
Dihalte, dekat kampus Royal collage of music.
Terlihat Ahreum turun dari bus yang membawanya ke halte yang berada dekat dengan kampusnya. Ia pun berjalan santai menuju toserba diseberang kampus, namun kedua matanya menyipit kala ia mendapati sosok yang tak asing tengah terduduk dikursi tempat biasa dirinya bersantai.
“sejak kapan kau ada disini?” tanya Ahreum pada sosok tersebut yang tak lain adalah Rihanna.
“baru saja sampai.” Sahutnya yang kemudian mencoba membuka botol air mineral yang baru saja dibelinya bersamaan dengan 1 kresek penuh cemilan yang diletakannya diatas meja.
Melihat temannya itu kesusahan untuk membuka botol air mineral, dengan sigap Ahreum pun mengambil alih botol tersebut kemudian membukanya dan kembali memberikannya pada Hanna setelah berhasil terbuka.
“ini masih pagi, mau apa kau berkeliaran disini.” Ucap Ahreum yang kemudian mendudukan bokongnya dikursi seberang karibnya tersebut, dan mengambil botol mineral yang lain dalam kresek milik Hanna, kemudian membuka dan meneguknya hingga terasa cukup untuk mengaliri kerongkongannya yang kering sehabis berolahraga.
“kau berolahraga? Tumben sekali.” Timpal Hanna setelah meneguk beberapa kali air mineralnya, kemudian meletakannya diatas meja, melihat setelan training yang dikenakan Ahreum membuat dirinya langsung berfikir jika karibnya itu baru saja melakukan aktivitas yang melelahkan.
“iya, Ansell yang memaksaku, aku tak bisa menghindarinya.” Sahut Ahreum seraya menaikan kedua kakinya ke atas kursi untuk membuat dirinya nyaman selagi berbincang bersama karibnya.
“ahh iya, kau belum menjawabku, untuk apa kau berkeliaran disini pagi-pagi?” lanjut Ahreum seraya menaruh kembali botol air mineral yang tinggal setengah dimeja.
“aku ingin menemui Jeno.” Responnya seraya mengambil 1 bungkus cemilan lalu menyobek bagian ujungnya dan diletakannya kembali ke atas meja agar bisa dimakan bersama dengan karibnya.
“Jeno?
Yak! Sudah ku bilangkan Jeno sekarang sudah berkencan dengan yang lain, berhentilah mengejarnya.” Seru Ahreum yang langsung ikut menyantap makanan ringan setelah Hanna mengambil beberapa.
“aku tahu, ciihh!! Seperti tidak ada wanita lain saja, dia malah mengencani wanita yang bahkan tidak sebanding denganku.” Dengusnya kesal.
“kalau kau tahu kenapa kau masih ingin menemuinya?!” timpal Ahreum.
“aku.. aku hanya ingin melihatnya saja.” Sahutnya yang tidak ingin menyerah begitu saja.
“astaga, sudahlah, kau juga kan sudah punya kak Abi, aku janji akan membantu mendekatkanmu dengannya.” Bujuk Ahreum.
“ciihh!! Kau kenapa sih jadi memihak pada wanita itu, sebenarnya temanmu dia atau aku, hah?!” geram Hanna lengkap dengan raut wajah cemberutnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“tidak, bukan begitu maksudku, augh ****!
__ADS_1
Yak! Kau yang meninggalkannya bukan, dan sekarang kau ingin kembali padanya, setidaknya kau harus memiliki rasa malu Rihanna!” tegas Ahreum.
“iyaa.. iyaa.. aku tahu! Tidak usah berlebihan seperti itu, sudah ku bilangkan aku hanya sekedar ingin melihatnya, apa itu juga tidak boleh. Ciihh!!.. kau ini sensitive sekali.” Balas Hanna lagi seraya memutar kedua bola matanya dan tetap menyantap makanan ringan yang berada dihadapannya.
Tak ingin memperpanjang perdebatannya baik Ahreum maupun Rihanna terdiam sejenak sembari masih menikmati cemilan yang ada.
“mana kontaknya?” tanya Rihanna yang kembali memulai percakapan dengan pembahasan yang berbeda.
“kontak? Siapa.” Ahreum malah meresponnya dengan pertanyaan lain.
“kak Abi lah siapa lagi! Kau ini, katanya mau mendekatkan aku dengan kak Abi.” Seru Hanna dengan nada ngegasnya, ia pun mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang ia letakan disamping kresek cemilan.
“aku harus meminta ijin dulu pada kak Abi, sebentar.” Sahut Ahreum yang kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana trainningnya, dan dilanjutkan mentouch layar ponselnya menuju kontak telfon.
Namun sebelum ia berhasil menghubungi Abi, ada beberapa notif pesan masuk yang membuat dirinya kini beralih untuk membuka pesan masuk tersebut, dibanding menghubungi kak Abi.
“kenapa? lama sekali.” Keluh Hanna seraya menatap lekat karibnya itu yang tengah menatap serius layar ponselnya.
“ahh.. iya.. ini Nayeon mengirimiku beberapa piyama tidur, dia memintaku untuk memilih salah satu.” Respon Ahreum yang masih tak bisa lepas dari layar ponselnya.
“dia mau pesan piyama couple denganku, dan memintaku yang memilihnya.” Kata Ahreum yang membuat Rihanna semakin kesal.
“tiba-tiba?
Waaah sebenarnya hubungan pertemanan kalian itu sudah sampai sejauh mana? Kau jadi dekat sekali dengannya memang, setelah kepergianku. Sampai mau beli piyama couple segala.” Dumel Hanna yang merasa tidak suka karena karibnya itu kini malah lebih dekat dengan yang lain.
“berhenti mengoceh, kau mau yang mana?” tanya Ahreum seraya memberikan ponsel miliknya pada Hanna agar ia berhenti mengoceh yang membuat telinganya sakit.
“bukannya hanya kalian berdua?” balas Hanna masih dengan nada kesalnya, namun ia tetap mencoba menscroll gambar piyama yang dikirimkan oleh Nayeon.
“sudahlah pilih saja, kau mau yang mana.”
Selagi Hanna mencoba memilih piyama di ponselnya suasana kembali hening sejenak, karena merasa haus, Ahreum pun kembali meneguk air mineralnya, namun na’asnya saat air itu sudah mencapai kerongkongannya ada segerombolan bocah SD yang tengah bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya.
Hingga kejadian yang pernah terjadi sebelumnya pun kini kembali terulang, salah satu dari bocah itu tidak sengaja menabrak kursi yang tengah diduduki Ahreum, alhasil membuat dirinya terhentak dan menumpahkan sisa air mineral yang belum sempat ia telan.
__ADS_1
Tak hanya Ahreum yang terkena dampaknya, sebab reflex Ahreum menjauhkan botol air mineralnya dari mulutnya karena tersedak, hingga membuat sisa air mineral yang tak sempat mengalir dikerongkongan Ahreum malah muncrat mengenai Hanna yang berada didepannya.
“astagaa.. maaf yaa mba, aduuhh jadi basah begini, sudah mama bilangkan jangan berlarian seperti itu.” Ucap seorang ibu tersebut seraya menepuk pelan bagian bokong putranya, melihat anaknya membuat masalah ia pun langsung bergegas mengahampiri untuk memohon maaf atas kekacauan yang telah putranya perbuat.
Bersamaan dengan kedatangan sang ibu, Ahreum pun langsung bangkit dari tempat duduknya.
“iyaa maaf maah, heuu..heuuu!..” setelah mengucapkan kata maaf bocah SD itu pun langsung menangis, melihat temannya menangis reflex kedua temannya yang tengah berada disampingnya pun ikutan menangis hingga keadaan pun menjadi sangat ramai oleh tangisan ketiga bocah tersebut.
“iyaa tidak apa-apa kok bu, hehe.” Respon Ahreum seraya menyeka air yang membasahi wajahnya, kemudian beralih pada ketiga anak yang tengah bersahutan menangis.
“sudah ya adek-adek jangan nangis, tapi lain kali tolong dengarkan apa perkataan mama ya.” Ucap Ahreum lembut seraya mengusap pelan bagian kepala ketiga bocah tersebut secara bergantian lengkap dengan senyuman manisnya.
“iyaa tante.” Sahut ketiganya serempak seraya mencoba menghentikan isak tangisnya dan menyedot kembali ingus yang hampir keluar dari hidungnya.
“sekali lagi saya mohon maaf ya mba.” Ucap ibu itu kembali seraya menundukan kepalanya sedikit secara bergantian pada Ahreum juga Rihanna.
Ibu dan ketiga anaknya itu pun pergi setelah mendapat respon anggukan kembali dari Ahreum, sedangkan Rihanna ia hanya memberikan lirikan maut pada ketiga bocah tersebut dan juga ibunya, setidaknya itu lebih baik daripada ia mengeluarkan semua sumpah serapahnya.
Melihat kejadian yang tak terduga tersebut, sang pegawai toserba pun keluar dengan membawa lap lalu menghampiri meja 2 gadis yang tengah bersantai.
“maaf, saya bantu bersihkan mejanya dulu ya mba.” Ucap sang pegawai lelaki tersebut pada Ahreum yang baru saja mendudukan bokongnya kembali dikursi.
“ahh.. iyaa baik silahkan.” Ucap Ahreum seraya membantu menyingkirkan beberapa cemilan yang menghalangi area yang akan dibersihkan oleh pegawai toserba.
“bagaimana, kau sudah memutuskan?” ucap Ahreum yang kembali membahas masalah piyama dengan Hanna selagi pegawai tersebu mengelap mejanya.
“kurasa selera wanita itu tidak ada yang oke tuh! Apa lagi ini yang dasar tolol, eooh banget!” responnya masih dengan memfokuskan kedua matanya pada layar ponsel.
Mendengar kata kasar yang keluar dari mulut Hanna membuat pegawai tersebut terhentak dari aktifitas mengelapnya sejenak, kemudian melirik ke arah Ahreum dengan kernyitan dahinya.
“ahhh, maaf.. maaf ya maksudnya totol mas, yang dasarnya totol atau pulkadot gitu, hehe, temen saya ini memang otaknya suka ga sinkron sama mulutnya.” Jelas Ahreum pada pegawai tersebut yang langsung direspon sebuah anggukan mengerti, kemudian ia pun pergi dengan gelangan kepala setelah melirik ke arah Hanna sesaat yang bahkan tidak perduli padanya.
“yak! kau membuatku malu saja, totol bodoh! bukan tolol.” Seru Ahreum saat pegawai tersebut telah pergi meninggalkannya.
bersambung...
__ADS_1
***