Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 221


__ADS_3

Aparteman Rihanna.


Meski sudah berusaha semampunya untuk melupakan mantan kekasihnya yang lebih memilih berpisah darinya dibanding memperjuangkan cintanya yang telah dijalin selama kurang lebih 3 tahun. Sampai ia ikut dalam reunian Hanna dengan teman-teman prianya, namun nyatanya fikirannya selalu saja kembali tertuju pada Jeno Alexander yang mungkin telah melupakannya.


“Nay!! Ayooo bangun!! Katanya mau melihat pertandingan basket Raffa.” Seru Rihanna yang baru saja masuk ke dalam kamarnya kemudian berjalan menuju tepi ranjang tempat dimana Nayeon masih membaringkan tubuhnya ke sisi lain dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya sampai area bahunya.


“kau saja. Aku hanya ingin tiduran.” Sahut Nayeon dengan nada lemasnya tanpa menoleh.


“Aiisshh!! Kau mulai lagi.


Sudah ayoo bangun!!” seru Hanna seraya menarik paksa tubuh karibnya yang lemah tak berdaya itu.


“Jika kau ingin melupakannya, kau harus memiliki effort untuk memulainya. Bukan hanya mengandalkan waktu yang akan menyembuhkan lukamu!


Ayoo bangun!! Aku sudah membuatkan sarapan kesukaanmu.” Sambung Hanna lagi seraya berusaha mengangkat tubuh Nayeon yang masih enggan menggunakan tenaganya untuk bangkit dari ranjangnya.


“Aiissshh!! Kau menyusahkan sekali.” keluh Hanna karena karibnya itu masih tak mau beranjak dari ranjangnya.


Hanna pun membanting tubuh Nayeon ke atas ranjang karena kesal, lalu beralih menyeret kedua kakinya dengan paksa dan membawanya keluar dari kamar dengan segenap kekuatan yang ia miliki.


“yak.. yak.. Aku tak mau ikut heuuu!!” rengek Nayeon yang berusaha berpegangan pada sisi ranjang, namun karena dirinya baru saja bangun tidur yang membuat tenaganya belum kumpul sepenuhnya, sehingga tenaganya tidak sebanding dengan karibnya yang sudah bertekad kuat untuk membawa Nayeon keluar dari kamar.


Sementara itu diarea dapur, Abi yang saat itu tengah mempersiapkan sarapan pagi diatas meja merasa terusik dengan suara-suara gaduh yang berasal dari kamar kekasihnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Abi keheranan kala melihat kekasihnya itu tengah menggusur karibnya layaknya seseorang yang tengah menarik karung beras.


“yak.. yak.. oke.. oke aku ikut, hentikan Rihanna, apa kau sudah gila?! Heuuu!!” rengek Nayeon lagi yang tengah melewati ruang tengah.


“seharusnya kau mendengarkan aku saat aku berbicara dengan baik, aku melakukan ini karena aku perduli padamu tahu!” pekik Hanna yang tak mau mendengar rengekan temannya dan terus saja menyeret Nayeon sampai ke depan pintu kamar mandi.


“sudah-sudah cukup Hanna.” Ucap Abi seraya mencoba membantu gadis yang tengah tengkurap itu berdiri.


“Iya, maafkan aku.” Katanya lirih yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


“tapi dimana baju salinku?” lanjut Nayeon yang kembali berbalik dan menatap ke arah Hanna yang masih berdiri didepan pintu sembari melipat kedua tangannya.


“NANTI KU BAWAKAN!” bentak Hanna yang kemudian menarik handle pintu untuk menutup pintu kamar mandinya dengan sedikit bantingan, tanda jika Nayeon mesti segera mulai membersihkan tubuhnya.


***


10 menit berlalu setelah insiden pemaksaan sebelumnya.



Selagi menunggu karibnya yang tengah membersihkan tubuhnya, Hanna terlihat tengah mengoperasikan mesin kopi otomatis yang dibelinya beberapa hari yang lalu melalui online.


Sedangkan Abi tengah mengaduk sup ayam diatas wajan yang berada diatas kompor dengan apron bermotifkan pulkadot pink yang melekat ditubuhnya.


“Apa kau harus sekasar itu dengan temanmu sendiri, Hanna?” tegur Abi seraya menghentikan aktifitas mengaduknya sejenak kemudian melirik ke arah Hanna yang tengah mempersiapkan 3 kopi.

__ADS_1


“Aku tidak mempunyai kesabaran yang cukup tebal. Ahh, kurasa karena itu Tuhan memberikan dirimu untukku. Ehhee.” Celetuk Hanna yang kemudian membawa ke tiga kopi tersebut ke atas meja makan.


Abi hanya bisa menaikan 1 alisnya karena masih belum mengerti maksud dari perkataan kekasihnya.


“Aku seperti bom waktu yang bisa meledak kapanpun, dan kau yang bertugas menjadi tuasnya.


Btw.. kapan aku bisa bertemu dengan bunda Anna.” lanjut Hanna yang kemudian memeluk Abi dari belakang dengan mesra.


“hmm.. tadinya aku ingin mengajakmu ke panti hari ini, tapi kau malah sudah memiliki janji dengan teman priamu itu.” sahut Abi yang kemudian mematikan kompor dan memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah kekasih yang dikasihinya yang kini tengah bermanja-manja dengannya.


“eeyyy.. itu bukan janji khusus seperti yang kau fikirkan, kau juga kan ikut menonton pertandingannya. Bagaimana setelah pertandingan selesai, kurasa tidak akan memakan waktu lama.” Saran Hanna yang lalu melingkarkan kedua tangannya dibelakang tengkuk Abi sedang 2 tangan Abi melilit dipinggul Hanna.


“bagaimana dengan Nayeon?” respon Abi.


“tentu dia juga harus ikut, aku masih belum bisa meninggalkannya sendirian.” Katanya dengan diakhiri senyum manisnya yang membuat Abi pun ikut tersenyum kemudian mengecup keningnya sekali sebagai tanda kasih sayangnya.


“ahh iya, kau melamar ke perusahaan KT. Group?” ujar Abi yang sontak saja membuat kedua pupil mata Hanna membesar.


“kau tidak bilang padaku? Kenapa?” lanjut Abi sebab Hanna masih tampak terdiam dan berusaha berfikir keras untuk merespon pertanyaannya.


“ehheehe, kok bisa tahu?


Apa Ansell yang mengadukannya padamu.” respon Hanna dengan tawa setengah hatinya.


“Apa? jadi kau hanya bilang pada Ansell dan bukannya padaku?!” keluhnya lengkap dengan raut wajah sebalnya.


“hhehee, aku tidak bilang padamu karena setidaknya aku ingin berusaha sendiri.” Hanna beralasan.


Karena dari yang ku tahu hanya bagian resepsionis yang menerima lulusan SMA dan juga penjaga keamanan.”


“begitu ya?” respon Hanna yang tampak sekali kekecewaan dalam raut wajahnya.


“tapi..” tambah Abi seraya mengelus sudut kening Hanna lembut dengan ibu jarinya.


“tapi apa?” sahut Hanna yang penasaran sekali dengan kelanjutan kalimat Abi.


“ada perekrutan yang mengesampingkan latar belakang pendidikan, semacam perekrutan khusus bagi pelamar yang memiliki keterampilan dan kegeniusan yang melebihi pelamar lainnya. Hanya saja perekrutan khusus itu diadakan 1 tahun sekali dan hanya ada 1 yang diterima dari ratusan bahkan mungkin ribuan yang melamar.” Jelas Abi panjang lebar sembari memperhatikan raut wajah kekasihnya yang kini tengah berfikir keras.


“Aku akan mencobanya!” seru Hanna mantap penuh dengan semangat yang membara, lengka dengan senyum lebar yang ia tunjukan pada kekasihnya.


“Oke.” Respon Abi yang merasa bangga dengan keteguhan dan ambisi kekasihnya itu yang lebih memilih untuk berjuang dengan kemampuan sendiri dibanding mengandalkan koneksi atau jalur pintas.


***


Kita beralih ke pasangan yang sudah menikah sejenak ya.



Diperjalanan Ansell dan Ahreum yang entah mau kemana, karena sedari tadi Ahreum nanya pun, hanya dijawab ‘berisik, nanti juga kau tahu!’ dengan nada ketus seperti biasanya.

__ADS_1


Sehingga akhirnya Ahreum pun memilih bungkam dan hanya menikmati perjalanannya saja dengan memandangi pemandangan diluar dari jendela mobilnya.


“Ansell..” Ahreum kembali bersuara seraya melirik ke arah suaminya yang tengah fokus menyetir.



“Apa lagi?!” ketus Ansell yang tetap mengarahkan pandangannya ke depan.


“Siapa cinta pertamamu?” tanya Ahreum yang berhasil membuat Ansell melirik padanya, namun lirikan itu tak berlangsung lama, lelaki beradarah dingin itu hanya menggeleng kepala dan kembali fokus pada jalanan.


“Hmm.. Sudah pasti Ilona kan, huffft.. Untuk apa juga aku menanyakan hal yang sudah pasti jawabannya.” Tambah Ahreum yang kembali mengarahkan pandangannya ke balik jendela setelah diabaikan oleh Ansell.


“bukan.” Jawab Ansell singkat namun entah kenapa hal itu bisa membuat Ahreum sangat-sangat bahagia, bahkan lebih bahagia dibanding saat dirinya terpililh menjadi perwakilan kampusnya untuk berkompetisi diluar negeri tahun lalu.



“Kau memiliki mantan lain rupanya selain Ilona, hhehee.” Respon Ahreum yang tampak kembali ceria setelah mengetahui jika cinta pertama suaminya bukanlah Ilona.


“dia, bukan mantanku.” Sahut Ansell lagi yang membuat Ahreum mengerutkan dahinya lantaran tak mengerti apa yang dimaksud Ansell.


“lalu?” tanya Ahreum yang semakin penasaran.


“Sudahlah kau tak perlu tahu!” ketus Ansell tajam yang membuat Ahreum memutar bola matanya jengah lantaran sikap dingin suaminya.


Karena terlalu fokus berinteraksi dengan suaminya, Ahreum sampai tak sadar jika dirinya kini sudah berada diarea pekarangan rumah abu (tempat pemakaman).


“ke.. kenapa kita kesini?” tanya Ahreum seraya mengedarkan pandangannya ke area sekitar.


“Aku ingin menyapa Ibumu, ayo turun.” Ungkap Ansell seraya mematikan mesin mobil  lalu melepas safety belt yang menahan tubuhnya.


Seakan tidak percaya dengan tujuan Ansell, Ahreum pun termenung untuk beberapa saat sembari memandangi suaminya yang kini hendak mendorong pintu mobilnya.



“kau tidak akan turun?!” sembur Ansell lengkap dengan nada ngegasnya begitu ia kembali berbalik dan melihat istrinya masih terdiam dikursinya.


“ahh.. iya.. iya. Emosian banget sih.” Racau Ahreum yang kemudian bergeges membuka safety belt dan menghampiri Ansell yang sudah lebih dulu melenggangkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah abu.


“tidak.. aku hanya tidak percaya, kau bersedia menyapa ibuku kemari.” Oceh Ahreum yang berusaha mungkin menyamakan langkahnya dengan suaminya.


“Karena pernikahan kita bukan lagi berlandaskan perjodohan, melainkan saling mengasihi. Aku hanya ingin menyapa Ibumu dengan benar kali ini.” sahut Ansell yang kemudian mengenggam lengan mungil istrinya sembari terus berjalan memasuki lorong-lorong seakan ia sudah tahu dimana letak guci abu dari mendiang ibu istrinya.



“kali ini?


Maksudmu kau pernah mengunjungi ibuku sebelumnya.” Tebak Ahreum.


“He'em, aku pernah mengunjungi ibumu 1 minggu sebelum pernikahan kita.”

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2