Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 222


__ADS_3

“kau tidak akan turun?!” sembur Ansell lengkap dengan nada ngegasnya begitu ia kembali berbalik dan melihat istrinya masih terdiam dikursinya.


“ahh.. iya.. iya.” Racau Ahreum yang kemudian bergeges membuka safety belt dan menghampiri Ansell yang sudah lebih dulu melenggangkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah abu.


“tidak.. aku hanya tidak percaya, kau bersedia menyapa ibuku kemari.” Oceh Ahreum yang berusaha mungkin menyamakan langkahnya dengan suaminya.


“Karena pernikahan kita bukan lagi berlandaskan perjodohan, melainkan saling mengasihi. Aku hanya ingin menyapa Ibumu dengan benar kali ini.” sahut Ansell yang kemudian mengenggam lengan mungil istrinya sembari terus berjalan memasuki lorong-lorong seakan ia sudah tahu dimana letak guci abu dari mendiang ibu istrinya.


“kali ini?


Maksudmu kau pernah mengunjungi ibuku sebelumnya.” Tebak Ahreum.


“Iya, aku pernah mengunjungi ibumu 1 minggu sebelum pernikahan kita.” Jawab Ansell seraya melirik sejenak ke arah istrinya.


Setibanya mereka di depan lemari kaca yang berisikan guci abu mendiang Veronica ibu kandung dari Ahreum Nathania.


Mereka berdua tampak terdiam sembari memejamkan kedua matanya seolah tengah memanjatkan doa untuk mendiang dengan khusu.


Sampai beberapa menit berlalu mereka membuka matanya serempak tanda untaian doa telah rampung dipanjatkan.


“Halo mah..


Maaf karena sudah lama tidak mengunjungimu, aku sangat merindukanmu mah.” Ucap Ahreum seraya mengusap lemari kaca tempat menaruh guci abu mendiang ibunya lengkap dengan tatapan berkaca-kaca yang dipenuhi kerinduan yang sangat mendalam.


Tak ingin istrinya itu terus dikuasai emosional, Ansell pun lantas merangkul bahu Ahreum mencoba untuk menghiburnya.


“Terimakasih sudah melahirkan gadis cantik seperti Ahreum mah. Maaf karena butuh waktu lama untuk menyapamu dengan banar. Dan mamah tidak perlu khawatir sekarang, aku berjanji akan mencintai dan mengasihi putrimu sebagaimana mamah memberikan limpahan kasih sayang dulu pada Ahreum.” tutur Ansell yang kemudian menurunkan lengannya hingga sampai tangan Ahreum lalu menggenggamnya erat, lengkap dengan senyuman yang mengembang ke arah istrinya sebelum akhirnya ia arahkan ke guci abu mendiang ibu mertuanya.



“wuaahh.. Kurasa ini pertama kalinya aku mendengar kata-kata lembut dan emosional darimu.” Sahut Ahreum yang terharu mendengar perkataan manis dari suaminnya itu, hingga membuat dirinya tersenyum lebar lalu bergalutan manja.


***


Dilain tempat.


SMA xxx Jakarta, tempat dimana Rihanna, Nayeon, Ahreum dan Jeno mengemban pendidikan selama 3 tahun.


Terdengar hiruk pikuk sorakan nyaring dari para penggemar per basketan diarea bangku penonton. Tak hanya sekedar menyoraki nama pemain basket yang kini tengah melakukan peregangan diarea lapang, namun juga mengayunkan kesana kemari sebuah banner yang berisikan kata-kata penyemangat bagi para pemain basket.


Adapun yang hanya bertuliskan sebuah nama dengan ukuran cukup besar sampai bisa terbaca dengan jelas oleh beberapa pemain dibawah sana, serta sebuah poster wajah tampan mereka layaknya seseorang tengah menyaksikan sebuah pertunjukan konser idol.


“Waaahh disini ramai sekali.” celoteh Hanna sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan raut wajah berseri-serinya.


“Apa itu kak Raffa?” tanya Nayeon seraya menunjuk ke arah seseorang yang tengah berjalan memasuki area lapang sembari sesekali melirik ke arah penonton dengan tatapan dinginnya yang tentu saja mengundang banyak sorakan yang semakin meramaikan suasana.


“Kurasa, waaahh.. Amazing.. pesonanya luar biasa sekali.” celetuk Hanna kembali yang masih belum menyadari jika kekasihnya tengah memelototi dirinya sedari tadi dengan tatapan julidnya.


“Kemana aja ya aku dulu sampai tak menyadari pesona tampan dari Raffael. Huuhh..” oceh Hanna yang tak hentinya memuji sosok pria yang kini tengah bersenda gurau dengan anggota timnya selagi menunggu pertandingan dimulai.

__ADS_1


“yak! Hentikan.” Cetus Nayeon seraya menyikut lengan Hanna lengkap dengan lirikan tajamnya.


“Kenapa? Kau cemburu hah?


Akhirnya kau bisa melupakan Jeno dengan hadirnya sosok pria tampan lainnya. Bukankah Raffael juga bisa membuat dadamu bergetar, lihat.. lihat.. vibesnya ancur parah huuuhh!!” racau Hanna yang kian tak terkendali begitu melihat Raffael dan tim nya mulai merapat ke tengah lapang tanda pertandingan akan segera dimulai.


Disusul dengan bangkitnya seluruh penonton dari bangku serta sorak sorai yang kian memecah suasana kala itu.


“HUUUUU YEEEAAAAHHH RAFFAAAA.. RAFFFFAAA!!” teriak para penonton yang saling bersahutan sembari mengangkat banner dan juga poster seiring dengan teriakan mereka yang menggema memenuhi area lapang SMA xxx Jakarta.


“yak.. Hanna!” cegah Nayeon kala Hanna juga ingin ikut-ikutan berdiri untuk memberikan semangat pada para pemain basket.


“apa sih ahh!!” ketus Hanna yang kemudian menepis kasar lengan Nayeon dan hendak kembali bangkit.


“yak!! kak Abi sudah memelototimu sedari tadi!” bisik Nayeon sembari menarik kembali tubuh Hanna dengan paksa.


Jlebbbb.. Mendadak seluruh tubuhnya membeku mendengar nama kekasihnya disebut.


“Apa kau sudah sadar sekarang?” bisik Nayeon  kembali kala melihat Hanna yang tiba-tiba terdiam sembari menatap lurus ke depan.


“Mengecewakan sekali, jadi seperti itu selera priamu, yang suka bermain basket.” sindir Abi seraya menyilangkan kedua tangan diatas dadanya dan mengarahkan pandangannya lurus ke depan.


“ahh.. hehee, eng.. engga juga, maaf hanya terbawa suasana aja.” bujuk Hanna seraya menautkan tangannya ke dalam tangan Abi kemudian menggesek-gesekan pipinya ke lengan Abi mencoba bertingkah imut untuk meredam kecemburuannya.


***


Kembali ke area rumah abu.


“mau kemana kita sekarang?” tanya Ahreum antusias sembari mengayun-ayunkan genggeman tangannya ke depan dan belakang seirama dengan langkah mereka.


“apa yang mau kau lakukan?” Ansell malah balik bertanya yang membuat Ahreum berfikir sejenak untuk menentukan tujuan mereka selanjutnya.


“amm.. pantai?” seru Ahreum.


“oke.” Sahut Ansell yang tak kalah semangatnya.


“aawww..” kaget Ahreum kala kakinya hampir terpeleset dilobi rumah Abu, namun dengan sigap suami kekarnya itu langsung menangkap tubuh istrinya.


“haduh.. maaf.. maaf nona maafkan saya. Saya lupa memberikan tanda disini. Sekali lagi maafkan saya nona, tuan.” Panik sang petugas kebersihan yang tengah mengepel disisi lain, namun ketika mendengar teriakan Ahreum buru-buru ia pun berlari menghampiri Ahreum dan Ansell.


“Ba..”


Baru saja Ansell ingin meluapkan kekesalannya pada petugas kebersihan paruh baya itu, dengan cepat Ahreum memberikan kode remasan pada tangannya agar Ansell meredam amarahnya.


“heheee.. Iya gak apa-apa bu, tapi lain kali tolong lebih diperhatikan ya.” Tegur Ahreum halus disertai senyum ramahnya sembari mengusap lengan Ansell guna untuk menenangkan emosi suaminya.


“I.. iya nona, sekali lagi maafkan  atas kelalaian saya.” Ucapnya lagi seraya mencoba mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat wajah gadis yang hampir terjatuh akibat kecerobohannya.


Dirinya tampak mengerutkan dahinya seolah tengah mengingat sesuatu dalam benaknya.

__ADS_1


“Nona Ahreum.” lanjutnya yang berhasil menemukan sebuah nama dalam memorynya.


“ahh.. Iya, ibu mengenal saya.”


“tentu saja, saya sudah lama bekerja disini, sudah lama saya tidak melihat nona mengunjungi mendiang ibu nona. Bukankah terakhir kali saat nona sedang bersama dengan..” katanya lagi seraya melirik sesaat ke arah pria yang berada disamping Ahreum lengkap dengan kerutan didahinya.


“dengan teman-temanku?” sambung Ahreum yang mencoba melengkapi kalimat dari ibu paruh baya tersebut.


“hheehe iya mungkin ya, saya melihat nona berlarian ke area pintu belakang bersama seorang pria.”


“hehhe, Jeno mungkin yang dimaksud, sudah ahh ayo kita pergi.” Ajak Ahreum yang kemudian berpamitan dengan wanita paruh baya tersebut lalu pergi berlalu dengan perasaan gelisah tak menentu.


Tak ingin berfikiran macam-macam, Ansell pun lantas menggerakan kakinya dan meneruskan perjalanannya yang sempat tertunda karena insiden terplesetnya Ahreum.


“kenapa wanita tua itu berbohong, aku bahkan baru pertama kali melihatnya hari ini.” Ahreum membatin seraya melirik sesaat ke belakang.


Sementara itu begitu Ahreum dan Ansell telah menghilang dari pandangannya, senyum yang sedari tadi mengembang menghiasi wajah tuanya kini seketika berubah menjadi dingin dan penuh energi negative yang terpancar dari sorot matanya.


Lengannya mulai merogoh saku celana kerjanya untuk mengambil ponsel dan menghubungi seseorang masih dengan tatapan serius yang mengarah pada jalanan yang sebelumnya dilalui oleh pasangan Ahreum dan Ansell beberapa detik lalu.


“Tugasku sudah selesai, namun tampaknya hal ini belum cukup membuat Ansell menaruh curiga pada istrinya.” Lapornya kala panggilannya telah terhubung pada seseorang disebrang sana.


“Tenang saja, masih ada pertunjukan lainnya.


Kerja bagus Lilian.” Puji seorang wanita didalam telfon yang sekaligus menutup sambungan telfonnya.


Begitu telfon terputus, sang wanita paruh baya tadi pun menarik sesuatu dari bawah dagunya yang ternyata adalah sebuah topeng wajah silicon yang menutupi wajah asli wanita tersebut.


Ia pun tersenyum menyeringai sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi dimana ia berada saat ini dengan perasaan puas lantaran misinya telah terselesaikan.


***


Didalam mobil yang dikendarai oleh Ansell.


“Ada apa?” tanya Ansell yang menyadari jika istrinya itu tengah memikirkan sesuatu dalam benaknya hingga membuatnya merasa terusik.


“ahh.. tidak..” sanggah Ahreum lengkap dengan senyum setengah hatinya.


“Apa kau memikirkan kata-kata ibu tua tadi?


Mungkin kurasa dia salah lihat orang, untuk apa juga kau berlarian diarea rumah abu. Memangnya disana arena bermain.” Celetuk Ansell yang mencoba untuk berfikiran positif dan mempercayai kesetiaan istri mungilnya itu.


“ahh.. i.. iya hehee. Terimakasih karena sudah mempercayaiku.” Ujar Ahreum seraya tersenyum tipis pada suaminya yang sesekali melirik ke aranya.



“tentu.” Timpal Ansell seraya mengusap bagian atas kepala Ahreum sesaat sebelum kembali fokus pada jalanan didepannya.


***

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2