
Keesokan harinya, diruangan Ansell.
Dengan langkah hati-hatinya Ahreum perlahan mendekat ke pinggir ranjang suaminya. Dilihatnya wajah tampan suaminya yang masih terlelap dalam mimpi indahnya.
Ahreum mendudukan bokongnya ditepi ranjang Ansell diiringi senyuman merekah yang menghiasi wajah cantiknya.
Tangannya mulai menjalar mencoba mengusap pipi mulus suaminya, tak puas hanya dengan mengusap-usap pipi Ansell, Ahreum pun menurunkan tubuhnya dan mengecup kening Ansell lembut.
Tiba-tiba kedua mata Ansell terbuka yang membuat Ahreum tertangkap basah dan hanya bisa cengengesan.
Saat Ahreum ingin menarik kembali tubuhnya, dengan cepat Ansell menarik tengkuk Ahreum lalu mencium bibirnya penuh gairah.
“bisakah kalian melakukannya saat aku tak ada?!” protes Abi yang tengah terduduk disofa sembari mengutak-atik tabletnya ditemani secangkir teh hangat yang dibuatnya beberapa saat lalu sebelum kemunculan Ahreum.
Keduanya pun menyudahi aksi liarnya di pagi hari seraya melirik ke arah Abi yang tengah merajuk dipojok sana.
Ahreum tertawa kecil serta menarik tubuhnya agar bisa duduk tegap, “Maaf ya kak Abi, aku sama sekali tak melihatmu saat aku masuk tadi,” respon Ahreum.
“Bukankah masih ada kak Ben diruanganmu, kenapa kau bisa kemari?” tanya Ansell seraya bangun dari tidurnya dan menatap lekat manik istrinya.
“Yaa gimana donggg, rasa rinduku lebih besar dibanding rasa takutku pada kak Ben, hehheee,” katanya dengan nada manja seraya menoel-noel paha besar suaminya.
Tepat saat Ahreum melontarkan kalimat rayuan itu Abi yang sedang menikmati teh hangatnya pun langsung memuntahkannya kembali hingga terjadilah semburan air mancur yang membasahi permukaan meja didepannya.
“Byuuuurrr!!!”
Sementara Abi direpotkan dengan air liurnya sendiri yang muncrat kemana-mana, Ansell malah tersenyum bahagia mendengar kalimat manis yang terlontar dari mulut istrinya itu.
Alih-alih menanggapi kalimat romantis istrinya, Ansell lebih memilih menarik tangan Ahreum dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Aku sudah bisa pulang hari ini, bagaimana denganmu?” tanya Ansell lembut.
“Sepertinya besok, hari ini aku ada pemeriksaan akhir, mudah-mudahan hasilnya bagus agar aku bisa cepat-cepat pulang,” timpal Ahreum yang masih berada dalam dekapan erat suaminya.
“hmmm, aku ingin sekali menjemputmu, tapi ka Ben pasti tidak mengijinkannya kan?” lanjut Ansell lagi diakhiri dengan hembusan nafas beratnya.
Ahreum mengangguk menanggapi tebakan Ansell, “Bertahanlah sedikit lagi oke, aku janji, aku pasti kembali padamu,” Ahreum meyakinkan sembari menepuk-nepuk pundak suaminya.
“he’emm, aku percaya padamu,” sahut Ansell meski ada keraguan dalam hati kecilnya.
__ADS_1
“Kau ingin sarapan yang disediakan dari rumah sakit atau mau ku belikan yang lain?” lagi-lagi suara Abi mengacaukan suasana romantis diantara keduanya.
Ahreum menarik keluar tubuhnya dari pelukan erat Ansell.
“YAK! Tak bisakah kau lebih pengertian sedikit, mengganggu saja!” ketus Ansell yang langsung ditanggapi tawa kecil Ahreum yang gemas melihat tingkah lucu suaminya.
“Aku hanya ingin menyelamatkanmu, jika mas Benn bangun dan mendapati nona Ahreum berada diruangan ini, kau akan kembali menjadi sasaran samsaknya,” sahut Abi yang mencoba berfikir logis, ia pun bangkit dari sofa dan berjalan perlahan mendekat ke pinggir ranjang Ansell.
“hehehee, iya kak Abi benar, aku harus kembali sekarang,” pamit Ahreum yang kemudian meraih tangan suaminya dan mengenggamnya erat selagi kedua matanya memandangi keindahan pria yang tengah memanyun-manyunkan bibirnya.
“secepat ini,” keluh Ansell seraya menghela nafas panjangnya.
“hhehehe…, I Love You,” imbuh Ahreum yang langsung mengecup bibir suaminya sebelum benar-benar pergi dan meninggalkan Ansell yang masih memandangi punggung istri mungilnya sampai ia hilang dari pandangannya.
Lagi-lagi Ansell mendesah lantaran baru saja bertemu beberapa menit sudah harus berpisah lagi.
Ceklek!! Pintu kembali terbuka disusul dengan kemunculan wajah Ahreum lengkap dengan tatapan tajamnya.
“Kau tak membalas kata cintaku!” gerutu Ahreum seraya memegangi handle pintu kamar Ansell.
Ansell terkekeh dan kemudian membalas ungkapan cinta istrinya dengan gerakan tangan yang membentuk Love besar diatas kepalanya. “Love you my wife!” seru Ansell lengkap dengan senyuman lebar yang membuat kedua matanya menghilang sesaat.
Sebelum benar-benar pergi dan kembali ke ruangannya.
...****************...
Begitu masuk ke kamarnya, Ahreum sudah mendapati kakaknya sedang berdiri dipinggir jendela besar kamarnya dengan sebuah apel yang sudah digigitnya.
Ahreum hanya bisa menyembunyikan rasa gugupnya dengan menyengir disepanjang perjalanannya kembali menuju ranjangnya, sementara kakaknya terus saja memperhatikan dirinya sembari menikmati manisnya buah apel.
“habis darimana?” tanya kakaknya yang mulai menarik langkah sembari memasukan 1 tangannya ke dalam saku celananya.
“amm…, cari angin hehee,” dusta Ahreum seraya menarik selimutnya dan membaringkan tubuhnya diranjang.
“hooaaammm!! Ada apa sih?” racau Hanna yang baru saja terjaga dari tidur panjangnya.
“kak Benn…, aku mau sarapan soto donggg, enak kayanya ditambah sambel yang pedes banget uukhhh!!” Rihanna kembali mengoceh tanpa membuka kedua matanya.
“Iya nih!! Aku juga mau dongg, sama teh panasnya juga ya,” timpal Jeno yang tidur disofa dengan posisi telungkup lalu menggaruk-garuk bokongnya yang sedikit gatal.
__ADS_1
“Apa?!
Kalian fikir kakak pelayanmu huh?!” pekik Bennedict kesal melihat tingkah kedua adiknya itu.
“Aku yang akan menemanimu, ayoo!” seru Ahreum yang langsung kembali bangkit dan bergegas menuju keberadaan kakaknya.
“Aku bosan berada dikamar terus, ayo kita ke kafetaria!” ajak Ahreum seraya menautkan tangannya ke dalam lengan Bennedict kemudian menggiringnya pergi keluar dari kamar.
“Belikan aku cemilan juga!!” pinta Rihanna dengan suara nyaringnya hingga membuat Jeno terusik dan lantas melempar bantal kursinya tepat ke arah wajah Rihanna.
“Aiiisshhhh!!! Sial!!” umpat Hanna namun tidak berniat membalasnya, karena rasa kantuknya lebih menguasai dirinya dibanding harus meladeni sikap kekanakan Jeno.
...****************...
Diperjalann Ahreum dan Bennedict menuju kafetaria. Karena Ahreum sudah melepas infusnya tadi subuh, jadi sekarang dia tidak perlu membawa tiang infus lagi kemana-mana.
“Apa kau begitu mencintainya?” tanya Bennedict yang membaut Ahreum mengerutkan keningnya karena merasa pertanyaan yang diajukan kakaknya terdengar ambigu.
“Kau menemuinya kan pagi tadi,” lanjut Bennedict seraya melirik ke arah adiknya ditengah mencerna apel yang hanya tinggal beberapa gigitan.
“Aku juga mau dongg, apelnya!” seru Ahreum seraya membuka mulutnya lebar berharap kakaknya memberikan apelnya padanya.
“hmmm…, (Bennedict menghela nafasnya kasar seraya memberikan apelnya untuk digigit adik perempuannya yang sudah menganga sedari tadi)
Lebih mencintainya atau kakak?” lanjut Bennedict setelah Ahreum menggigit apelnya.
“Aisshhh!!
Kakaaaakkkk!! Aarggghhh, ayoolaaahh!!” rengek Ahreum lengkap dengan raut wajah merengutnya lantaran kakaknya itu selalu saja melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak masuk akal.
“Kau tahu!! Aku seperti berada diposisi seorang anak yang harus memilih antara Ibu dan Ayahnya, pertanyaan macam apa itu, itu sama sekali tidak masuk akal!” dumel Ahreum penuh emosi yang membuat Bennedict tertawa kecil, ia melepas tautan tangan adiknya kemudian beralih mengelus kepala Ahreum penuh kasih sayang.
“Kau sudah dewasa rupanya,” ucap Bennedict yang kemudian merangkul pundak Ahreum setelah beberapa kali mengusap kepalanya.
“tentu aku sudah dewasa, aku wanita yang sudah menikah, kakaaakkk!” timpal Ahreum menegaskan.
“uuuhhh..., sudah melakukannya berarti?” goda Bennedict.
“melakukan apa?” sahut Ahreum yang tampak malu-malu dibalik kepura-puraannya.
“Eyyyy.. eyyy!!... Bagaimana?” Benneict kembali menggoda Ahreum, kali ini dengan ditambah menyenggol-nyenggol pundak adiknya dengan pundaknya lengkap dengan senyuman nakalnya.
“Bagaimana apanya iih!!”
...****************...
__ADS_1
Bersambung...