
Berkat bujukan putrinya tersbut, akhirnya Enzy pun luluh dan bersedia untuk melakukan operasi caesar seperti yang disarankan oleh sang dokter.
Dengan penuh antusias Seno pun berlari kecil menuju meja perawat untuk memberitahukan jika istrinya bersedia menjalani operasi Caesar, lalu tak berapa lama beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Enzy, hendak membawa ranjang Enzy menuju ruang operasi.
Namun sebelum ranjangnya ditarik oleh perawat tersebut, Seno meminta waktu sejenak untuk sekedar menguatkan istrinya kembali dengan menggenggam erat lengan dan juga mengecup keningnya dengan bulir air mata yang mulai bercucuran sampai mengenai pipi sang istri.
“mamah harus kuat ya, disini aku, Ahreum dan juga ayah akan selalu mendoakan kalian berdua, aku sangat menyayangimu.” Ucapnya, yang kemudian direspon sebuah anggukan dan isak tangis yang masih belum bisa mereda sepenuhnya.
Sementara sang istri dibawa oleh para perawat yang bertugas saat itu, tak jauh dibelakang Seno, Darren dan juga Ahreum berjalan mengikuti sampai batas yang tak bisa mereka lewati, ruangan dimana Enzy akan melangsungkan operasi caesar dimalam itu.
Begitu Enzy masuk ke dalam sebuah ruangan, mereka bertiga pun mendudukan bokongnya dikursi panjang, yang memang disediakan untuk keluarga sang pasien yang tengah menjalani operasi. Dengan posisi Ahreum yang terduduk diantara ayah dan kakeknya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah seraya menggenggam erat lengan ayahnya yang terlihat gemetaran begitu istrinya telah hilang dari pandangannya.
Ahreum mencoba mengusap punggung tangan ayahnya dengan lembut seolah ia ingin berkata pada ayahnya, jika semuanya akan baik-baik saja. Namun alih-alih perkataan itu yang terlontar dari mulut kecilnya, ia hanya mencoba mengusap punggung tangan ayahnya saja.
Sedangkan Darren yang melihat hal itu, ia pun ikut mencoba menenangkan putra sulungnya tersebut dengan mengusap bagian belakang kepalanya dengan lembut beberapa kali, kemudian diakhiri dengan belaian lembut pada kepala cucunya.
***
Dilain tempat, tepatnya di ruangan Carrisa ibu dari Ansell dirgantara.
Kala itu, setelah mengunjungi besannya untuk beberapa saat diruangannya pada siang tadi, ia dan suaminya pun memutuskan untuk pamit undur diri, karena pekerjaannya yang tak bisa membuat mereka berdua berlama-lama menemani sang besan yang hendak melakukan proses persalinan.
Andrew langsung kembali ke kantor KT. Group sedangkan sang istri Carrisa harus bergegas menuju aula rumah sakit, untuk memimpin jalannya briefing antara para dokter yang hendak mendiskusikan sebuah operasi besar yang melibatkan beberapa dokter ternama yang ada dirumah sakit tersebut.
Dan begitu menyelesaikan brifieng, Carrisa pun langsung disambut oleh beberapa pasien yang memerlukan operasa darurat kala itu juga yang membuatnya kini tampak sangat kelelahan, sebab baru beberapa menit yang lalu ia bisa merebahkan tubuhnya dari sejumlah aktivitas mulianya sebagai dokter.
Wanita yang sudah berkepala 4 itu pun merebahkan tubuhnya disofa panjang dan empuk untuk beberapa saat sebelum ponselnya kembali berdering disaku jas putihnya yang tidak ia lepaskan dari balutan tubuhnya.
Namun..
__ADS_1
Bruukkk!! Tiba-tiba saja ia mendengar suara bantingan pintu yang cukup nyaring dan mampu membuatnya terkejut hingga terbangun seketika.
“ASTAGA!!” kaget Carrisa seraya memegangi bagian dadanya dan mencoba untuk mengatur nafasnya yang seketika tidak beraturan.
“apa mama terkejut?” tanya Ansell dengan wajah tanpa bersalahnya, ia masih berdiri diambang pintu seraya memegangi handle pintu.
“berapa kali mama bilang, ketuk pintu dulu sebelum masuk ANSELL!!” bentak mamahnya, yang kemudian bangkit dan memelototi putranya tersebut yang tak berniat untuk masuk ke dalam.
“oke, sory, aku hanya ingin menanyakan dimana Ahreum berada?” tanya Ansell masih dengan raut wajah yang sama seperti sebelumnya.
“hah?.. ahh mama rasa mereka masih menunggu didepan ruang operasi dilantai 7, dan..” tanpa ingin mendengarkan keseluruhan kalimat mamahnya, Ansell pun langsung pergi berlalu begitu saja seusai mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.
“aughhh astaga!! Kepalaku sakit sekali rasanya, kenapa akhir-akhir ini dia tampak sangat kasar sekali padaku, apa yang sebenarnya terjadi padanya.” Gerutu Carrisa seraya memegangi kepalanya dan menatap pintu otomatis ruangannya yang hendak tertutup sendiri.
***
Ansell memang seringkali mengunjungi rumah sakit, karena meski ia bekerja di kantor KT Group perusahaan turun temurun dari ayahnya, namun ia juga memiliki saham yang cukup besar dirumah sakit ini. Sehingga membuat dirinya tak jarang ikut serta dalam rapat yang terjadi mengenai keberlangsungan rumah sakit tersebut.
“Ansell..” kaget Seno yang melihat kedatangan menantunya tersebut secara tiba-tiba.
Ansell pun menundukan kepalanya sedikit untuk sekedar menyapa ayah mertua juga kakek dari istrinya tersebut, sebelum mengatakan tujuannya berada disana.
“kedatanganku kesini untuk membawa istriku pulang.” Ucap Ansell seraya menatap wajah istrinya yang tengah tertidur dibahu ayahnya itu.
Seno pun langsung melirikan matanya sesaat ke arah putrinya yang masih terlelap, seakan tengah menimbang respon apa yang nantinya akan ia lontarkan pada menantunya tersebut.
“hmm.. baiklah, om rasa juga sebaiknya Ahreum bisa beristirahat dengan baik, kau bisa membawanya pulang.” Dengan pasrah akhirnya Seno mengijinkan Ahreum dibawa oleh suaminya.
Alih-alih menggendongnya ala bridal, atau gendong punggung, Ansell lebih memilih mengangkat kedua ketiak Ahreum kemudian mengangkatnya ke dalam dekapannya, layaknya ia tengah menggendong seorang bocah.
__ADS_1
Dengan tubuhnya yang tinggi juga kekar bukan tidak mungkin menggendong dengan cara seperti itu, mengingat Ahreum yang memiliki tubuh kecil mungil, ia sama sekali tak kesulitan menggendongnya.
Begitu Ahreum sudah berada dalam dekapan Ansell, Seno juga Darren bangkit dari kursinya untuk sekedar melihat kepergian Ansell dan Ahreum.
“jaga peri kecil kakek baik-baik ya, nak.” Ucap sang kakek sebelum Ansell membalikan tubuhnya.
Ansell pun hanya menanggapinya dengan sekali anggukan dan senyum tipisnya, kemudian pergi berlalu setelah melirik sesaat ke arah Seno yang jika diartikan dirinya tengah berpamitan pada mertuanya.
“kenapa tiba-tiba aku mengkhawatirkan putriku, apa lelaki itu benar-benar lelaki yang tepat untuk Ahreum.” Gumam Seno yang masih melihat kepergian putrid an sang menantu yang hendak memasuki lift.
“memangnya kenapa? ayah rasa Ansell lelaki yang cukup baik.” Timpal ayahnya yang juga ikut melihat kepergian kedua pasangan tersebut.
“baik?
Apa ayah tidak melihat sikapnya tadi, dia bahkan tidak bisa menghirmati yang lebih tua darinya. Ku harap Ahreum akan baik-baik saja.” Tambahnya, kemudian kembali mendudukan bokongnya dikursi panjang setelah pintu lift yang membawa putrinya itu tertutup.
“apa kau tak tahu, itu hanya semacam konsep, ayah selalu melihat lelaki seperti itu dalam drama, disebut apa ya namanya, amm.. bad, bad boy. Meski dia tampak kasar tapi sebenarnya dia memiliki hati yang cukup lembut didalam, ia hanya akan menunjukannya pada seseorang yang disayanginya.” Celoteh ayahnya, yang ingin membela Ansell meski ia baru pertama kali melihat suami dari cucunya tersebut.
“astaga..” respon Seno seraya menggelengkan kepalanya.
"ahh iya, tentang Dimas, apa dia tidak keterlaluan yah, bisa-bisanya dia tidak datang dihari pernikahan keponakannya sendiri."
"maklumilah adikmu itu, Seno, dia baru saja bercerai, fikirannya masih belum stabil."
"mereka sudah bercerai 5 tahun yang lalu ayah!!!..."
bersambung...
***
__ADS_1