
“APA!!” bentak Hanna yang langsung disambut semburan air mancur yang keluar dari mulut Franky.
“uhuukk.. uhukkkk.. yak.. aku tak melakukan apapun!” protes Franky dengan nada ngegasnya, sebab merasa menjadi korban dari hal yang tak dilakukannya.
Sementara itu Abi hanya bisa terkekeh dan menggeleng kepalanya setelah meneguk 1 botol air mineral. Sesekali ia merasa terhibur dengan sikap bar-bar kekasihnya tersebut setidaknya hal itulah yang membuat hidupnya kini menjadi lebih berwarna.
“kau yakin?” tanya Franky seraya mengarahkan pandangannya pada Abi setelah menutup kembali botol air mineralnya kemudian ditaruhnya ke atas meja.
Sementara Rihanna yang sudah bisa menstabilkan emosinya, ia pun berjalan lalu duduk disamping Abi dan meneguk air mineralanya dengan damai.
“yakin apa?” sahut Abi seraya mengusap pelan punggung Rihanna untuk sekedar meredam emosional kekasihnya.
“tidak.. maksudku, bro!! kau bisa mendapat gadis yang lebih baik dari dia. Kau yakin bisa mengatasi tempramennya yang buruk itu.” celetuk Franky yang membuat Hanna kembali tersedak Abi pun lantas menepuk pelan bagian punggung Hanna untuk membantu membuat Hanna lebih baik sebelum beralih merespon pertanyaan Franky.
“uhuukk.. uhuukkkk.. yak! kau sudah bosan hidup.” Pekik Hanna lengkap dengan tatapan menyalaknya seakan siap untuk melahap Franky hidup-hidup.
“lihatkan! Bro. Kusarankan lebih baik kau memutuskannya dari sekarang, atau kalau tidak kau akan.. kheeuukkk!!..” oceh Franky lagi seraya menunjukan gerakan kibasan tangan dilehernya yang membuat Hanna semakin geram, namun dengan sigap Abi menahan tubuh Hanna agar tidak menyerang Franky yang berada tak jauh didepannya.
“yak! kau fikir Nayeon lebih baik dariku, dia bahkan lebih bar-bar dan gila dariku tahu!” balas Hanna yang masih mencoba meronta dalam dekapan Abi.
“Iya maksudku kalian berdua sama aja. Sama gilanya hahahahaa, kau beruntung saja mendapat lelaki sebaik Abi. Kalau aku sih ogah.” Ejeknya lagi seraya bangkit dari kursi kemudian meninggalkan keduanya.
“YAK! kau fikir bisa dibandingkan dengan ABIGHAIL!! Kau bahkan tidak lebih baik dari bokong kekasihku tahu!!” teriak Hanna, namun Franky tak merasa terpancing ia hanya merespon cibiran Hanna dengan menggoyang-goyangkan bokongnya ke arah keduanya tanpa menoleh dan terus berjalan menjauh dari area kolam.
“aughhh!!! Shi***ttt.. aargghhhh!!!” rengek Hanna yang kesal karena semua teman-temannya berada dipihak yang sama untuk mencibirnya.
“tenanglah Rihanna. Mereka senang mengisengimu karena kau selalu bereaksi berlebihan seperti ini.” ucap Abi lembut seraya memegang rahang Rihanna dengan 2 tangannya dan menatapnya lekat.
“apa kau pernah merasa menyesal sudah menerima ajakanku berkencan denganmu?” ucapnya lirih seraya membalas tatapan lembut Abi.
“seperti yang kau tahu, bukan hanya karakterku saja yang buruk tapi keadaan keluargaku juga tidak baik. Kau yakin tidak menyesal berkencan dengan gadis sepertiku?” sambung Hanna kembali dengan harap-harap cemas akan jawaban apa yang akan dilontarkan kekasihnya itu yang kini mulai mengembangkan senyum manisnya.
“dengar.. Aku menyayangimu sebagaimana adanya dirimu saat ini, kau terlalu sibuk memikirkan segala kekuranganmu sampai kau tak pernah sadar jika ada lebih banyak kelebihan yang kau miliki Hanna.
Kau gadis yang ceria, pintar, solidaritasmu terhadap temanmu sangat tinggi sekali, terbukti kau selalu membantu nona Ahreum meskipun terkadang permintaan itu sangat konyol dan bisa membahayakan dirimu sendiri.” tutur Abi lembut seraya menurunkan kedua tangannya lalu mengenggam erat kedua tangan kekasihnya itu masih dengan senyuman hangat yang tak pernah pudar dalam wajah tampan Abighail.
“Tapi.. kau selalu berada disisinya, begitupun saat nona Nayeon tengah dirundung luka setelah dicampakan mas Jeno. Kau ada untuknya, berusaha menghibur dan menemani kemana pun nona Nayeon pergi. Aku bangga sekali padamu Rihanna.” tutup Abi seraya menarik tubuh kekasihnya masuk ke dalam dekapannya lalu mengusap lembut bagian belakang kepala Rihanna.
Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Abi barusan sontak saja membuat hati Hanna tersentuh, ia benar-benar merasa tak percaya jika Tuhan telah mengirimkan malaikat tak bersayap untuk menemaninya melalui hari-hari tersulitnya.
Senyum bahagia pun mengembang bersamaan dengan bulir air mata haru yang tak dapat ia kendalikan, sementara kedua tangannya semakin mengeratkan pelukannya.
***
Malam harinya dikamar utama, yaitu kamar yang ditempati oleh pasutri Ansell dan Ahreum.
Tampak Ahreum tengah duduk disudut ranjang sembari menyandarkan tubuhnya dan memainkan ponselnya sejak ia selesai membersihkan tubuhnya beberapa waktu lalu.
Entah apa yang sedang dilihatnya namun beberapa kali tawa kecilnya meramaikan suasana hening dikamar tersebut seraya memukul-mukul bantal yang berada diatas pahanya.
Sampai..
__ADS_1
Ceklek.. Ansell pun muncul dari balik pintu kamar mandi seraya menggosok-gosokan handuk kecil ke rambutnya yang basah.
Saking asyiknya Ahreum dengan ponselnya, ia sampai tidak menyadari jika saat ini suaminya tengah menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan diambang pintu kamar mandi.
Ansell berhenti menggosokan handuk kecil dirambutnya dan beralih menyilangkan kedua tangan diatas dadanya masih dengan sorot mata tajam nya yang mengarah pada istri kecilnya yang tengah tertawa cekikikan sendiri sembari menscrol-scrol layar ponselnya.
“apa yang kau lihat!” pekik Ansell yang sontak saja membuat Ahreum terkejut dan refleks mematikan layar ponsel kemudian memasukan dengan cepat ke bawah bantal yang berada diatas kedua pahanya.
Hal itu malah semakin menambah kecurigaan Ansell hingga ia pun tak hentinya memberikan tatapan mengintimidasi pada Ahreum.
“kau.. kau.. sudah selesai? A… ayooo kita makan, aku sudah lapar.” Ucapnya tergagap seolah tertangkap basah melakukan hal yang
Ansell menarik langkah panjang menuju keberadaan Ahreum yang kini hendak turun dari ranjangnya.
“lihat ponselmu!” pinta Ansell dengan nada memaksa seraya menjulurkan telapak tangannya pada Ahreum.
Ahreum pun menarik kakinya kembali dari lantai lalu bangkit dan berdiri diatas ranjang, seraya menyembunyikan ponsel miliknya dibelakang tubuhnya.
“tidak ada apa-apa kok, aku hanya melihat hal yang lucu-lucu aja diinternet.” Gugupnya seraya mencoba mengambil langkah ke belakang.
Namun dengan sigap Ansell menarik paksa tubuh Ahreum mendekat padanya, membuat Ahreum malah tampak cengengesan seakan tidak takut dengan suaminya yang memiliki peringai buruk itu.
“hheheehe.. bener kok aku hanya..” elak Ahreum seraya mencoba menjauhkan ponselnya dari jangkauan tangan panjang suaminya.
“hanya apa hah!!... kemarikan ponselmu sekarang juga Ahreum!!” pekik Ansell yang berusaha mungkin meraih ponsel yang berada dibelakang tubuh Ahreum.
Karena Ahreum terus saja menggoyang-goyangkan tubuhnya kesana kemari membuat Ansell sedikit kesulitan untuk merampas ponsel tersebut, hingga akhirnya Ahreum pun sedikit melunak dan Ansell berhasil merampas ponsel miliknya.
“astaga apaan nih!! Bukannya ini akun instagramnya Jeno, kenapa dia mesti tag namamu segala difoto yang dia unggah, dan juga apa ini.. kenapa banyak fotomu difeed nya Jeno. Kau selingkuuh dengan dia.. Hah?!! Hah?!!!”
Entah kenapa, bukannya merasa takut dan terintimidasi dengan amarah Ansell, gadis yang masih berdiri ditepian ranjang itu malah cengengesan sedari tadi sebab merasa gemas dengan rajukan suami tampannya tersebut.
“hehhehee, kau imut sekali jika sedang merajuk Ansell..” goda Ahreum seraya mencubit kedua pipi suaminya dan menguyel-uyelnya.
“yak! Kau fikir aku sedang bercanda sekarang, hah?! Jawab aku..” pekik Ansell masih dengan emosi yang meluap-luap.
“muacchh..muacchh..”
Belum sempat Ansell kembali mengoceh panjang kali lebar, rahangnya keburu ditarik oleh Ahreum kemudian dikecup bibirnya beberapa kali hingga membuat Ansell terdiam seketika dengan mata bulatnya yang tampak sedikit kebingungan dengan perubahan suasana yang terjadi saat ini.
“yak! Jangan..”
“muacchh..” Ahreum kembali mengecup bibir sexy suaminya yang hendak melontarkan aksi protesnya.
“apa kau fikir Jeno lebih baik darimu?” ucap Ahreum yang perlahan menurunkan tangannya dari rahang Ansell dan beralih pada handuk yang berada dipundak suaminya.
“tidak kan.. Kau jelas lebih segalanya dari dia..” sambung Ahreum seraya mengelap rambut Ansell yang masih terlihat lembab seraya sesekali menatap ke arah manik suaminya.
“kau lebih tampan, lebih pintar, kau juga sudah sukses diusia muda, tidak seperti dia yang masih sangat bergantung pada kedua orang tuanya. Dan yang paling penting adalah..” Ahreum menghentikan kalimatnya sejenak hingga membuat Ansell semakin penasaran.
“Apa?!” ketus Ansell yang tak sabar menantikan kelanjutan kalimat pujian istrinya itu, seraya memasukan ponsel Ahreum ke dalam saku celana trainningnya.
__ADS_1
“kau lebih sexy darinya, hahahha.” Lanjut Ahreum dengan diakhiri tawa renyahnya.
Sementara itu Ansell hanya bisa terdiam sembari berusaha mungkin untuk tetap stay cool ditengah pipinya yang mulai merah merona dan sudut bibirnya yang bergerak-gerak menahan senyum bahagia.
“jadi.. apa kau sudah mencintaiku Ansell?” tanya Ahreum yang membuat Ansell terhentak dan salah tingkah.
“ayoo kita makan, katanya tadi udah lapar.”
Alih-alih menjawab pertanyaan Ahreum, Ansell malah dengan sengaja merubah topik. Ansell pun menarik tubuh Ahreum lalu menggendongnya ala koala (gendong depan gitu lah ya, tau kan hehee).
“eeyyyy.. Sulit banget ya untuk mengatakan 3 kata, Ahreum aku mencintaimu.” dumel Ahreum masih sembari mengelap kepala suaminya itu dengan handuk selagi Ansell membawanya berjalan keluar dari kamar.
“bukan begitu, aku hanya..”
“oke gak apa-apa. Jika kau masih belum bisa mengatakannya. Tapi asal kau tahu aja ya, terlepas dari seberapa buruknya sikapmu padaku.
Cintaku tidak akan.. pokoknya tidak akan pernah pudar sedikitpun. Karena aku mencintaimu sebanyak ini..” ocehnya seraya merentangakn tangannya selebar mungkin, membuat Ansell terkekeh dan merasa sangat-sangat bahagia dibuatnya.
“benarkah?” sahut Ansell yang mulai menuruni tangga.
Ahreum pun mengangguk seraya kembali melingkarkan kedua tangannya ditengkuk suaminya.
***
Sementara itu diarea pekarangan belakang Villa, tempat dimana mereka semua akan melangsungkan makan malam bersama.
Diatas tenda besar dan pastinya sudah ada meja panjang juga bangku disisi kanan dan kiri.
Terlihat Franky yang sudah memulai memanggang daging sapi sementara Nayeon membantu menata alat makan juga tugas sederhana lainnya. Sedangkan Abi yang berada dibangku seberang Franky tengah mencoba mengaduk sebuah adonan didalam mangkuk besar, yang nantinya akan ia goreng dikompor yang berada dihadapannya.
Selagi menunggu mereka tampak sibuk mempersiapkan semuanya, maksudnya memasak ya karena kan yang nyiapin semua peralatan dan juga bahan makanan para pelayan keluarga Dirgantara.
Sebenarnya para pelayan juga sudah menawarkan diri untuk memasakan makan malam, akan tetapi Abi bersikeras untuk melakukannya sendiri bersama dengan teman-temannya, dengan begitu akan lebih terasa suasana hangat dari pertemanan yang mereka jalin.
“apa kau pernah merasakan rasanya patah hati Frank..” ucap Nayeon lirih ditengah … suara desis daging sapi yang Franky panggang.
Franky pun melirik sesaat ke arah Nayeon sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada panggangan didepannya.
“tentu, memangnya siapa didunia ini yang tidak pernah merasakan patah hati.” Sahut Franky.
“hmm.. aku sudah mencoba yang terbaik yang aku bisa, meski berulang kali aku harus terluka dan tetap mengalah demi mempertahankan hubungan yang ku jalin. Pada akhirnya dia selalu mengambil jalan pintas, seakan yang memiliki perasaan hanya dirinya.
Bukan hanya 1 kali dia meminta pisah dariku, tapi itu terus terjadi saat kita terlibat 1 konflik yang bahkan ku fikir itu hanyalah masalah sepele.
Kau tahu..
Bahkan disaat dia terlibat masalah dengan dosen atau teman kuliahnya, dia selalu melampiaskan kekesalannya padaku. Dan dengan bodohnya, aku hanya menerimanya tanpa protes sedikitpun, kurasa.. cintaku padanya sudah melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri.
Hingga aku mampu menahan rasa sakit ini sendirian.”
Bersambung...
__ADS_1