Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 250


__ADS_3

Malam harinya, diruangan Ahreum Nathania, selepas kepulangan ibunya yang kembali ke kediamannya, kini tinggalah Ahreum dan Rihanna yang tampak bersantai duduk bersebelahan diatas ranjang sembari menikmati makanan ringan juga film horror yang diputar oleh Rihanna beberapa menit yang lalu.


Hingga tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka membuat keduanya refleks mengalihkan perhatian mereka pada seseorang yang akan muncul dari balik pintu.



“Hai!” sapa Jeno lengkap dengan box smilenya, ia pun perlahan berjalan memasuki ruangan dengan membawa 1 kantung kresek yang dipenuhi buah-buahan segar.


“Rajin banget kau datang kemari,” celetuk Rihanna yang membuat Jeno mendengus sebal.


Tanpa disuruh Jeno langsung menata buah-buahan segar yang dibelinya dalam perjalanan kemari ke dalam lemari es disudut ruangan.


“Film apa nih?” seru Jeno seraya sesekali melirik ke arah televisi yang tengah menayangkan sebuah film bergenre horror.


“Pee Mak, horror Thailand,” sahut Ahreum ditengah fokusnya memperhatikan alur cerita film tersebut.


“Dihh film jadul, kenapa gak nonton film Train to Busan-Peninsula aja,” kata Jeno yang kemudian bergabung diantara kedua teman perempuannya, ia menarik single sofa sampai ke sisi ranjang Ahreum. Iya, alih-alih duduk dikursi besi kecil, Jeno memilih tempat duduk yang nyaman baginya.



“Kau bosan hidup?!” tukas Rihanna tajam, dia mungkin bisa menahan rasa takutnya dari segala macam hantu yang ada didunia namun tidak dengan Zombie, baginya Zombie adalah makhluk yang paling menyeramkan selain manusia. Hehee.


“hihihi!” ledek Jeno seraya ikut menyomot cemilan yang ditaruh ditengah ranjang.


“bagaimana keadaan kak Winter?” tanya Ahreum seraya melirik sejenak ke arah Jeno yang tengah memfokuskan atensinya pada film hantu Thailand.



“hmm, entahlah, dibilang baik.. sebenarnya ngga juga sih, dibilang buruk, tapi ya ngga buruk-buruk bangetlah. Kakak masih bisa tersenyum, tertawa, bahkan sekarang lebih sering menghabiskan waktunya membuat kue bersama dengan para maid,” respon Jeno seraya mengunyah cemilannya.


“bukannya jagain kakakmu malah keluyuran aja kerjaanmu,” sambar Rihanna lengkap dengan lirikan sinisnya.


“asal kau tahu aja ya, aku tuh habis audisi di agensi xxx, huhhh! Lelah sekali, bayangkan dari subuh aku sudah mengatre disana,” keluhnya dengan diakhiri hembusan nafas kasar.


“Jadi kau sudah mantap ingin menjadi idol?


Tidak akan meneruskan bisnis papi, dan perjodohanmu juga sudah dibatalkan?” Ahreum menanggapi keluhan karibnya.


“Iya mau bagaimana lagi, aku sudah berbaik hati berkorban demi kakakku, tapi kak Ben malah menyiakannya, katanya dia lebih memilih berusaha dengan kemampuannya sendiri, dibanding harus melihat orang lain menanggung konsekuensi dari kebahagiaannya,” papar Jeno lagi.


“yak! kau ini tidak tahu terimakasih sekali sih, kak Ben mengalah mundur demi kebaikanmu tahu!” geram Hanna yang kesal dengan sikap angkuh Jeno.


“aku tahu, aku tahu, kak Ben melakukan hal itu untuk kebaikan ku, tapi, kau seperti tidak tahu mami aja. Cinta, kasih sayang?!


Ciihh!! Mami tidak pernah mengenal kedua hal itu, mau sekeras apapun kak Benn berusaha, mami hanya melihat keuntungan yang akan mami dapatkan nantinya. Dulu selain om Seno memberikan sahamnya pada mami, kak Winter masih bisa membuat mami bangga dengan kepopulerannya sebagai penari ballet terbaik.

__ADS_1


Tapi  sekarang, kakakku sudah tidak bisa menari lagi, ditambah insiden itu disebabkan oleh kak Benn sendiri yang datang terlambat untuk menyelamatkan kak Winter.


Aku hanya mencoba berfikir realistis aja, meluluhkan hati batu seperti mami bukanlah hal yang mudah Rihanna,” papar Jeno yang membuat Rihanna pun terdiam seketika.



“tumben kau bisa bijak juga,” respon Ahreum.


“lalu menurutmu, mereka berdua sudah benar-benar tidak bisa kembali bersama begitu?” timpal Hanna setelah terdiam beberapa saat.


“Entahlah, aku hanya bilang sulit bukan berarti tidak ada harapan sama sekali,” sahutnya disela menikmati cemilan dan film horror yang sesekali membuatnya terkejut lantaran setannya yang datang tiba-tiba.


...****************...


Sementara itu dikamar sebelah, beda dengan ruangan Ahreum yang tampak ramai oleh suara-suara yang dihasilkan dari film horror yang kini tengah mereka tonton, ruangan Ansell begitu hening hanya terdengar suara dentingan jam dinding.



Ansell berdiri disamping dinding kaca besar seraya menurunkan pandangannya pada area pekarangan rumah sakit dengan sebuah gelas berisikan air mineral yang berada dalam genggamannya.


Tiba-tiba sebuah cuplikan terlintas dalam benaknya, hari dimana ia membawa paksa Ahreum ke hotel untuk menggodanya, Ansell benar-benar tak menduga jika istri mungilnya itu akan melakukan hal ekstrem seperti bergelantungan kesana kemari demi menghindari sesuatu yang akan merenggut kegadi**sannya.


Ia juga melihat raut wajah penuh kemenangannya, kala Ahreum berjalan sembari sesekali meloncat di area pekarangan, setelah dirinya berhasil melewati masa-masa kritisnya bergelantungan dan berpijak kesana kemari untuk turun dari 1 lantai ke lantai lainnya.


Tak hanya itu, ingatan randomnya kembali membawanya pada hari dimana dia membuka pintu aparteman dan mendapati Ahreum yang tengah melaju dengan koper besarnya, karena dirinya tak bisa mengendalikan koper yang melaju cukup cepat, alhasil dirinya menghantam dinding aparteman, beruntung helmnya masih melekat erat dikepalanya, jika tidak mungkin tak hanya lututnya yang cedera tapi kepalanya juga.


Hal itulah yang membuat Ansell menjadi pribadi yang dingin, arrogan, dan angkuh. Seakan tidak ingin percaya lagi dengan sebuah kata cinta, ia menutup diri dari siapapun dan membuat benteng yang sangat kokoh untuk pertahanannya.


Namun dengan kehadiran Ahreum, perlahan benteng itu mulai mengikis, batu es yang selama ini ia jaga telah mencair seiring dengan limpahan kasih sayang dan juga waktu yang telah mereka habiskan bersama-sama.


Ansell mulai merasakan kembali kehangatan dalam dirinya, hingga kini ia berada dititik dimana dirinya rela melakukan hal apapun demi bisa kembali bersama dengan istri yang sangat dicintainya itu, bahkan jika ia harus menurunkan egonya dan mengemis pada kakak iparnya untuk mengembalikan Ahreum ke sisinya, ia akan melakukannya.


Tok.. tokk..


Ansell terhentak dalam lamunannya kala suara ketukan pintu terdengar ditelinganya.


“masuk!” perintah Ansell seraya mengarahkan pandangannya pada sosok yang akan muncul dari balik pintu.


“Apa yang kau lakukan disitu, tidak istirahat?” kata Abi yang muncul dengan setelan casualnya, kaus oblong dan celana pendek berwarna gelap.


“hanya…, ingin saja,” sahut Ansell yang kemudian menarik langkah menuju sofa, ia meletakan gelasnya diatas meja lalu mendudukan bokongnya disudut sofa.


“kau pulang saja, tak perlu menemaniku malam ini,” imbuh Ansell yang kemudian bersandar dan menopangkan kakinya.


“aku sudah menemukan pelakunya, orang yang mengirimkan foto itu padamu,” papar Abi yang kemudian ikut duduk disofa disebelah Ansell.

__ADS_1


Ansell mengangkat 1 alisnya seraya melirik ke arah Abi untuk menunggu penjelasan lebih detail.


“seorang gadis bernama Lilian, (lanjut Abi seraya merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya kemudian mengutak-atiknya seakan tengan mencari sesuatu untuk ditunjukan pada Ansell)


Pagi itu dia melamar sebagai juru masak di kediaman pak Seno Bagaskhara, dengan mudah dia bisa lolos dan langsung bekerja karena keterampilannya dalam mengolah makanan. Ibu Enzy langsung menyukainya kemudian memintanya untuk membantunya memasak hidangan yang special karena hari itu adalah hari dimana Ibu Enzy mengundang dokter Elios dan Nana makan malam.


Entah kenapa, nona Ahreum bisa tiba-tiba datang, dari informasi yang ku dapatkan baik pak Seno maupun Ibu Enzy keduanya sama sekali tidak pernah mengundang nona Ahreum. Sedangkan nona Ahreum bersikeras berkata jika Ibu Enzy yang memintanya pulang malam itu untuk makan malam bersama.


Dan setelah ku selidiki lebih lanjut, ibu Enzy memang sempat kehilangan ponselnya, kurasa memang ada seseorang yang menjebak nona Ahreum dan dokter Elios.


Apa kau pernah melihat gadis ini sebelumnya?” tanya Abi seraya menunjukan sebuah foto dalam layar ponselnya, Ansell pun mengambil alih ponsel milik Abi dan menatapnya dalam seolah tengah mencari ingatan pada wajah gadis tersebut.


“Ya, aku pernah melihatnya keluar dari ruangan Cassandra sewaktu Cassandra dirawat dirumah sakit dulu, saat insiden penculikan, mungkinkah…,”


“Bisa jadi, bukankah dia sudah mengakui sendiri jika tujuannya mendekatimu selama ini adalah untuk membalas dendam, bukan tidak mungkin memang dia dalang dari permainan ini,” kata Abi yang membuat Ansell terdiam sejenak seakan tengah menimbang sesuatu dalam fikirannya.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?


Perlukah kita membalasnya?” tanya Abi yang sudah siap menerima segala perintah dari atasannya.


“tidak perlu, biarkan saja untuk kali ini, anggap saja dengan meloloskannya sebagai tanda permintaan maafku dan rasa bersalahku pada saudari kembarnya yang telah tiada. Aku harap dia benar-benar berhenti dan bisa melanjutkan kembali kehidupannya.” Ansell menuturkan seraya memberikan kembali ponsel miliki Abighail, kemudian beralih meraih gelasnya dan meminumnya.


“hmm, baiklah jika itu yang menjadi keputusanmu, tapi kurasa kau harus waspada, karena aku merasa gadis itu selalu dipenuhi aura negative. Aku khawatir dia hanya berpura-pura berdamai didepanmu,” kata Abi mengingatkan.


“hmm,” respon Ansell seraya menaruh kembali gelasnya setelah menghabiskan air minumnya.


“kau sudah makan?” Abi mengubah topic pembicaraan.


“belum, makanan rumah sakit hambar, pesankan aku makanan saja,” pinta Ansell yang langsung dilaksanakan oleh Abi.


“ahh iya, tolong buang makanan yang ada di lunch bag itu atau mau kau beri pada orang lain pun terserah,” kata Ansell lagi seraya bangkit dari sofa dan menunjukan keberadaan sebuah lunch bag tersebut.


Abi mengerutkan dahinya, “dari siapa?” tanya Abi penasaran.


“Cassandra,” jawab Ansell singkat yang kemudian meraih ponselnya yang berada diatas nakas lalu membaringkan tubuhnya diranjang sembari memainkan ponselnya.


“Aneh sekali, untuk apa dia memberikanmu makanan, apa dia mau meracunimu?” celetuk Abi seraya bangkit dari sofa kemudian menarik langkah mendekati keberadaan lunch bag tersebut dengan raut wajah penuh curiga.


“Kalau kau mau, makan saja,” sahut Ansell.



“Tidak, makasih, aku sudah makan bersama dengan kekasihku tadi sore,” sombongnya yang membuat Ansell langsung diselimuti rasa iri dengki terhadap karibnya itu.


“Sial!” umpat Ansell pelan.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2