Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 127


__ADS_3

Mereka terus berlarian hingga sampai disuatu area yang tengah mengadakan wisata kuliner dipagi hari. Bukan hanya kuliner sih, semacam pasar dadakan begitu. Cuma ya mayoritas area tersebut dipenuhi oleh pedagang makanan dibanding barang-barang seperti pakaian, sepatu dan tas.


“dimana?” tanya Ahreum saat Hanna menghentikan langkahnya tepat didepan gerbang masuk menuju pasar dadakan lengkap dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal.


“dia masuk ke dalam. Kau yakin akan terus mencarinya, kurasa akan sulit.” Ujar Rihanna seraya mengamati keadaan sekitar yang dipenuhi oleh orang-orang yang tengah berdesakan mencari barang-barang kebutuhannya masing-masing.


“uhh, dia pintar sekali, masuk ke area ramai seperti ini. Ayoo!” seru Ahreum yang kembali menarik langkah dan masuk ke area pasat dadakan tersebut lebih dulu.


“aughh! Shi***ttt!!” umpatnya kesal namun tetap menuruti perintah karibnya itu yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


Karena keadaan begitu ramai mereka berdua pun terpisah, dengan Rihanna yang kembali memimpin. Iya meskipun sebelumnya Ahreum lebih dulu berlari meninggalkan Rihanna namun pada saat pertengahan jalan Rihanna menyalipnya sembari tetap mengedarkan pandangannya untuk memindai dimana keberadaan gadis yang tengah dicarinya itu.


Sampai selang beberapa menit kemudian, akhirnya Rihanna berhasil menemukan keberadaan gadis yang tengah bersembunyi dibalik penjual pakaian. Kedua mata mereka bertemu hingga membuat keduanya kembali melakukan aksi kejar-kejaran.


Namun kali ini bukan hanya sekedar berlari, wanita aneh itu melempar semua barang apapun yang dilaluinya ke belakang guna menghambat laju Rihanna yang tengah berusaha menangkapnya.


Yang membuat para pedagang geram, karena bukan hanya pakaian, tas atau sepatu yang dilempar tetapi sayur mayur yang kebetulan dilaluinya pun ia lemparkan bahkan beberapa telur mentah pun tak lepas dari pandangannya kemudian ia lemparkan dengan ganas pada wanita yang masih berusaha mengejarnya.


“YAAKK!! BERHENTI KALIAN!!”


“DASAR BOCAH KURANG AJAR!! YAKK!!”


“HENTIKAN KEDUA BOCAH ITU!!”


“ADUUHH YAK!! ANAK SINTING!!”


Terdengar sorak sorai penuh amarah dari para pedagang yang geram akan kelakukan 2 gadis urakan tersebut. Sehingga membuat suasana pasar kala itu ricuh dan tak terkendali.


“astaga apa-apaan ini?! kenapa semua bisa berantakan begini?” seru petugas keamanan yang bername tag kan Mansyur diseragam dinasnya.


“pak Mansyur, kebetulan sekali bapak ada disini. Itu pak, ada 2 bocah yang sedang kejar-kejaran, cepat tangkap mereka pak! Mereka yang sudah membuat kekecauan ini.” sahutnya dengan dipenuhi amarah yang bergejolak didalam dirinya serta sebuah gayung yang terus ia arahkan pada jalanan yang baru saja dilalui oleh kedua bocah pembuat onar tersebut.


“kejar-kejaran? Kok bisa kejar-kejaran dipasar begini. Apa mereka fikir pasar tempat mereka bermain!” gerutunya yang kemudian langsung mengambil seribu langkah untuk menangkap 2 bocah pembawa kericuhan tersebut.


“dimana 2 bocah itu?!” tanya pak Mansyur pada pedagang lainnya karena masih belum menemukan tanda-tanda adanya 2 gadis pembuat onar tersbut.


“tuhh!! Tuhh!! Disana pak.” Seru pedagang tersebut seraya menunjukan kearah mana 2 bocah itu berlari.

__ADS_1


Pak Mansyur pun lantas kembali berlari sekuat tenaga untuk mengejar kedua gadis yang cukup jauh dari jangkauannya itu.


“apaan nih, kayak abis kena angin ribut.” Batin Ahreum saat melewati jalanan yang dipenuhi barang-barang para pedagang yang berserakan dijalanan.


-----


“YAK!! BERHENTI, AKU JANJI TIDAK AKAN MENYAKITIMU.” Panggil Rihanna pada gadis tersebut yang berada tak jauh didepannya mungkin hanya berjarak 3 langkah saja.


Gadis aneh itu pun menengok ke belakang untuk sejenak kemudian kembali melempar tomat, kali ini tepat ke arah wajah Rihanna dan mengenai keningnya. Hingga membuat langkah Rihanna terhenti dan merengek kesakitan akibat lemparan tomat yang masih mentah itu.


“aughhh sial!!! Gadis itu benar-benar membuatku muak.” Keluh Rihanna seraya mengusap-usap keningnya yang memerah akibat lemparan tomat yang lebih seperti batu baginya.


Rihanna pun akhirnya menyerah dan berhenti mengejar gadis freak itu masih sembari memegangi keningnya yang tak hanya memerah namun juga berair akibat tomat yang meletus saat menghantam jidat lebarnya.


Setelah membersihkan keningnya dari sisa tomat yang belepotan diwajahnya ia pun berjalan santai menuju salah satu stand makanan, bermain kejar-kejaran ternyata membuat dirinya kehilangan tenaganya dalam sekejap hingga ia pun kembali merasakan lapar dan juga haus dikerongkongannya.


“bu.. pengen es teh p*ci nya dong 1.” Pinta Rihanna pada sang pedagang seraya mengibaskan tangannya ke arah wajahnya karena rasa panas yang tak terhankan dan juga keringat yang mulai bercucuran merembes keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya.


“siap, mau yang rasa apa teh, original, mango, leci atau rasa yang pernah ada?” sahut sang pedagang dengan diselingi tawa candanya yang membuat Rihanna pun ikut tersenyum ramah menanggapi celotehan sang pedagang.


Selagi ibu penjual es teh sibuk menyiapkan pesanan dirinya, ia pun pindah beberapa langkah ke samping pedagang lainnya.


“bang, aku pengen cilor ya sama telor gulung juga, boleh langsung aku ambil aja kan ini?” tanya Rihanna seraya hendak mengambil telor gulung yang sudah matang diatas wadah yang dipenuhi aneka makanan.


Alih-alih meletakannya terlebih dahulu pada cup, ia lebih suka mengambilnya langsung 1 per 1 dari wadah tempat penyimpanan aneka makanan.


“iya boleh teh, ambil aja.” Respon si abang diiringi dengan senyuman ramahnya disaat Rihanna hendak mengambil 1 tusuk telor gulung.


“mau pakai saus nya?” tawar si abang lagi ketika Rihanna sudah melahap setengah telor gulungnya.


“engga bang, begini juga sudah enak.” Sahut Rihanna lengkap dengan senyum cerahnya untuk menunjukan jika dirinya benar-benar menikmati makanan yang dijual si abang.


Tak beberapa lama kemudian.


“yak! apa yang kau lakukan disini? Dimana wanita itu.” seru Ahreum yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Rihanna hingga membuar Rihanna pun terkejut.


“astaga! Ngagetin aja! Tau ah, dia cepet banget larinya cape aku ngejarnya kau kejar sendiri aja.” Katanya disela mengunyah makanannya.

__ADS_1


“es teh nya neng.” Ujar si ibu penjual es teh p*ci seraya menyodorkan es teh pesanan Rihanna.


“Iya makasih bu.” Sahut Rihanna seraya mengambil alih es teh pesanannya, ia pun menengok ke arah karibnya yang berada disampingnya.


“bayarin dong. Es teh 1, telor gulung 2 sama cilor nya 3.” Ujar Rihanna sebelum ia menyedot es teh p*ci kemudian pergi begitu saja setelah menyerahkan tugas membayar pada karibnya yang kini tengah memasang raut wajah julid terhadap dirinya.


“aughhh, yang difikirannya hanya makan dan makan saja.” Dumel Ahreum seraya mengeluarkan dompet kecil dari tas yang ia selempangkan.


“jadi berapa bu, pak?” tanya Ahreum lengkap dengan senyuman ramah dan penuh kesopanan seperti biasanya.


Begitu Ahreum membereskan tagihan makanan Rihanna ia pun lantas berlari kecil menuju Rihanna yang telah jauh meninggalkannya.


“ITU DIA, ITU DIA PAK BOCAH PEMBUAT ONARNYA!! TANGKAP MEREKA!!” seru pak Mansyur sang petugas keamanan pada para polisi yang berada disisi kanan dan kirinya. Sembari mengacungkan pentungannya ke arah punggung kedua gadis yang tengah berjalan santai diantara kerumunan pengunjung siang itu.


 Baik Rihanna maupun Ahreum refleks memutar tubuhnya begitu mendengar suara lengkingan yang terdengar jelas sekali ditelinganya seakan penasaran apa yang sebenarnya terjadi dibelakangnya.


Keduanya pun terkejut saat mendapati seorang petugas keamanan tengah mengacung-acungkan pentungannya tepat kearahnya ditambah beberapa petugas polisi yang berada disisi kanan dan kiri petugas keamanan itu membuat Rihanna dan Ahreum saling melempar tatapan penuh tanda tanya seakan mereka tak mengerti situasi yang terjadi saat ini.


***


Sebelumnya, dikantor polisi xxx.


Saat itu para polisi tengah disibukan dengan aktifitas atau tugasnya masing-masing, karena ini akhir pekan, membuata kantor polisi tidak seramai biasanya. Beberapa diantaranya libur dan menghabiskan akhir pekan bersama dengan keluarganya. Ada juga yang tetap masuk karena harus loyalitas pada pekerjaannya.


Semisalnya Bennedict, lelaki pekerja keras yang lebih mengutamakan pekerjaan dari apapun. Bahkan ia bisa tidak pulang ke rumah saat mengerjakan sebuah kasus besar yang cukup menguras tenaga dan otaknya. Ia lebih memilih untuk tetap tinggal dikantor sampai kasus tersebut terpecahkan.


Keheningan itu tak berlangsung lama sampai salah satu walki talkie pun berbunyi yang membuat Bennedict dan ketiga anak buahnya terhentak dalam kesibukannya kemudian beralih mengarahkan pandangannya pada walki talkie tersbut.


“telah terjadi kekacauan dipasar xxx, jika ada yang berada didekat lokasi tersebut mohon bantuannya. Segera!”


Tak menunggu lama Bennedict pun langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian mengajak semua bahawannya untuk ikut dengannya dan mengecek apa yang sebenarnya terjadi dipasar tersebut.


Sebenarnya masalah sepele seperti itu memanglah bukan tugas dari Bennedict, banyak polisi lain yang bisa menangani hal tersebut. Namun tetap saja Bennedict tak akan tinggal diam jika memang dirinya tidak sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Dan juga kebetulan sekali lokasi pasar xxx sangat dekat dengan kantor polisi hingga membuat dirinya tak bisa tinggal diam begitu saja.


***

__ADS_1


__ADS_2