Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 59


__ADS_3

Selang beberapa menit, akhirnya Hanna dan Ahreum pun keluar dari kamar secara bergantian.


“aku pesen pizza nih, mau?” tawar Nayeon begitu melihat kedua karibnya itu keluar dari kamar.


“iya kalian duluan saja, aku mau membersihkan tubuh Ansell dan mengobati lukanya dulu.” Sahut Ahreum yang berjalan melewati ruang tengah seraya mengikat rambut ikal panjangnya yang sudah kering, sedangkan Hanna berjalan santai menuju ruang tengah dengan pandangan yang sudah terfokus pada beberapa varian pizza yang tersaji di atas meja lengkap dengan 2 botol minuman cola 1.5 liter.


Hanna pun mengambil 1 potong pizza sebelum ia mendudukan bokongnya disofa yang lain, melihat hal itu Nayeon hanya bisa mendengus kesal dan membuang muka, sebab bukannya Ahreum yang bergabung dengannya malah Hanna yang sama sekali tak ia harapkan kehadirannya, bahkan gadis itu kini tengah mencomot makanan yang dibelinya.


Namun karena tak ingin membuat keributan, kali ini Nayeon hanya membiarkannya, selagi gadis bar-bar itu tidak menganggunya kedamaiannya.


***


Didalam kamar utama.


Begitu Ahreum membuka pintu kamar, keningnya mengernyit kala melihat Ansell sudah terduduk seraya menyandarkan tubuhnya disandaran ranjang dengan wajah yang ia arahkan ke cermin seukuran tubuhnya yang berada didekat dinding kamarnya.


“kau sudah sadar Ansell?” ucap Ahreum seraya berjalan menuju pinggiran ranjang.



Namun tak ada reaksi apapun dari suaminya itu, entah apa yang kini tengah difikirkannya yang pasti ia tampak seperti orang berbeda saat ini, membuat Ahreum merasa khawatir pada pria malang tersebut.


“hmm..” Ahreum menghela nafas kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari tempat dimana kotak P3K disimpan.


Tak puas dengan hanya menggunakan kedua matanya, ia pun mulai mencari kesana kemari seraya membuka laci dan lemari 1 per 1 berharap jika kotak P3K tersebut akan segera ia temukan.


Namun ia tak kunjung menemukannya juga, ia pun memutuskan untuk keluar kamar dan mencarinya diluar, mungkin kotak P3K itu tidak disimpan didalam kamar Ansell.


Sampai..


10 menit kemudian, Ahreum kembali lagi ke kamar dengan sebuah kotak P3K ditangan kirinya dan sebuah mangkuk besar ditangan kanannya yang berisikan air juga handuk kecil yang ia letakan disisi mangkuk tersebut.


Begitu sampai ditepi ranjang suaminya, ia pun langsung meletakan mangkuk yang dibawanya diatas lemari kecil yang berada disamping ranjang, dan kotak P3K ia letakan disamping paha Ansell.


Ia pun kemudian mendudukan bokongnya disamping tubuh Ansell yang masih mengabaikannya dengan menatap ke arah lain, meski dirinya kini tengah terduduk disampingnya.


Ahreum menarik nafas sejenak sebelum memulai membersihkan noda darah yang ada ditangan dan juga wajah suaminya.

__ADS_1


Lengan mungil itu pun mencoba untuk meraih telapak tangan suaminya dan meletakannya diatas kedua pahanya, kemudian dilanjutkan dengan mengambil lap yang sudah ia perat airnya untuk memulai melakukan aktifitasnya membersihkan seluruh noda yang menempel dikedua lengan dan wajah suaminya yang tampan itu.


Selang beberapa menit, karena air yang dibawanya itu sudah berubah warna menjadi merah pekat, Ahreum pun memutuskan untuk mengganti airnya ke kamar mandi yang berada didalam kamar, dan meninggalkan Ansell sejenak yang masih terdiam tak memberikan reaksi apapun.


Kegiatan mengelap noda darah itu berlangsung cukup lama sebab seperti yang kita ketahui noda darah memang sangat sulit untuk dibersihkan, namun meskipun begitu Ahreum tetap  sabar membersihkan noda yang menempel dikedua lengan dan juga diwajah tampan suaminya tersebut.


Sampai akhirnya noda darah itu pun telah hilang sepenuhnya dari tubuh suaminya, kini tinggalah beberapa luka sayatan yang ada ditelapak tangannya, meski sayatan itu tidak terlalu dalam namun tetap saja tubuhnya akan merasakan perih saat mengenai air.


“apa kau akan tetap diam seperti ini Ansell?” ucap Ahreum begitu menyelesaikan tugasnya membersihkan noda darah yang menempel ditubuh suaminya, lalu beralih membuka kotak P3K dan mulai mengolesi luka Ansell dengan cutton bud yang sudah diolesi salep.


Ahreum mengolesi luka Ansell dengan diselingi tiupan lembut dan beberapa kibasan tangannya di area luka sayatan itu agar salepnya cepat menyerap ke dalam kulit Ansell.


“Ansell..” panggil Ahreum lagi seraya masih memegangi punggung tangan Ansell, gadis itu sedikit terkejut kala ia merasakan perubahan suhu yang terjadi pada tubuh Ansell secara tiba-tiba.


Ia merasakan suhu diarea tangan Ansell mulai mendingin, begitupun dengan kedua telapak kakinya, karena penasaran dengan perubahan suhu yang terjadi Ahreum pun berpindah ke area lainnya yaitu kening dan leher Ansell yang malah terasa sangat panas, berbanding terbalik dengan area lengan juga kakinya yang terasa sangat dingin.


Ingin lebih memastikannya lagi Ahreum pun mengambil alat pengecek suhu di dalam kotak P3K kemudian memasukan lengannya ke dalam lubang kerah baju Ansell dan menempatkan alat tersebut diantara ketiak suaminya.


Lalu mengeluarkan kembali tangannya dan membiarkan alat itu bekerja, selagi menunggu Ahreum memutuskan untuk keluar kamar sebentar seraya mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya, jemarinya tampak sibuk mengetikan sesuatu dilayar ponselnya.


Bersamaan dengan menghilangnya Ahreum, Ansell menarik nafas dalam-dalam seraya memejamkan kedua matanya sejenak.


“hmmm..” terdengar begitu jelas tarikan nafas berat pria malang itu.


Merasa tidak nyaman dengan alat pengecek suhu yang berada ditengah ketiaknya, dengan gerakan kasar ia mengambil alat tersebut lalu dilemparkannya ke sembarang arah. Begitu juga dengan kotak P3K yang berada disampingnya tak luput dari amukannya, ia mendorongnya hingga seluruh isi dari kotak P3K tersebut berserakan dilantai.


Belum puas dengan hanya melampiaskannya pada kedua benda yang tidak bersalah itu, pandanganya pun beralih pada sebuah mangkuk besar yang berisikan air dan lap, dengan sekuat tenaga ia pun mendorongnya hingga air yang berada dalam mangkuk plastik tersebut tumpah tak bersisa.


***


Diruang tamu.


Begitu menyelesaikan pembicaraannya ditelfon ia pun langsung mematikannya dan kembali menaruh ponsel ke dalam saku celananya.


“kau tampak sangat sibuk sekali, sebenarnya apa sih yang terjadi diantara kalian?” Ujar Hanna kala sambungan telfon itu berakhir ia langsung menodong Ahreum dengan sebuah pertanyaan yang sedari tadi ditahannya.


“nanti saja ku ceritakan..”

__ADS_1


Ceklek..


Pintu aparteman terbuka membuat ketiga gadis yang tengah berada diruang tengah menengok seketika ke arah pintu menunggu sosok yang akan muncul.


“kak Abi.” gumam Ahreum seraya memandangi Abi yang hendak berjalan ke arahnya.


“sore nona Ahreum, nona Rihanna dan nona Nayeon.” Sapa Abi begitu bergabung dengan ketiga gadis tersebut.


“iya sore juga kak Abi.” Sapa Hanna dan Nayeon serempak lengkap dengan senyuman cerahnya.


Sedangkan Ahreum hanya mengangguk ditambah senyuman tipis diwajahnya.


“bagaimana dengan kondisi pak Ansell, nona?” tanya Abi yang tampak mengkhawatirkan sekali atasannya itu.


“ahh itu, kurasa cukup mengkhawatirkan.. amm.. sebenarnya saat aku datang dia sudah terduduk dipojokan dapur dengan kedua tangan yang dipenuhi darah, dan pecahan botol wine dimana-mana, kurasa dia memang melukai tubuhnya sendiri, kak Abi.


Lukanya sudah ku olesi salep, cuma sekarang masalahnya..”


“kenapa nona?”


“dia demam juga sekarang, jadi ku putuskan memanggil dokter Elios kemari, untuk memerikasa keadaan Ansell.” Paparnya.


“dokter Elios? Bagaiman nona Ahreum bisa memiliki kontak dokter Elios?” tanya Abi lengkap dengan raut wajah bingungnya.


“ahh itu..


amm..”


Bruugghhh!!... tiba-tiba saja terdengar suara gaduh yang berasal dari dalam kamar Ansell hingga membuat pembicaraan antara Ahreum dan Abi pun terputus, karena keduanya serempak mengarahkan pandangannya pada pintu kamar Ansell.


Takut sesuatu yang buruk kembali terjadi pada suaminya, Ahreum pun langsung bergegas menuju kamar Ansell dengan langkah cepat, diikuti oleh Abi yang juga ikut berjalan cepat dibelakangnya, namun sesampainya didepan pintu Ahreum menghentikan langkahnya sejenak lalu menatap ke arah Abi yang berada disampingnya.


“aku saja yang masuk kak Abi, lebih baik kak Abi menunggu diruang tamu aja sambil menjaga kedua temanku itu.” Ucap Ahreum yang dilanjutkan dengan menarik handle pintu kamar kemudian masuk ke dalam dan meninggalkan Abi yang masih berdiri didepan pintu, sebelum akhirnya ia pun mengalah dan menuruti permintaan istri dari atasannya.


bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2