan lama.” Cegahnya seraya kembali mengembangkan senyuman manisnya.
Elios pun menghela nafas sejenak sebelum mengusap lembut bagian atas kepala Ahreum.
“baiklah, tapi kalau ada sesuatu terjadi, kau harus cepat-cepat menghubungiku ya.” Katanya lagi seraya menurunkan telapak tangannya sampai ke pipi mulus Ahreum kemudian mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.
Ahreum menggangguk disertai senyuman getirnya.
Karena meski terasa bahagia namun disaat bersamaan hati kecilnya terus memberontak dan mengatakan jika hal ini salah, sangat salah.
“oke, aku pergi. Jaga dirimu.” Pamit Eliso yang kemudian pergi meninggalkan Ahreum yang masih berdiri ditempatnya dan terus memandangi mobil Elios sampai hilang dari pandangannya.
Ahreum pun memutar tubuhnya lalu berjalan menuju kursi diarea pekarangan toko serba ada seraya merogoh tas kecilnya untuk mengeluarkan ponsel.
“Halo.. kak Ben..” panggil Ahreum begitu telfonnya tersambung.
“Iya. Kau dimana, Ahreum?” tanya Bennedict.
“aku ditoko serba ada, yang berada disebrang kampusku kak. Bisakah kakak menjemputku dan mengantarku pulang.” Pinta Ahreum.
“oke, tunggu, kakak kesana sekarang.” Tandasnya yang kemudian mengetuk earphone yang berada ditelinga kanannya untuk mengakhiri sambungan telfonnya, bersamaan dengan 1 kaki Bennedict yang memacu kecepatan laju mobilnya agar bisa segera sampai ditempat yang dituju.
***
Selang beberapa detik setelah sambungan telfon dengan kakak lelakinya itu berakhir, tiba-tiba saja ponsel Ahreum kembali berdering.
Membuatnya kembali mendekatkan ponsel ke telinga untuk menerima panggilan yang berasal dari karibnya.
“halo.” Sapa Ahreum.
“YAK!! Kau darimana aja sih Ahreum!! Jam berapa ini, telfon dari kak Abi terus berdering sejak tadi membuat kepalaku hampir meledak, kau tahu! Aku tak bisa mengangkatnya karena takut dia akan menanyakan dirimu!! Aughhh!! Kau benar-benar luar biasa Ahreum.” oceh Rihanna dengan suara tinggi yang bercampur aduk antara kesal dan khawatir.
__ADS_1
“maafkan aku, aku akan segera pulang.” Sahut Ahreum dengan nada sendunya.
“segera pulang?!
YAK!! Jangan bilang dokter Elios yang akan mengantarmu pulang sekarang?!” panik Rihanna.
“tidak.. kak Benn yang akan mengantarku pulang, dia sudah dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai.” Katanya lagi masih dengan nada yang sama.
“astaga, jantungku berasa mau copot kau tahu, membohongi kak Abi dan Ansell demi untuk melindungimu.” Gerutunya lagi namun kali ini ia sudah menurunkan sedikit nada suaranya.
“Hanna..” ucap Ahreum.
“Apa?!” ketus Hanna yang masih diselimuti emosi.
“maafkan aku, dan juga.. terimakasih..
Aku.. sangat bahagia hari ini, Hanna.” Lanjut Ahreum dengan suara seraknya seolah tengah menahan isak tangis pilu yang semakin menguasai dirinya.
“bagaimana ini, apa aku harus bersyukur bertemu dengan Elios?
Meski ku tahu ini salah, tapi.. aku sangat bahagia, Hannaaa. Aku tak pernah merasa begitu dicintai dan dihargai seperti ini oleh seseorang yang kusukai. Rasanya.. hangat dan bisa mendamaikan hatiku.
“Ahreum..” panggil Bennedict saat ia turun dari mobil, ia pun membukakan payungnya kemudian berjalan menuju keberadaan adiknya yang tengah terduduk sendirian dikursi.
“kakak!!...” seru Ahreum yang kemudian berlari dan masuk ke dalam dekapan hangat kakaknya.
“apa yang terjadi? Kenapa kau sendirian disini.” Cemas Bennedict yang merasa bingung karena tiba-tiba ia disambut oleh deraian air mata adiknya.
***
Hotel xxx.
Karena kediaman Bennedict sedang direnovasi seperti yang diceritakan di episode sebelumnya ya, jadi Bennedict membawa adik perempuannya itu menginap dihotel untuk hari ini.
“kau yakin tidak ingin pulang?” tanya Bennedict pada adiknya yang baru saja mendudukan bokongnya disofa yang berada diruang tamu.
“he’em, tolong jangan tanyakan alasannya kak, aku hanya ingin tidur untuk saat ini. Aku benar-benar lelah.” Ujar Ahreum yang kemudian membaringkan tubuhnya disofa setelah memposisikan bantal kursi yang akan menjadi bantalan tidurnya.
“baiklah, tapi sebaiknya kau ganti dulu pakaianmu. Pakai baju kakak dulu. Gak baik tidur dengan pakaian kotor.” Kata Bennedict seraya menaruh setelan training miliknya diatas kedua kaki Ahreum.
__ADS_1
Tanpa membantah Ahreum pun kembali bangkit, dan mengambil setelan training milik kakaknya itu kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Sebelumnya, saat sampai dibaseman hotel, Bennedict mencoba mencari setelan training miliknya yang masiah bersih. Melihat pakaian adiknya yang lusuh itu membuatnya khawatir jika Ahreum akan sakit jika tidur dengan pakaian kotor penuh kuman.
“mau kakak pesankan bubur atau sup?” tawar Bennedict ketika Ahreum keluar dari kamar mandi dan langsung kembali berjalan menuju sofa ruang tengah.
“tidak, aku hanya ingin tidur kak.” Sahutnya lemah.
“kalau begitu tidur dikamar aja, jangan disofa, Ahreum.” ujar Bennedict.
“disofa juga nyaman kok, nanti kalau aku gak bisa tidur, aku mau nonton tv.” Sahutnya seraya kembali membaringkan tubuhnya disofa setelah menepuk-nepuk sejenak bantalnya.
“hmm..” tak ingin berdebat dengan adik perempuannya itu, Bennedict pun lantas pergi menuju kamar kemudian kembali lagi dengan selimut tebal yang kini berada dalam genggamannya. Ia pun menyelimuti tubuh adik mungilnya itu sampai bagian lehernya.
Setelah tugas sebagai seorang kakak selesai ia pun berjalan santai menuju dapur karena merasa sangat haus.
Selagi Bennedict menuangkan air ke dalam gelas yang berada dimeja, 1 tangannya yang lain mencoba merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel miliknya.
“halo..” sapa Bennedict setelah meneguk 1 kali air mineralnya.
“dengan Abighail pramudya?” lanjut Bennedict yang kemudian meletakan kembali gelasnya diatas meja setelah cukup mengaliri kerongkongannya.
“saya Bennedict, tolong sampaikan pada atasanmu. Jika Ahreum tidak akan pulang untuk malam ini, Ahreum akan menginap dihotel xxx bersama saya. Jadi tak perlu menunggunya.”
Tak banyak berbasa-basi dan langsung ke tujuannya, begitulah Bennedict.
Telfon pun dimatikan secara sepihak tanpa mencoba menunggu respon dari sang penerima, karena memang tujuannya hanya untuk memberitahu bukan meminta ijin.
Selang 20 menit kemudian.
Took.. tokkk!!
Terdengar suara ketukan pintu yang nyaring dari luar, membuat Bennedict yang tengah terduduk disofa sembari menonton siaran televisi pun dengan sangat terpaksa beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu, untuk mengecek siapakah yang hendak bertamu ditengah malam seperti ini.
Bennedict membulatkan kedua matanya kala ia mendapati seseorang yang tak asing kini berdiri dihadapannya.
“bukankah sudah..”
“maafkan jika saya lancang. Tapi walaubagaimanapun juga Ahreum adalah tanggung jawab saya, karena Aherum sudah menjadi istri saya. Jadi tolong ijinkan saya membawa Ahreum pulang.” Potong Ansell sebelum Bennedict menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
Bersambung...