Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 72


__ADS_3

Sementara itu di aparteman Bougenville.


Begitu Ansell memasuki apartemannya, ia langsung mengarahkan pandangannya ke segala arah seraya mulai menarik langkah menelusuri semua ruangan yang ada diapartemannya, seolah tengah mencari sosok istri mungilnya.


Namun ia tak juga menemukannya dimanapun, hingga membuatnya terdiam seketika seraya memijat bagian sudut dahinya karena rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya. Begitu mendapati istrinya masih belum kembali ke kediamannya.


Tak ingin membuang waktu, Ansell pun langsung merogoh ponsel yang berada dalam saku jasnya, kemudian dilanjut dengan mengetik sebuah angka dilayar ponselnya yang akan langsung terhubung pada ponsel istrinya tersebut, selagi menunggu panggilan itu tersambung Ansell memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya dan keluar dari kediamannya.


Ditengah perjalanannya menuju sebuah lift yang berada disudut koridor, raut wajahnya tampak masam seolah tengah menahan rasa kesal karena telfonnya tidak juga diangkat oleh Ahreum. Yang membuat dirinya kini terpaksa beralih menelfon asistennya, Abighail, yang baru beberapa menit lalu mengantarkannya kekediamannya.


“kau dimana?” tanya Ansell lengkap dengan nada tingginya seraya menekan tombol lift yang akan membawanya kembali ke baseman, tempat dimana mobilnya terparkir.


“masih dibaseman, ada apa?” Sahutnya seraya kembali mematikan mesin mobilnya.


“tunggu!” perintah Ansell sebelum menutup sambungan telfonnya.


-----


“ada apa?” tanya Abi begitu Ansell masuk ke dalam mobil dan menduduki kursi disamping pengemudi lengkap dengan raut wajah yang dipenuhi amarah.


“lacak dimana Ahreum berada!” perintah Ansell yang kemudian dilanjut memakai safety.


“oke, sebentar.” Sahut Abi yang langsung mengambil sebuah tablet yang berada diatas mobil untuk menjalankan perintah dari atasannya.


“dari lokasi ponselnya terkini nona Ahreum berada di kantor pak.” Ucap Abi seraya memandangi layar yang menunjukan lokasi GPS Ahreum berada.


“mau apa dia kesana.” Gumam Ansell lengkap dengan raut wajah bingungnya.


“saya coba cek cctv disana.” Lanjut Abi yang seakan mengerti harus melakukan apa, tanpa perlu diperintah oleh Ansell.

__ADS_1


“nona Ahreum ke kantor untuk mengambil sepeda.” Ucap Abi lagi seraya memberikan tabletnya pada Ansell, agar Ansell bisa melihatnya sendiri apa yang dilakukan istri mungilnya itu diarea pekarangan kantornya.


Betapa bahagianya Ansell sampai tak sadar jika kini sudut bibirnya terangkat membentuk setengah lingkaran, kala ia melihat istri mungilnya itu tengah berjalan diarea pekarangan kantornya seraya menuntun sepeda disampingnya.


Namun tentu saja senyuman lebar itu tak bertahan lama, saat ia menyadari jika ternyata Ahreum tengah berjalan menuju tempat dimana sosok pria asing itu berada, setelah membuka lebar pintu bagasi mobilnya dengan sigap pria itu pun membantu Ahreum untuk memasukan sepeda miliknya ke dalam bagasi mobil.


Raut wajahnya kini berubah drastis, amarahnya kembali menguasai dirinya sepenuhnya, “berani sekali dia datang ke kantorku bersama dengan pria lain!” geram Ansell yang masih mengamati pergerakan keduanya didalam video CCTV.


“SIAL!!” umpat Ansell yang kemudian langsung melemparkan tablet yang tengah digenggamnya itu hingga membentur bagian kaca depan mobil.


Bukan tanpa alasan amarahnya semakin menjadi-jadi, iya, Ansell melihat pria asing itu mengusap lembut bagian kepala atas Ahreum lengkap dengan pandangan yang begitu intens mengarah pada istri mungilnya, sebelum keduanya menarik langkah menaiki mobil.


“ada apa?” tanya Abi yang kebingungan dengan perubahan sikap Ansell, yang tadinya kesal, namun melihat sosok istrinya didalam layar tablet membuatnya kembali tersenyum, tak sampai 3 menit emosinya berubah kembali seperti semula, layaknya seorang wanita yang tengah datang bulan.


“IKUTI SIGNAL GPS GADIS ITU CEPAT!” perintah Ansell dengan kekesalan yang sudah tak dapat dibendung.


“tabletnya kan sudah kau rusak barusan, Ansell.” Sahut Abi yang hampir kehilangan kesabaran menghadapi sikap atasan dan juga sekaligus temannya itu.


“augghh!! Jika dia bukan atasanku mungkin sudah ku lempar dia ke sungai Ciliwung dari dulu.” Gerutunya pelan seraya menancapkan gasnya dan melaju keluar dari baseman aparteman Bougenville.


“dia bilang nona Ahreum datang ke kantor bersama dengan seorang pria, hmm.. tidak mungkinkan pria itu pak Elios, aku ragu, sebenarnya keputusan nyonya Carrisa untuk menjodohkan Ansell dengan nona Ahreum itu apa sudah benar?


Bagaimana jika nona Ahreum tidak lebih baik dari nona Ilona, apa yang akan terjadi pada Ansell.” Gumam Abi seraya melirik sesekali pada Ansell yang masih terdiam dengan pandangan lurus ke depan.


***


Diparkiran rumah sakit Haneul Jakarta, saat itu Ahreum masih berada didalam mobil seraya mengetikan sesuatu dilayar ponselnya.


“mau kakak temani sampai ke ruangan?” tawar Bennedict seraya melirik ke arah Ahreum, begitu ia mematikan mesin mobilnya.

__ADS_1


“engga kak, sudah malam, kakak juga mesti balik lagi ke kantor kan? Tolong buka bagasi mobil aja aku mau nurunin sepedaku.” Sahut Ahreum yang telah selesai dengan aktifitas mengetiknya kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.


“oke baiklah, biar kakak yang turunkan.” Ucap Bennedict seraya melepas safety belt lalu menarik handle pintu mobilnya dan turun dari mobil, bersamaan dengan gadis mungil yang tengah duduk dikursi sebelahnya.


Mereka berdua pun berjalan menuju bagian belakang mobil Bennedict dengan kecepatan langkah yang sama.


Sementara Bennedict menarik handle pintu bagasi dan mengeluarkan sepeda, Ahreum hanya memperhatikan gerakan Bennedict dari samping yang tengah menurunkan sepeda miliknya.


“oke makasih kak Ben, aku pamit ya, mau menaruh sepeda dulu diparkiran rumah sakit. Bye kak Ben, hati-hati.” Pamit Ahreum seraya pergi menuntun sepedanya ke parkiran belakang rumah sakit.


Bennedict hanya membalasnya dengan senyuman hangat yang sebenarnya tidak bisa Ahreum lihat juga, karena gadis mungil itu keburu pergi meninggalkannya.


***


Ahreum tak langsung menuju ruangan ibunya kala itu, ia lebih memilih untuk menghilangkan rasa hausnya dengan air mineral gratis yang memang sengaja disediakan oleh pihak rumah sakit diloby. Kemudian ia pun berjalan menuju kursi panjang yang berada disudut ruangan, sembari mengistirahtkan tubuh letihnya sejenak.


Glekk.. gleekk.. Ahreum sangat kehausan sekali sampai botol mineral itu habis tak tersisa. Eeuuu!! Terdengar suara sendawanya menggema dalam ruangan hening tersebut, yang membuat beberapa staff yang tengah berlalu lalang sontak mengarahkan pandangannya pada gadis yang tengah terduduk dipojokan.


Karena merasa malu Ahreum pun menutupi wajahnya dengan botol air mineral yang telah habis itu sampai semua orang yang menatapnya tadi pergi dan kembali melakukan aktifitasnya.


“apa yang kau lakukan disini!” ucap seseorang yang tiba-tiba berada dihadapannya.


“Ansell..” ucap Ahreum seraya menengadahkan wajahnya ke atas.


“aku mau menemui kedua orang tuaku.” Lanjutnya lagi seraya bangkit dari tempat duduknya.


“lalu, dimana pria yang tadi pergi bersamamu!” pekik Ansell lengkap dengan sorot mata tajamnya, seakan tengah mengintimidasi istri mungilnya tersebut yang masih menggenggam erat sebuah botol kosong.


Bersambung...

__ADS_1


***


[Yuuhuuuuu!! Yang baca novelku, selain Like, boleh dong minta komennya. Hihihii, biar rame aja gitu, makasih eak]


__ADS_2