
“Halooo tante Ahreummmm!!!” seru Xena yang tampak gembira sekali ditengah situasi tegang yang terjadi diantara para orang dewasa.
“Ha.. halo.. hehehe.” Balas Ahreum canggung seraya melambaikan tangannya disertai senyum kikuknya.
Perlahan Ahreum melangkahkan kakinya mendekat ke area meja makan.
“sini, sini tante, duduk disebelah aku!!” seru Xena lagi seraya menepuk-nepuk kursi yang berada disampingnya.
“ada apa ini,
Apa Ayah sengaja mengatur pertemuan ini.” Ahreum membatin seraya berjalan perlahan menuju kursi yang berada disebelah Xena.
Namun kala Ahreum hendak mendudukan bokongnya, Xena tiba-tiba berubah fikiran dan..
“ehh, engga deh, kayanya tante disana aja dekat Ayah. Biar Nanaa bisa sambil liatin tante pas makan hehehe.” Seru Xena lengkap dengan senyuman lebarnya.
Meski awalanya ragu namun pada akhirnya Ahreum menurut dan berjalan menuju sisi lainnya untuk duduk disebelah Elios.
Makan malam pun berlanjut namun tidak semeriah sebelumnya, karena nyatanya hanya Xena yang menikmati makan malamnya dengan santai, sementara para orang dewasa merasa canggung dengan situasi yang terjadi antara Ahreum dan Elios.
“tante..” panggil Xena begitu Ahreum menyantap suapan pertamanya.
Baik Enzy maupun Ahreum menyahut panggilan sikecil Xena.
“Iya.” Sahut Ahreum dan Enzy bersamaan membuat keduanya saling melirik dan tertawa tipis.
“sepertinya kita harus membuat panggilan khusus deh hehee.” Tambah Enzy seraya ternyum renyah.
“hhheehe. Bagaimana kalau aku memanggil tante Ahreum mami aja?” ucap Xena diiringi dengan tawa kecilnya, yang sontak membuat Ahreum pun terbatuk, dengan sigap Elios langsung mengambilkan air untuk Ahreum.
“uhuukk.. uhuukk.. terimakasih dokter Elios.” Ucap Ahreum begitu mengaliri kerongkongannya dengan air mineral.
“aku bercanda kok. Aku tahu tante Ahreum adalah istri dari om Ansell.” ucap Xena lirih seraya mengaduk-aduk makanannya lantaran tiba-tiba meras sudah tidak selera.
“Nanaa. Jangan mainkan makanan seperti itu.” tegur Elios yang melihat sedari tadi putri kecilnya itu hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa ada niatan untuk melahapnya.
__ADS_1
“Iya ayah.” Patuh Xena dengan nada getir, ia pun kemudian berhenti mengaduk dan bersiap melahap kembali makan malamnya dengan raut wajah kecewa mendalam.
Ahreum menoleh ke arah Elios, seolah tengah meminta penjelasan mengenai kalimat yang dilontarkan oleh Xena barusan. Jika gadis kecil itu ternyata sudah mengetahui kebenaran yang selama ini mereka tutupi demi untuk menjaga hati si kecil.
Acara makan malam yang seharusnya penuh dengan kegembiraan kini berubah menjadi kelam, karena suasana hati si kecil Xena sudah tak seceria sebelumnya, membuat para orang dewasa pun berusaha mungkin menghiburnya.
“Nanaa.. tante Enzy punya hadiah loh buat Nanaa, mau lihat ngga?” seru Enzy yang disela menyantap makan malamnya.
“Iya nih, hadiahnya besar loh, sangaaaattt besar. Pasti Nanaaa suka.” Tambah Seno yang ikut berusaha mengembalikan mood gadis kecil yang tengah murung.
“bilang apa sayang..” timpal Elios, lantaran Xena masih juga terdiam tak bergeming.
“Iya terimakasih tante Enzy dan Om seno.” Ucap Xena dengan nada datar, setidaknya ia masih mematuhi perintah ayahnya.
“ahh iya, bagaimana kalau Nanaa panggil tante Enzy, Oma aja da nom Seno Opa?
Anggap aja kami berdua kakek dan nenek Nanaa, gimana?” saran Enzy seraya mengusap bagian atas kepala Xena kecil lembut.
“tidak mau.
Karena jika aku menganggap tante dan om sebagai kakek dan nenekku, maka tante Ahreum harus menjadi mamiku dulu.” Sahut Xena lengkap dengan tatapan sendunya untuk mengungkapkan rasa sakit yang kini mulai kembali menyelimuti dirinya.
***
“tante.” Panggil Xena tanpa menoleh melainkan tetap mengarahkan pandangannya layar televisi besar yang tengah menanyangkan sebuah acara sitcom.
“Iya Nanaa.” Sahut Ahreum yang duduk disamping Nana seraya menolehkan wajahnya.
“apa tante bahagia?” tanya Xena.
“ekhem.. Ayah ke kamar dulu sebentar ya. Sepertinya Sammy sudah bangun.” Pamit Seno seraya bangkit dari sofa kemudian meninggalkan ketiganya diruang keluarga.
“apa tante bahagia bersama dengan om Ansell?” tanya Xena lagi sebab sepertinya Ahreum enggan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
“Nanaa..” tegur Elios.
__ADS_1
“kenapa Ayah?
Bukankah pernikahan tante Ahreum dan om Ansell karena perjodohan, jika begitu tante Ahreum dan om Ansell tidak saling mencintai.
Sama seperti ayah dan bunda dulu.” Katanya seakan ingin melampiaskan emosionalnya.
“tante.. sangat mencintainya.” Ucap Ahreum mantap. “tante dan om Ansell saling mencintai Xena.” Tambah Ahreum agar semakin meyakinkan gadis kecil yang berada disisinya saat ini.
“bohong..
Aku mende..”
“Xena sudah hentikan.” Tegas ayahnya yang membuat Xena pun terdiam seketika, merasa kesal dan kecewa dengan 2 orang dewasa yang berada disisi kanan dan kirinya, ia pun bangkit dan berlari menghampiri Enzy yang kebetulan memang tengah berjalan menuju ruang keluarga.
Meski tak tahu apa yang terjadi, namun Enzy dengan sigap menggendong Xena seraya mengusap punggungnya mencoba untuk menenangkannya, sementara pandangannya mengarah pada 2 orang dewasa yang kini tengah berdiri mengarah padanya.
“tidak perlu khawatir, biar ibu yang menenangkannya.” Ucap Enzy seraya menatap Ahreum dan Elios secara bergantian kemudian pergi membawanya menuju kamar utama.
“Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi Ahreum?” tanya Elios begitu Enzy telah pergi, ia pun menoleh ke arah Ahreum yang berdiri tak jauh disampingnya.
“Iya.” Ucap Ahreum seraya memutar tubuhnya ke arah Elios disertai senyuman manisnya.
“Seharusnya aku bahagia mendengar berita itu, tapi kenapa.. hatiku malah terasa sakit sekali.” ungkapnya lirih.
“ku yakin kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku dokter El, karena memang sejak awal pun hubungan kita, perasaan yang kita miliki sudah salah. Meski pernikahanku berlandaskan perjodohan tapi bukan berarti perasaan ini bisa dibenarkan.
Aku sangat menyesal dan bersalah pada Ansell karena pernah goyah oleh pria lain. Maafkan aku.” paparnya seraya hendak menarik langkah pergi meninggalkan Elios, namun Elios tidak membiarkannya begitu saja, entah mengapa lengan panjangnya langsung meraih lengan Ahreum dan menarik tubuh mungilnya masuk ke dalam dekapannya.
“tolong jangan seperti ini dokter, aku mohon hiksss.. hikssss!!” tangis Ahreum pun pecah seiring dengan pelukan Elios yang kian menenggelamkan tubuh mungilnya.
“Maafkan aku Ahreum, semakin aku mencoba menahannya semakin aku tak bisa membiarkanmu pergi. Sepertinya aku sudah benar-benar mencintaimu.”
“KUMOHON!!...” teriak Ahreum seraya menarik tubuhnya dengan paksa keluar dari dekapan erat Elios. “kumohon.. hikkkksss.. hentikan.. Aku sudah memiliki suami, dokter El.. hikssss!! Aku tak ingin menghancurkan kepercayaannya, karena aku sangat mencintainya. Aku sungguh-sungguh.
Ku harap takdir tidak akan pernah mempertemukan kita kembali.” Tegas Ahreum yang kemudian pergi dengan isak tangis yang kian menjadi.
__ADS_1
***
Bersambung...