
Selang beberapa menit kemudian, dikoridor gedung pernikahan sudah tampak Rihanna dan Nayeon tengah berjalan beriringan menuju aula pernikahan, sedangakan tak jauh dibelakang mereka berdua ada sang pengantin juga sang ayah yang saling mengaitkan tangan, dan sesekali lengan sang ayah yang satunya mengusap lembut pungung tangan putrinya yang masih tampak gugup itu.
Begitu kedua pintu dibuka secara bersaman oleh 2 staff yang berjaga di depan aula, semua mata pun langsung tertuju pada sosok pengantin wanita yang tengah berdiri di ambang pintu bersama dengan sang ayah untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mereka berdua pun melangkahkan kakinya kembali memasuki aula pernikahan yang sudah ramai dipenuhi oleh para tamu undangan.
Ansell yang sudah lebih dulu berada di posisinya bersama dengan seorang pendeta yang akan melakukan pemberkatan pada mereka berdua. Kedua matanya terpana kala melihat Ahreum tampak berbeda saat ini dengan gaun pengantin berwarna putih dan rambut ikal panjangnya yang dibiarkan tergerai, semakin menambah keanggunan yang ada pada diri Ahreum.
Sampai Ansell pun tanpa sadar menyunggingkan senyum lebarnya selagi menunggu calon istrinya berjalan ke arahnya.
***
Flashback 1 hari sebelumnya.
Dirumah sakit Haneul Jakarta, tepat saat Ahreum tengah berlari kecil setelah kabur dari calon suaminya. Ia tak sengaja kembali menabrak seseorang, kali ini ia tampaknya menabrak seorang dokter, sebab dilihat dari penampilannya yang tampak memakai jas putih layaknya seorang dokter pada umumnya.
“maaf.. maaf saya tidak sengaja.” Ucap Ahreum reflex yang langsung membungkukan tubuhnya dihadapan pria tersebut.
“Ahreum, kenapa kau ada disini?” tanya pria tersebut yang tak lain adalah Elios, pria yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.
“ahh, dokter Elios.” Kaget Ahreum seraya menegakkan tubuhnya dan menatap wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.
“kenapa kau ada disini, dan juga kenapa kau berlarian seperti itu, apa mungkin..” ucap Elios yang mengingat kembali situasi saat mereka pertama kali bertemu.
“tidak.. tidak.. hehe, kali ini aku tidak sedang dibuntuti siapapun, aku hanya kabur dari..” Ahreum menghentikan kalimatnya sejenak seolah ia tengah menimbang-nimbang kelanjutan dari kalimatnya tersebut.
“dari siapa?” tanya Elios yang penasaran.
“tidak, hehe, ah iya aku harus pergi sekarang, kelasku dimulai 1 jam lagi.” Sahut Ahreum yang mencoba untuk mengakhiri pertemuan singkatnya dengan Elios.
“begitu ya,
ohh iya Ahreum, apa besok kau senggang?” ujar Elios kala Ahreum mulai melangkahkan 1 kakinya, gadis itu pun kembali berbalik untuk menanggapi pertanyaan dadakan Elios.
__ADS_1
“aku berencana untuk mengajakmu pergi ke pernikahan keponakanku bersama dengan Xena, sepertinya Xena juga akan senang sekali jika bisa bertemu denganmu.” Lanjut Elios begitu Ahreum membalikan tubuhnya dan kembali menatapnya.
“Xena?” ulang Ahreum.
“ahh iya, Xena putriku, amm, kau keberatan ya? Apa terlalu cepat untuk mempertemukanmu dengan Xena, hehe, maaf ya. Aku hanya merasa Xena akan senang jika aku juga mengajakmu ikut bersama.” Jelas Elios lengkap dengan senyuman hangatnya.
“dokter Elios, apa kau sedang mencoba mendekatiku?” tanya Ahreum yang mencoba memperjelas situasi yang terjadi diantara mereka berdua.
Alih-alih langsung menjawab Elios malah ternyum malu-malu dan mengarahkan pandangannya ke sembarang arah untuk sejenak, sebelum akhirnya ia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan seluruh isi hatinya pada gadis mungil yang tengah berada dihadapannya itu.
“apa terlalu jelas terlihat ya? Hehe maaf ya, jika terlalu cepat bagimu, tidak apa, kita bisa berteman dan saling mengenal satu sama lain.”
“amm, sebaiknya kita bicara dibangku taman depan rumah sakit saja, dokter.” Respon Ahreum lengkap dengan senyum tipisnya kemudian ia berjalan lebih dulu untuk menuntun Elios menuju tempat yang ia inginkan.
Dengan senang hati Elios pun mengikutinya dari belakang lengkap dengan ukiran senyum tipis yang masih menghiasi wajah tampannya.
Di bangku taman.
Begitu menemukan lokasi yang pas untuk mengobrol, Ahreum pun mendudukan bokongnya dibangku tersebut disusul dengan Elios yang duduk tepat disampingnya.
“usia hanyalah angka, dan juga kita tak memerlukan alasan khusus untuk menyukai seseorang bukan? Karena perasaan itu terjadi begitu saja, aku tak akan memaksamu untuk menerima perasaanku untuk saat ini, terlebih lagi aku sadar, aku seorang duda juga memiliki seorang putri, kau mungkin..”
“bukan begitu.. aku.. aku akan menikah, dan besok adalah hari pernikahanku.” Jelas Ahreum sebelum Elios menyelesaikan kalimatnya, karena ia tak ingin salah paham alasan dari penolakannya bukanlah disebabkan status Elios yang sudah pernah menikah dan memiliki putri, namun karena dirinya yang akan menjadi istri orang lain.
“apa?” respon Elios seraya membelalakan kedua matanya, ia benar-benar terkejut mendengar pengakuan gadis disampingnya itu, situasi yang tak pernah sekalipun terbesit dibenaknya.
“iya, besok aku akan menikah dengan pria yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tuaku. Maka dari itu, kurasa ini adalah pertemuan terakhir kita, karena jika kita masih tetap berhubungan kurasa hatiku bisa goyah.
Dan juga terimakasih atas makan malamnya beberapa hari yang lalu, seharunya aku yang mentraktir dokter, tapi malah sebaliknya, hehee, amm.. aku pamit ya.” Pungkas Ahreum seraya bangkit dari tempat duduknya.
“kau tak akan mengundangku ke pernikahanmu?” perkataan Elios lagi-lagi menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“tidak, jika dokter datang aku tak yakin bisa melangsungkan pernikahanku.” Sahut Ahreum yang kembali berbalik dan menyunggingkan senyum manisnya kemudian pergi berlalu meninggalkan Elios yang masih terduduk dengan pandangan kosong dibangku taman.
Terasa seperti petir disiang bolong, sekujur tubuhnya tiba-tiba membeku, kini ia hanya bisa memandangi gadis mungil itu pergi menjauhinya, selangkah demi selangkah sampai akhirnya ia pun menghilang dari pandangannya.
Bersamaan dengan menghilangnya Ahreum dari pandangan Elios, bulir air mata itu pun akhirnya menetes membasahi kedua pipi mulus Elios, tanpa ada suara isakan pria malang itu hanya bisa mengekspresikan rasa sakit dari kedua sorot matanya yang begitu menyedihkan.
***
Sementara itu Ahreum yang tengah berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari keberadaan rumah sakit Haneul. Tampaknya ia juga merasakan rasa sakit yang tiba-tiba saja menusuk hatinya, hingga membuat wajahnya tampak meringis kesakitan dan kedua tangannya mencoba mengepal untuk menahan rasa sakit yang semakin menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.
Tak dapat lagi menahannya akhirnya tangis Ahreum pun pecah kala ia sudah terduduk dibangku halte, dengan menyandarkan kepalanya di tiang halte ia terus saja menangis sembari menutup mulutnya untuk meredam suara tangisannya agar tidak terlalu nyaring terdengar.
Beruntung saat itu hanya ada seorang ibu dan putri kecilnya yang tengah terduduk disebelah Ahreum, sehingga tak banyak yang melihat adegan pilu yang Ahreum tunjukan kala itu.
Tak ingin mencampuri masalah pribadi orang lain, sang ibu itu pun hanya memberikan tisu yang ia ambil dari dalam tas miliknya, disusul dengan sang putri yang ikut memberikan sebuah permen loly pop yang sedari tadi hanya digenggamnya lengkap dengan senyum cerahnya.
Dengan senyuman seadanya Ahreum pun menerima pemberian dari ibu dan anak tersebut yang sudah tulus memberikan perhatian padanya, meski dirinya hanyalah orang asing yang baru saja mereka temui.
***
Kembali ke aula pernikahan.
Begitu pembacaan janji telah usai dan acara pun hanya tinggal tersisa sesi hiburan saja, tiba-tiba saja telfon milik ayah Ansell bergetar di saku celananya, membuat dirinya harus menepi ke sisi lain yang tidak terlalu bising untuk menerima panggilan tersebut.
“hallo.” Sapa Andrew pada penelfon tersebut.
“kenapa memangnya, tidak biasanya Nana seperti itu.” Respon Andrew setelah mendengar penjelasan dari sang penelfon yang memberitahukan jika dirinya akan sangat terlambat datang.
“ya sudah, segera kemari, jika tidak hadir saat pengucapan janji, setidaknya kau harus ikut pada sesi foto keluarga nanti.” Kata Andrew dengan nada tegasnya.
“oke, om tunggu.” Pungkas Andrew yang kemudian mematikan telfonnya dan kembali ke dalam.
__ADS_1
***
bersambung...