Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 159


__ADS_3


Di dalam mobil yang dikendarai Ansell.


Terlihat Ahreum sudah tidur dikursi yang sengaja diturunkan sandarannya oleh Ansell agar Ahreum bisa tidur dengan nyaman selama perjalanannya kembali menuju kediamannya yaitu aparteman Bougenville


“haaciiiwww..” namun lagi-lagi Ahreum terbangun karena bersin dan juga pernafasannya yang kurang lancar lantaran hidungnya yang tersumbat.


“aarghhh.. hiksss..” rengek Ahreum yang kemudian memiringkan tubuhnya ke sisi lain berharap agar posisi tersebut bisa membuat dirinya lebih baik.


Melihat kondisi istrinya yang sedang menahan sakit atau virus yang menyerang tubuhnya membuat Ansell cemas dan tak tenang hingga beberapa kali melirik istrinya itu yang terus membuat suara-suara khas orang yang tengah terserang flu.


Sampai 30 menit kemudian mobil pun akhirnya terhenti.


“hmm.. apa sudah sampai?” tanya Ahreum yang kembali terbangun begitu mesin mobil dimatikan.


“dimana ini? sepertinya bukan diparkiran baseman aparteman Bougenville.” Oceh Ahreum lagi seraya mengucek-ngucek matanya dan mencoba memperhatikan kembali dengan serius lokasi mereka saat ini.


“rumah sakit.” Sahut Ansell yang kemudian melepas safety beltnya.


“apa..?! kenapa malah ke rumah sakit hachiiiwww... Apa kau terluka?” heran Ahreum seraya menatap ke arah Ansell dan menggosok-gosok hidungnya yang gatal.


“kau yang perlu diperiksa oleh dokter.” Ujar Ansell yang hendak menarik handle pintu mobilnya.


“tidak.. “ cegah Ahreum seraya menahan lengan Ansell yang sudah membuka pintu mobilnya.


“kenapa mesti ke rumah sakit segala, aku hanya terserang flu biasa Ansell..hachiiiww... Tinggal beli obat di apotik aja. Gak perlu..”


Ansell melepas secara paksa genggaman tangan Ahreum dari tangannya kemudian keluar dari mobil, tanpa menunggu keseluruhan kalimat yang hendak dilontarkan oleh istri mungilnya itu.


“ayo turun.” Perintah Ansell seraya membuka pintu yang berada disamping kursi Ahreum.


“gak mau.. kurasa ini berlebihan sekali Ansell. Aku hanya..” lagi-lagi Ansell memotong kalimat Ahreum dengan tindakannya.


Ansell menarik ketiak Ahreum kemudian menggendongnya ala koala style (gendong depan). Setelah menempatkan tubuh Ahreum ke dalam dekapannya, ia pun lantas menutup dan mengunci mobilnya sebelum menarik langkah masuk ke dalam rumah sakit.


“bisa kau turunkan aku..

__ADS_1


Aku bukan anak kecil, aku benar-benar malu. Kenapa kau selalu menggendongku seperti ini sih.” protes Ahreum seraya menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya, begitu keduanya telah melewati pintu utama.


“berhenti merengek.” Ucap Ansell yang tetap melangkahkan kakinya menuju ruang UGD.


“haacciiwww..” Ahreum kembali bersin dalam persembunyiannya.


“panggilkan dokter jaga sekarang juga.” Perintah Ansell begitu ia sampai didepan meja perawat yang berada diruangan UGD.


Begitu selesai memberikan perintah pada salah satu perawat yang tengah terduduk didepan komputer, ia pun lantas melanjutkan perjalanannya menuju ranjang yang kosong untuk menidurkan istrinya selagi menunggu dokter jaga muncul.



“sebenarnya.. aku hanya perlu obat flu aja, dan kita bisa membelinya diapotik kan, gak perlu..” keluh Ahreum lagi begitu bokongnya telah mendarat diranjang rumah sakit.


“Ansell.” panggil seeorang dari belakang seraya mendorong tirai rumah sakit yang menutupi pandangannya.



“ada apa? istrimu sakit?” lanjut seseorang tersebut yang ternyata adalah Elios gavriel paman dari Ansell.


“dokter Elios, sedang jaga malam dok?” sapa Ahreum lengkap dengan senyuman manisnya yang membuat Ansell memasang wajah julid sebab merasa cemburu dengan sikap manis Ahreum pada pamannya itu.



“Iya, hanya terserang flu biasa. Aku juga sudah memanggilkan dokter jaga.” Sahut Ansell seraya memasukn lengannya ke saku celananya dan menatap Elios dengan tatapan tajamnya.


“kalau begitu biar paman aja yang memeriksanya.” Ucap Elios yang mengajukan diri untuk mengecek kondisi istri keponakannya itu.


“Iya boleh-boleh dok..” seru Ahreum dari balik tubuh Ansell seraya mencoba menyingkirkan tubuh Ansell dari hadapannya.


Namun tentu saja tenaganya tidak sebanding dengan tenaga suaminya yang tetap konsisten mempertahankan posisinya untuk menutupi Ahreum dari pamannya.


“tidak perlu, aku akan menunggu dokter jaga saja. Paman bisa mencari pasien lainnya yang lebih membutuhkan pertolongan.” Tolak Ansell tegas.


“hacciiwww.. haciiwww… aduuhhhh.. aku udah hacciiiiwww.. ga tahan lagi.. Ansell.” rengek Ahreum dengan sedikit bumbu micin didalamnya. (maksudnya berlebihan, padahal sebenarnya ngga sakit-sakit amat sih hahaa)


“sudah berapa lama Ahreum terserang flu, biar ku lihat kondisinya Ansell.” pinta Elios kembali lengkap dengan raut wajah khawatirnya mendengar rengekan Ahreum barusan sembari mencuri-curi pandang ingin melihat Ahreum yang berada dibalik tubuh Ansell.

__ADS_1


“tidak perlu..” ketus Ansell yang kemudian kembali menggendong istrinya pergi menjauh dari hadapan Elios.


“tunggu.. tapi aku ingin diperiksa, kurasa aku mulai demam Ansell..” rengek Ahreum kembali yang berada dalam gendongan Ansell.


“Apa yang kau lakukan Ansell? bukankah istrimu butuh perawatan.” Cegah Elios seraya mencoba menahan bahu Ansell untuk menghentikan langkah cepatnya.


“tidak..”


Belum sempat Ansell menanggapi pamannya, seorang dokter muda muncul dan bergabung diantara mereka bertiga.


“selamat malam pak Ansell, maaf saya lama. Sebab tadi ada pasien yang mesti cepat-cepat saya tangani.” Sapa dokter muda tersebut seraya menundukan sedikit kepalanya untuk memberikan rasa hormatnya pada Ansell.


“selamat malam juga dokter El. Bukannya dokter El praktik pagi ya?” Tambahnya seraya mengarahkan pandangannya sejenak pada Elios yang berdiri disampingnya.


“Iya, saya kesini hanya untuk memeriksa keadaan Naomi. Tadi sempat kolaps.” Sahut Elios yang kemudian dibalas anggukan mengerti oleh Prasetya sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Ansell.


“ada yang bisa saya bantu pak Ansell?


Adik pak Ansell sakit?” lanjutnya lagi seraya menatap gadis mungil yang berada dalam gendongan Ansell, sontak saja hal itu membuat Ansell menaikan 1 alisnya.


Tak lama setelah Prasetya melontarkan kalimat tersebut, buru-buru perawat yang berada tak jauh dari tempat dokter muda itu berdiri langsung menarik langkah dan menyikut dokter muda tersebut.


“gadis yang sedang digendong pak Ansell itu istrinya, bukan adiknya.” Bisik sang perawat pada dokter muda tersebut seraya menundukan kepalanya ke hadapan Ansell juga Elios secara bergantian.


“ohh.. maaf.. maaf pak Ansell saya kira..” ujarnya terbata karena Ansell tiba-tiba memberikan tatapan intimidasi pada dokter muda tersebut.


Merasa penasaran dengan rupa dari dokter muda yang tengah berinteraksi dengan suaminya itu, Ahreum pun mencoba menengokan wajahnya ke belakang.


“halo dokter Prasetya.” Sapa Ahreum begitu memindai sebuah nama yang tertera di saku bagian atas jas putih yang dikenakan dokter muda tersebut lengkap dengan senyuman ramah seperti biasanya.


“apa yang kau lakukan?!” sinis Ansell karena merasa tak senang jika Ahreum memberikan senyum manisnya pada sembarang lelaki yang ia temui.


“aku hanya menyapanya, dia dokter yang akan memeriksaku kan?” sahut Ahreum yang kembali mengalihkan pandanganya pada wajah suaminya yang tengah memasang wajah judes.


“iya betul bu. Mari pak Ansell bisa baringkan ibu Ahreum diranjang.” Ucap Prasetya ramah.


“tidak jadi. Istriku hanya pura-pura sakit!” tandasnya yang kemudian berlalu pergi dengan langkah panjangnya.

__ADS_1


Ahreum menggeleng kepala lengkap dengan raut wajah seriusnya, kala Elios hendak mengejar langkah Ansell kembali. Hingga membuat langkah Elios pun seketika terhenti dan membiarkan Ansell pergi dengan membawa Ahreum menjauh darinya.


***


__ADS_2