Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 111


__ADS_3

“uuhuukk.. jam.. jambrettt!!” teriak Nayeon seraya menunjuk sebuah sepeda motor yang telah merampas tas mungil miliknya.


Tanpa berfikir panjang lagi Hanna pun berlari sekuat tenaga untuk mengejar para jambret yang masih belum jauh dari pandangannya.


Kemudian disusul Nayeon yang mencoba bangkit dan berlari meski kedua lututnya masih terasa nyeri akibat hantaman keras ke aspal beberapa saat lalu.


Sementara itu didalam mobil yang dikendarai oleh Ansell.


“apaan tuh.” Seru Ansell ketika melihat kedua karib istrinya tengah berlarian seakan tengah mengejar sesuatu.


Ahreum yang tengah fokus dengan layar ponselnya pun refleks mengarahkan pandangannya ke depan mencoba mencari hal yang mengejutkan suaminya.


“kenapa mereka berlarian begitu?” ucap Ahreum yang kemudian menyondongkan tubuhnya sedikit ke depan serta menyipitkan kedua matanya mencoba mengartikan sesuatu yang tengah terjadi diantara kedua karibnya.


“apa mereka anak-anak, berkelahi ditempat umum.” Celetuk Ansell yang menyimpulkan menurut versinya sendiri.


“tidak.. tidak.. kurasa mereka berdua tengah mengejar orang yang berada disepeda motor itu, tancap gasnya kejar sepeda motor itu!” perintah Ahreum seraya memukul-mukul sikut Ansell untuk segera menjalankan permintaannya, dengan diakhiri memasukan ponsel ke dalam saku celana roknya.


Meski masih belum mengerti dengan situasi yang terjadi namun Ansell tetap mengikuti keinginan Ahreum dan menancap gasnya untuk mengejar sang pengendara motor lengkap dengan sorot mata tajamnya.


Tak butuh waktu lama dengan injakan gas, mobil Ansell pun hampir menyamai kecepatan dari sang pengendara motor. Alih-alih menunggu mobil menyalip dan berhenti di depan motor tersebut, ternyata Ahreum memiliki rencana lain, yaitu mendorong keras pintu mobil Ansell tepat saat kendaraan mereka berdampingan hingga membuat kedua pengendara motor tersebut jatuh tersungkur ke samping.


Disaat yang bersamaan pula Ansell tampak melongo karena tidak menduga jika Ahreum akan melakukan hal mengejutkan seperti itu. Hingga ia pun lantas menepikan mobilnya segera sesaat setelah kedua pengendara motor itu saling meringis kesakitan karena tertimpa motor besarnya sendiri.


Begitu mobil menepi Ahreum bergegas keluar bahkan sebelum mesin mobil tersebut mati membuat Ansell lagi-lagi terkejut karena sikap berani istri mungilnya tersebut yang cukup berbanding terbalik dengan ukuran tubuhnya.


Tampak dari arah lain pun Rihanna berusaha mempercepat laju larinya menuju keberadaan penjambret lengkap dengan amarah yang menggebu-gebu ingin langsung menghajar kedua lelaki yang tidak tahu malu tersebut. Sementara Nayeon masih tampak berusaha melangkahkan kakinya ditengah rasa sakit yang ia rasakan hingga tertinggal cukup jauh dibelakang.


Alih-alih melakukan pekerjaan yang halal untuk mendapatkan uang, mereka berdua malah melakukan jalan pintas dengan merugikan orang lain.


“yak! berani sekali kau menjambret tas temanku!” bentak Rihanna seraya melepas sepatunya kemudian melayangkannya ke kepala para jambret yang masih terhimpit sepeda motor besarnya.

__ADS_1


“Hanna tenanglah, mereka sudah dapat balasannya, ambil saja tas milik Nayeon.” Ucap Ahreum yang mencoba meredamkan amarah Hanna dengan menahan tubuhnya agar tidak kembali menyerah 2 para jambret apes itu.


“kemarikan tas temanku!” seru Rihanna karena tas Nayeon masih berada dalam dekapan salah satu jambret itu seakan ia tak rela melepaskan hasil jeripayahnya.


“tidak akan!” seru jambret tersebut ditengah usahanya mengangkat sepeda motor yang menghimpit kakinya.


“PERGI KALIAN!!” tambah satu jambret lainnya yang langsung mengeluarkan pisau kecil dari saku jaket tebalnya hingga membuat Hanna dan Ahreum refleks menarik langkah ke belakang.


“huuhh.. haahh.. ada apa? dimana tasku?” timbrung Nayeon yang akhirnya berhasil bergabung dengan kedua temannya setelah berusaha berlari kecil dengan kedua kaki yang tergores.


Karena para jambret tersebut sudah menyatukan kekuatannya, mereka pun akhirnya berhasil mengeluarkan kaki mereka dari himpitan sepeda motor. Kemudian bergegas bangkit dan tetap menodongkan pisau kecil kearah 3 gadis yang berada dihadapannya.


Sementara salah satu jambret menodongkan pisau kecilnya dan tetap mendekapt tas kecil milik Nayeon, satu jambret lainnya tengah berusah mengangkat motor agar bisa kembali digunakan sebagaimana mestinya.


“AUGHHH SIAL!! YAK!! KEMBALIKAN TAS TEMANKU BRENGSEK!! KALAU MAU DUIT YA KERJA DONG BUKANNYA MERAMPAS MILIK ORANG LAIN!! Terlebih lagi kalian merampas dari seorang gadis, uuhkkh!! DASAR PRIA TAK PUNYA ********!!” teriak Hanna lengkap dengan tatapan matanya yang seakan mengintimidasi, namun tentu saja ia hanya bermodalkan suara lantangnya tapi tidak benar-benar akan menyerang para jambret tersebut, melihat pisau yang berada dalam genggaman jambret itu membuat Hanna pun sedikitnya memiliki rasa takut dalam hatinya.


“yak! tak punya malu, bukan ********.” Timpal Ahreum yang membenarkan kalimat Hanna.


Dan..


Bbruuugggghh!! Ansell melayangkan hantaman kerasnya ke kepala 1 jambret yang tengah mencoba menyalakan kembali mesin motor kemudian dengan cepat kepala jambret itu membentur kepala jambret lainnya yang tengah menodongkan pisau hingga membuat keduanya kembali terkapar dipinggiran aspal dengan motor yang menimpa keduanya.


Beruntung helm mereka masih terkunci rapat jadi setidaknya cedera yang mereka dapatkan tidak akan terlalu parah.


Sementara itu ketiga gadis yang tengah berdiri disisi lain dibuat menganga dan membulatkan matanya dengan kejadian dramatis yang cukup menegangkan tersebut.


Setelah berhasil menumbangkan kedua jambret tersebut, Ansell pun menaruh tongkat baseball diatas bahunya lengkap dengan senyum smirk serta sorot mata tajam yang mengarah pada kedua jambret itu, layaknya seorang mafia yang telah menghabisi lawannya.


“astaga suamimu benar-benar…” gumam Rihanna yang membuat kedua temannya langsung mengarahkan pandangannya padanya untuk menunggu kelanjutan kalimatnya.


“LUAR BIASA HAHAHHAA!!” seru Hanna yang kemudian langsung berjalan penuh kemenangan menghampiri para jambret yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


Disusul dengan Nayeon yang ikut menghampiri para jambret untuk mengambil kembali tas miliknya.


“makasih ya, Ansell.” kata Nayeon seraya menyunggingkan senyum terpaksanya, karena tak bisa dipungkiri sebenarnya dirinya masih canggung berada dekat dengan Ansell sejak kejadian semalam.


Ansell pun melirik ke arah Nayeon yang masih menunggu tanggapannya.


“sudah ku bilangkan untuk tidak muncul disekitar istriku!” ketus Ansell seraya menurunkan tongkat baseball dari bahunya dan menatap Nayaeon dengan tatapan tajamnya.


“eyyytt, ayolah, mereka berdua sudah lama berteman. Lagipula bukan sepenuhnya salah Nayeon kok, jangan membuat keributan yang tak perlu.” Sambar Hanna setelah mengambilkan tas kecil milik karibnya ia pun mencoba untuk menengahi


“iya, aku juga baik-baik aja kan. Jadi jangan dibahas kembali, Ansell.” timbrung Ahreum seraya berjalan ke dekat suaminya dan menatapnya dengan senyuman hangat seperti biasa yang membuat hati Ansell mencair.


“ciihh!!.. Berhenti menatapku seperti itu!” ketus Ansell karena mulai merasa ada hawa panas yang menjalar ke wajahnya yang sebelumnya tampak garang.


“jadi, bagaimana dengan jambret ini? mau dipanggilkan ambulan?” sela Hanna ditengah ketegangan yang terjadi, ia ingin menyadarkan teman-temannya akan kedua jambret malang yang terkapar tak berdaya diatas aspal.


Tak ingin ambil pusing Ansell malah melongos pergi gitu aja seakan tidak menanggapi pertanyaan Rihanna.


“biarin ajalah, gak lama lagi juga pasti bangun kok.” Sahut Nayeon yang kemudian menarik langkah meninggalkan kedua temannya yang masih saling tatap.


“sebaiknya kita panggilkan ambulan dulu, bagaimana kalau mereka geger otak atau semacamnya.” Ucap Ahreum seraya merogoh ponsel dari dalam saku celana roknya kemudian mencoba mengetikan 3 angka dilayar ponselnya.


Namun saat Ahreum mendekatkan ponselnya ke telinga, Hanna pun berjalan cepat menuju keberadaannya kemudian merampas paksa ponselnya dan memutus panggilan yang tengah berlangsung.


“gausah khawatir pria-pria tua itu tidak akan mati kok, setidaknya mereka masih pake helm untuk melindungi kepalanya.” Celetuk Hanna seraya berjalan menyusul Nayeon serta memasukan ponsel Ahreum ke dalam saku celananya.


Meski sebenarnya Ahreum merasa kasihan pada pria-pria malang tersebut, namun mau bagaimana lagi ia pun hanya bisa menghela nafasnya sebelum berlari kecil menyusul Hanna yang telah meninggalkannya.


“yak! tunggu akuu!” seru Ahreum.


*** 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2