
“halo..” sapa Bennedict setelah meneguk 1 kali air mineralnya.
“dengan Abighail pramudya?” lanjut Bennedict yang kemudian meletakan kembali gelasnya diatas meja setelah cukup mengaliri kerongkongannya.
“saya Bennedict, tolong sampaikan pada atasanmu. Jika Ahreum tidak akan pulang untuk malam ini, Ahreum akan menginap dihotel xxx bersama saya. Jadi tak perlu menunggunya.”
Tak banyak berbasa-basi dan langsung ke tujuannya, begitulah Bennedict.
Telfon pun dimatikan secara sepihak tanpa mencoba menunggu respon dari sang penerima, karena memang tujuannya hanya untuk memberitahu bukan meminta ijin.
Selang 20 menit kemudian.
Took.. tokkk!!
Terdengar suara ketukan pintu yang nyaring dari luar, membuat Bennedict yang tengah terduduk disofa sembari menonton siaran televisi pun dengan sangat terpaksa beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju pintu, untuk mengecek siapakah yang hendak bertamu ditengah malam seperti ini.
Bennedict membulatkan kedua matanya kala ia mendapati seseorang yang tak asing kini berdiri dihadapannya.
“bukankah sudah..”
“maafkan jika saya lancang. Tapi walaubagaimanapun juga Ahreum adalah tanggung jawab saya, karena Aherum sudah menjadi istri saya. Jadi tolong ijinkan saya membawa Ahreum pulang.” Potong Ansell sebelum Bennedict menyelesaikan kalimatnya.
“dia sudah tidur.” Ucap Bennedict seraya melirik kearah sofa tempat dimana adik perempuannya itu tidur.
“saya akan menggendongnya.” Sahut Ansell.
Bennedict pun tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya menyingkir dari ambang pintu untuk mempersilahkan Ansell masuk dan menghampiri Ahreum yang masih tertidur pulas.
“jika kau begitu mencintainya, kenapa kau selalu membuat Ahreum salah paham terhadapmu dan berakhir membuat dirinya terus menjauhimu. Memangnya ungkapan cinta atau kasih sayang bisa menjatuhkan harga dirimu?!” ujar Bennedict seraya memperhatikan Ansell yang masih berdiri disamping sofa dengan kedua mata yang terus mengarah pada wajah adik mungilnya itu.
Entah apa yang tengah Ansell fikirkan, hanya saja raut wajah itu tampak sendu.
“ku dengar ini karena cinta dimasa lalumu, kau masih belum bisa melupakannya.” Lanjut Bennedict yang kemudian bersandar didinding sembari melipat kedua tangan diatas dadanya dengan pandangan yang masih mengarah pada adik iparnya itu.
“dan kebetulan kini ada wanita yang muncul dengan paras yang mirip mantan kekasihmu itu. Dengar ya, meski mereka berdua terlihat mirip, bukan berarti dia gadis yang sama seperti mantan kekasihmu dulu. Sadarkan dirimu! Kau tak bisa bersama dengan masa depanmu jika kau masih hidup dalam masa lalumu.”
“kau hanya akan berakhir kehilangan keduanya karena keserakahanmu itu.”
“beri saya waktu.” Gumam Ansell.
__ADS_1
“cihh.. waktu?
Berapa lama yang kau butuhkan? 1 minggu, 1 bulan atau 1 tahun?!
Kau tahu! Itu hanyalah sebuah alasan klise yang dipakai oleh orang bodoh sepertimu. Dengan terus mengulur waktu dan hidup dalam kebimbangan kau hanya akan terus mendorong Ahreum pergi jauh darimu. Sekarang atau tidak selamanya!” tegasnya dengan sorot mata tajam yang mampu membuat lawan bicaranya terintimidasi.
***
Di baseman aparteman Bougenville.
Tampak Ansell tengah menggendong Ahreum, cara gendong yang seperti biasa. Layaknya bocah kecil digendong didepan oleh ayahnya.
Meski cara gendong seperti itu tidak umum untuk beberapa pasangan lainnya, ya biasanya kan para lelaki menggendong ala bridal gitu, cuma gatau kenapa Ansell lebih nyaman menggendong Ahreum dengan mendekap hangat tubuh istri mungilnya itu.
Ia pun berjalan santai menuju lift aparteman dengan sesekali mengusap lembut kepala istrinya yang masih tertidur lelap dalam gendongannya.
Trenneeengg .. suara pintu aparteman yang terbuka.
Ansell pun masuk ke dalam dan langsung menuju kamar istrinya, namun saat tangannya hendak menarik handle pintu mendadak lengannya berhenti bekerja kemudian melirik ke arah kamarnya yang berada disamping.
Ia pun mengurungkan niatnya untuk membawa istrinya menuju kamarnya, dan memilih untuk menarik langkah menuju kamar miliknya.
Namun baru saja kepala Ahreum mengenai bantal, tiba-tiba saja kedua matanya terbuka hingga membuat Ansell sedikit terkejut.
“dimana ini? kau! Bagaimana kau bisa ada disini?” serunya seraya bangkit dari tidur kemudian mundur kesudut dekat sandaran ranjang.
“apa sih, kau lupa dengan tempat tinggalmu sendiri?!” sinis Ansell yang berdiri disamping ranjang kemudian memasukan salah satu tangannya ke dalam saku celana dengan pandangan yang masih menatap lurus ke arah Ahreum.
“itulah maksudku, kenapa tiba-tiba aku bisa berada dikamarmu!” seru Ahreum lengkap dengan sorot mata tajamnya.
“kenapa? bukankah sudah jelas, aku yang membawamu kemari! Kau kenapa sih.” ujar Ansell seraya mengerutkan dahinya.
“seharian ini kau kemana aja dengan Rihanna, apa yang kau lakukan sampai harus mematikan ponselmu!” lanjut Ansell lagi.
“itu bukan urusanmu.” Sahut Ahreum yang kemudian menurunkan kedua kakinya ke lantai untuk beranjak dari ranjang besar Ansell.
“apa?” respon Ansell seraya menahan lengan Ahreum.
“ada apa denganmu Ahreum?” sambung Ansell lagi yang masih belum mengerti dengan sikap aneh istrinya itu.
__ADS_1
“tidak ada. Aku ngantuk, tolong lepaskan aku.” Pinta Ahreum yang mulai menurunkan nada suaranya.
“kau bisa tidur disini mulai sekarang.” Ucap Ansell mantap seraya menatap kedua manik Ahreum kemudian melepaskan tangannya dari siku Ahreum.
“kenapa?” tanya Ahreum dengan 1 alisnya yang terangkat.
“apa kau juga akan tidur disini? Bersamaku?” lanjut Ahreum yang mencoba menyimpulkan menurut versinya sendiri.
Namun alih-alih langsung menjawab pertanyaan Ahreum, Ansell tampak terlihat sangat gugup seakan tengah berfikir keras, kalimat apa yang seharusnya ia lontarkan.
Hatinya ingin sekali berkata iya, namun tidak dengan lidahnya yang tampak keluh dan tak bisa berkata sepatah katapun.
Membuat Ahreum terkekeh. “ckckck.. mari kita hentikan aja, Ansell. Jika kau menginginkan wanita yang mirip dengan kekasihmu itu silahkan saja, buat dia menjadi milikmu dan ulang kembali kisah cintamu. Aku tak tertarik untuk menunggu atau bertahan untuk pria sepertimu.
Setidaknya perjanjian sialan itu sudah kita lakukan. Aku tak perlu menghabiskan hidupku bersama dengan pria brengsek sepertimu, karena aku pun sudah menemukan cinta sejatiku. Sebaiknya kita akhiri aja pernikahan sialan ini!!” tukas Ahreum yang kemudian menarik langkah pergi.
“APA?! cinta sejati?
Kau berselingkuh dibelakangku Ahreum?! jadi kau hanya membual tentang akan setia sampai kita benar-benar berpisah?
Ciihhh!!.. ternyata kau pun sama saja, tak ada bedanya dengan gadis murahan yang berada diluaran sana!!”
Plaaakkkk .. sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus Ansell yang membuat dirinya benar-benar terkejut , karena tak menduga jika Ahreum akan bertindak kasar seperti itu padanya.
“kenapa?! marah?! Kau tak suka mendengarnya?!
Bukankah sekarang kau sudah menunjukan karakter aslimu, Ahreum!! tidak perlu menjadi sosok gadis lugu atau polos. Karena dirimu tak lebih sama hal nya dengan gadis JAL***G yang berada diluaran sana!! Kau tahu!!
Kau sangat menjijikan!! Bagaimana mungkin aku bisa berakhir dengan gadis rendahan sepertimu, aku benar-benar sangat sial bisa dijodohkan dengan gadis liar sepertimu.”
“brengse***kk.. kau fikir, kau lebih baik dariku hah!!
Kau angkuh, arogan, pecundang yang tak bisa keluar dari bayang-bayang masa lalunya. Bersikap sok kuat padahal sering nangis dipojokan karena ingat dengan gadis yang sudah mati!!
Kemudian kau menjadikan gadis aneh itu sebagai pengganti Ilonamu yang sudah mati hanya karena wajah mereka mirip. Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu Ansell?!
Kau tak akan bisa menemukan kekasihmu dalam diri orang lain meski paras mereka sama. Kecuali.. jika gadis itu adalah Ilona sendiri.”
“apa?!”
__ADS_1
Bersambung...