Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 65


__ADS_3

Dikediaman keluarga Baghaskara.


Tampak Ahreum tengah berjalan melewati ruang tamu dengan langkah yang tergesa-gesa seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah, kalau-kalau orang yang dicarinya muncul entah dari mana.


“bi Lina.” Panggil Ahreum begitu ia melihat orang yang dicarinya tengah berjalan menuruni tangga, sembari menjinjing 1 tas besar ditangan kanannya.


Gadis itu pun kembali menarik langkahnya untuk menghampiri bi Lina yang tampak tersenyum menyambut kedatangannya.


“pagi non Ahreum, bagaimana kabar nona?


Nona nyaman dengan tempat tinggal nona sekarang?” sapa wanita tua tersebut.


Bi Lina adalah asisten rumah tangga senior dikediaman keluarga Baghaskara, usianya pun tidak terpaut jauh dari Seno, meski dirinya sudah memiliki keluarga dikampung suami dan kedua anaknya yang kini sudah beranjak dewasa, namun ia tetap tak ingin meninggalkan keluarga Bagaskhara yang telah membuat kehidupannya jauh lebih baik.


“aku baik, hehee, bagaimana dengan bibi?


ahh iya, ku dengar si kembar ke terima sekolah di SMA Sevit Jakarta ya, jalur beasiswa juga kan?” tanya Ahreum begitu bi Lina menginjkan kakinya dianak tangga terakhir kemudian berhenti dihadapan putri majikannya tersebut.


“hhehe, iya non, tapi cuma Joan yang dapet beasiswa, untuk Jessy bibi harus membayar penuh. Sebenarnya jika bukan karena bantuan tuan Seno, Jessy tidak akan mungkin bisa masuk sekolah bagus itu non, karena nilainya benar-benar berbanding terbalik dengan Joan.” Paparnya.


“ohh iya, ini hanya berisi perlengkapan skin care dan juga beberapa buku yang sering nona baca, untuk pakaian, tas, sepatu dan yang lainnya ada dikoper besar, sudah dibawakan oleh pak Ucup tadi, mungkin sekarang sudah berada dibagasi mobil, nanti pak Ucup yang akan mengantarkan keperluan nona semuanya.” Jelasnya panjang lebar.


“oke, nanti tolong antarkan ke aparteman Bougenville ya bi, titipkan aja di pos satpam, aku juga sudah bilang kok pada pak satpamnya tadi. Biar aku yang membawanya nanti, soalnya aku sekarang mau ke rumah sakit dulu.” Timpal Ahreum.


“ah iya, bibi juga sudah tidak sabar pengen ngeliat putranya nyonya Enzy hehee. Amm, kalau boleh tahu, itu nona bawa apa?” tanya bi Lina saat pandangannya mulai menjalar ke salah satu lengan Ahreum yang tengah menjinjing totebag .


“ahh ini..” ucap Ahreum seraya mengangkat tote bag yang ia bawa.


“ini bekal makan siang Ansell hehee.” Imbuhnya dengan diiringi senyum lebarnya.

__ADS_1


“ohh suami nona, wahhh nona so sweet banget.” Puji bi Lina yang langsung disambut tawa renyah oleh Ahreum.


“hhahaa, bi Lina tau darimana kata-kata so sweet, udah ah Ahreum pergi dulu ya. Tapi sebelum pergi sepertinya aku mau minum dulu, haus banget nih.” Celetuknya yang kemudian membalikan tubuhnya untuk melangkahkan kakinya menuju dapur.


“hehehe, memangnya nona Ahreum aja yang bisa bahasa gaul, bibi juga bisa dong, belajar dikit-dikit dari sinetron.” Sahut bi Lina seraya menyusul langkah Ahreum.


***


Disebuah kafe yang keberadaannya tidak jauh dari area kampus Royal collage of music, terlihat Jeno tengah mengantri dibelakang kasir bersama dengan para pengunjung lainnya.


Selang beberapa menit, setelah Jeno berhasil mendapatkan minuman yang ia inginkan, ia pun berjalan dengan 2 minuman yang berada dalam genggamannya dan pandangan yang langsung mengarah pada sebuah meja yang sudah berpenghuni.


“bagaimana? Kau sudah mendapatkan rumah yang kau inginkan?” tanya Jeno begitu sampai di meja yang dituju kemudian meletakan 2 minuman tersebut diatas meja seraya mendudukan bokongnya dikursi seberang lawan bicaranya.


“belum ada yang cocok, sekalinya aku suka, harganya mahal banget, yang harganya murah rumahnya kecil banget, hufft.” Keluh Hanna yang tengah menscroll layar diponselnya yang menampilkan beberapa gambar rumah yang akan dijual disitus xxx, ia pun mengistirahatkan jemarinya sejenak untuk meraih minuman segar yang dibelikan oleh Jeno lalu menyedotnya perlahan.


“aku menjual 1 mobilnya sebelum pulang ke Indonesia.” Ungkapnya begitu selesai menyedot minumannya dan kembali meletakannya diatas meja. Hal itu tentu saja membuat Jeno sontak membulatkan matanya karena saking terkejutnya mendengar jawaban dari karibnya tersebut.


“apa?! Kau sudah gila!” pekik Jeno.


“tenanglah, mereka juga tidak akan rugi kehilangan 1 mobil yang bahkan sudah tidak pernah dipakai. Bagaimana menurutmu kalau yang ini?” tanya Hanna seraya menunjukan sebuah foto rumah pada Jeno yang hanya diliriknya sesaat.


“astaga, kau benar-benar luar biasa.. tidak-tidak, kalian berdua benar-benar luar biasa.” Ucap Jeno seraya menggeleng kepalanya lalu menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dan melipat kedua tangannya diatas dada.


“Berdua?” ulang Hanna dengan kerutan didahinya.


“iya, kau dan Ahreum, aku sampai tak dapat berkata apa-apa.” Sahut Jeno seraya masih memandangi Hanna dengan sorot mata tajamnya.


“ciihh, kau fikir pacarmu tidak ada bedanya dengan kita, sama aja kali.” Celetuk Hanna seraya kembali menatap layar ponselnya.

__ADS_1


“yak! dia ikut gila karena ketularan kalian berdua tau! Sebelumnya dia hanya gadis polos manis dan penyayang. Tapi setelah dia bergaul dengan kalian, dia berubah menjadi nenek sihir.” Dumelnya dengan beberapa penekanan dibeberapa kata.


“augh shi**, yak! kita tuh gak gila, kita hanya mencoba menyesuaikan diri dengan kerasnya kehidupan, kita harus kuat agar tidak ditindas orang lain, begitulah cara kerja dunia, bukannya terus-terusan berlindung diketek seorang kakak.” Ocehnya panjang lebar yang membuat adu mulut itu semakin sengit diantara keduanya.


“yak! kau menyindirku?” respon Jeno tidak terima.


“baguslah jika kau tersindir.” Sahut Hanna yang tak mau kalah.


“dengar ya, aku bukan seorang pengecut seperti yang kau fikirkan, aku hanya.. hanya lebih menyukai kedamaian, kau tahu.” Belanya.


“damai pantatmu!


Ahh sudahlah, katanya mau membantu mencarikan rumah, malah ngajak ribut mulu.” Katanya yang ingin mengakhiri perdebatan yang tidak berguna itu.


“hmmm, baiklah, apa kau sudah menemukannya sekarang?” tanya Jeno yang kembali menurunkan nada suaranya, dan mencoba untuk melupakan bahasan selain rumah yang akan ditinggali oleh Rihanna.


“menemukan gimana, orang daritadi kau mengoceh terus.” Dumel Rihanna yang kembali memfokuskan dirinya pada pencarian rumah yang ada disitus xxx.


Jeno hanya menghela nafasnya untuk menanggapi dumelan Rihanna barusan karena tak ingin memicu perdebatan kembali yang membuat fokusnya teralihkan.


Selagi menunggu Rihanna mencari rumah yang diinginkannya, Jeno pun merogoh ponsel dari dalam saku celana untuk mengecek beberapa notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya beberapa saat lalu, dilanjut dengan meraih minuman segar yang sebelumnya ia beli lalu menyedotnya sembari memainkan ponselnya lengkap dengan tatapan seriusnya.


“yak! sejak kapan kelas matematika pindah kemari?!” tukas seseorang yang kini tengah berdiri tepat disamping meja, mendengar suara yang tak asing itu, membuat keduanya serempak menengokan wajahnya ke arah sumber suara.


Dan betapa terkejutnya keduanya kala mendapati Nayeon yang kini tengah menatap keduanya secara bergiliran dengan tatapan tajamnya seolah ingin menghabisi keduanya dengan sekali sikat.


Bersambung...


***

__ADS_1


__ADS_2