Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 166


__ADS_3

Sementara itu diruang tamu, setelah Ansell mengolesi kedua lutut Ahreum dengan salep.


“jadi.. untuk apa kau membeli koper dan helm?” tanya Ansell setelah menutup salep dan meletakannya diatas meja, namun ia masih tetap diposisi yang sama menegakkan tubuh dengan 2 lutut yang menjadi tumpuannya dihadapan istrinya.


“Nayeon membelikan Hanna motor.” Jawab Ahreum seraya memegangi rahang suaminya lalu mengusap-usap pipi Ansell dengan ibu jarinya.


“Hanna yang punya motor kenapa kau yang beli helm nya.” Balas Ansell.


“eeyyy.. aku juga harus persiapan kan, kalau-kalau Hanna mengajakku jalan-jalan dengan motor barunya.” Celoteh Ahreum dengan diiringi tawa renyahnya yang membuat Ansell terkekeh.


“Ingat, saat aku pergi nanti, jangan berbuat macam-macam atau berpergian ke tempat berbahaya. Aughh.. aku jadi teringat insiden penculikan itu lagi. Berhenti membuatku khawatir Ahreum.” ucap Ansell seraya meraih tangan Ahreum yang berada dirahangnya kemudian menariknya kebawah dan menggemgamnya erat masih dengan tatapan lekatnya yang mengarah pada manik Ahreum.


“he’emm.. “ sahut Ahreum seraya menganggukan kepalanya.


“pak Ansell.” panggil Abi yang berada tak jauh dari keberadaan mereka berdua.


Sontak saja keduanya pun menoleh ke arah sumber suara.


“ada yang mau saya bicarakan.” Lanjut Abi ketika keduanya terdiam, menunggu Abi mengutarakan tujuannya.


“oke, di ruang kerja aja.” Sahut Ansell yang kemudian bangkit dan berjalan lebih dulu setelah mengusap lembut bagian atas kepala Ahreum sebagai tanda pamitannya.


Mereka berdua pun lantas berjalan menuju lorong diantara kamar Ansell dan Ahreum untuk menuju ruangan kerja yang dimaksud Ansell.


Selagi Ansell dan Abi membicarakan sesuatu yang diyakininya terkait pekerjaan, Ahreum pun lantas bangkit dari sofa kemudian menarik langkah menuju area dapur.


“mau masak apa bi?” tanya Ahreum begitu sampai ditepi meja makan.


“rencananya bibi mau masak tumis jamur sosis, ayam suwir lada hitam, tahu bumbu balado dan cumi crispy.” Jawab bi Ijah sembari mengaduk adonan cumi yang sudah dilumuri tepung didalam mangkuk kaca.

__ADS_1


“boleh aku bantu bi..” seru Ahreum yang kemudin mendekat ke samping bi Ijah seraya mengamati hal yang dilakukan bi Ijah.


“amm.. boleh, nona bisa mencuci sayur mayurnya terlebih dahulu.” Kata bi Ijah setelah memindai area dapur untuk memutuskan tugas apa yang akan diberikannya pada istri majikannya tersebut.


“oke.” Seru Ahreum penuh antusias, ia pun mengambil baskom kecil yang berisikan sayur mayur yang sudah dipotong-potong sebelumnya oleh bi Ijah, kemudian berjalan menuju wasteful untuk memulai tugas pertamanya dari bi Ijah lengkap dengan wajah yang berseri-seri seakan kegiatan tersebut adalah hal yang menyenangkan baginya.


“ahh iyaa.. dulu nona pernah bilangkan jika mama nona Ahreum tidak pernah mengijinkan nona Ahreum berada diarea dapur. Kenapa memangnya?


Apa mungkin mama nona Ahreum sangat protective.” Ujar bi Ijah yang kembali memulai percakapannya ditengah aktivitasnya mengolah bumbu masakan, sementara itu ia membiarkan Ahreum menangani tugas kecil dibelakangnya.


“amm.. mungkin.. bisa jadi hehe. Aku juga ga tahu alasannya kenapa bi.” Sahut Ahreum tanpa menoleh dan tetap terfokus mencuci sayur mayur hingga bersih kinclong.


Bi Ijah merasa sedikit iba mendengar jawaban Ahreum barusan. “tenang saja nona Ahreum, pokoknya jika dengan bibi, nona Ahreum mau melakukan apapun silahkan aja, bibi akan mendukung apapun yang nona Ahreum ingin lakukan.” Seru bi Ijah seraya membalikan tubuhnya dan mengarahkan pandangannya pada punggung Ahreum yang membelakanginya.


“hehehee.. makasih bibi..” balas Ahreum setelah dirasa cukup membersihkan sayur mayur, ia pun lantas menarik langkah kembali mendekati keberadaan bi Ijah yang masih memandanginya dengan tatapan kasih sayang layaknya seorang ibu pada umumnya.


“nona mencucinya menggunakan sabun pencuci piring? Dan apa ini.. sepertinya bibi mencium aroma strawberry juga.” Ucap bi Ijah yang kemudian mengarahkan pandangannya pada area wastafel.


“iya aku tambahin handwash juga biar wangi, bi hehehe.” Celoteh Ahreum dengan diiringi tawa polosnya.


“kenapa? aku salah ya.” Tambah Ahreum kala bi Ijah hanya meratapi nasib sayur mayur yang berada dalam mangkuk yang masih dipegang Ahreum.


“eng.. engga kok non hehe, bibi ngerti. Tapi untuk ke depannya jika nona mau mencuci sayur mayur sebaiknya hanya menggunakan air yang mengalir aja, ga perlu ditambah sabun apapun nona, terlebih lagi sabun pencuci tangan hehe.” Ucap bi Ijah lembut seraya mengambil alih mangkuk yang dipegang Ahreum kemudian diletakannya diatas meja.


“oke oke aku mengerti.” Seru Ahreum yang kembali berdiri disamping bi Ijah menunggu tugas lainnya yang akan diintruksikan oleh bi Ijah.


“ada lagi bi yang bisa ku kerjakan?” tanya Ahreum lengkap dengan kedua mata berbinar dan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya membuat bi Ijah tidak tega dan mencoba mencari tugas kecil lainnya untuk dilakukan Ahreum.


“amm.. bagaimana kalau menggoreng aja?

__ADS_1


Adonannya sudah beres kan bi.” Sambung Ahreum seraya mencoba meraih baskom kecil yang berisikan adonan tepung cumi.


“tapi nona..”


“aku bisa kok bi, hanya tinggal dicelupkan ke minyak panas aja kan? ini gak terlalu sulit.” Sambar Ahreum yang sudah mendekap baskom adonan cumi.


“hmm.. baiklah.” Pasrah bi Ijah yang sebenarnya kurang percaya dengan istri majikannya itu.


“amm.. tunggu sebentar, aku mesti pakai pelindung kalau-kalau minyaknya menciprat ke wajahku nanti.” Celetuk Ahreum yang kemudian berlarian menuju ruang tamu untuk mengambil helm.


Ia pun memakai helm barunya kembali dan bersiap bertempur dengan wajan yang sudah dialiri minyak goreng berlimpah oleh bi Ijah.


Begitu kompor dinyalakan Ahreum sudah siap siaga didepan kompor lengkap dengan spatula yang berada dalam genggamannya, kemudian baskom yang berisikan adonan tepung cumi ia letakan disamping kompor.


“hati-hati yaa non.. Jika nona kenapa-napa bibi juga yang akan dimarahi oleh tuan Ansell.” ucap bi Ijah mengingatkan kala minyak mulai memanas. Bi Ijah berdiri disamping Ahreum dengan harap-harap cemas.


“okee bi..” seru Ahreum yang hendak menciduk adonan tepung cumi dibaskom kemudian dibawanya ke atas wajan.


Namun sebelum Ahreum mencelupkan adonan perlahan ke dalam minyak panas, adonan keburu menetes pada minyak panas yang sontak membuat Ahreum terkejut karena suara desisan yang terdengar sebelum waktunya.


Refleks Ahreum melepaskan spatula dari genggaman tangannya hingga membuat beberapa tetes minyak menciprat ke segala arah.


Namun dengan gerakan gesitnya Ansell muncul kemudian menarik tubuh mungil Ahreum ke dalam dekapannya untuk melindungi istrinya itu dari cipratan minyak panas yang kini mengenai punggungnya.


Buru-buru bi Ijah pun mematikan kompor dengan rasa gugup yang kini menyelimuti hatinya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2